Akibat tidur nyenyak semalam, Sri yang baru saja bangun pun menggeliat sembari menguap lebar. Di kedua matanya terdapat sedikit kotoran yang sudah mengering. Begitu juga di sebelah di sebelah sudut bibirnya itu. Sesuatu yang putih membentuk seperti cacing.
Sri duduk bersila setelah memuaskan geliat juga menguapnya. Ia mengedarkan pandangan dengan wajah super polos. Ia juga menggaruk-garuk rambutnya sambil mencecap-cecap. Tenggorokannya terasa kering sehingga ia ingin sekali minum.
“Mbak Ranti sama Mbak Shanty mana, ya? Apa mereka udah bekerja?” batinnya seraya melihat jam di dinding. “Aih. Baru jua setengah lima. Ya, masa udah start?” sambungnya seraya berdeham-deham.
Di kamar pekerja suaminya itu, sudah tak lagi ada bekas tidur Ranti dan Shanty. Ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu sudah rapi dan bersih. Piring bekas makan mereka pun tidak lagi ada di meja.
Sri menurunkan kedua kakinya ke lantai. Dingin, ia sampai merinding dan segera mendekap tubuhnya dengan kedua tangan. Tapi karena sudah masuk waktu Subuh, ia pun hendak pergi ke kamar mandi sekalian bersuci.
“Mbak,” panggilnya begitu membuka pintu kamar. Tidak ada jawaban dari Ranti mau pun Shanty. Sepi. Sri pun celingukan, melihat ke sisi kiri dan kanan. “Kok, sepi, sih?” batinnya merasa aneh.
Sri menggaruk kepalanya kembali. Ia juga mencecap-cecap lagi sembari terus berjalan menuju kamar mandi. Meski merasa aneh karena tidak adanya Ranti dan Shanty, ia tidak memikirkan sesuatu yang ekstrem. Pikirnya, “Mereka pasti sedang di atas.”
Namun, tiga langkah dari kamarnya tiba-tiba Sri mendengar suara seseorang. Seseorang yang semalam ia teriaki dengan berbagai sebutan. Langkah Sri seketika terhenti. Ia pun mendadak kian merasa dingin sampai bulu kuduknya berdiri.
“Dipanggil bukannya jawab malah diam. Kamu baru bangun?” Safka kembali bersuara. Ia berdiri tegak di belakang Sri sembari melipat kedua tangannya itu di d**a. Melihat Sri yang seketika terkejut dan bahkan kikuk, ia begitu ingin tertawa.
“Iya! Memang aku baru bangun. Kenapa, sih?” Akhirnya Sri pun menjawab. Ia bahkan langsung berbalik menghadap Safka sembari memasang wajah songong.
Safka yang dari semula menahan tawa seketika tergelak sampai terpingkal-pingkal. Berulang kali ia menunduk dengan menopangkan tangannya di lutut. Berulang kali pula ia menunjuk Sri yang berdiri keheranan.
“Apaan, sih? Udah datang-datang ngagetin, kepo, sekarang ketawa kagak jelas!” singgung Sri yang seketika cemberut. Raut wajahnya ia tekuk, sampai berkerut kening dan bibirnya yang polos tanpa riasan.
Sri melengos, pergi meninggalkan Safka yang menurutnya tak jelas. Ia tak mau meladeni lelaki yang sudah membelinya dengan sejumlah uang. Terlebih setelah ia merasa malu, karena semalam sudah menuduh Safka yang tidak-tidak.
“Tunggu dulu, sih. Aku mau bicara.” Safka memanggil sembari mengejar Sri. Namun, sri tak menghiraukannya. “Ok, aku minta maaf!” sambungnya yang seketika membuat Sri berhenti. “Gitu, dong.”
“Aku mau shalat. Lagian mau ngomongin apa, sih?” Sri tak berbalik. Ia hanya berdiri membelakangi Safka sambil berdecak kesal.
“Oh, iya. Ya, sudah kalau gitu ... aku tunggu kamu di atas, ya?” pinta Safka di sela-sela sisa tawanya.
“Kenapa harus di atas? Kenapa nggak di sini aja?” Sri bertanya lagi. Ia sedikit menoleh, meski tak sepenuhnya dapat melihat Safka.
“Ya, masa di dapur?” Safka pun seketika mendelik. Aneh-aneh saja istrinya itu.
“Ya, nggak apa-apa dong? Memang kenapa kalau di dapur? Dari pada aku harus ke atas, capek!” Sri pun kembali melangkahkan kakinya. Ia sudah hampir sampir sampai ke kamar mandi.
“Ok-ok. Kalau gitu aku tunggu kamu di sini sampai kamu selesai.”
“Dea!” timpal Sri sembari menahan tawa. Ia senang karena akhirnya ia yang menang dalam berdebat.
***
Selepas dari kamar mandi, sri melihat Safka benar-benar menunggunya di dapur. Lelaki yang mempersuntingnya beberapa hari lalu itu sedang menyeduh kopi. “Mau aku buatin sesuatu?” Safka pun menoleh, karena menyadari langkah kaki Sri.
“Nggak usah?” Sri menimpalinya seraya membuka pintu kamar para pekerja.
“Yakin? Aku bisa membuat s**u yang enak lho,” pancing Safka. Ia yang aru saja selesai menuang air panas ke dalam gelas pun mengaduk kopi yang diseduhnya.
“Hilih!” Sri berdecak seraya masuk. Tak percaya dan memang tidak mau mendengar apa pun yang dikatakan Safka barusan. Ia hanya sedikit merasa heran karena tak kunjung melihat Ranti dan Shanty.
“Dasar cewek. Bilangnya aja nggak mau, tapi kalau sudah dibikinin pasti diminum,” ledek Safka sembari mengambil bahan-bahan untuk membuat s**u yang ditawarkannya pada Sri. Ia yakin akan bisa membuat sri ketagihan.
Ia membuatnya dengan penuh cinta. Sehingga s**u yang biasa ia sajikan dengan rasa yang sangat enak, pasti akan semakin enak. Pikirnya. Safka yang sudah rapi sedari tadi karena bangun sengaja pagi-pagi sekali untuk menyambut Sri pun fokus dengan apa yang sedang dibuatnya. Sampai begitu Sri keluar dari kamar, dirinya pun tak sadar.
“Mo ngomong apaan, sih, Om?” Tiba-tiba Sri duduk di salah satu kursi yang ada di dapur. Ia masih kebingungan sebab Ranti dan Shanty masih saja tak kelihatan. Namun, bibirnya tak kunjung berucap untuk bertanya.
“Aih, kamu kok sudah ada di sini aja? Dari kapan coba? Kok, aku nggak sadar?” Safka pun berbalik seraya menebar senyum manis, semanis s**u yang baru saja ia buat untuk Sri. Gelas yang baru saja ia seduh dengan air panas itu pun dibawanya ke meja. “Minum dulu, deh. Cobain,” katanya lagi.
“Ini?” Sri menunjuk gelas di hadapannya seraya mengernyit pada Safka. Meski terlahir sebagai gadis kampung, ia tak selalu ketinggalan berita, sehingga begitu melihat secangkir s**u otaknya langsung berpikir jauh.
“Iya, itu. Kenapa?” Safka balas mengernyit. Ia pun langsung menyusul duduk sehingga berhadapan dengan gadis yang tak lain adalah istrinya sendiri itu.
“Nggak kamu taburi sianida, kan?” Sri masih menatap Safka dengan tatapan tajamnya yang menyelidik.
“Mana ada! Aku Cuma menaburkan agak banyak cairan baygon!” Safka pun balas mendelik. Heran betul dengan isi pikiran Sri yang selalu saja berpikir terlalu jauh.
“Dih! Ditanya bener-bener juga.” Sri pun menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap tajam ke arah Safka. Bukan mudah saat ia merasa ingin tertawa, tapi wajahnya harus seseram singa.
“Ya, lagian. Kalau aku mau bunuh kamu tuh ngapain pake sianida? Pisau banyak kok di rumah ini. Atau, aku tinggal mencekikmu kala tidur juga bisa. Mau?” Safka pun mencondongkan wajahnya ke arah Sri. Tatapannya melebar tajam, tapi kedua belah sudut bibirnya justru melengkung sampai terasa manis.
Sri tak mengelak dari tatapan Safka. Ia membalasnya sampai kedua mata terasa perih dan akhirnya berkedip. Wanita yang tak memiliki poni itu menggeleng tipis seraya berdecak pelan. Dalam hatinya berucap, “Nih, orang pen banget deh aku kunyah. Terus aku telen kuat-kuat biar nggak keluar lagi.”
“Kenapa bengong? Minum dong susunya. Baru, nanti aku bicara.” Safka pun kembali menarik diri. Ia duduk tegak sembari mencicip kopinya yang tak lagi panas. Merasa nikmat, ia sampai terbawa suasana hingga terpejam barang sesaat.
“Ngomong aja. Nanti kuminum. Bisa dilihat dari kepulan asap, tuh s**u masih panas.” Sri pun memberi alasan kuat dan tepat sehingga membuat Safka mengangguk sambil tertawa kecil.
“Iya juga, ya. Maaf-maaf” katanya di sela-sela tawa. Lantas ia berdeham-deham. “Kalau gitu, aku mau bicara sekarang.”
“Ya, sudah buru. Ngapain masih pake pengumuman? Dari tadi kan udah tau kalau kamu itu mau ngomong!” Sri membentak kesal karena Safka terus saja mencari-cari alasan.