“Kebiasaan deh kalau mandi udah kayak Bidadari dari kayangan. Lamanya nggak ketulungan!”
Safka berjalan mondar-mandir di kamar, menunggu Sri yang katanya mandi tapi udah kayak Bidadari berenang di selokan. Bukan apa-apa, selain merasa tubuhnya lengket, perutnya pun kelaparan. Ia ingin segera makan, setelah tadi membeli makanan jadi di jalan.
Entah kenapa, Safka merasa kalau di rumah ia tak kan mendapat jatah makanan lagi. Dan ternyata benar. Bukannya masak, pekerjanya malah berenang. “Bukan main!” ucapnya sambil tertawa.
Safka senang karena akhirnya, Sri terlihat betah di rumahnya. Sehingga ia tidak perlu merasa khawatir jika harus meninggalkannya setiap hari. Kebetulan, besok, ia pun harus kembali meeting dengan partner yang lain.
Klik!
Pintu kamar mandi terbuka. Sri keluar dalam keadaan berpakaian lengkap. Hanya saja, baju dan celana yang dipakainya benar-benar kumal. Safka yang melihatnya pun mengernyit sebelum akhirnya berdeham.
“Lama banget sih? Mandi udah kayak tidur aja kamu tuh!” Usil, Safka meledek istrinya itu sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
“Ish!” Sri mendesis sambil mengepalkan tangan. Ia juga langsung berlaga menonjoki Safka seraya menahan gemas. “Kamu tuh, ya ... nggak bisa emang kalau nggak usil!” sambungnya.
“Aih?!” Safka mengernyit lagi begitu membuka pintu.
Seketika Sri pun berbalik dan berpura-pura sedang menyisir-nyisir rambutnya yang basah. Padahal, hatinya terkejut karena Safka tiba-tiba keluar lagi. Sedang, ia tengah berlaga menonjoki suaminya.
“Ngapain, sih? Mau nonjokin aku? Sini kalo berani!” tantang Safka seraya mendekati Sri. Ia berdiri tepat di belakang istrinya itu sambil menahan tawa.
“Dih! Jan suka asal ngomong bisa?” Sri berkelit. Ia lantas melangkah maju, karena tiba-tiba berdebar.
Namun, Safka pun semakin usil. Ia menarik tangan istrinya itu sampai membuat Sri berbalik menghadapnya. “Mau ke mana, sih? Kalau ngomong itu, jan sambil membelakangi suami,” katanya.
Hening. Sri menelan ludahnya dengan susah payah, saat tatapannya langsung tertangkap oleh pandangan Safka. Ia tercengo, balas menatap sebelum akhirnya berkedip dan melangkah mundur. “Apa sih, Om. Nggak usah tarik-tarik kan bisa? Aku lho kaget!” Ia mengomel seraya mengalihkan tatapan.
Alih-alih menjawab, Safka justru mengeratkan genggamannya. Ia meremas jemari Sri sampai membuat jantung istrinya itu berdebar hebat. Ia juga meraih dan menarik dagu Sri perlahan-lahan. Sri menelan ludahnya lagi. Namun, kali ini tubuhnya mendadak kaku.
“Astaga-astaga. Ini orang mau ngapain, sih? Aku kenapa pula kok berasa berat banget ini badan?” batinnya, sambil berkedip cepat-cepat. Sebab, hanya kelopak matanya saja yang terasa ringan.
Safka menatap wajah cantik istrinya itu lekat-lekat. Sri tampak begitu memesona sehingga ia merasa begitu jatuh cinta. Namun, melihat ekspresi wanita di hadapannya itu membuat ia ingin tertawa. Ia menahannya. Sengaja, ingin tahu, sampai mana Sri akan bertahan.
Sri masih tak bergerak. Membuat Safka yang usil pun semakin mendekatkan wajahnya. Bibirnya berkedut pelan. Matanya berkedip lambat. Sedang helaan napasnya mulai melambat. Begitu juga dengan Sri yang seketika terpejam.
Selengkung merah kehitaman milik Safka pun menyungging lebar. Rupanya, ia sukses mengelabui Sri. “Ada bulu mata,” katanya seraya mencomot bulu mata yang ia lihat di pipi Sri. Lantas, ia meniupnya ke udara.
Sri yang seketika merasa malu pun langsung membuka mata. Ia terbengong barang sekejap sebelum akhirnya mendorong tubuh Safka. “Jahat kamu!” katanya sambil berlalu, meninggalkan Safka.
“Dih! Kok, jahat?”
Safka pun seketika tergelak. Namun, Sri tak menghiraukannya. Ia terus berjalan dan keluar kamar. Ia pikir, daripada berduaan dengan suaminya sendiri, lebih baik berkumpul dengan Shanty dan Ranti.
***
Safka tersenyum-senyum sendiri sepanjang mandi, sepanjang memakai pakaian, sepanjang berhias diri sampai sepanjang ia keluar dari kamar dan mencari para pekerjanya. Wajah Sri sangan cantik dan manis, lebih-lebih saat kedua pipinya merona seperti tadi. Ia sangat menyukai ekspresi seperti itu. Ekspresi yang belum pernah ia lihat pada wanita mana pun.
“Dia kenapa bilang aku nih jahat, ya? Apa dia ngarep dicium? Dih. Katanya nggak suka om-om.”
Safka bergurau seorang diri saat menapaki satu per satu anak tangga. Ia sebenarnya ingin mencium Sri. Namun, urung setelah mengingat keadaan di mana ia belum mendapatkan hati Sri sepenuhnya. Berciuman dengan pasangan, jelas akan lebih terasa nikmat jika dilandasi perasaan suka sama suka.
“Tapi kalau beneran dia ngarep dicium, itu artinya dia dah ada rasa dong sama aku? Hoho. Secepat itu rupanya, perasaan wanita bisa luluh. Aku pikir, akan sangat sulit karena mengenalnya pun baru satu minggu terakhir.”
Safka tiba di lantai bawah. Pandangannya seketika mengedar, mencari tiga wanita yang tak lain adalah penghuni rumahnya juga. Shanty, Ranti dan Sri. “Aih, kenapa intonasinya jadi kek puisi ya?” Ia tergelak. “Tapi, di mana sih mereka? Udah dibilang lapar juga.”
Safka pun lantas pergi ke ruang makan. Ia menyimpan makanan yang dibelinya itu di sana, tadi sewaktu datang. Tapi ternyata, makanan yang dibelinya sudah terhidang di meja makan. Ayam bakar, sosis bakar, ikan bakar. Dia memang sedang ingin makan yang dibakar-bakar.
“Pinter. Ternyata udah rapi aja di piring makanannya. Tapi,” katanya seraya mengedarkan pandangan lagi. “Shanty, Ranti! Kalian di mana, sih?” teriaknya.
“Iya, Tuan. Saya di sini,” timpal Shanty yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi. Ia menyengir sembari mencondongkan kepalanya dari sana.
“Astaga, Shanty. Lagi ngapain kamu di situ?” Safka langsung mengelus d**a. Terkejut bukan main oleh kemunculan Shanty yang tiba-tiba.
“Barusan cuci baju sebentar, Tuan. Ada apa, ya?” tanyanya kikuk. Lantas, ia keluar dari kamar mandi. Pandangannya jatuh, karena tak berani menatap majikannya itu. Apalagi setelah ia melakukan kesalahan; berenang sampai lupa masak.
“Liat istri saya nggak?” Safka berbisik. “Kalau liat, ajak ke sini, ya. Sekalian ajak Ranti juga.”
“Oh, baik, Tuan. Nyonya ada di kamar saya,” jawabnya seraya buru-buru beranjak dari hadapan Safka. Ia mengelus dadanya sambil menghela napas lega. Merasa beruntung karena ternyata, majikannya itu tak marah. Safka masih menjadi majikan paling baik hati.
Safka pun duduk di kursinya sembari mulai mengisi piringnya dengan nasi. Sedangkan Shanty, pekerjanya itu berlari menuju kamar yang terletak di belakang dapur. Sri dan Ranti ada di dalam. Mereka tengah asyik mengobrol, menceritakan keseruan mereka saat berenang tadi.
“Udah nyucinya?” Tanya Sri, begitu melihat Shanty masuk ke kamar. Ia yang sedang duduk di tepi kasur pun mendongak barak sekejap. “Ketemu si Om tidak?” tanyanya lagi.
Shanty mengangguk. “Tuan nyuruh kita ke ruang makan. Sekarang,” katanya.
“Aih, mau ngapain?” serobot Sri, terkejut. “Dia pasti mau marahin kita, kan? Jahat emang.”
“Bukan deh kayaknya.” Shanty menjawab lagi.
“lha terus mau ngapain? Kita kan baru aja gajian. Masa udah gajian lagi?” tanya Ranti, yang tak kalah terkejut. Pasalnya, ia tak pernah mendengar Safka menyuruhnya ke ruang makan. Yang ada, malah nyuruh mereka pergi karena ingin makan sendiri.
“Ya, nggak tau. Makanya ayo, sekarang mending kita ke sama daripada Tuan makin marah. Kalau aku dipecat kan gawat banget!” Shanty pun langsung berbalik, dan berharap kalai Ranti dan Sri mengikutinya. Namun, begitu ia menoleh dari ambang pintu, teman dan majikan barunya masih saja duduk. “Astaga, ayo!” serunya keras-keras.
“Eh, iya. Ayo-ayo!” timpal Sri dan Ranti bersamaan. “Seenggaknya, kalau kita bertiga, pasti menang lah sekalipun si Om-Om ngajak berantem.”
“Berantem otakmu!” batin Shanty, tak sabaran karena Sri dan Ranti begitu lelet.