Jatuh cinta bukan sesuatu yang salah. Siapa saja berhak memiliki perasaan tersebut terhadap siapa pun. Namun, seseorang itu pun berhak menolak cinta dari siapa pun kalau memang dirinya tidak memiliki perasaan yang sama.
Pada umumnya, cinta adalah sebuah perasaan yang tulus. Datangnya dari hati tanpa adanya paksaan atau ancaman. Akan tetapi cinta pun cukup sederhana dan begitu mudah kedatangannya di dalam hati seseorang.
Jika kebanyakan pepatah bilang kalau cinta turunnya dari mata turun ke hati, kebanyakan cinta justru datangnya dari terbiasa. Sikap yang baik, perhatian yang tinggi dan juga pengorbanan yang besar tentu saja jauh lebih berpengaruh untuk sebuah perasaan bernama cinta itu sendiri.
Meski pun tak sedikit orang yang mengatas namakan cinta demi sebuah kepuasan semata. Mereka hanya berucap di bibir saja, tapi dalam hatinya justru bertolak belaka. Tidak ada yang benar-benar tulus di hati orang yang memiliki perasaan tersebut. Yang ada hanya keserakahan, kemunafikan dan kepalsuan.
Namun, tidak untuk cinta yang dirasakan Safka terhadap Sri. Ia mulai berasakan adanya getar-getar dii d**a sejak awal, di mana ia melihat Sri dengan wajah polosnya tersenyum ramah dan anggun. Perasaannya itu kemudian semakin jelas terasa setelah ia melihat Sri untuk yang ke dua, ke tiga da seterusnya.
Bibirnya berucap kata cinta. Begitu juga dengan hatinya yang sama sekali tidak bertolak belaka. Ada cinta di sana, dan ia ingin memperjuangkan perasaannya itu meski sulit untuk menaklukkan keras kepala Sri.
Safka yakin, sekeras-kerasnya hati seseorang, ia akan menemukan titik lemah pada orang tersebut sehingga dapat dengan mudah meluluhkannya. Butuh waktu memang, tapi di situ lah perjuangannya. Ia akan melakukan apa pun, menghadapi apa pun, dan tentunya dengan tekad yang kuat.
Di kamarnya, Safka yang baru saja selesai memakai pakaiannya pun langsung melakukan shalat Maghrib. Lantas, ia pun duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah demi untuk menunggu Sri yang sedang mandi. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, perihal mereka ke depannya sebagai bentuk perjuangan yang sudah ia rencanakan.
Dalam hatinya berulang kali mengatakan apa yang pantas ia katakan lebih dulu, karena obrolan mereka kerap berujung pada pertengkaran. Meski pun ia menganggap pertengkaran adalah bumbu menuju suksesnya perjuangan, tetap saja, ada kala emosinya terpancing sehingga membalas ocehan Sri dengan amarah.
Klik!
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Sri yang baru saja selesai membersihkan diri itu pun keluar dengan perasaan ragu. Ia tahu kalau suaminya itu sudah pasti masih ada di kamar, sehingga belum apa-apa saja sudah menciptakan perasaan tak keruan.
Sri selalu merasa salah tingkah. Ia bahkan kerap tak tahu harus bersikap bagaimana sampai akhirnya membuat ia menjadi pemberontak. Itu sebabnya, tiap kali mereka bertemu selalu tercipta sebuah pertengkaran. Entah itu karena Sri merasa terganggu, tersinggung dan atau hanya karena merasa gugup saja.
Seperti sekarang, melihat Safka ada di kamarnya saja sudah membuat hatinya bergumam terus-menerus. Sri mengumpat, bahkan sampai merutuki suaminya sendiri. “Ngapain coba masih di sini? Dia kan sudah pasti udah selesai shalat. Keluar dong harusnya?” batin Sri seraya menutup pintu kamar mandi. Ia lantas melangkah menuju lemari di mana ia menyimpan sebangsa mukena dan handuk.
Diambilnya mukena tanpa sepatah kata. Sri bahkan tak memedulikan keberadaan Safka di sana karena sama sekali tak menginginkan perbincangan. Ia yakin, sepatah kata saja terucap ujung-ujungnya pasti berakhir pada pertengkaran.
“Ya, .Allah. aku mau melakukan ibadah yang khusuk padamu. Tolong singkirkan dia dari pikiran dan pandanganku!” batinnya sebelum kemudian ia menghela napas panjang dan segera mengucapkan bacaan shalat.
‘Punya istri udah kek orang bisu aja perasaan. Ngomong kagak, ngeliat kagak. Dikira suaminya ini hantu apa, yak? Sampek kek nggak kelihatan gini.”
Ada tawa saat Safka mengucapkan umpatannya di dalam hati. Namun, ia menahan agar tak membuyarkan fokus Sri dalam beribadah. Karena meski pun Sri telah mengabakannya, ia tak bisa mengabaikan apa yang sedang Sri lakukan sebagai manusia yang mempercayai agama sepeti ia sendiri.
Hanya saja, hatii dan perasaan Safka semakin tak keruan. Ia ingin bicara, tetapi sedikit ragu setelah melihat bagaimana Sri bersikap. Istrinya itu masih sama, belum ada yang berubah meski sudah tinggal bersama. Yang ada, Sri justru makin berani melawannya.
Untuk mengisi waktunya saat menunggu Sri, Safka pun mengambil sebuah quran dari rak buku. Sebenarnya, itu adalah yang sering ia lakukan tiap kali memiliki waktu senggang. Kadang, ia pun sengaja meluangkan waktu untuk membaca.
Seperti saat ini, apa yang hendak ia lakukan itu tidak termasuk sebagai rencana merebut hati Sri. Itu asli keinginannya karena tak mau menunggu Sri dengan hanya terbengong saja. Mulailah Safka membaca quran pada halaman terakhir kali ia membacanya, dengan suara sayup dan merdu.
Jujur saja, dalam shalatnya Sri langsung terganggu. Namun, bukan terganggu karena rasa kesalnya terhadap Safka. Melainkan karena ia begitu terpesona dengan suara yang baru saja ia dengar. Suar Safka benar-benar membuat Sri terhipnotis, sehingga ia perlu berusaha keras untuk kembali fokus pada shalatnya sampai kemudian ia berhasil menyelesaikan itu sampa akhir.
“Aku nggak nyangka, kalau kamu memiliki suara yang begitu merdu saat membaca al-quran,” batinnya sembari melafalkan doa-doa setelah shalat. “Mana fasih banget,” sambungnya seraya mengucapkan aamiin.
Tapi karena takut mengganggu khusuknya Safka yang sedang mengaji, Sri pun menunda dirinya yang hendak membuka mukena. Ia justru duduk bersila, menikmati setiap bacaan yang keluar dari mulut suaminya itu.
Sri meresapi bacaan yang disuarakan suaminya itu sambil terpejam. Indah, merdu dan fasih sehingga membuat ia begitu betah mendengarkan. Terlebih setelah Sri melihat ketulusan Safka yang sedang mengaji. Suaminya itu terlihat tidak sedang pamrih, sebagaimana biasanya saat memamerkan harta kekayaan.
Safka yang terbawa oleh kekhusyukannya itu pun tak sadar kalau dirinya sudah mengaji dalam waktu yang cukup lama. Dan barulah saat ia mendengar suara adzan dari masjid yang tak begitu jauh dari rumahnya ia pun langsung berhenti.
“Lha, sudah adzan Isya rupanya.” Ia pun langsung tersipu malu, karena ternyata Sri pun sedang memperhatikannya.
Sri yang saat itu seketika terkejut pun langsung berdiri dan membuka mukenanya. Ia juga bergumam tidak jelas sehingga membuat Safka tersenyum lebar. Katanya, “Kok, dilepas? Apa nggak sekalian shalat isya dulu aja?”
“Isya?” Sri pun seketika bergeming. Dan, suara adzan pun benar-benar baru ia dengar. “Eh, iya ternyata. Kok, nggak kedengaran, sih?” sambungnya pelan sekali.
Sebenarnya Sri merasa amat malu. Namun, ia berusaha menyembunyikan rasa malunya itu dengan kembali memakai mukenanya. Lantas, setelah adzan selesai berkumandang, ia pun mulai kembali shalat.
Sedangkan Safka, lagi-lagi ia harus menunggu Sri.