Prasangka Buruk

1079 Kata
“Mbak Ranti sama Mbak Shanty pulang? Kapan? Dih, jangan bercanda kamu, Om!” Sri pun seketika berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya barusan. Kepalanya menoleh ke sana ke mari, melihat ke berbagai sudut ruangan seraya mencari keberadaan dua wanita lain di rumah tersebut. “Aku serius. Mana ada bercanda? Semalam, sekitar jam sembilan lah.” Safka berucap lagi seraya menyusul Sri berdiri. Ia juga ikut-ikutan mencari keberadaan pekerjanya. “Mereka nggak ada.” Sri yang tak percaya pada Safka pun hanya mendelik tajam sekilas sebelum akhirnya ia berjalan cepat, keluar dari area dapur. Ia mendongak, melihat ke lantai atas. “Mbak!” teriaknya seraya terus berjalan ke ruangan demi ruangan. “Mbak Ranti? Mbak Shanty? Kalian di mana, sih? Jangan sembunyi, deh kalian. Tapi kalau kalian disuruh Safka buat ngumpet, biar aku yang marahin dia!” katanya, sok berani. Padahal, sedari tadi pun dirinya itu sibuk menguatkan diri. Di belakang Sri, Safka ikut berjalan cepat seraya tersenyum-senyum kecil. Melihat Sri sudah seperti ayam kehilangan induknya. “Sudah aku bilang mereka pulang, Sri. Ngapain coba aku nyuruh mereka ngumpet?” Ia pun berucap. “Ya, kalau gitu ... mereka kamu suruh pulang, kan? Jahat kamu!” Sri pun sontak berbalik sambil bicara keras. Ia bahkan menunjuk Safka sampai tepat mengarah muka. “Loh, kok jahat?” Safka melangkah maju, mendekati Sri. “Aku itu nggak ada niat jahat sama siap pun.” “Ya, terus kenapa kamu nyuruh mereka pulang? Malam-malam pula. Apa nggak kasihan? Apa nggak khawatir? Ini kota! Bahkan di kampung saja masih suka terjadi kejahatan di jalan!” Sri mengomel sampai terisak. Ia menangis khawatir dan juga takut karena sekarang tak mempunyai teman untuk bicara. “Diantar sopir sampai ke rumah mereka masing-masing kok. Tenang aja, sih!” Safka pun semakin maju. “Ya, tapi kenapa?” tanya Sri lagi. Ia berjalan mundur karena ingin menghindari Safka. “Karena aku mau berdua aja sama kamu. Dengan begitu, hubungan kita pasti jauh lebih baik.” Safka menimpalinya sambil tersenyum. Berharap, Sri akan dengan mudah mengerti. Namun, alih-alih mengerti, Sri justru berlari naik ke tangga sambil menangis. Ia tak habis pikir, karena Safka sampai memecat kedua pekerjanya demi untuk mereka bisa berduaan saja di rumah. “Ya, ampun. Kalau malam ini dia beneran mau bunuh aku gimana?” batinnya. Sri bergidik sampai berdiri bulu kuduknya. Ia benar-benar merasa takut sekarang. Ingin pergi, kabur dari rumah bak penjara baginya itu pun Sri bingung. Ia sama sekali tak punya uang, dan tak tahu jalan. “Apa nekat aja, ya? Daripada mati nggak jelas di tangan tuh om-om?” batin Sri kembali. Ia sudah sampai di lantai atas setelah berjalan cepat diiringi napas mengos-ngosan. Jantungnya benar-benar memompa kencang sampai berdebar hebat. “Bapak sama adek mana bisa nyari aku sampai ke sini? Mereka pasti ngiranya aku baik-baik aja sama si Om!” Sri berhenti tepat di depan pintu kamar. Ia baru ingat, semalam meninggalkan ponselnya begitu aja di ruang santai. Segera ia pun berbalik dan berlari menuju ruang tersebut sembari celingukan. Takut, kalau-kalau Safka menyusul. Namun, suaminya itu tak ada. Begitu juga dengan ponselnya. “Loh, kok nggak ada? Perasaan semalam aku taruh di meja deh sebelum ketiduran,” ucapnya keheranan. Dan sejurus kemudian langsung mengira kalau ponselnya pasti diambil Safka. “Dasar om-om. Udah dikasih juga malah diambil lagi. Eh, apa di kamar?” pikirnya. Buru-buru Sri berlari lagi menuju kamar. Ruang di mana satu-satunya tempat ia bisa mengurung diri, kalau saja Safka tidak memegang kunci cadangan. Sri tak paham. Yang ia tahu, ia akan bersembunyi di sana sampai ada pahlawan yang dapat membebaskannya dari sana. “Sri!” teriak Safka dari bawah. Lelaki berpenampilan necis itu mendongak, melihat ke lantai atas. “Turun dong. Aku kan belum selesai ngomong. Atau mau aku susul?” tanyanya sambil menahan tawa. Ia tahu kalau istrinya itu sedang merasa ketakutan. “Dih! Males banget, sih.” Sri bergidik lagi tanpa menimpali Safka. Wanita yang bahkan rambutnya acak-acakan itu langsung menggaplok pintu sampai berdebum. “Ya, ampun! Bisa copot pintunya, Sri kalau dibanting gitu!” teriak Safka dari bawah. Ia berdecak, menggeleng sambil tersenyum. Ini adalah tantangan besar untuknya, bahwa ... Tak kan mudah baginya dapat menaklukkan Sri. Karena waktu terus berjalan, ia yang sudah bersiap diri pun terpaksa kembali masuk ke dapur. Niat hati ingin membagi tugas dengan Sri, tetapi ujungnya malah ia sendiri yang harus memasak untuk sarapan pagi ini. Dibukanya lemari pendingin dengan begitu hati-hati, Safka pun mencari bahan apa yang bisa dimasak. Ia melihat sebungkus daging dalam freezer, dan segera mengambilnya. Karena beku, ia pun harus mencairkannya dulu. “Kamu boleh mengurung diri karena nggak mau ketemu aku, Sri. Tapi kamu nggak bakal kuat menahan wangi dari aroma makanan yang akan aku buat sekarang,” katanya sembari cengengesan. Safka begitu percaya diri kalau Sri akan mau memakan apa yang dia masak nanti. Padahal, s**u yang dibuatkannya pun sama sekali tak ter cicipi. Sembari menunggu daging yang Safka rendam dengan air, ia pun langsung menyiapkan panggangan. Ia juga tak lupa mengambil bumbu-bumbu dari dalam lemari pendingin. Ia ingat betul, apa saja yang harus ia tumbuk untuk membuat bumbu barbeque. “Dia mana pernah makan beginian, kan. Dah lah pasti keroncongan perutnya!” ucap Safka kembali sembari mengupas satu per satu bumbu. Lantas ia menumbuknya sampai halus, sampai membuat pakaian yang ia kenakan kembali kusut dan kotor. Sebab, ia selalu saja tak sengaja melap tangannya ke sana. Daging yang disiapkannya sudah tidak lagi membeku. Safka mengirisnya tipis-tipis dengan begitu hati-hati dan rapi. Lantas, ia balur satu per satu irisan daging dengan bumbu seraya langsung ia panggang di atas panggangan panas. Aroma bumbu bercampur daging seketika menguar, mengudara sampai menyusup ke dalam indra penciumannya sendiri. Safka terpejam lama sambil menghirup aroma tersebut dalam-dalam, sampai tiba waktunya ia harus membalik dan mengangkat panggangannya. “Ayo lah, Sri. Kamu pasti udah mencium aromanya kan?” Safka tersenyum yakin. Meski akhirnya ia tak kunjung mendapati Sri keluar dari kamar. “Ya, ampun. Masa kamu sebebal itu sih? Ini loh enak banget makanannya. Kamu pasti suka kalau dah coba,” katanya seraya mengangkat panggangan terakhir. Karena penasaran, segera Safka mengambil piring berisikan daging yang ia panggang. Tak lupa ia pun mencari buku untuk dijadikannya kipas. Dengan diiringi kedua belah sudut bibir menyungging, Safka berjalan cepat ke lantai atas. Namun, sesampainya di sana ia berjinjit agar tak terdengar langkah kakinya itu oleh Sri. Lantas, ia berdiri sembari mengipasi daging bakarnya di depan pintu. “Cium, Sri. Cium. Aromanya sedep banget, kan?” bisiknya seraya menahan tawa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN