Protes

1008 Kata
Bukan hal sulit bagi Safka untuk mewujudkan apa yang dia inginkan agar menjadi kenyataan. Selama ini, banyak wanita yang mencintainya karena ia bergelimang harta. Tak sedikit pula yang mencintainya itu tulus tanpa memandang harta. Namun selalu ia tolak dengan alasan, tak memiliki kemistri apa pun saat bertemu dengan mereka. Itu sebabnya, Safka pikir, membuat Sri jatuh cinta akan mudah baginya. Tidak melakukan sesuatu yang spesial dan dikhususkan saja, wanita-wanita kebanyakan sudah dengan begitu mudahnya jatuh cinta. Apalagi jika dirinya itu memalukan sesuatu untuk membuat Sri jatuh cinta. Semalam, satu jam setelah Sri keluar dari kamarnya dalam keadaan marah, Safka terpikir untuk mulai melakukan sesuatu. Ia pun seketika turun dan langsung menuju kamar pekerjanya. Meski sempat merasa ragu dan hendak kembali naik ke kamar setelah berada di depan pintu kamar pembantu, akhirnya ia bertekad mengetuk pintu tanpa bersuara. Ranti yang memang belum tertidur pun seketika beranjak dari berbaringnya. Ia langsung membuka pintu karena meyakini bosnya lah yang datang. “Tuan?” katanya, tak heran. Hanya saja ia khawatir karena Sri berada alam kamarnya. “Istri saya tidur di kamarmu?” Safka pun menyengir kikuk. Ia paham kalau pembantunya itu sudah pasti merasa heran dengan kondisi pernikahannya dengan Sri. “Iya, Tuan. Apa perlu saya bangunkan?” Ranti pun menoleh dan melihat Sri barang sekejap. Nyonyanya itu sedang terlelap. “Eh, nggak usah. Saya ke sini cuman mau bicara sama kamu dan Shanty. Dia udah tidur?” tanyanya lagi, berbisik karena takut membuat Sri terbangun. “Udah, Tuan. Tapi kalau memang perlu, biar saya bangunkan dulu,” izinnya. Ranti pun melihat Shanty sekilas sambil menggeleng. Temannya itu benar-benar tak bisa tidur dengan tenang dan rapi. “Memang perlu. Tapi, jangan sampai Sri ikut bangun, Mbak. Habis itu ajak Shanty ke ruang kerja saya, ya? Saya tunggu kalian di sana,” katanya. Ranti pun lantas bergegas membangunkan Shanty dengan mencubit, menepuk, bahkan menjewer telinga temannya itu. Shanty hanya menggeliat, sebelum akhirnya bangun karena Ranti menyepit hidungnya sampai tak bisa bernapas. “Astaga, Ran! Kamu mau bikin aku mati?” Shanty pun langsung beranjak duduk. Ia menggosok hidungnya yang seketika terasa gatal. Namun, Ranti yang takut membangunkan Sri pun seketika membekap Shanty juga. Ia berbisik, “Tuan barusan ke sini. Jangan berisik dulu kenapa?” ucapnya seraya melirik Sri di ranjang. “Ada apaan sih, emang? Penting banget sampe kudu bangunin aku?” Shanty pun balas berbisik setelah menarik tangan temannya itu dari mulut. “Emang penting. Makanya ayo ikut aku. Tuan udah nungguin di ruang kerjanya,” balas Ranti seraya berdiri dan menarik tangan Shanty. “Buruan!” bisiknya lagi. “Iya, iya. Ya, elah!” Shanty pun turut berdiri dengan dibantu Ranti. Dan, keduanya langsung menuju ke tempat di mana Safka sudah menunggu. Bosnya itu tak bisa duduk diam. Menunggu Ranti dan Shanty saja sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia tak sabar, ingin segera menyampaikan perintah pada dua pekerjanya itu. Dan begitu Ranti dan Shanty masuk, ia sempat membuka matanya lebar sambil menggeleng. “Lama banget, sih?” protesnya seraya duduk. “Tapi nggak apa-apa lah. Duduk!” sambungnya, dengan suara tegas sehingga sukses membuat Shanty dan Ranti merasa takut. Pekerjanya itu berpikir, mungkinkah Safka sedang ingin merencanakan sebuah pembunuhan. “Tidak!” teriak Shanty maupun Ranti, bersamaan sambil menangkup wajah. Safka yang baru saja hendak bicara seketika tercengo, diam dan heran. “Apaan, sih?” tanyanya, setelah beberapa detik terlewat. Ranti dan Shanty yang seketika sadar akan halusinasinya pun menurunkan kedua tangan mereka dari wajah. Mereka lantas saling menatap sebelum akhirnya menggeleng sambil menyengir lebar. “Nggak apa-apa, Tuan.” Keduanya menjawab bersamaan pula. “Kalian ini punya ikatan batin apa gimana? Berteriak bareng, nurunin tangan bareng, jawab pertanyaan saya pun bareng. Jangan-jangan, isi otak kalian pun sama, ya? Hayo loh ... maksud kalian barusan apa?” “Nggak apa-apa kok, Tuan. Iya, kan, iya, kan?” Shanty pun melihat Ranti sambil tertawa-tawa kikuk. Malu dan takut benar karena dirinya baru saja memikirkan yang tidak-tidak. “Nggak apa-apa gimana? Jelas barusan kalian berteriak, meneriaki saya. Padahal saya belum ada ngomong!” jelas Safka seraya menggebrak meja. Itu adalah pertama kalinya dia marah. “Nggak jawab dengan jujur, hari ini juga kalian saya pecat!” sambungnya. “Eh, jangan-jangan, Tuan.” Kedua pekerjanya itu seketika sibuk memohon agar Safka tidak memecat mereka. Namun, Safka memang terkenal tidak pernah main-main dengan ucapan. Ia selalu melakukan apa yang diniatkan, mewujudkan apa yang diinginkan, dan tak pernah menarik apa yang diucapkan terkecuali dengan syarat yang dikatakannya sendiri. “Ya, makanya bilang. Kalian ini mikirin apa sampai berani meneriaki saya?” tanyanya, sekali lagi. Ia tidak akan mengulang pertanyaannya tersebut kalau saja Ranti dan Shanty masih tidak menjawab. “Itu, Tuan. Saya, saya pikir kan Tuan habis berantem dengan Nyonya. Jadi, saya pikir Tuan bakal nyuruh saya buat bunuh Nyonya.” Ranti pun menjawab. “Astaga! Otakmu, ya?” Safka pun menoyor pekerjanya itu dengan pulpen yang baru saja ia genggam. “Terus kamu, apa begitu juga isi pikirannya?” Safka langsung beralih pada Shanty. “I-iya, Tuan.” Shanty pun seketika menunduk untuk menghindari toyoran Safka. Namun, bosnya itu tak habis akal. Pekerjanya yang menunduk itu ia keplak dengan sebelah tangan. “Bagus. Bagus sekali, ya, isi pikiran kalian?” ucapnya sambil tertawa sinis. “Kalau begitu, malam ini juga kalian pulang!” “Loh?!” Kedua pasang mata Shanty dan Ranti seketika melotot tak percaya pada majikannya itu. Ia pikir, bosnya baru saja memecat mereka. Padahal, sebelumnya mereka sudah jujur. “Apa? Nggak terima kalian?” Safka pun tertawa lagi. “Ya, bukan gitu. Tadi kan Tuan janji nggak bakal pecat kita kalau kita jujur sama Tuan. Tapi buktinya, Tuan malah nyuruh kita balik? Dan lagi, Tuan juga belum bilang ... kenapa dan ada apa Tuan manggil kita ke sini?” cerocos Ranti yang tak terima dengan titah tuannya itu. “Ya, memang saya mau nyuruh kalian pulang!” timpal Safka. Pulpen yang dipegangnya ia simpan kembali sambil berdecak puas. “Salah kita apa, Tuan? Kenapa tiba-tiba dipecat?” Ranti protes kembali. Ia bahkan berdiri sembari berderai air mata, tak terima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN