Sri bergidik ngeri saat isi kepalanya membayangkan apa yang baru saja terjadi di antara Safka dan dirinya. Ia bahkan sampai mengelap-ngelap tangan yang tadi Safka pegang. Mulutnya berkata tidak sudi karena telah bersentuhan, tapi bertolak belaka dengan hatinya yang justru berdebar tak keruan.
Wanita yang bahkan berambut acak-acakan itu lantas mengambil alat pel untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum usai. Tapi karena masih menyimpan rasa kesal, Sri pun bekerja dengan perasaan dongkol. Terlebih saat ia hendak membersihkan diri dan makan terlebih dahulu, malah urung karena adanya Safka di dalam kamar.
“Kenapa nggak pulang nanti aja, sih?” omelnya seraya menggosok-gosok lantai dengan tenaga dalam. Ia berjalan mundur, seperti pada umumnya orang-orang mengepel. Hanya saja, bibirnya saja yang tak berhenti bicara karena masih menyimpan denda kesumat terhadap suami sendiri.
Namun, belum juga Sri pindah ke ruangan lain, perutnya sudah keroncongan. Ia bahkan sampai bergeming barang sejenak demi untuk mendengar bunyi perut. “Tuh, kan ... perut aku akhirnya komplain juga. Tapi, si tua bangka itu malah udah pulang jam segini! Aku kan jadi nggak bisa makan dengan tenang!” sambungnya.
Belum selesai dengan cobaan perihal perut yang keroncongan, tiba-tiba saja Sri menghirup aroma lezat. Aroma yang membuat perutnya semakin lapar. Ia bergidik karena tahu, siapa yang membuat aroma nikmat tiba-tiba tercium. Namun, insting seseorang dalam keadaan lapar membuatnya tidak peduli akan hal itu. Sri pun menggusur alat pel yang dipegangnya itu ke arah di mana ia mencium aroma semakin pekat.
Iya, dapur. Langkah kaki Sri seketika melangkah dengan entengnya menuju dapur. Meski dirinya itu tahu, akan ada perdebatan di antara ia dan Safka ... Sri tak peduli. Terpenting dalam otaknya sekarang ini, ia ingin mengisi perut yang sedang lapar agar dapat kembali kerja dengan semangat.
Tanpa berucap, Sri langsung menyandarkan alat pel di samping meja makan. Lantas, ia sendiri mengambil piring dan mengisinya dengan nasi yang siang tadi ia masak dengan penuh kekesalan, sehingga ia merasa beruntung kalau nasinya itu tidak begitu keras atau pun lembek.
“nanti dulu kenapa? Aku kan belum selesai masak dan biar kita makan barengan!” ucap Safka yang baru saja selesai masak telur balado. Sedang, sekarang dirinya masih memasak jengkol goreng dan sambal.
“Nggak usah. Lagian, aku sudah lapar dari tadi, kok. Makanya masak nasi. Tapi, makasih telur baladonya. Aku minta dua biji!” katanya seraya pergi.
“Eh, mau ke mana, sih? Makan di sini aja kan bisa? Ini jengkol sama sambal udah mau matang!” seru Safka sembari mengulek sambal yang cabainya baru saja ia angkat dari wajan.
“Aku bilang nggak usah, ya, nggak usah! Apaan pura-pura baik? Padahal, kamu itu Cuma mau menjadikan aku b***k!” ucap Sri setelah jauh dari Safka. Namun, suaminya itu tetap dapat mendengar apa yang dikatakan Sri barusan.
“Ya, ampun. Kamu kok keras kepala banget, sih?” balas Safka seraya kembali fokus pada apa yang sedang dikerjakannya. Ia pun sama laparnya seperti Sri karena sedari pagi hanya sarapan daging bakar.
Sekarang, Safka hendak mengisi perutnya dengan makanan sebagai amunisi agar tubuhnya kuat saat dipakai untuk melakukan pekerjaan rumah. Meski tak yakin akan melakukannya dengan benar, ia tetap ingin mencobanya sampai bisa.
Safka pun kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Lantas ia mengambil satu telur, dua sendok jengkol goreng dan sesendok sambal dalam satu piring berbeda, sehingga nasi dan lauk pauk berada dalam wadah terpisah.
Ia membawa piring di tangannya ke luar dari dapur. Namun, bukan karena ingin makan sendiri di lantai atas. Melainkan untuk mencari Sri dan makan bersama dengan istrinya itu. Sri yang ternyata makan di ruang keluarga pun mendongak begitu melihat Safka datang.
“Mau ngapain?” tanyanya, ketus. Sri tak sedang ingin berbaik hati meski Safka telah menyelamatkannya dari kemungkinan geger otak.
“Makan lah. Ya, masa main beklas?” timpalnya seraya balik bertanya. Safka merasa kalau dirinya sudah kebal dengan omelan dan keketusan Sri. Sebab, itu sama sekali tidak mempengaruhi perasaannya.
“Ya, ngapain? Kan, bisa kalau kamu makan di sana! Atau di sana, di sana, di sana!” ucap Sri kembali seraya menunjuk setiap penjuru ruangan saking luas dan banyaknya ruang.
“Gitu banget, sih? Aku kan cuman mau makan, Sri. Masa nggak boleh deket-deket istri sendiri?” Safka pun merajuk sembari meletakan piring yang dibawanya itu di meja. Lantas, ia sendiri duduk bersila di samping Sri. Istrinya itu sedang menonton acara televisi.
“Serah, dah, ah! Yang penting, kamu jangan banyak bicara dan stop membahas tentang siapa kita!” jelasnya, mengingatkan sekaligus memperingati Safka.
Safka pun seketika tersenyum. Meski hanya diizinkan makan bersama, ia sudah merasa amat senang. Tak mengapa walau pun sri masih menunjukkan tampang kesal, benci, marah, dan juga muak. Ia yakin istrinya itu akan berubah seiring waktu berjalan.
“Makasih,” ucap Safka pelan seraya melahap suapan pertamanya.
“Nggak usah ngomong aku bilang,” timpal Sri yang seketika membelakangi Safka. Ia memilih untuk menghadap televisi dan menonton acaranya daripada harus menghadapi ocehan Safka.
“Iya, Sri, iya!” Safka berucap lagi sambil mengunyah. Tak sadar kalau itu adalah berbicara.
“Ya, sudah ngapain dijawab lagi? Diem aja nggak usah ngomong!” pinta Sri yang selanjutnya menyuapi mulutnya lagi. Makanannya masih aa banyak. Meski malas makan bersama Safka, lebih malas lagi untuknya kalau harus pindah tempat.
Safka pun langsung hanya mengangguk. Ia tak mau membuat Sri marah dan cukup hanya sekali saja ia melakukan kesalahan. Kali ini tidak. Ia hanya akan menurut saja kalau memang itu membuat Sri nyaman tinggal bersama.
Namun, seketika Safka terperanjat sampai tersedak saat Sri tiba-tiba berteriak histeris. Istrinya itu pun menangis sesenggukan. Safka terbatuk, tetapi masih sempat bertanya keadaan Sri. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya.
“Loh, kamu dong yang kenapa kok tiba-tib batuk gitu?” tanya Sri balik. Ia menyapu air matanya yang sedikit menitik.
“Aku kaget denger kamu nangis. Makanya aku nanya juga, kamu kenapa?” tanya Safka kembali di sela-sela rasa ingin batuknya.
‘Itu!” timpal Sri seraya menunjuk layar televisi yang sedari tadi dilihatnya. Film-nya bikin sedih sampai aku kebawa suasana,” jawabnya, senang karena heran akan Safka yang terkejut hanya karena ia menangis.
“Ya, ampun. Aku kira kenapa sumpah. Tapi ya syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa,” ucapnya seraya bangun berdiri. Ia tak tahan ingin segera minum.
.