Kesempatan Dalam Kesempitan

1134 Kata
Asyik menikmati buah sembari menonton televisi, Sri sampai tak menyadari suaminya yang tak kunjung keluar dari kamar. Ia bahkan sampai merasa kantuk, sehingga dalam hitungan detik setelah menguap beberapa kali ... tidurnya lelap sekali. Entah, tapi Sri memang merasa tubuhnya lelah saja. “Aih!” Safka yang baru saja keluar pun mengernyit, begitu mendapati sri terlelap di kursi depan televisi. “Sengaja apa gimana ini? Tadi katanya aku aja yang tidur di luar. Sekarang, malah dia yang tidur di sini,” sambungnya. Safka pun menghampiri istrinya itu. Lantas ia duduk menghadap wajah Sri sembari menopang dagu. Kedua belah sudut bibirnya menyungging tipis, tersenyum selama ia menatapnya dengan begitu kagum. Wajah Sri begitu cantik dan manis sehingga berhasil membuatnya jatuh dan larut dalam perasaan bernama cinta. “Kapan kamu akan mengerti kalau aku menikahimu karena kasih sayang dan cinta?” gumamnya seraya menyentuh pelan puncak kepala Sri. Ia mengusapnya lembut dan berhati-hati agar Sri tak bangun dari tidurnya. “Memberi bapakmu sejumlah uang bukan karena aku ingin membelimu, Sri. Aku hanya ingin membebaskanmu dari kewajiban yang tak seharusnya. Itu,” gumamnya lagi. Lelaki yang rambutnya saja masih basah oleh air wudhu itu lantas menurunkan usapannya ke sebelah pipi kanan Sri. Begitu halus dan lembut yang ia rasakan, meski Sri tak pernah melakukan perawatan apa pun. “Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatmu yakin terhadap perasaanku, tanpa aku paksa sedikit pun.” Kedua belah sudut bibir merah kehitamannya masih menyungging, sampai akhirnya Safka terbersit untuk mencium kening istrinya itu. Ia menyudahi senyumnya. “Aku bahkan tidak akan melakukan hal yang aku pikirkan barusan, sebelum kamu meyakini perasaanku,” batinnya seraya menelan hasratnya itu dalam-dalam. Safka pun menghela napas panjang sambil terpejam. Lantas ia berdiri dan membopong Sri untuk dipindahkan ke kamar. Awalnya Sri tak bangun. Membuat Safka merasa dirinya akan aman dari amukan dan teriakan Sri yang sudah pasti berpikir yang tidak-tidak. Namun, begitu Safka sampai di kamar dan hendak membaringkan Sri di ranjang, istrinya itu membuka mata dengan sekali kedip saking kagetnya. Seketika Sri menjerit dan menggeliat sehingga dirinya hampir jatuh kalau saja Safka tak lebih kuat menahan dan menurunkan Sri dengan perlahan. “Dasar b***t! Otak m***m! Nggak tau malu! Tukang bohong! Ingkar janji!” tuding Sri sampai berulang kali. Ia bahkan tidak hanya berteriak, karena matanya pun ikut berderai mengeluarkan air mata ketakutan. “Aku bisa jelasin. Itu nggak seperti apa yang kamu lihat!” balas Safka, saat Sri menghela napasnya dalam-dalam di tengah isak tangis. “Cukup. Apa yang baru saja terjadi sudah cukup membuatku tau, kalau kamu memang lelaki yang tidak bisa menjaga janji!” Sri kembali menimpali sambil berlari ke luar lagi. Ia lantas menutup pintu dengan sekali entakkan sampai menciptakan dentuman keras. Ia hendak pergi dan tidur dengan Shanty dan Ranti. “Astaga, Sri.” Safka pun hanya mampu mengela napas berat setelah Sri menghilang di balik pintu. “Seharusnya, kamu dengerin aku ngomong dulu,” sambungnya seraya duduk di tepi ranjang. Ia memijat kening. Kepalanya tiba-tiba terasa berat. *** “Denger nggak?” Ranti yang baru saja selesai makan mencolek Shanty yang duduk di sampingnya sembari bermain game. “Denger. Tapi ya udah, sih. Biarin aja mereka berantem juga. Kan, bukan urusan kita. Urusan kita itu Cuma beres-beres rumah sama masak!” Shanty sama sekali tak menghiraukan colekan Ranti. Ia tetap fokus pada permainan dalam ponselnya. “Tapi kan aku khawatir, Shan. Tau sendiri di berita-berita aja banyak banget kasus pembunuhan dalam rumah tangga?” Ranti kembali berceloteh. “Kagak. Denger aja sendiri. Teriakan nyonya kita udah nggak ada lagi, kan? Aman lah!” Shanty pun tergelak, senang karena baru saja memenangkan permainan. “Nyonya?” Ranti yang baru saja akan duduk di ranjang pun urung, setelah melihat Sri yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. “Izinin saya tidur di sini, ya?” Sri pun langsung menutup pintunya lagi. Shanty yang sedang berbaring dan asyik bermain game pun seketika beranjak duduk sambil tercengo. “Kenapa?” tanyanya, seketika. Kekhawatiran Ranti yang tadi ia dengar langsung beralih pada pikirannya. “Nggak apa-apa. Saya cuman mau tidur sama kalian aja malam ini,” jawab Sri. Ia lantas melangkah maju menghampiri para pekerja. ”Boleh, kan?” “Oh, boleh-boleh. Biar aku sama Shanty tidur di bawah,” timpal Ranti seraya menarik Shanty dari ranjang. Temannya itu pun turun. “Iya, Nyonya. Tapi kasurnya sempit. Nggak empuk juga.” Shanty pun ikut berucap. “Nggak apa-apa. Tapi maaf, ya kalau saya tiba-tiba mengusik istirahat kalian. Habisnya, mau tidur di kamar lain pun, kamarnya dikunci semua.” Sri menyengir. Ia sebenarnya malu, karena dua wanita di hadapannya itu sudah pasti bertanya-tanya. Kenapa Sri tak tidur dengan suaminya. “Nggak apa-apa. Sok aja atuh, baring. Istirahat,” titah Shanty. Lantas, ia dan ranti pun segera menggelar kasur lantai untuk mereka tidur. “Tapi kau boleh tau, sebenarnya ada apa, sih? Kok, Nyonya nggak tidur sama Tuan?” Usai menggelar kasur lantai, Shanty pun bertanya lagi. Ia sangat penasaran sehingga memberanikan diri untuk bertanya-tanya. “Bukannya Nyonya sama Tuan sudah resmi menikah?” “Memang,” timpal Sri seraya duduk dan membaringkan tubuhnya segera di sana. Ia memeluk guling dan memiringkan tubuhnya sehingga mengarah pada Shanty dan ranti yang juga sudah berbaring di kasur lantai. “Tapi, saya itu sama sekali nggak kenal sama Tuan kalian itu.” “Kok, bisa?” Ranti pun langsung tercengo. “Gimana mungkin, orang nggak saling kenal bisa menikah kayak gitu?” tanyanya. “Ya, bisa. Dan aku ini buktinya. Ya, meski Tuan kalian itu katanya kenal baik padaku.” Sri pun menyengir kikuk. Ia ragu untuk menceritakan yang sebenar-benarnya tentang kenapa Safka bisa menikahinya. “Pantas. Nyonya nggak mau tidur sekamar sama Tuan pasti karena nggak ada rasa cinta, ya?” seloroh Ranti yang tiba-tiba sok tahu. Tapi, ia memang benar. Sri membenarkan apa yang dikatakan wanita di hadapannya itu dengan mengangguk-angguk. “Karena diia udah Om-Om juga. Aku kan masih kecil. Ngeri tau!” katanya sambil tergelak. Ia bahkan bergidik saking gelinya. “Aih. Tapi, kan ... Tuan itu ganteng loh. Dia juga baik,” ucap Shanty. “Memang. Tapi y mau gimana, ya? Orang sayanya nggak mau.” Sri pun menghentikan tawanya. “Saya bahkan ragu, entah bisa menerima ini setelah waktu banyak berlalu. Atau tidak sama sekali.” “Bisa!” Shanty dan Ranti mengucapkan jawaban yang sama. Sebab, keduanya percaya akan rasa yang akan tumbuh karena terbiasa. “Aih. Kompak gitu, ya?” ledek Sri sambil tergelak lagi. “Dah, ah. Sekarang mending kita tidur!” sambungnya seraya berbalik membelakangi Shanty dan Ranti. Matanya mulai terpejam, tapi bibirnya menyungging lebar. Rupa-rupanya, Sri mengingat apa yang membuat Safka membopong dan membawanya ke kamar. “Parah,” batinnya sambil tersenyum malu. “Eh, tapi ... itu tidak menutup kemungkinan kalau Safka mau mencuri kesempatan dalam kesempitan! Jadi, aku tetep nggak salah pokonya. Haha!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN