“Orang mah nangis karena jatuh, dipukul atau apa kek gitu. Lha ini nangis gara-gara nonton film. Aneh memang!” Safka yang baru saja menenggak minumannya itu pun merutuk, merasa aneh dengan para wanita kebanyakan yang selalu nangis tiap liat adegan dalam sinetron. Padahal, itu semua hanya akting.
“siapa yang aneh? Kamu ya Om?” ujar Sri yang baru saja menghampiri Safka. Ia hendak mengambil minum karena baru saja selesai makan.
“Kamu lah. Masa aku? Aku kan normal, nggak pernah nangisin film!” timpal Safka sambil tertawa julid. Ia lantas melengos dan mengambil sapu dari pojok dapur. Sebab dirinya harus segera mengerjakan tugas bagiannya di lantai atas.
“Dih! Masih normal yang nangis karena nonton film lah, dari pada kamu yang tiba-tiba nikahin orang tanpa bertanya, mau apa nggak!” balas Sri tak mau kalah. Ia lantas mengambil alat pel karena juga ingin segera menuntaskan tugas yang menjadi bagiannya di lantai bawah.
“Mana ada. Orang aku dapat izin dari bapaknya kok.” Safka menimpali Sri lagi seraya pergi meninggalkan dapur.
“Ya, itu karena kamu kasih duit. Bapakku kan mata duitan!” Sri kembali tak mau kalah . apa pun, pokoknya, Safka harus selalu ada di bawah pendapatnya.
“Ya, berarti salahin bapakmu dong! Kenapa mata duitan? Hayo loh!” ucap Safka sambil berbalik, sehingga membuat Sri yang berjalan di belakangnya terkejut sampai hampir terjengkang. “Sory!” Safka pun menyengir. Ia lantas kembali berbalik badan dan segera pergi karena takut akan omelan Sri.
“Astaga, Om! Bisa nggak kalau jalan itu nggak usah berhenti mendadak?!” teriak Sri seraya mengacung-acung gagang pel yang dipegangnya. Ingin rasanya ia memukul Safka, tapi suaminya itu sudah telanjur pergi. “Oh, iya. Aku nggak mau nyuci piring beka kamu makan, ya! Cuci saja sendiri, masing-masing.” Sri berteriak kembali.
“Itu kan tugas kamu, Sri. Aku kan udah masak tadi, masa harus nyuci piring juga? Nggak adil lah.” Dari lantai atas, Safka balas meneriaki Sri. Ia lantas menjulurkan lidahnya pada Sri yang mendongak kesal padanya.
“Bodo amat! Orang aku udah capek kok dari tadi beres-beres rumahmu yang luasnya udah kayak lapang sepak biola ini!” balas Sri lagi. Ia lantas melengos, tak peduli sekali pun Safka menyuruhnya untuk mencuci piring.
“Dikira aku nggak capek apa, ya? Aku kan mau bantuin dia juga ini. Biar sama-sama ada kerjaan, sama-sama capek, jadi aku bagi aja tugasnya. Lagian, harusnya ia tidak mengeluh dong? Bukannya di kampung biasa kerja keras kayak gini?” omel Safka sembari mulai menyapu.
Namun, baru membersihkan satu ruangan saja Safka sudah merasa pegal. Tangannya sakit, begitu juga dengan pinggangnya. Hanya saja, ia tak mau mengeluh agar tidak ditertawakan Sri. Ia harus terlihat jauh lebih kuat tentunya sehingga terus bekerja.
“Gimana? Apa sudah merasa lelah?” tanya Sri tiba-tiba yang baru saja tiba di lantai atas. Ia memang sengaja menghampiri Safka dulu sebelum pergi ke kamarnya untuk mandi. Kedua tangannya melipat di d**a, sri pun tersenyum sinis pada Safka.
“Biasa aja!” timpal Safka, pura-pura. Padahal, ia sudah merasa begitu pegal dan ingin segera merebahkan dirinya saja.
“Masa?” ledek Sri sambil melengos. “Paling-paling sebentar lagi kamu rebahan!” sambungnya sambil tergelak.
Entah kenapa, setelah semalam merasa takut kalau diirinya kan mati di tangan Safka, sekarang dirinya berubah menjadi lebih berani. Sri berani menghampiri Safka, ia juga berani bicara lantang pada Safka. Sampai0-sampai, ia pun berani meledek suaminya itu.
Sampai di kamar, Sri pun mengunci pintu. Lantas segera ia melempar tubuhnya itu ke ranjang setelah merasa lelah dan pegal. Selesai menyapu dan mengepel saja membuat tubuhnya terasa begitu remuk. Ia tak lagi bertenaga sehingga tak sanggup jika harus mencuci pakaiannya yang kotor. Padahal, baju gantinya tinggal sehelai.
“Besok aja lah nyuci. Sumpah, ya ... untuk sekadar ngupil aja rasanya berat banget!”
Sri pun melemaskan seluruh tubuhnya itu di sana. Ia sama sekali tidak ingin bergerak untuk beberapa saat agar tenaganya terkumpul lagi. Karena kalau tidak, bisa-bisa ia tak akan sanggup untuk sekadar mandi.
Namun, saking lelahnya, Sri yang berniat mandi pun justru terlelap begitu saja. Padahal, waktu sudah mendekati Maghrib.
***
Adzan Maghrib berkumandang. Sementara itu, Safka baru saja selesai mengepel beberapa ruangan saja. Segera ia pun menyudahi pekerjaannya karena harus bersiap untuk shalat. Namun, begitu membuka pintu, ia justru tak bisa masuk.
“Sri, kamu lagi ngapain sih? Buka pintunya kenapa? Aku mau mandi, mau shalat!” teriaknya setelah beberapa kali mengetuk pintu.
Namun, Sri tak juga menjawab apalagi membuka pintu. Istrinya itu justru semakin lelap, semakin lelap dan semakin lelap lagi. Safka yang kesal menunggu pun berdecak sambil menggeleng, sampai akhirnya ia ingat untuk menelepon Sri saja. Sebab, ia pun ingat betul kalau kemarin sempat menyimpan ponsel istrinya itu di ranjang.
Panggilan tersambung, bahkan nada dering panggilan dari ponsel Sri pun terdengar nyaring olehnya. Safka yakin, Sri akan bangun kalau memang sedang tertidur. Ia pun benar. Sri yang terlelap sejak tadi pun menggeliat panjang sambil merutuk karena berisik.
“Suara apaan, sih itu berisik banget!” omelnya seraya membuka mata. Didengarnya lebih jelas suara dering panggilan dari sebuah ponsel sehingga ia langsung merasa sedikit segar. Sebab, ia memang mencari ponselnya itu.
“Halo!” sapanya antusias tanpa melihat nama siapa yang tertera di layar ponsel, saking senangnya.
“Halo, halo! Buka pintunya bisa kan? Aku mau mandi, mau shalat! Ini udah Maghrib!” omel Safka seraya langsung menutup panggilannya.
“Ish!” rutuk Sri seraya melempar ponselnya itu ke ranjang. Ia pikir, yang meneleponnya itu Siti atau Fahri. Tetapi malah suaminya yang tua. “Nggak tau orang lagi istirahat apa, ya? Dasar om-om!” omelnya seraya turun dengan langkah malas. Kemudian ia melangkah gontai menuju pintu.
Pintu yang sengaja Sri kunci pun ia buka dengan gerakan lambat. Karena selain malas, ia pun masih saja merasa lemas. “Berisik tau nggak? Orang lagi tidur juga!” omelnya pada Safka yang begitu ia membuka pintu sudah ada di sana.
“Makanya, lain kali jangan dikunci. Ini kan kamar kita berdua. Aku pasti butuh masuk untuk mandi, untuk tidur—“
“Nggak ada ya kalau tidur. Kan kita udah bikin perjanjian kalau kamu bakal tidur di luar kamar ini! Jangan pura-pura lupa ingatan please!” serobot Sri, sembari melengos kembali ke ranjang yang dikuasainya.
“Ya, kalau gitu jangan asal main kunci!” timpal Safka sembari mengambil handuk yang menggantung di gantungan khusus handuk.
“Ya, nggak bisa juga. Aku harus benar-benar yakin dulu kalau kamu nggak bakal ngapa-ngapain aku pas aku lagi tidur!” ucap Sri, lagi-lagi tak mau kalah. Meski tenaganya begitu terkuras oleh pekerjaan rumah, suaranya masih terdengar lantang.
“Siapa juga yang mau ngapa-ngapain kamu heh?” Safka pun meledeknya sebelum kemudian masuk ke kamar mandi. Meski sebenarnya, itu tak sesuai dengan apa yang ia rasakan dalam hati.
“Dih! Kalau bukan karena ada maunya, ngapain nikahin aku? Dasar om-om nggak tau diri!” teriak Sri lagi. Kali ini kakinya ia entak-entakkan saking kesalnya. Sebab merasa kalah telak dari Safka.
Sementara itu, Safka yang baru saja mulai membasuh diri pun tak dapat menahan tawa. Ia tergelak berulang kali, memikirkan Sri yang semakin hari semakin lucu. “Ternyata, untuk membuatnya semakin dekat hanya perlu berdebat. Hobi sekali kayaknya dia itu kalau soal bertengkar,” katanya.
***
Berdiam diri untuk beberapa saat setelah kalah melawan ocehan Safka, Sri pun ingat kalau ia ingin memeriksa ponselnya sejak pagi tadi. Ia pikir, akan ada banyak pesan dari adiknya. Sri pun benar. Sebab, begitu ia memeriksa ponselnya itu langsung terdapat beberapa pesan dari Siti.
Sri membacanya satu per satu sampai akhirnya ia membaca pesan terakhir yang berbunyi, “Aku ketemu Kak Bima tadi. Dia nanyain Kakak dan minta nomor Kakak. Aku belum kasih karena mau minta izin kakak dulu.”
Perasaan Sri pun seketika bergetar. Saking sibuknya memikirkan nasib sendiri, ia sampai lupa kalau dirinya itu telah menyakiti perasaan lelaki yang mencintainya sedari dulu. Bima, lalaki yang menerima Sri apa adanya itu selalu ada tiap kali Sri merasa kacau dan sedih. Namun, sekarang itu tak kan lagi terjadi. Bima pasti kecewa terhadapnya. Dan, ia pun tak mungkin lagi dapat berharap akan kasih sayang Bima kembali.
Sri pun mengetik pesan untuk membalas adiknya itu. Akan tetapi berulang kali ia hapus karena bingung, jawaban apa yang harus ia berikan. Boleh kah, atau tidak karena dirinya sudah dimiliki orang lain.
Hanya saja, setelah berpikir panjang, Sri pun nekat untuk membiarkan Bima mengetahui nomornya. Ia pikir, hubungannya dengan Safka tak benar-benar baik apalagi sehat. Meski sekarang statusnya adalah istri orang, ia pikir tak menutup kemungkinan jika sebenarnya, Safka bukan jodohnya.
“Dek, maaf kakak baru balas, ya. Soal nomor Kakak, kasih aja nggak apa-apa,” katanya dalam pesan. Lantas segera ia mengirim dan menghapus pesan tersebut.
“Lagi chatan sama siapa?” tanya Safka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengacak-acak rambutnya yang basah sembari melihat Sri. Sebagai suami, ia merasa perlu tahu.
“Nggak lagi chatan sama siapa-siapa.” Sri pun balas menatap Safka. “Lagian kepo banget. Terserah aku dong mau chatan sama siapa aja? Kan, ponselnya udah kamu kasih ke aku, Om.”
“Iya, sih. Tapi bisa nggak kamu itu jangan manggil aku Om? Panggil aku Mas kek, Aa kek, atau Sayang gitu?” Safka pun berbalik membelakangi Sri karena tak tahan ingin tertawa.
“Dih! Malesin banget aku harus manggil kamu dengan sebutan itu. Kamu kan om-om. Terima aja udah. Jangan kebanyakan protes!” timpal Sri seraya berdiri. Ponselnya ia terus di meja. Lantas ia pun mengambil handuk miliknya sebelum masuk ke kamar mandi.
“Dasar ngeyelers!” umpat Safka.