Berjibaku Dengan Bumbu

1718 Kata
Sri mengambil lembaran kertas yang tadi ia simpan di meja, dengan kasar. Ia membacanya kembali disertai mimik muka kesal karena Safka menyuruhnya melakukan beberapa pekerjaan rumah. Sri sebenarnya sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah semacam itu. Namun, ia tak sanggup walau hanya membayangkan membereskan rumah sebesar istana itu saja. Diremasnya kertas yang ia pegang. Sri benar-benar muak dengan cara pikir Safka yang belum juga ia mengerti. Pasalnya, dari kemarin, suaminya itu terus saja melakukan hal yang tak terduga. Mulai dari tiba-tiba menikahinya, memecat para pekerja, kemudian membagi pekerjaan rumah dengannya. Pandangannya seketika mengedar sri melihat ke sekeliling dengan diiringi helaan napas yang panjang. Dapur yang sekarang sedang ia tempati saja memiliki ukuran seluar dua kamar dalam rumahnya di kampung. Belum lagi saat ia melihat adanya perabot kotor bekas Safka memasak tadi, helaan napasnya kian panjang dan berat. “Tuh, orang maunya apa, sih? Udah nikahin orang tanpa permisi, mecat pembantu seenaknya, sekarang nyuruh istrinya sendiri ngerjain pekerjaan berat kayak begini?” ucapnya seraya mulai melangkah dengan gontai ke arah wastafel. Ia hendak mengerjakan dari yang paling mudah terlebih dulu. Helaan demi helaan napas panjang berulang lagi dan lagi selama Sri mengerjakan pekerjaan rumah dari yang satu ke yang satunya lagi. Selesai mencuci perabot kotor, ia memang langsung mengambil sapu dan mulai menyapu seluruh ruang yang ada di lantai bawah. Dan, menyapu saja sampai membutuhkan waktu satu jam. Terlebih karena Sri melap setiap perabot yang ada di sana dulu. Pegal setelah berjelajah dari ruangan satu ke ruangan yang lain, Sri berdiri tegak di teras depan. Ia melempar sapu yang dipegangnya sampai tergeletak begitu saja di lantai saking kesal dan capeknya. Lantas, ia merenggangkan otot-ototnya itu dengan menarik tubuhnya ke sebelah kiri dan kanan. Bunyi dari tulang-tulangnya membuat ia merasa lega, meski tak mengurangi rasa capek. Setidaknya, pegal akibat menyapu seluruh ruangan sampai bersih berkurang barang sedikit. Karena lelah, mulutnya tiba-tiba menguap. Sri merasa begitu kantuk, padahal semalam tidur dengan nyenyaknya. “Sekarang apa? Ngepel? Ya, Tuhan.” Sri pun menendang sapu yang tadi ia lempar sampai memental jauh ke halaman rumah. Ia tak peduli. “Biar dia beli lagi aja yang baru. Banyak duit ini, kan?” sambungnya sambil berdecak dan kemudian masuk. Lantai yang sudah ia sapu harus segera ia pel. Namun, melihat jam yang baru saja menunjukkan pukul sebelas, Sri pun merasa perlu harus beristirahat dulu. Lagi pula, ia belum makan nasi sedari pagi. Tenaganya benar-benar habis terkuras oleh pekerjaan yang baru saja ia lakukan. “Dia juga masih lama lah pulangnya. Aku mending masak nasi dulu, habis itu tidur!” ucapnya seraya melempar tubuh kurusnya itu ke kursi di ruang tamu. Sri merebahkan dirinya itu di sana. Meski capek, ia merasa bebas karena tinggal seorang diri saja di sana. *** Dalam kertas tertulis, Sri mengerjakan pekerjaan rumah bagian lantai bawah. Ia juga harus mencuci pakaian, menjemur, melipat dan menyetrikanya. Sedangkan Safka harus mengerjakan pekerjaan rumah bagian lantai atas. Ia juga harus memasak untuk mereka sarapan dan makan malam. Sementara halaman menjadi pekerjaan mereka berdua, di mana mereka harus mengerjakannya bersama setiap tiga hari sekali. Mengingat apa yang Safka tulis semalam setelah memulangkan Shanty dan Ranti, ia tertawa-tawa sendiri di dalam mobil. Terlebih karena semalam berhasil membuat Shanty dan Ranti menangis karena takut dipecat. Padahal, Safka hanya bergurau untuk membuat para pekerjanya itu semakin panik. Barulah setelah para pekerjanya itu memohon-mohon, Safka pun mengucapkan apa yang menjadi tujuan ia memanggil mereka. “Saya nggak bakal memecat kalian. Tapi, saya memang berniat memulangkan kalian dulu,” katanya tadi malam. “Lah, sama aja itu namanya, Tuan.” Ranti dan Shanty berucap bersamaan. Ia bahkan semakin menangis sesenggukan. “Beda dong. Kalau dipecat itu, kalian nggak bakal aku bawa kembali ke rumah ini. Sedangkan saya memulangkan kalian, hanya untuk satu bulan ke depan saja. Saya juga akan membayar kalian seperti biasa sebelum kembali ke rumah ini.” Safka pun menjelaskan. “Tapi memangnya kenapa, Tuan?” Ranti terbengong setelah berhasil menghentikan tangisnya. Begitu juga dengan Shanty. “Kalian tau kenapa istri saya selalu berteriak dan malah memilih tidur dengan kalian?” tanya Safka. “Nggak, Tuan!” Ranti dan Shanty menggeleng dan saling menatap barang sekejap, karena terheran-heran. “Karena dia tidak mencintai saya. Itu kenapa saya akan memulangkan kalian, karena saya ingin mempunyai waktu berdua saja dengan dia. Biar apa?” Safka bertanya lagi. “Biar nyonya jatuh cinta sama Tuan?” Ranti dan Shanty balik bertanya. Keduanya seketika tercengir-cengir karena akhirnya merasa lega. Ternyata, bosnya itu tidak akan memecat mereka. “Pinter. Jadi, tunggu apa lagi?” Safka pun berdiri dari duduknya. Sedang kedua tangannya bertumpu pada meja. “Kita ngapain dulu, Tuan?” Ranti bertanya. Ia juga melirik Shanty yang sama tak mengertinya. “Masa pulang sekarang? Kan, udah malam banget ini?” sambungnya, tak berani jika harus pulang malam itu juga. “Kalian beresin kamar yang tadi berantakan. Beresin bekas makan kalian juga. Habis itu berkemas, saya akan menelepon sopir untuk mengantarkan kalian pulang sampai ke rumah,” jawabnya. “Oke, Tuan. Kalau begitu mah saya setuju! Iya nggak, Ranti?” serobot Shanty. Ia bahkan langsung tercengir-cengir. “Iya, Tuan. Saya setuju!” timpal Ranti. Safka yang seketika tiba di halaman rumahnya tersadar dari lamunan pun langsung menghela napas panjang. Setelah melewati penatnya di dalam kantor, sekarang ia pun akan menghadapi keras hatinya Sri di rumah. Namun, ia tetap memilih untuk terus memperjuangkan Sri. “Semangat, Saf!” ucapnya pada diri sendiri. Lantas, segera ia pun keluar dari mobil dan bergegas masuk ke rumah. Namun, begitu langkahnya tiba di ruang tamu, lelaki yang ditanganinya menggantung sebuah tas berisi berkas itu pun langsung terkejut. Apa yang Safka lihat benar-benar membuatnya terbelalak, bahkan sampai tergelak. Ia lantas melangkah lagi, mendekat ke arah di mana Sri tidur dengan lelapnya. Istrinya itu terlihat begitu cantik, tetapi konyol. Bagaimana tidak? Gadis yang berasal dari kampung itu memiliki wajah yang terlihat sangat polos saat tertidur. Namun, gaya tidurnya sudah menyerupai anak bayi berumur sembilan bulan. Kedua tangannya tak beraturan. Pun dengan kedua kakinya yang sama tak beraturan. Satu di kursi, yang satu jatuh terjuntai ke lantai. Sedangkan kepala, nyungseb dengan rambut acak-acakan. “Ya, ampun, Sri. Kamu beneran lucu banget, sih? Kok, bisa gitu tidur di kursi sampai awut-awutan gini posisinya?” Safka berdecak senang. Bahkan, ingin rasanya ia mencubit hidung dan pipi Sri. Namun, ia ingat kalau Sri pasti kecapean setelah beres-beres rumahnya itu. “Dah lah biarain. Daripada aku bangunin, mending dia aku masakin lagi,” ucapnya seraya melengos pergi. Safka harus mengganti pakaiannya terlebih dulu sebelum berjibaku dengan bumbu. “Kali aja kan, kalau sering dimasakin, dianya jadi meleleh? Terus jatuh cinta. Haha!” sambungnya. Ia bergegas naik ke lantai atas. Langkah kakinya cepat menapaki satu per satu anak tangga. Ia juga segera menuju kamar sehingga langsung melempar tas yang ia pegang. Kancing jas yang dipakainya pun ia lepas satu per satu. Sama dengan kancing kemeja yang seketika ia pereteli. Lantas, dilemparnya pakaian yang baru saja ia buka ke ranjang sembari tersenyum senang. Safka tak cukup sabar. Takut kalau Sri terlanjur bangun sebelum ia menyelesaikan masakannya. Membuat ia seketika kembali buru-buru memakai pakaian baru. Kaos biru bertuliskan ‘Love Your Self' dan celana kolor bermotif Doraemon. “I’m coming!” serunya seraya berlari keluar dari kamar. Namun, betapa terkejut Safka begitu melihat Sri yang tiba-tiba ada di depan kamar. Ia sampai hampir terjengkang. Pun dengan Sri yang seketika menjerit karena terkejut. Ia langsung menangkup wajah dengan kedua tangan. “Kamu! Kamu apa-apa sih pakai kolor begitu? Mana Doraemon! Malu-maluin banget sumpah! Lagian, kamu kapan pulang, sih? Jam berapa coba sekarang? Kok, udah pulang?” cerocosnya, sudah seperti kereta api. “Kamu yang apa-apaan? Kenapa coba tiba- ada di depan kamar? Tadi bukannya lagi ngorok di bawah?” Safka balik bertanya seraya menonjolkan seluruh tubuhnya. Sengaja karena Sri sudah mengolok kolor yang ia pakai. “Ya, aku baru bangun! Terus ke sini karena mau mandi!” balasnya, masih sembari menangkup wajah. “Ya, aku juga sama. Baru balik dan langsung ke sini karena mau mengganti baju!” timpal Safka tak mau kalah. “Kenapa nggak ngetok pintu? Nggak sopan banget!” Sri kembali meneriaki Safka tanpa membuka kedua tangannya dari wajah. Ia bahkan berjalan mundur perlahan. “Lha, pintunya kebuka kok. Gimana mau diketok? Lagian, ini rumah siapa sih?” Safka mencecar Sri. Lagi-lagi tak mau kalah. “Ya, memang rumah kamu. Tapi kan ... Aku juga tinggal di sini! Hargain sedikit masa nggak bisa?” Omel Sri makin menjadi. Kali ini ia membuka kedua tangannya itu dari wajah. Lantas ia menatap tajam ke arah Safka. “Sekali pun kamu jadikan aku pembantu di rumah ini!” sambungnya yang seketika melengos. “Eh, aku nggak ada maksud buat jadiin kamu pembantu di rumah ini, ya! Kita hanya kerja sama biar rumahnya tetep bersih. Terus bikin otakmu bersih juga!” Safka pun mengikuti langkah kaki Sri sambil terus bicara. Tak terima dengan apa yang dikatakan Sri. “Ya, terus tadi apa? Kamu nyuruh aku buat beresin rumah segede gini. Gila, ya, emang!” tuding Sri kembali. Langkah kakinya telah sampai di anak tangga. Ia menuruninya tanpa hati-hati sampai terantuk kaki sendiri. Safka yang melihat Sri tiba-tiba tergelincir pun refleks meraih tangan Sri yang mengacung ke atas. Berhasil, sehingga membuat Sri tak jadi jatuh dan tergelinding ke bawah. Hening. Keduanya seketika terdiam dalam waktu yang cukup lama. Safka menatap kedua mata Sri yang bening akibat kaca-kaca di dalamnya. Hela napasnya memburu, terkejut karena hampir saja istrinya itu jatuh. Sedang, ia sendiri tahu akan risiko jatuh dari tangga yang tinggi seperti itu. Pun dengan Sri yang seketika menghentikan rasa ingin menangisnya karena seketika berganti menjadi kaget, juga takut kalau saja ia sampai terjatuh. Luka, tentu saja itu akan terjadi. Sedangkan geger otak, itu pun tidak menutup kemungkinan. Keduanya menelan ludah dengan susah payah dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka juga berkedip lambat dalam waktu beriringan. Bahkan sampai tersadar dari lamunan pun, keduanya berdeham bersamaan. “A-aku, aku mau ngepel dulu. Makasih!” ucap Sri lebih dulu. Ia lantas kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lantai atas. Niat yang tadinya ingin membersihkan diri, urung karena lupa. “Aku juga mau masak. Sama-sama!” Safka pun menimpali sembari mengekor di belakang Sri. Ia tersenyum tipis. Entah kenapa, jantungnya berdebar kencang. Perasaannya terasa berbunga-bunga. “Aih! Rasanya kok jadi kayak gini?” batin Sri seraya menyentuh sebelah dari dadanya. Ia merasakan adanya debar tak beraturan di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN