Perhatian dan Bentakan

1532 Kata
Dengan jantung berdebar juga tubuh gemetar, Sri pun mengikuti Shanty dan Ranti ke ruang makan di mana ada Safka di sana. Suaminya itu baru saja menyantap makan sorenya yang begitu lezat dan nikmat. Makanan yang ia beli memang dari pedagang langganan. “Tuan,” ucap Shanty begitu ketiganya sudah ada di belakang Safka. Ia menelan ludah, karena walau bagaimana pun baiknya Safka, tetap saja ia merasa takut. Takut kalau ia sampai dipecat. “Eh, kalian udah datang. Sini, duduk. Kita makan bareng,” katanya sambil tersenyum seraya terus mengunyah. Ranti dan Sri pun seketika ikut menelan ludah juga. Sikap Safka sudah seperti seseorang yang sedang menahan amarah dengan menunjukkan perhatian. Mereka pun seketika saling menyikut, tak mau maju duluan. “Loh, kok malah pada diam, sih? Ayo, sini!” titah Safka kembali. Ia pun menghentikan suapannya karena harus berbalik badan. Apa harus saya tarik biar pada maju?” tanyanya sambil menggeleng. “Nggak usah, Tuan. Biar aku sama Ranti nanti aja makannya. Nggak tau deh kalau nyonya,” jawabnya seraya melirik Sri dan Ranti. “Aku juga nanti aja makannya, Om. Cewek kan makannya harus sama cewek lagi. Masa sama cowok?” Sri menyengir kikuk. Ia juga balas menatap Shanty dan ranti setelah sebelumnya melirik Safka sekilas. “Iya, kan, Mbak?” tanyanya. “Tapi kan aku ini suami kamu, Sri. Ayo lah. Kalian ini kenapa mendadak kaya patung, sih? Biasa juga ceriwis!” Safka pun berdiri. Lantas, ia menghampiri istri dan para pekerjanya. Lantas, ia menarik tangan Sri dan menyeretnya sampai ke kursi. “Duduk. Kamu itu habis berenang berapa lama tadi? Perut kamu juga kosong, kan? Mau masuk angin begitu?” ucapnya, seraya duduk kembali. “kalian juga. Ayo, duduk. Kalau nggak, bulan depan saya potong gaji karena sudah berani berenang tanpa izin!” sambungnya. “Iya, Tuan, iya. Ayo, Ran!” timpal Shanty seraya mengajak Ranti. Keduanya lantas menyusul dan susuk di samping Sri. “Makan!” seru Safka kembali. Lantas, ia pun mulai menyantap makanannya yang hanya tinggal sedikit lagi, sehingga begitu istri dan pekerjanya selesai mengambil nasi, ia sudah menghabiskan makanannya. “Jangan lupa dihabiskan makanannya. Habis itu, kamu langsung temui aku di kamar, Sri!” katanya. “Eh, mau ngapain?” Sri pun seketika mendongak karena Safka sudah berdiri. “Masa harus aku jelaskan di sini? Gila kamu?” Safka pun sedikit kesal. “Dih! Biasa aja kali jawabnya.” Sri kembali menundukkan wajahnya. Lantas melahap makanannya dengan perasaan kesal. Suaminya itu baru saja melakukan perhatian, tapi sedetik berikutnya sudah memberikan bentakan. “Ya, kamu juga bias aja dong nanyanya. Dikira aku mau ngapain emang?” Safka memancing obrolan panjang. Sebenarnya ia masih ingin duduk di sana dan melihat istrinya makan. Namun, karena adanya Shanty dan Ranti ia pun tak enak saja jika harus membuat pekerjanya canggung saat makan. Akan tetapi, Sri tak menjawab. Ia justru pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan suaminya itu. Membuat Ranti dan Shanty seketika menundukkan pandangan seraya menahan tawa. Ia benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi di antara Sri dan Safka. Tapi yang pasti, baru kali ini mereka melihat pasangan pengantin baru yang tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Malu sendiri, Safka pun akhirnya melengos pergi. Ia segera naik karena harus memastikan sesuatu yang tadi ia bawa juga. Sekaligus, belajar apa yang harus ia katakan nanti. *** “Boleh jujur nggak, sih?” Shanty pun mulai bicara setelah Safka menghilang dari pandangan mereka. Sesekali, pandangannya mengedar melihat ke tempat di mana Safka mulai menghilang. Barangkali, bosnya sedang menguping. “Apaan?” tanya Ranti dan Sri bersamaan. Mereka bahkan sampai berhenti mengunyah. “Saya heran deh. Nyonya sama Tuan kok nggak ada romantis-romantisnya? Apa jangan-jangan—“ “Jangan-jangan apa?” Sri menyerobot. “Jangan-jangan, kalian itu sebenarnya nggak menikah? Atau, kalian nikah kontrak? Atau—“ “Banyak banget ataunya!” Sri menyerobot kembali. “Ya, habisnya banget sumpah. Di mana-maa, suami istri itu harmonis, romantis, bikin iris—“ “Iri, Shan!” Ranti mengoreksi. “Nah, iya itu betul.” Shanty tertawa pelan di sela mengunyahnya. Bahkan, apa yang ia kunyah sampai berloncatan ke luar. “Dih! Jorok banget, sih, lu!” Ranti mengoreksi lagi. “Iya-iya maaf. Sekarang kita balik ke persoalan awal. Kenapa? Ada apa? Coba jelaskan biar kamu para pembantu paham. Dan semisal kalau membahayakan, kami para pembantu siap memberikan bantuan.” “Hilih!” Sri meledek. “Diancam potong gaji aja kalian takut,” sambungnya. “Hehe.” Shanty tertawa lagi. “Tapi itu lain cerita, Nyonya.” “Dah lah makan lagi. Ngapain sih malah bahas pernikahan saya dengan si Om. Nggak banget, bikin selera makan anjlok!” Sri pun melahap makanannya kembali. “Katanya ilang selera makan?” Ranti menggoda. Sedang dalam mulutnya penuh makanan. Ia sampai terbatuk saat dengan sengaja menertawakan majikannya. “Kualat!” Sri menimpali dan lalu berdiri dan seketika beranjak pergi. “Aih. Mau ke mana, Nya?” teriak Shanty dan Ranti yang masih terbatuk-batuk. “Mau nemuin si Om. Takutnya keluar taring kalau nggak aku temuin!” jawabnya sambil lalu. *** Safka yang sedari masuk ke kamar langsung meraih sebuah dus dari tasnya pun berdiri di depan cermin. Ia berlagak seolah dirinya sedang berhadapan dengan Sri. Sehingga berulang kali ia belajar, bagaimana caranya bicara pada Sri. “Ini buat kamu!” ucapnya dingin. “Ish nggak enak banget sih ni suara. Akhem, akhem!” sambungnya seraya berdeham-deham. “Aku beliin ini buat kamu, biar nggak BT-BT amat diem di rumah. Eh, buat telepon bapakmu juga kalau kangen.” “Ngomong sama siapa, sih? Pake segala bilang kangen pula lagi. Atau, kamu emang udah sadar kalau pernikahan kita ini nggak ada gunanya? Terus, kamu kangen sama pacar kamu gitu? Haha. Sudah kuduga. Lelaki macam kamu itu memang hanya ingin menyakiti hati Bapak saya aja, kan? Kamu nikahin anaknya, habis itu kamu pulangin lagi karena bosan. Cih!” decaknya setelah ngomong panjang kali lebar. Sri melipat ke dua tangan di d**a sambil berdiri tegak di ambang pintu. Sedang tatapannya mengarah ke tempat lain karena menghindari tatapan Safka. “Ngomong apaan sih nggak jelas banget? Yang punya pacar selain istri siapa? Yang bilang kangen sama pacar juga siapa? Kamu kok sewot? Cemburu?” Safka pun seketika tertawa senang karena tergelitik oleh ocehan Sri barusan. Istrinya itu terlihat semakin manis saat mengomel. Membuat ia semakin gemas dan ingin menjawil pipi istrinya itu kalau saja tak ada benteng dii antara mereka. “Ya, itu barusan. Kamu pasti sedang teleponan sama pacar, kan? Nggak apa-apa, sih. Siapa juga yang cemburu sama om-om model kamu. Aku Cuma bicara jujur aja tentang kelakuanmu yang sebenarnya.” Sri bersikukuh dengan ucapannya. Ia juga masih memandang ke arah lain, alih-alih membalas tatapan Safka yang manis kepadanya. Ia lantas berbalik, hendak kembali ke bawah karena merasa tak ada guna juga menemui Safka yang dikiranya sedang pacaran. “Mau ke mana, sih?” Safka pun seketika berlari dan menarik tangan Sri sampai istrinya itu kembali berbalik. “Tunggu dulu,” katanya lagi. “Apaan, sih? Lepas nggak? Kalau nggak aku teriak!” Sri pun menarik tangannya dari cengkeraman Safka. Namun, cengkeraman Safka terlalu kuat sehingga ia tak dapat melepaskannya. “Lepas, ih!” serunya lagi seraya menggeliat. “Bentar dulu. Jangan salah paham. Aku cuman mau ngasih kamu ini, kok. Makanya tadi aku nyuruh kamu buat naik.” Safka pun perlahan melepas genggam tangannya. “Apa ini?” Sri meraihnya, menunjukkannya, masih dengan suara lantang. “Ponsel lah. Masa nggak tau? Itu kan ada gambarnya.” Safka menunjuk gambar ponsel keluaran terbaru yang tertera di dusnya. Si pun berdeham. “Benar juga,” batinnya sambil memalingkan wajahnya barang sebentar. “Tapi buat apaan?” tanyanya, tak keruan. Padahal, ia tahu betul pungsi ponsel itu untuk apa. “Masa nggak tau juga? Ponsel ini ya buat telepon, ngirim pesan, nonton biar nggak BT. Banyak lah pokonya,” jelas Safka sambil tersenyum. “Kamu juga bisa langsung telepon Bapak. Tadi, nomor Bapak udah aku simpan di dalam,” sambungnya. “Oh.” Sri berdeham lagi. Ia tahu kalau dirinya baru saja salah bertanya. “Makasih,” sambungnya seraya menelan ludah. Pasalnya, saat ia menatap Safka sekejap, lelaki i hadapannya itu baru saja menyemburkan senyuman manis. “Sama-sama.” Safka tersenyum lagi seraya bernapas lega. Akhirnya, i bisa berucap dengan lancar. “Nomorku juga udah ku save. Kalau ada apa-apa saat aku di luar, kamu bisa langsung telepon,” sambungnya. “Hm,” timpal Sri, “kalau gitu, aku mau ke bawah lagi.” “Mau ngapain? Kalau cuman mau belajar cara make ponselnya, biar aku yang ajarin.” Safka pun menyengir. “Bukan, itu ... aku—“ “Udah lah nggak usah malu-malu. Kamu, kalau belum bisa menerima aku sebagai suamimu, boleh anggap aku temanmu dulu aja. Ayo!” selanya, sembari meraih dan menarik tangan Sri. Ia membawanya ke tepi ranjang. “Eh, tapi—“ “Nggak usah tapi-tapi!” sela Safka kembali. “Bukan. Itu, maksud aku ... kita bisa bicara di luar kamar aja, kan?” Sri pun bicara cepat sampai selesai agar tak disela Safka lagi. Safka yang sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang pun mendongak. Ia mengernyit barang sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan kemudian berdiri. “Baiklah,” katanya seraya membawa Sri ke tempat lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN