Penuh Khayat

1284 Kata
“Mau ngomong apa?” Selesai shalat, Safka sempat bicara kalau dirinya mau bicara sehingga Sri harus menunggu selama ia shalat Isya. Sri pun melakukan apa yang disuruh suaminya itu, menunggu sembari melihat-lihat video dalam YouTube. Barulah setelah Sri melihat Safka selesai shalat, ia bertanya demikian. “Bentar dulu kenapa? Aku kan baru beres shalat banget. Belum lepas sarung sama peci, sejadah juga belum aku simpan ke tempatnya semula.” Safka memasang senyum paling manis yang ia punya selama ini. Membuat Sri seketika memalingkan wajahnya sambil berdeham. Ia memang tak sengaja bertanya sebab merasa terlalu lama menunggu. Terlebih, ia pun penasaran dengan apa yang akan dikatakan Safka. Lelaki yang raut wajahnya berseri itu pun segera membereskan bekas shalatnya. Ia dapat melihat dari wajah Sri kalau istrinya sudah tak cukup sabar. Padahal, mengingat apa yang ingin dikatakannya, ia tak yakin kalau Sri akan setuju. “Mau ngobrol di sini, apa di luar?’ Safka pun menghampiri Sri dan duduk berjongkok di hadapan istrinya itu, sehingga sukses membuat Sri bersikap gugup. “Kamu nanya mau ngobrol di mana? Lha terus ngapain nyuruh aku buat nunggu di sini?” Sri pun mengalihkan tatapan demi menghindari tatapan juga senyum yang merebah dari bibir suaminya. “Ish! Maksud aku nggak gitu juga, Sri. Aku minta kamu nunggu aku di sini itu ya takutnya kamu pergi gitu aja pas aku shalat. Atau mungkin, bisa aja kamu tidur,” jelas Safka seraya tersenyum-senyum. Lucu benar diirinya melihat Sri gugup dan kikuk. “Ya, sudah. Ngomong di sini aja kalau gitu. Aku nggak mau buang-buang waktu jua karena udah capek plus ngantuk banget.” Sri berdeham lagi. Kedua tangannya bahkan sampai merapikan rambutnya yang tak berantakan bergantian saking tak tahu harus bagaimana ia bersikap. “Ok.” Safka pun menghela napas panjang. Lantas ia pun beranjak bangun dan duduk di sebelah Sri. Ia juga berdeham sebelum kemudian memegang tangan Sri. “Eh, mau ngapain?” Sri langsung berlonjak saking kagetnya. Ia bahkan menepis genggaman Safka sembari menggeser posisi duduk sehingga sedikit jauh dari Safka. “Jangan aneh-aneh kamu!” ancamnya, seiring dengan sebelah tangan menunjuk ke arah wajah Safka. “Aku Cuma mau megang tangan kamu aja, Sri. Masa nggak boleh?” Safka pun tertawa kecil sembari menggaruk hidungnya yang sedikit gatal. Kelakuan Sri benar-benar membuatnya ingin bersikap ngeyel. “Ya, emang nggak boleh. Aku nggak mau, ya, walau kita udah jadi suami istri, terus kamu mikir berhak ngapa-ngapain aku!” terang Sri, menjelaskan apa yang terlintas dalam pikirannya. Ia bahkan bergeser lagi sehingga semakin jauh dari Safka. “Lha kan aku memang berhak. Tapi mana? Megang kamu aja baru aja mau kan? Suuzan mulu kenapa, sih?” “Dah lah jangan malah bertele-tele. Sebenarnya kamu ini mau ngomong apa, Om? Aku loh udah ngantuk bener sumpah!” Sri mendelik, menatap Safka sekilas. Kesal betul dirinya melihat lelaki paling sok yang pernah ia lihat. “Ok, Sri. Jadi yang mau aku omongin itu adalah soal kita,” ucap Safka diiringi deheman, karena mendadak kering tenggorokannya itu. “Tentang kita apaan? Udah jelas kan kalau kita memang sudah menikah, tapi aku menolak untuk hal apa pun yang menyangkut itu semua.” Sri menyela. Belum apa-apa otaknya langsung membantah apa yang baru saja dikatakan Safka. Ia pikir, lelaki yang sudah memaksa untuk menikahinya itu sedang berencana mengambil keuntungan. “Aku tau kalau sekarang, isi kepalamu itu sedang memikirkan banyak hal buruk tentangku. It’s ok, aku nggak apa-apa. Tapi, tak ada sedikit pun aku berniat buruk padamu,” balas Safka. Ia menunduk sambil tersenyum, juga menautkan kedua tangannya di antara kedua lutut. Berharap, Sri akan mendengarnya terlebih dahulu, sebelum berkomentar. Sri pun diam, mendengarkan. Meski tak sepenuhnya percaya, ia pun hendak mencoba untuk mengamati ucapan Safka terlebih dulu. Terlebih, tiba-tiba saja, Safka terlihat menyedihkan dii matanya. Lelaki yang belum lama ini menjadi suaminya itu tak bersikap keras seperti biasanya. “.Kenapa, sih, nih om-om satu?” batin Sri, seraya terus mengamati Safka yang masih saja menunduk. Ia bahkan sampai menelengkan kepala demi untuk melihat raut wajah Safka. Sayangnya, ia tak dapat melihat apa pun selain kepala bagian belakang suaminya itu. “Aku ingin menatakan alasan kenapa aku menikahimu,” ucap Safka pada akhirnya. Ia tersenyum sembari menghela napas dan mengembuskannya seketika. Lantas mengangkat wajah dan langsung menatap Sri. Sri yang seketika terkejut pun langsung membuang wajah, berpura-pura tak melihat apa pun apalagi Safka. Sayangnya, gelagat yang tampak di mata Safka tidak begitu. Suaminya tahu kalau Sri baru saja memperhatikannya. “Apa memangnya?” tanya Sri, tanpa melihat Safka sama sekali. Ia justru sibuk memainkan kedua jempolnya bergantian. “Jujur, semua tuduhan yang kamu katakan padaku itu tidak benar. Apalagi perihal aku yang katamu sudah membelimu dari bapakmu. Tidak, aku sama sekali tidak berniat seperti itu, Sri. Hanya saja, kebetulan, aku memang mengetahui apa yang menjadi masalah dalam keluarga kalian. Dan aku memberikan uang itu, benar-benar karena ingin membantu. Tidak lebih,” jelas Safka. Sri tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan lelaki yang duduk di sampingnya itu. Ia sama sekali tak percaya, karena apa pun alasannya, tetap saja memiliki arti yang sama bahwa, Safka telah membeli dirinya itu. “Aku tau, kamu nggak kan semudah itu untuk percaya apa yang aku katakan barusan. Tapi, Sri ... aku menikahimu karena aku memang sudah mencintaimu dari awal. “Cinta? Yang benar saja!” umpat Sri sambil berdecak. Safka benar, ia sama sekali tak percaya. “Kamu boleh tak percaya, Sri. Setidaknya untuk saat ini saja,” ucap Safka kembali. Ia lantas menatap istrinya itu walah sedari tadi dibelakangi. “Kok, gitu? Maksudnya apa?” Sri pun menoleh. Kali ini mereka bersitatap. Sri cemberut, memasang wajah jutek pada suami sendiri. Pasalnya, ia memang tak mau memperlihatkan wajah manisnya. “Beri aku satu kesempatan, Sri. Lihat aku sebagai seorang lelaki agar aku bisa membuktikan benarnya perasaan ini,” katanya, tanpa basa-basi lagi. “aku yakin, kalau kamu mau membuka mata, membuka hati, dan juga membuka pikiran tentang siapa aku, kamu akan dapat melihat kesungguhan dalam diiriku. “Lah, kan emang aku taunya itu kamu laki, Om. Mana ada aku anggap kamu sebagai perempuan? Ngaco emang, ya. Atau, jangan-jangan, kamu emang cewek?” Sri pun langsung berdiri. “Astaga, Sri!” Safka pun langsung menepak kening, sembari menjengkangkan tubuhnya itu ke ranjang. “Aku ngomong serius, otakmu malah ke mana-mana!” sambungnya seraya menyapu wajahnya kasar berulang kali. “Otak udah apa gimana, sih?” Safka merutuk lagi. Sri yang mendengar rutukkan Safka pun seketika membuka matanya lebar. Melotot tajam. “Apa kamu bilang? Otak udang?” teriak Sri seraya meraih guling yang tergeletak di samping Safka. Tanpa ragu, ia pun memukulkannya ke tubuh Safka berulang kali. “Astaga, Sri!” seru Safka kembali. ia pun meringis sembari menutupi tubuhnya dari serangan Sri dengan kedua tangan yang lebarnya saja tak seberapa. Sedang pukulan Sri terus meradang. Safka yang merasa kesakitan sekaligus keram perut karena ringisnya disertai tawa itu pun terpikir akan satu hal. Ia tak boleh kalah cepat dari serangan Sri sehingga dalam detik yang sama, ia pun menangkap sebelah tangan istrinya itu. Ia berhasil menangkap dan menarik Sri, sehingga tubuh istrinya itu jatuh di atas d**a. “Ya, ampun!” Sri langsung terbengong. Sedang matanya tertuju tepat ke arah manik yang juga sedang menatapnya. Hening. Dua pasang manusia yang disatukan oleh selembar kertas berisi sebuah perjanjian itu pun tenggelam dalam rasa yang aneh juga berbeda. Jika Safka yang sekarang ini semakin merasa jatuh cinta, Sri justru tak menyadari apa yang membuat jantungnya berdebar hebat. Safka menelan ludahnya dengan susah payah seraya menahan berat badan Sri yang lumayan. Namun, ia tak dapat menahan hasratnya untuk mencium selengkung manis tanpa pewarna apa pun di hadapannya. Dalam sekejap, seketika Sri mengerjap lagi sampai melotot karena Safka benar-benar menciumnya penuh hasrat. “Tuhan?!” batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN