Sri yang sedang meringkuk sembari memeluk guling di ranjang tiba-tiba mencium aroma sedap. Ia lantas beranjak duduk seiring dengan kembang-kempisnya idung. Helaan napasnya pun panjang-panjang sambil terpejam.
“Wangi apa, sih ini?” ucapnya seraya terus menghidu aroma yang menusuk-nusuk hidungnya secara tiba-tiba. Semakin lama, aroma yang diciumnya itu semakin tajam. “Kok enak banget gini?” sambungnya seraya menyingkirkan guling dari pelukan.
Sri segera turun dan mencari sumber aroma yang ternyata dari luar pintu. Dalam hatinya berpikir, kalau Safka pasti sedang memasak. Namun, ia heran dengan aroma yang bisa sampai ke kamarnya. Padahal, jarak kamar ke dapur sangat jauh. Rumah suaminya itu pun sangat luas.
Sri membuka pintu perlahan, tidak ada siapa-siapa di luar kamarnya. Bahkan setelah ia celingukan, keadaan di sana amatlah sepi. Lama ia berdiri di depan kamar. Berpikir, apakah perlu dirinya turun hanya untuk memastikan sumber aroma. Namun, jika tidak, sudah pasti dirinya itu akan merasa kelaparan.
Setelah menimang-nimang, Sri pun akhirnya memutuskan untuk beranjak turun terlebih, dirinya yakin kalau Safka sudah tidak ada di rumahnya itu, Hati-hati Sri melangkah menuruni satu per satu anak tangga, aroma yang dihidunya semakin pekat terasa,
Sedangkan tanpa Sri ketahui, sebenarnya Safka tengah bersembunyi di ruangan yang terletak di samping kamarnya. Lelaki yang pakaiannya telah kotor dan bau aroma daging itu pun keluar dari persembunyian, setelah memastikan Sri sudah ada di lantai bawah. Lantas, segera ia berlari ke kamarnya untuk kembali mandi.
“Apa kubilang, kamu pasti akan keluar,” katanya sembari cengengesan. Ia juga mencium bajunya yang beraroma masakan sembari buru-buru ke kamar mandi. “Telat ngantor nggak apa-apa lah. Tapi aku nggak boleh telat memergoki Sri,” sambungnya seraya cepat-cepat membasuh diri.
Sementara itu, Sri yang telah sampai di lantai bawah pun langsung menuju ruang makan. Ia khawatir kalau Safka sebenarnya masih ada di sana, sehingga ia tak langsung duduk meski apa yang dilihatnya di meja makan begitu menggiurkan.
Sri memastikan keberadaan Safka terlebih dulu. Pandangannya mengedar, ia juga menelusuri beberapa ruangan seperti kamar pembantu, taman belakang, ruang tamu dan halaman depan. Ia tak melihat Safka di mana pun.
“Galau banget sih!” ucapnya setelah kembali ke ruang makan. Di hadapannya telah terhidang daging barbeque bakar namun, Sri hanya berdiri saja menatapnya dengan rasa ingin. Ingin segera duduk, ingin segera makan.
Namun, ia kapok dengan kejadian kemarin di mana ia telah menghabiskan makanan yang dibuat oleh Safka. Sehingga takut kalau dirinya sekarang makan, makanan di hadapannya itu akan segera ia habiskan.
“Tapi perutku lapar banget,” ucapnya seraya menelan ludah. Ia juga melangkah lebih dekat sehingga berada di belakang salah satu kursi.
Sandaran kursinya Sri pegang dengan tangan gemetar. Betapa perutnya lapar dan ia tergiur dengan daging di hadapannya. Namun, di sisi lain ia berusaha terus menahan agar tidak tergoda untuk memakannya karena takut.
“Ya, ampun. Ini sih antara mati di tangan Safka atau mati karena kelaparan jadinya.” Sri pun mengeratkan pegangannya pada sandaran kursi. Rasa ingin makannya kian menjadi. Ia tak lagi dapat menahan. “Masa bodoh lah! Seenggaknya, sebelum mati di tangan Safka ... aku telah mencicipi makanan seenak makanan di hadapanku ini,” sambungnya seraya menarik kursi. Lantas, ia segera duduk dan bersiap-siap menyantap makanan di hadapannya.
Pada suapan pertama, Sri langsung merasa tergiur dengan rasa yang ada dalam kunyahannya. Ia sampai terpejam sambil tersenyum-senyum di tengah-tengah sedang mengunyah. Kedua tangannya mengepal sembari bergerak-gerak saking enaknya.
“Sumpah ini enak banget. Tapi rasanya nggak percaya kalau ini dia yang masak!” ucapnya di tengah-tengah sedang mengunyah. “Tapi kalau bukan dia siapa dong? Mbak Ranti nggak ada. Mbak Shanty juga nggak ada. Hih, dia pasti pesen dari restoran deh!” sambungnya.
Namun, detik berikutnya ia tak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah untuk membuat perutnya merasa kenyang. Sebab, ia biasa makan bersama nasi ... tapi kali ini tidak sama sekali. Sri tidak melihat adanya nasi, baik dalam wadah mau pun dalam rice cooker.
Satu suapan dikunyah, Sri menjerit kegirangan saking lezatnya. Saat satu kunyahan ia telan pun menjerit, saking nikmatnya. Ia bahkan sampai lupa dengan apa yang membuatnya ragu sebelum ini. Namun, beberapa menit berselang, tepatnya ketika Safka datang ... dunia Sri seolah berhenti lagi.
Wanita yang bahkan tangan dan mulutnya kotor oleh bumbu barbeque itu seketika berhenti melakukan aktivitasnya. Ia tak lagi mengunyah, tak lagi menelan, dan tak lagi berjingkrak keenakan. Yang ada, makanan dalam mulutnya ia biarkan begitu saja.
Safka yang berdiri di ambang pintu masuk pun menahan tawa. Ia lantas melangkah maju sehingga tepat di belakang Sri. “Enak nggak? Itu aku yang masak loh,” tanyanya sambil tersenyum dan memegang kedua belah pundak Sri.
Istrinya itu mengangguk tanpa berucap. Membuat Safka seketika beralih ke samping Sri. Ia melihat wanita yang dicintainya itu dengan tatapan lembut, sebelum kemudian mengambil sepotong daging dari panggangan.
“Buka mulutnya dong. Sebelum berangkat kerja, aku mau suapi kamu dulu,” katanya, memerintah. Padahal, ia tahu betul dari ekspresi Sri kalau istrinya itu sedang memendam makanan dalam mulut.
Sri mendongak seraya mencari maksud dari perkataan-perkataan Safka barusan. Namun, ia tak menemukan apa pun selain tatapan lembut dari suaminya itu. Membuat ia seketika menelan makanan dalam mulutnya itu perlahan.
“Ayo dong buka. Aku tau kok kalau kamu suka dengan masakanku.” Safka menyuruh Sri kembali untuk membuka mulut.
Sri menurut meski pun merasa teramat kikuk. Ia membuka mulutnya pelan dan kecil sampai membuat Safka menyuruhnya untuk membuka mulut lebar-lebar. Sri menurut lagi sehingga suapan dari Safka berhasil masuk ke dalam mulut.
“Sebenarnya, aku mau kita makan bareng. Tapi kamu aku panggilin dari tadi nggak muncul-muncul. Karena lapar, aku pun akhirnya makan sendiri. Nggak apa-apa ya kamu makan sendiri? Aku juga harus segera pergi ke kantor soalnya.”
“Iya,” timpal Sri, takjub. Ia sebenarnya bingung dan kikuk, apa yang harus ia lakukan saat tiba-tiba terpergoki sedang menyantap sarapan pagi kembali.
“Oke, kalau gitu aku berangkat, ya. Eh, tapi ....” Safka menjeda ucapannya barang sebentar. Membuat Sri seketika bertanya apa. “Karena aku sudah masakin sarapan buar kita, nanti giliran kamu yang beres-beres. Nggak apa-apa, kan?” sambungnya.
“Iya,” timpal Sri kembali, tanpa sadar dengan apa yang diucapkan Safka saking kacaunya isi kepala. “Eh, apa?” sambungnya setelah sedikit konek.
“Aku harus segera pergi ke kantor. Aku mau kamu beresin bekas masak dan makan nggak apa-apa, kan? Sekalian beresin rumah juga.” Safka pun menyengir lebar.
“Beresin rumah segede gini? Sendirian? Yang benar saja?” protes Sri sambil berdiri menyeimbangi posisi Safka yang berdiri di sampingnya.
“Nggak lah.” Safka pun tergelak seraya menyentil kening Sri. Istrinya itu seketika menepis.
“Ya, terus?” Sri pun memelak pinggang sambil menelan kunyahan yang disuapi Safka tadi. Ia tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran Safka.
“Kita bagi tugas. Mau?” tanya Safka sembari tersenyum tipis. Lantas, ia menunjukkan selembar kertas yang tadi ditulisnya tugas-tugas mereka di sana.
“Apa ini?” Sri masih menatap tajam ke arah Safka. Baru lah setelah menyuruh Sri untuk membacanya saja, ia pun langsung melakukan hal tersebut. Sri membaca apa yang Safka tulis sampai habis.
“Paham?” Safka kembali memastikan sembari melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih.
“Ya, paham, sih. Tapi apa perlu kayak gini? Kamu itu katanya orang kaya, tapi kok malah mau bikin capek sendiri? Mana diua pekerja kamu pecat pula. Kan nggak asyik kalau aku hanya sendirian di sini,” katanya seraya menurunkan apa yang ia pegang. Kertas itu pun ia simpan di meja makan.
Alih-alih menanggapi Sri, Safka justru tersenyum lebar sambil berucap, “Aku berangkat dulu, ya? Kamu hati-hati di rumah,” katanya seraya melengos pergi meninggalkan Sri.
“Dih!” Sri pun berdecak kesal sembari mengepalkan tangan. Ingin rasanya ia memukul Safka dari belakang. Namun, tubuhnya bagai terpaku sampa tak dapat bergerak bebas.