Janji yang Tak Ditepati

1440 Kata
Sudirman langsung berdeham dan segera keluar dari ruang di mana dirinya itu sedang berkumpul dengan teman-temannya sembari mabuk, usai berjudi. Sebelum Sri berangkat dengan suaminya setelah acara pernikahan selesai, ia memang sempat berjanji untuk tidak bermain judi dan mabuk lagi pada Sri dan Safka. Namun, sekarang ia baru saja melanggar janjinya itu. “Nggak, kok. Bapak lagi di warung, Sri. Lagi belanja kebutuhan buat sehari-hari,” jawabnya setelah berada di luar. Ia berbohong agar Sri tak mengkhawatirkan ia dan adik-adiknya yang sedari pagi ia tinggalkan. “Bener? Bapak nggak bohong, kan?” Sri pun memastikan lagi sambil berdeham. Sebenarnya ia malu karena ayahnya adalah seorang pejudi, sehingga pelan suaranya agar tak terdengar oleh Safka. “Pake bisik-bisik segala.” Safka membatin sambil menahan tawa. Ingin rasanya ia berkata kalau ayah istrinya itu baru saja berbohong. “Bener. Ini Bapak baru aja mau pulang. Kamu apa kabar? Betah nggak di kota? Terus, itu, suamimu baik, kan? Dia ngasih kamu makan enak nggak?” cerocos Bapaknya itu, demi untuk mengalihkan pemikiran Sri tentang perjudian. “Alhamdulillah Sri di sini baik-baik aja, kok. Tapi, Sri nggak betah. Sri mau pulang dan tinggal sama Bapak dan adik-adik aja,” jawabnya seraya mendelik kesal pada Safka yang telah mengawininya. Ia juga menggerutu dalam hati, “Gara-gara tuh om-om emang. Aku jadi harus jauh dari Bapak sama adik-adik.” “Aih, delikannya gitu amat!” ucap Safka seraya tertawa pelan. Membuat Sri yang mendengarnya seketika menyipitkan matanya, seraya menajamkan pandangan pada suaminya itu. “Lah, kok gitu?” Sudirman bertanya di seberang telepon. Ia lantas kembali masuk ke dalam bangunan kosong, kemudian berbisik pada teman-temannya kalau ia harus segera pulang. “Kamu kan udah jadi istrinya Nak Safka. Jadi, udah jadi kewajiban kamu buat tinggal dan melayani dia dengan baik,” sambungnya setelah kembali ke luar lagi. Sri yang mendengarnya pun seketika menghela napas panjang. Ia tahu akan semua kewajiban menyangkut seorang istri yang semestinya patuh pada suami. Namun, ia benar-benar tak tahu, apakah ia sendiri bisa menerima pernikahannya itu atau tidak. “Sri?” Sudirman yang sudah meninggalkan bangunan kosong dengan berjalan sempoyongan itu pun memanggil Sri karena tak kunjung mendengar jawaban. “Iya, Pak. Sri juga tau kalau soal itu. Tapi, kan, Bapak sendiri tau bagaimana keadaannya? Sri masih butuh waktu untuk seperti itu. Itu pun kalau Sri bisa,” jawabnya pada akhirnya. Ia lantas berjalan menjauhi Safka yang sedang sibuk dengan ponselnya. “Harus bisa dong. Lagian, apanya yang bikin kamu nggak betah, sih? Nak Safka ini orang kaya. Dia itu pasti mempunyai banyak uang buat bahagiain kamu.” Sudirman langsung tersenyum begitu mengucapkan kata uang. Dalam hatinya ia bergumam, “Biar kalau kamu betah dan jadi jodoh Nak Safka selamanya, Bapak kecipratan hartanya juga.” “Tolak ukur bahagia kan bukan di situ, Pak.” Sri tak setuju dengan apa yang dikatakan Bapaknya itu. Prinsip yang ia pegang adalah, keluarga adalah bahagia yang sesungguhnya. “Halah. Kamu ini hanya belum paham aja, Sri. Sudah lah, Bapak hampir sampai di rumah. Udah dulu, ya?” Sudirman pun pamit. “kamu pokonya baik-baik aja di sana. Jangan lupa kalau kamu itu sudah jadi istrinya orang. Bukan tanggung jawab Bapak lagi.” “Emang, selama ini Bapak bertanggung jawab atas apa pun mengenai Sri?” celetuk wanita berparas manis itu. Ia seketika menangkup mulut karena tak sengaja bicara kasar. “Ya, Allah Bapak. Maafin Sri salah bicara,” katanya. “Nggak apa-apa. Kamu memang benar, kok. Ya, sudah kalau gitu ... Bapak tutup dulu teleponnya, ya. Habis ini Bapak mau masak.” “Oh, iya, Pak. Assalamualaikum,” timpal Sri yang seketika menatap layar ponsel. Panggilannya memang sudah berakhir. Namun, seketika ia penasaran dengan adik-adiknya sehingga hendak menelepon mereka juga. “Aku klik apa kalau mau telepon lagi?” tanyanya pada Safka yang masih tertunduk, memfokuskan tatapan pada ponsel. “Eh, iya apa?” Pikiran Safka tak konek. Ia malah mendongak dan memandang wajah Sri yang teramat cantik. Terlebih saat tiba-tiba ada embusan angin yang menerpa rambut istrinya itu sampai beterbangan. “Aku mau telepon Siti. Klik apa?” tanyanya lagi. Sri lantas kembali mendekati Safka. Ia pun duduk kembali karena merasa kakinya pegal. “Ah, itu. Klik yang gambar telepon aja lagi. Nanti cari namanya di kontak. Lagian baru ada tiga nomor di sana. Jadi kau nggak bakal pusing saat nyari nomornya. “Oh, ok. Makasih,’ katanya seraya menyunggingkan senyuman palsu. Ia sama sekali tak merasa nyaman karena merasa selalu diperhatikan. Safka mengangguk. Dan, ia pun pamit pergi karena harus menelepon seseorang. *** Pandangannya sesekali mencuri ke arah di mana Sri sedang menelepon adiknya di balkon. Sedang suaranya ia pelankan, agar Sri tak dapat mendengar apa yang ia katakan dalam telepon. Aris, lelaki yang ia suruh untuk memata-matai Sudirman itu baru saja memberitahu kalau Sudirman baru saja sampai di rumah. “Ok. Terus kamu pantau, apa yang ia lakukan sehari-hari, ya. Tapi, kamu nggak lupa kan tadi?” Safka berbisik lagi. Ia bahkan sampai berjalan dan berdiri di tempat yang jauh dari balkon. Padahal, Sri yang rindu dengan kedua adiknya itu sedang asyik mengobrol. “Soal apa tuh, Bos? Kok, saya kayaknya lupa.” Aris yang baru saja selesai makan dengan istrinya itu menyengir layaknya kuda nil. “Foto. Saya kan nyuruh kamu untuk memfoto apa pun yang kamu liat, Pak.” Safka makin berbisik saking tak mau ucapannya didengar Sri. “Oh, iya, Pak. Saya sampai lupa. Lupa nggak kirim foto yang saya ambil maksudnya.” Aris menyengir lagi. “Ok. Kalau gitu cepetan kirim. Teleponnya saya tutup, ya?” Safka pun pamit dan seketika menutup telepon cepat-cepat setelah Aris mengiyakan apa yang diucapkannya. Lantas, ia segera menghampiri Sri kembali. Istrinya itu sedang terisak haru sambil tertawa-tawa kecil. Safka tertegun melihat gadis manis nan cantik di hadapannya itu. Ia sungguh jatuh cinta, dan ingin memiliki Sri seutuhnya. Namun, ia pun tahu betul kalau istrinya itu tidak mempunyai perasaan apa pun terhadapnya. Duduk perlahan di kursi tempatnya tadi duduk bersama Sri, Safka masih tetap memerhatikan wanita yang dicintainya itu dengan jantung berdebar. Sesekali senyumnya mengembang tipis, diiringi tatapan haru. Sebab, di sisi lain ia pun tak ingin memaksakan apa yang diinginkannya. “Aku akan membebaskanmu dari tanggung jawab seorang istri, Sri. Setidaknya sampai kamu bisa menerimaku dengan hati yang tulus. Bukan karena terpaksa, nasihat bapakmu, atau karena aku.” Pandangannya terjatuh, tepat ketika air matanya ikut meniti dari kelopak. Sedang bibirnya tetap tersenyum sehingga ia mampu mengangkat wajahnya lagi. Namun, begitu ia mengangkat wajah dengan maksud hendak kembali melihat Sri, istrinya itu sudah berdiri bahkan menghadap dan menatapnya. “Aih. Si Om nangis? Kenapa, sih? Apa jangan-jangan karena aku terlalu lama make ponselnya?” seloroh Sri seketika. Ia bahkan refleks mengangkat sebelah alis. “Tapi, kok ... masa cowok nangis? Udah om-om pula. Nggak sadar umur!” sambungnya sambil tergelak. Ia benar-benar tak peduli sekali pun suminya itu akan tersinggung. “Suka sembarangan, ya, kalau ngomong?” Safka pun menyapu air mata di pipinya. Lantas, ia berdiri dan mendekatkan diri pada Sri. “Aku baru aja kelilipan. Noh, nggak liat anginnya kenceng banget?” sambungnya. Kebetulan, angin memang sedang bertiup kencang. Sri langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun, ia baru sadar kalau ternyata, anginnya memang sedang bertiup kencang. “Pantes berasa dingin dari tadi,” ucapnya, sanga pelan. “Kan? Makanya, jangan suka sembarangan kalau ngobrol.” Safka tersenyum tipis, senang karena merasa terselamatkan oleh tiupan angin yang padahal tidak tahu menahu. “Kamu, udah ngobrolnya?” Sri mengangguk. “Udah!” jawabnya ketus. “Kok, sebentar? Tadi, katanya kangen.” Safka kembali mendekatkan diri, sehingga hampir menghapus jarak di antaranya dengan Sri. Membuat Sri seketika melangkah mundur dan meneriakinya dengan sebutan otak m***m. Lantas, melihat Safka yang justru tergelak, ia pun lari ke kamar. “Dasar Om-Om gila. Bisa gila juga aku, kalau kelamaan di sini!” umpatnya setelah berada dalam kamar. “Tapi gimana lagi? Huaaaaa!” sambungnya seraya melempar tubuhnya itu ke rajang. Lantas, ia bertelungkup dan mengacung-acungkan kakinya ke belakang. “Astaga bocah!” Safka berkomentar, setelah menyusul dan melihat Sri menangis sambil tengkurap. “Kenapa, sih? Masih kurang ngobrolnya? Atau, mau ice cream??” “Mau!” timpal Sri, seketika. Ia sampai menangkup mulut karena menyadari ucapannya yang refleks terucap. Ice cream, memang makanan yang ia suka tetapi jarang sekali menikmatinya. “Nggak jadi!” sambungnya seraya kembali menenggelamkan wajahnya di antara bantal dan guling. “Aih, kok gitu?” Safka pun duduk di tepi ranjang, sehingga membuat Sri yang merasakan gerakannya berlonjak kaget sampai duduk. “Mau ngapain?” Sri langsung menarik guling dan memeluknya. “Duduk doang. Sekalian mau ngajakin—“ “Ngajakin apaan oi? Astaga! Sumpah, ya ... aku tuh belum siap. Huaaaa!” selanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN