Jantung yang Berdebar Hebat

2030 Kata
Adzan sudah berkumandang dengan merdunya sejak sebelum Sri masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sehingga begitu ia dan Safka selesai menyucikan dirinya dari hadas kecil, mereka pun bersiap-siap untuk melakukan shalat berjamaah di kamar. Sri mengambil mukena yang tak lain adalah salah satu mas kawin dari Safka. Ia pun langsung menggelar sejadah di belakang suaminya itu sebelum kemudian memakai mukena. Tak ada hal lain yang ia pikirkan sekarang, kecuali ingin beribadah dengan khusuk seperti yang sudah-sudah. Namun, mendengar Safka berdeham usai memakai kain sarungnya, Sri pun seketika tersadar dari lamunan. Bahwa, sekarang, shalatnya pun diimami seorang suami. “Dah siap?” Safka menoleh seraya menatap Sri arang sekejap. Namun, menyadari adanya hal baru yang ia lihat di diri Sri, ia pun kembali menarik wajahnya untuk melihat Sri lebih lama lagi. Istrinya itu terlihat begitu cantik saat memakai mukena. Bahkan, ia melihat adanya ketenangan di wajah teduh Sri. “Sudah, Om.” Sri tetap memanggil suaminya dengan sebutan itu. Tanpa ia sadari, yang diucapkannya barusan berhasil membuat Safka ingin tertawa. “Bisa panggil aku Mas nggak? Untuk sekali iniiiiiiiiiiiii aja,” pinta Safka dengan sungguh-sungguh meski sebenarnya ia sangat ingin tertawa. Dipanggil om oleh istri sendiri memang menggelikan sekali untuknya. “Nggak bisa.” Sri memegang teguh pendiriannya. “Sekali ini aja, Sri. Please!” Safka memohon lagi. Bahkan, ia sampai menangkupkan kedua tangan di dadanya. “Aku, kan, suami kamu. Ya, mu, ya?” bujuknya lagi. “Dih! Udah, deh jangan bicara mulu? Tadi katanya mau shalat berjamaah? Atau, aku shalat sendiri aja, nih?” ancam Sri seketika. Ia bahkan tak melihat Safka barang sedetik pun. Tatapannya jatuh ke sejadah yang hendak ia pakai untuk shalat. “Bahannya adem dan lembut banget,” batinnya sambil tersenyum takjub. “Ya, ampun, Sri ... ancamannya nggak seru!” Safka pun akhirnya mau mengalah. “Ya, kalau mau yang seru itu memang bukan di sini. Tapi di sana tuh, di depan TV!” Sri pun sekuat tenaga menahan tawa. Sebab, akhirnya Safka hendak memulai shalat berjemaahnya. Lantas, ia menghela napas panjang. “Jangan terpancing, Sri. Jangan terpancing!!” batinnya. *** Usai bersalaman setelah selesai shalat Maghrib, Sri pun bergegas membereskan alat shalatnya. Lantas, ia segera naik ke ranjang karena tak mau keduluan suaminya sendiri. Ia bilang, “Kamu jan tidur di sini lagi. Awas aja!” “Dih! Kok, ngatur? Ini rumah siapa coba?” Safka yang baru saja selesai melipat kain sarungnya itu pun tak kuat untuk menahan tawa. Sebab, istrinya berulah lagi. “Ya, memang rumah kamu. Tapi, kan, aku duluan yang naik ke ranjang. Jadi, kamu harus mengalah dan tidur di luar kamar!” Sri menjelaskan alasan tak masuk akalnya. “Ho ... jadi kamu pun mau membuat aturan di rumahku sendiri? Haha, baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang, kita akan saling berebut tempat untuk tidur. Siapa cepat dia dapat, begitu?” Safka pun mengartikan apa yang dikataka Sri. “Tepat!” timpal Sri yang seketika mengurung diri dalam selimut. Ia bukannya mau tidur. Hanya saja ingin segera mengakhiri obrolan. “Ok, aku terima. Tapi dengan syarat, kamu nggak boleh kunci pintunya!” Safka pun berjalan lambat menuju lemari, di mana ia hendak menyimpan peralatan shalatnya itu di sana. “Loh, kok gitu?” tanya Sri yang seketika mengintip saja dari celah selimut. “Aku nggak mau, ah. Nanti kalau kamu diam-diam masuk dan ngelakuin hal yang aneh gimana?” “Yang aneh itu otakmu!” Safka langsung berbalik menghadap Sri seraya melipat kedua tangannya di sana. “Ini kamarku, ya. Jadi yang pasti, aku pasti ada butuh sesuatu untuk diambil. Kalau dikunci?” tanyanya, mulai serius. Sri terdiam barang sejenak sebelum akhirnya ia beranjak turun dengan tetap memakai selimutnya. “Kalau gitu, biar aku aja yang tidur di luar!” jawabnya seraya mengambil satu bantal. Lantas, ia melengos hendak pergi ke luar kamar. “Eh, nggak gitu juga konsepnya!” Safka langsung menarik tangan Sri dengan sedikit cepat dan kencang, sehingga membuat Sri tertarik dan terpelanting ke arahnya. Wanita berambut sepinggang itu, sekarang tengah berada begitu dekat dengan Safka. Ia bahkan dapat merasakan detak jantung suaminya yang sedang berdebar kencang. Sebelah tangannya dalam genggaman Safka, sedang sebelah yang lain berpegang erat di bahu Safka. Selimut yang membungkus tubuhnya jatuh. Begitu juga dengan bantal yang ia pegang sebelumnya. Ruang di mana hanya ada Sri dan Safka itu pun mendadak hening. Tak terdengar suara apa pun kecuali deru napas keduanya. Sri yang seketika terhipnotis oleh aroma yang menguar dari tubuh Safka, terpejam menikmati baunya. Ia pikir, parfum apa sampai sewangi itu. Sampai-sampai dirinya terperanjat karena sadar akan tubuhnya yang tak pernah memaki wewangian apa pun. “Apa, sih? Kamu tuh ya kok hobi banget mencuri-curi kesempatan? Maunya apa coba? Aku minta kamu tidur di luar nggak mau! Aku yang ngalah biar tidur di luar, nggak boleh!” Sri kembali meraih selimut dan juga bantal yang berceceran di lantai sambil mengomel. Ia bersikukuh dengan keinginannya itu. Safka, atau dirinya yang saking tak mau tidur sekamar lagi. Tak peduli sekali pun dirinya memang tinggal di rumah Safka. Menikah bukan keinginannya. “Ok-ok! Kalau gitu, biar aku yang tidur di luar!” Safka balas berseru. Ia juga langsung merebut bantal juga selimut dari tangan Sri, sebelum istrinya itu melengos pergi. “Ribet banget, sih? Memang aku ngapain semalam? Tidur sekamar pun mana ada ngapa-ngapain!” gumamnya. “Kalau nggak ikhlas mending nggak usah!” protes Sri. Ia yang seketika merasa puas pun menahan tawa sampai tercengir-cengir. “Iya, istri, iya!” Safka menoleh dan mendelik kesal pada istrinya itu. Membuat Sri yang tengah menyengir seketika menutup mulutnya rapat sambil membuang wajah. Ia tak mau sampai terlihat sedang bersenang-senang di atas penderitaan suami sendiri. “Good!” Sri pun lantas berbalik dan segera menuju ranjang. Meski hari baru saja melewati waktu Maghrib, ia tak sabar untuk segera membuat benteng di antara Safka dan dirinya itu sebelum malam semakin larut. Biar saja kalau Safka memang membutuhkan sesuatu dari kamarnya. Sri akan membiarkan suaminya itu masuk barang sebentar. Namun, baru satu jam terlewat, Sri justru merasa BT sendiri. Ia bosan di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apa pun. Televisi tak ada. Ponsel pun ia belum mengerti sepenuhnya. “Si Om kok nggak minta masuk kamar, ya? Udah lewat Isya juga. Padahal, aku pikir, dia bakal minta masuk buat shalat dulu.” Sri bergumam di depan cermin. Ia memang sedang duduk menghadap meja rias. Selain karena baru selesai shalat, ia pun hendak bercermin dan melihat bayang dirinya itu di sana. “Aku nggak habis pikir, deh. Si om kok mau-maunya nikahin gadis kampung seperti aku? Udah miskin, jelek, nggak ada wangi-wangi sama sekali pula,” ucapnya kemudian seraya mencium kedua belah keteknya. Kecut. Sri seketika mengernyit saking asamnya bau ketek yang baru saja ia hirup. “Ya, ampun ... beneran kecut!” sambungnya sambil tertawa pelan. “Si Om nyium baunya nggak ya tadi? Tengsin kalau memang beneran si Om udah tau bau kecutnya aku.” “Sri, kamu nggak gila, kan? Malam-malam gini ngapain ketawa-ketawa gitu?” tanya Safka dari luar kamar. Ia menempelkan sebelah kupingnya di pintu usai mendengar suara cekikik Sri. “Nah, itu dia.” Sri pun menoleh ke arah pintu. “Tapi, dia itu emang nggak bisa ngomong yang baik-baik deh kayaknya. Orang pake dikatai gila!” sambungnya seraya bangkit berdiri. “Ada apaan? Kalau nggak ada yang penting-penting amat, mending nggak usah bersuara, deh. Berisik tau!” seru sri dari dalam. Ia sudah berada di hadapan pintu kamarnya. “Mau shalat. Penting nggak itu?” Safka pun menimpali Sri sambil menjauhkan diri dari pintu. Kedua tangannya seketika menyilang di d**a. Ia menanti pintu terbuka. Sri tak menjawab. Namun, ia langsung membuka pintu dan mempersilakan Safka masuk. “Nggak usah lama-lama!” katanya setelah Sri keluar dari kamar. Padahal, setelah merasa pengap dan bosan, ia senang karena bisa keluar dari kamarnya itu. “Bawel banget, sih? Orang shalat paling berapa menit, sih? Nggak mungkin dong semalaman?” Safka mendelik pada istrinya itu. “Tapi, aku mau buang kotoran dulu, sih!” sambungnya sambil tertawa kecil. “Jadi, ya harap maklum kalau agak lamaan.” Sri menggeleng. Lantas ia pun segera pergi menuju ruang di mana ada televisi di sana tanpa menimpali Safka kembali. Yang ia ingin sekarang adalah buru-buru merebahkan diri di kursi, lalu menonton acara di televisi. “Dasar cewek!” ledek Safka seraya menutup pintu kamar. “Isi pikirannya bener-bener ribet sampai susah buat ditebak. Baik, tapi galak. Perhatian, tapi bawel. Jangan-jangan, dia kek benci gitu ... padahal cinta banget,” sambungnya sampai tergelak. *** Di lantai bawah, Shanty dan ranti kembali mendengar suara keributan. Mereka lantas menguping sampai sedikit mendekatkan diri dengan menaiki beberapa anak tangga. Bukan mengapa, mereka hanya takut kalau sampai bosnya melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga yang baru saja seumur jagung. “Ada ya, suami istri kerjaannya ribu melulu? Mereka ini ngeributin apaan coba?” Ranti berbisik pada temannya Shanty. Ia bahkan langsung menggiring temannya itu untuk kembali turun. Di atas, suara Safka dan Sri sudah tidak terdengar lagi. “Mungkin, mereka itu ngeributin kolor?” Shanty membalas pertanyaan temannya itu dengan candaan. “Kolor kok diributin?” Ranti pun protes. Meski bisa saja itu terjadi, ia sama sekali tak habis pikir. “Ya bisa aja, Ran. Misal, tuan muda mau pake kolor yang warnanya ijo. Tapi, nyonya nggak kasi izin karena nggak suka sama warnanya.” Gadis itu menjelaskan. “Aih. Nggak ada hal keren lain apa? Rebutan tali kutang gitu?” Ranti langsung tergelak. Ia bahkan lupa kalau bosnya bisa saja mendengar tawa mereka dari atas. Dan, ternyata memang benar. “Tali kutang apaan?” tanya Sri yang baru saja berpegang pada pagar pembatas lantai. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya itu sebelum kemudian beranjak turun. Di atas tidak ada makanan atau minuman. Sedangkan ia merasa tenggorokannya itu teramat kering. “Nyonya mau ke mana?” Shanty pun bertanya setelah Sri sampai di tengah-tengah anak tangga. Ia mendongak seraya menelan ludahnya dengan begitu cepat. “Mau dengerin cerita kalian lah. Penasaran banget aku sama kutang yang lagi kalian bahas!” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi bohong!” sambungnya yang seketika membuat Ranti dan Shany bernapas lega. “Aih. Udah mulai pandai bercanda rupanya.” Ranti pun menjawab dengan tenang. Karena setidaknya, Sri tak jadi kepo. “Tapi, nyonya mau ke mana sih emang?” tanyanya. “Saya lapar. Haus juga karena di atas nggak ada apa-apa yang bisa dimakan atau diminum.” Sri pun langsung menuju dapur. “Lah. Kan, bisa manggil kita biar kita bawa ke atas. Kenapa harus repot-repot turun begini?” Shanty memprotes. Ia merasa tidak ada gunanya jadi pekerja. “Betul itu kata Shanty.” Ranti setuju. Ia mengangguk-angguk. “Nggak apa-apa. Lagian, hanya duduk diam itu nggak enak. Apalagi buat saya yang terbiasa bekerja setiap hari. Untuk sehari ini aja, aku ngerasa kayak sebulan.” Sri menjelaskan seraya melengos pergi ke dapur. “Kalian udah makan?” “Masih kenyang sih kalau saya,” timpal Shanty. Ia mengikuti Sri bersama Ranti. Bahkan sampai mengekor ke mana pun Sri melangkahkan kaki. “Nggak tau kalau Ranti.” “Sama!” timpal Ranti. “Oh, gitu. Terus Kenapa belum pada tidur atuh?” tanya Sri kembali. Ia menoleh, melihat kedua pekerja suaminya itu barang sekejap sambil menyengir. “Udah lewat isya juga, kan?” “Ya, karena selain belum ngantuk ... tidur jam segini itu bisa bikin Tuan marah.” Shanty pun balas menyengir, meski Sri tak melihatnya. “Loh, kok marah?” “Ya, karena kalau Tuan mau diambilin sesuatu, kita nggak denger.” “Oh, iya. Tapi ... emang tuan kalian aja yang manja. Mentang-mentang udah bayar kalian, dia jadi seenaknya, kan?” Sri meringis. Sudah menebak apa yang biasa orang kaya lakukan pada pekerjanya sendiri. “Kadang-kadang sih begitu. Tapi ya mau gimana, ya? Itu kan udah jadi risikonya.” “Iya juga, sih. Ya, sudah ... kalau gitu Saya naik ke atas dulu, ya. Kalian kalau mau tidur, tidur lah. Biar Safka, nanti saya yang urus.” Sri sudah mengambil beberapa buah dan satu botol s**u dari kulkas. “Serius?” Shanty dan Ranti sama-sama bertanya hal yang dikhawatirkan. Membuat Sri yang sudah naik ke salah satu anak tangga pun mengangguk yakin. Katanya, “Met tidur, ya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN