Mabuk Lagi?

1087 Kata
Sri tak tahu harus berbuat apa. Ia seolah langsung terhipnotis sejak Safka menebar senyum manisnya. Tubuhnya bahkan terasa ringan saat melangkah mengikuti ke mana Safka menariknya. Tak seperti biasa, di mana ia selalu menolak dan menghindar. Wanita berambut sepinggang itu mulai merasa kalau Safka adalah lelaki baik. Namun, mengingat ia dipaksa menikah dengan iming-iming uang, tiba-tiba saja tangannya refleks menepis genggaman Safka. “Ada apa?” Safka yang berdiri di hadapan Sri pun berbalik, menghadap istrinya itu. Ia jug terbengong, karena heran dengan Sri yang menepis genggam tangannya tiba-tiba. “Aku bisa jalan sendiri. Lagian, udah nyampe dii balkon juga. Jadi, mulai dari mana sekarang?” tanyanya, usai menjawab keanehan Safka. “Ok. Sekarang kita mulai dari mata, biar langsung turun ke hati!” jawabnya iseng, seraya duduk di kurs yang memang tersedia di sana untuk melihat pemandangan langsung ke halaman belakang rumah. “Bisa serius, kan? Kalau nggak, aku mending minta ajarin Mbak Shanty apa Mbak Ranti.” Sri langsung merajuk, karena lagi-lagi merasa sedang dipermainkan. “Iya, iya. Bercanda dikit aja masa nggak boleh? Kan, biar nggak kaku kaya kanebo obrolan kita.” Lagi-lagi Safka bercanda. Sri sebenarnya ingin tertawa. Namun, ia tak mau menunjukkan kelunakan hatinya itu karena tak mau dimanfaatkan. Ia merasa perlu mendalami pribadi Safka terlebih dahulu, bahkan meski pun hanya untuk menganggapnya teman. Agar seandainya Sri mendapati Safka sebagai lelaki b***t, ia tak perlu merasa sakit hati. “Malah bengong, sih? Ayo, duduk! Tadi katanya mau belajar bener-bener. Sekalian, aku juga mau cek, kamu bisa baca apa nggak?” Safka meledek. “Kan? Aku balik ke bawah aja deh. Males banget ngobrol sama om-om.” Sri merajuk lagi, dan bahkan langsung melengos pergi. Namun, lagi-lagi Safka menahannya segera. “iya-iya, maaf. Aku bercanda lagi barusan. Ngambek mulu, sih?” katanya setelah mendapatkan sebelah tangan Sri. Sri pun menghela napas panjang seraya mengembuskannya perlahan. Ia juga menggeleng, sebelum akhirnya berbalik badan sehingga langsung mendapati Safka sedang menyengir lebar. Sri tak berucap. Ia hanya mendelik dan kemudian duduk di sebelah Safka. “Ok.” Safka pun membuka mulutnya lagi karena tak kunjung mendapati Sri bertanya. “Sini ponselmu,” katanya seraya meraih ponsel yang tadi ia masukkan lagi ke dalam dus. Sri melepaskan dan membiarkan Safka mengambilnya dengan mudah. Lantas ia memerhatikan Safka dengan begitu khusuk. Ia benar-benar tak pernah memegang ponsel dengan mode layar sentuh, apalagi memakainya sebagai kebutuhan pribadi. Dulu, ada pun ia pernah melihat ponsel bapaknya, ponsel tersebut ada tombolnya. Seketika, Sri pun ingat kalau bapaknya tak mempunyai ponsel. “Emang Bapak ada HP?” tanyanya seketika. Ia bahkan langsung menghadap Safka dengan antusias. “Ada. Bahkan, kedua adikmu pun ada Hp. Nomornya udah aku save semua juga di sini. Kamu tinggal telepon mereka aja nanti,” jawabnya. “Ok. Tapi, dapat—“ “Aku yang belikan karena sekarang kan belajar aja harus ada ponsel.” Safka menyela sebelum akhirnya menunjukkan layar ponsel pada Sri. “Lihat ini,” katanya lagi. Ia juga menggeser layar ponselnya ke samping. “Huum.” Sri langsung menyimak sehingga ia lupa dengan apa yang diucapkannya barusan. “Ponselnya belum aku kunci pakai kode atau sidik jari. Jadi, kalau mau liat menu tinggal di geser kayak gini,” ucap Safka kembali. Pertama, ia menunjuk sebuah aplikasi. “Kita bahas yang penting-pentingnya aja, ya.” “Iya.” Sri kembali menjawab, dengan khusuk. “Ini namanya Tik Tok. Orang-orang memakai ini untuk menonton berbagai video, bisa juga membuat video. Akunnya sudah aku buatkan, biar nanti kamu bisa langsung buka-buka aja. Nah, yang ini juga buat nonton video. Bedanya, yang ini durasi videonya panjang. Namanya YouTube.” “Ok.” Sri mengangguk tanpa mengalihkan fokus dan tatapannya dari ponsel dan telunjuk Safka. Sedang telinganya mendengarkan dengan baik. “Sekarang kita lanjut ke f*******:. Aku yakin, meski kamu nggak pernah punya f*******:, kamu pasti tau tentang pungsi aplikasi biru ini.” Safka pun melihat Sri barang sejenak. “Aku sering denger aplikasi-aplikasi yang kamu tunjuk barusan emang. Cuman, aku baru tau bentukannya kayak gitu ternyata.” Sri pun sedikit menyunggingkan senyum seraya balas melihat Safka tanpa ada rasa canggung atau pun kesal seperti tadi. “Ok. Klau gitu sekarang kita masuk ke aplikasi yang paling penting buat kamu saat ini. w******p,” katanya selanjutnya. Safka lantas membuka aplikasi tersebut. Di dalamnya masih kosong. Belum ada chat, story, atau pun panggilan. “Kamu bisa telepon Bapak dan adik-adikmu dari sini. Coba, cobain!” titah Safka selanjutnya. “Sekarang?” tanya Sri, tak percaya. “Taun depan!” timpal Safka sambil tergelak. “Dih!” sri pun kembali merasa kesal pada suaminya itu. “Ya, lagian pertanyaannya aneh banget. Udah tau—“ “Iya-iya. Aku telepon Bapak sekarang. Tapi, aku harus tekan apa?” tanyanya, diselingi cengiran kikuk. Sedangkan Safka, seketika menepuk kening. *** Baru mendengar suara panggilannya tersambung saja, sri sudah berderai air mata. Dalam bayangannya, ia teringat akan sang Ibu yang telah lama meninggal. Ia juga mengingat kedua adiknya yang selalu tak pernah luput dari perhatian. Belum lagi saat ia mengingat bapaknya yang tak bisa melakukan pekerjaan rumah apa pun. Beres-beres, menyapu, mengepel, memasak sampai mencuci selalu Sri dan adiknya Siti yang selalu mengerjakan. Tapi sekarang, semua itu hanya kenangan. Ia berada jauh dari keluarga. Meski sejak ibunya meninggal, Sri seolah menjadi tulang punggung karena mempunyai bapak yang tak pernah bekerja, ia tetap menyayangi dan merindukan bapaknya itu. Ia bahkan khawatir, bagaimana mereka akan makan kalau tidak ada Sri yang mencari uang. Telepon diangkat setela Sri menunggu beberapa detik. “Halo?” sapa Sudirman di seberang telepon. Ia yang baru saja menang berjudi itu sedang menikmati minuman keras dengan beberapa temannya. “Bapak, ini aku Sri. Bapak di mana? Bapak sehat?” tanya Sri, diiringi derai air mata. Ia bahkan langsung terisak, tanpa memedulikan Safka yang ada di sampingnya. “Nggak tau aja dia, kalau bapaknya abis main judi.” Safka membatin sambil menggeleng. “Tapi salut sih sama pribadinya. Nih cewek tetep sayang, tetep rindu dan tetep bakti pada bapaknya yang padahal nggak bisa dibanggain.” “Bapak sehat, Sri. Ini kamu nelepon pake HP siapa?” tanya Sudirman, di tengah-tengah rasa mabuknya. “HP Sri, Pak. Dikasih Om Safka.” Sri pun ingat kalau di sampingnya itu ada sang suami. Ia lantas berdeham dan menghentikan tangisnya sembari menyapu wajah dari air mata yang membanjiri kedua pipinya. “Bapak lagi di mana sih kok rame banget? Siti sama Fahmi mana?” “Bapak lagi di luar. Adik-adikmu ada di rumah. Tapi, sebentar lagi Bapak pulang, kok.” “Bapak mabuk lagi?” selidik Sri kemudan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN