Di teras rumahnya yang sederhana, Aris mengirimkan beberapa foto pada Safka sembari memerhatikan Sudirman yang baru saja pulang dengan langkah sempoyongan. Lelaki paruh baya itu tampak sedang mengetuk pintu sembari memanggil Siti dan Fahmi.
“Dasar aki-aki nggak tau diuntung!” umpatnya lagi sebelum kemudian ia mengangguk dan menyunggingkan senyuman pada Sudirman yang lebih dulu mengangguk sambil tersenyum-senyum tak jelas. “Baru balik, Kang?” tanyanya, sedikit berteriak.
“Iya, Mang Aris. Baru pulang belanja,” jawabnya seraya mengangkat sebelah tangan. Padahal, ditangannya itu tidak ada apa-apa.
“Oh, iya-iya!” timpal Aris seraya menahan tawa. Barulah setelah Sudirman masuk ke rumahnya, Aris tergelak keras sampai membuat istrinya terheran-heran di dalam.
“Ada apaan, sih? Ketawa udah kayak kunti aja!” tanya istrinya itu setelah berdiri di ambang pintu. Ia memelak pinggang seraya mengedarkan pandangan. Karena sudah hampir senja, tak ada siapa pun di sekitar rumahnya itu.
“Itu loh, Neng. Barusan Pak Sudirman pulang sambil sempoyongan. Biasa, abis mabuk. Terus akang tanya dong, baru pulang begitu. Eh, dia kata abis belanja sambil ngangkat tangannya. Padahal, di tangannya itu nggak ada apa-apaan!” timpal Aris, lagi-lagi sambil tertawa.
Ya, ampun. Halu dong tuh aki-aki?” Istrinya yang bernama Fitri itu pun ikut tergelak garing karena tak benar-benar lucu.
“Ya, gitu. Makanya akang sampai sakit perut ini karena ketawa kekencangan.” Aris bahkan masih tertawa.
“Kualat itu!” timpal Fitri seraya melengos pergi ke dalam. “Masuk, Kang. Bentar lagi kan Maghrib,” sambungnya.
“Iya-iya. Tapi nanti, kasih akang jatah lagi, kan?” goda Aris sambil mengekor. Ia bahkan menggelitiki kedua belah pinggang istrinya sambil tersenyum-senyum.
“Jatah teros!” ledek Fitri. Ia sama sekali tidak merasa kegelian. Hanya saja, tingkah suaminya itu membuat ia gemas, sehingga seketika membalas kelitik Aris dengan cubitan mesra.
“Iya lah. Mumpung akang lagi banyak duit ini,” katanya sambil tertawa renyah. Lantas, ia pun menyenggol pinggul Fitri sembari melewati istrinya itu. “Akang ke kamar mandi duluan. Nanti Neng nyusul, ya?”
“Dih! Mau ngapain sih?” Fitri tergelak.
“Ambilin Akang handuk dong. Akan mau mandi,” jawabnya sambil menoleh dan mengedipkan sebelah mata. Tapi, kalau sekalian ngasih Akang jatah juga nggak apa-apa.” Tawanya seketika membahana.
“Astagfirullah, Akang. Buruan sana mandi dah ah!” ledek Fitri kembali, sembari melengos pergi mendahului aris ke kamar mandi. “Kita keramas bareng!”
“Aih!?”
***
“Bapak mabuk lagi? Tadi katanya cuman lagi ngopi di rumah Uwa. Tapi kok sempoyongan kayak gini? Mana bau alkohol juga, lagi!” omel Siti setelah membawa bapaknya itu masuk ke rumah.
Siti yang baru saja selesai memasak itu pun membawa bapaknya itu ke kamar. Lantas, ia mendudukkan sebelum akhirnya ia membaringkan bapaknya di sana dengan perlahan-lahan. Seperti Sri, meski pun Siti kesal, tak suka dan ingin marah tiap kali bapaknya mabuk, Fitri pun amat sangat menyayangi bapaknya itu.
“Kapan kapoknya, sih, Pak ... Pak? Udah janji sama Kak Sri pun tetep aja Bapak mabuk. Nanti, kalau tiba-tiba Kak Safka nggak ngasih Bapak uang seperti janjinya, Bapak juga yang repot,” sambungnya seraya menyelimuti Sudirman. Bapaknya itu seharusnya mandi. Tapi, Siti belum berani memandikan bapaknya itu.
“Bapak cuman belanja tadi,” timpal Sudirman lagi dengan suara khas pemabuk. Ia bahkan sedikit tertawa sebelum akhirnya diam karena tertidur dalam waktu yang singkat.
“Nggak tau, deh ... cara apa yang bisa bikin Bapak kapok buat judi sama mabuk? Ancaman Kak Safka rasa-rasanya sama sekali tak berpengaruh. Padahal, Siti yakin betul kalau orang suruhan kakak iparnya itu sudah melaporkan kegiatan Sudirman untuk hari ini.
Iseng, Siti pun mencari ponsel bapaknya itu dalam saku baju dan celana. Ia menemukannya di saku baju. Niat hati, ia ingin melihat ada aktivitas apa saja dalam ponsel Sudirman. Namun, yang ia temukan di w******p hanya riwayat panggilan masuk dari kakaknya.
“Susah emang!” sambungnya, seraya memelak pinggang. Lantas, ia segera melengos pergi dari kamar bapaknya itu.
“Bapak mabuk lagi, Kak?” tanya Fahmi yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia menggaruk-garuk kepala sembari melap ingus dengan sebelah tangan yang lain. Sedang kepalanya mendongak menatap Siti yang berdiri di depan pintu kamar bapaknya.
“Iya. Tapi nggak apa-apa. Bapak udah tidur, kok. Sekarang kita siap-siap shalat, yuk? Kamu ingat apa kata Kak Sri kan tadi, kan?”
“Iya, Kak. Kita harus selalu ingat untuk melakukan yang lima waktu,” timpal Fahmi seraya mengangguk antusias. Pasalnya, Sri pun sempat menjanjikan sepeda saat menelepon tadi kalau dirinya rajin sekolah dan sekolah.
“Bagus. Kalau gitu ayo.”
***
“Ngajakin shalat, oi. Otaknya tolong, ya dikondisikan!” seru Safka seraya menoyor kening Sri yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
Jleb! Seketika Sri berdeham dan menelan ludahnya cepat-cepat. Lantas, ia membenahi posisi duduk seraya menaruh guling yang ia peluk. “Oh. Kirain apa,” gumamnya sembari menahan rasa malu. Wajahnya, bahkan sampai merah padam.
“Kirain apa? Ena-ena?” Safka pun seketika tergelak. “Dan kamu masih belum siap?” tanyanya lagi seraya mencondongkan wajahnya sehingga menjadi lebih dekat dengan Sri.
Hening. Keduanya seketika terdiam, hanyut dalam kebisuan sampai menenggelamkan isi pikiran. Sri menelan ludahnya dengan susah payah tanpa berkedip. Ia pikir, kenapa lelaki di hadapannya itu begitu manis.
“Astaga! Apa-apaan ini? Kenapa aku sampai punya pikiran kayak begitu? Ingat, Sri. Dia itu Cuma om-om yang udah beli kamu dari Bapak. Jadi, jangan baper!” batinnya seraya mengedipkan matanya cepat. Ia mengerjap, tapi pandangannya belum juga berpaling dari Safka.
Sementara itu, Safka justru tersenyum tipis menatap wajah istrinya yang kian tersipu. Merah di kedua pipi Sri membuatnya semakin gemas pula. Ia ingin mencubit, bahkan ingin sekali memeluk Sri dengan begitu erat.
“Asal kamu tau, Sri. Aku mempunyai perasaan yang tulus buatmu,” gumamnya.
Sri mendengarnya samar. Ia mengernyit tipis sembari menelengkan kepala. “Hah?” ucapnya, ragu.
“Eh, itu ... ayo!” ajak Safka pada akhirnya. Lantas, ia menarik diri dan segera berdiri. “mau shalat bareng?” tanyanya, lagi-lagi sembari melebarkan senyuman. Ia harap, komunikasi yang intens akan membuat Sri segera menyadari apa yang ia rasa.
“Oh, iya ayo.” Sri langsung mengangguk, dan lagi-lagi itu karena refleks. “Eh. Shalat berjamaah?”
“Iya. Kenapa? Nggak mau juga? Belum siap juga?” Safka meledek istrinya lagi. Namun, kali ini tanpa senyuman karena ia baru saja menerima pesan sehingga membuat matanya fokus ke ponsel.
“Dih. Eh, tapi kayaknya emang nggak usah deh. Kamu kan juga sibuk sama ponsel,” singgung Sri seraya bangkit berdiri. Lantas ia segera pergi ke kamar mandi. “Aku duluan aja!”
“Eh, bentar. Aku nggak sibuk. Cuma buka pesan aja.” Safka berteriak seraya melempar ponselnya itu ke ranjang. Lantas ia mengejar Sri.
Namun, Sri yang sudah sampai di ambang pintu kamar mandi pun seketika menutup pintu sambil menjawab, “Terserah!”
“Astaga!” Safka pun langsung mengusap keningnya yang baru saja kejedot pintu.
***