Sadar akan ciuman Safka yang menenggelamkannya pada lamunan panjang, Sri pun mengerjap seraya menarik diri dari pelukan suaminya itu. Sungguh malu dan luar biasa gugup yang dirasakan Sri saat itu juga. Entah bagaimana ia harus bersikap sampai akhirnya ia pun berdiri untuk segera pergi.
Namun, belum sempat langkahnya beranjak dari sana, Safka pun bersuara sehingga membuat Sri berhenti. Ia bergeming, sebab dalam pikirannya masih tentang ciuman yang baru saja ia rasakan seumur hidup. Hal yang tak pernah ia lakukan itu membuatnya merasa aneh sendiri. Terlebih, ada debar juga getar yang terasa jauh lebih hebat dari sebelum ini.
Sri mematung membelakangi Safka sambil mengatur napas. Matanya berulang kali terpejam sambil seraya menahan diri untuk tidak terlihat bergerak. “Ada apa lagi? Bukannya uda cukup jelas kalau kamu tidak menuruti apa yang aku mau? Dasar otak m***m! Aku nggak mau ya kalau kejadian barusan terulang lagi,” ucapnya.
“Aku nggak ada maksud buat apa-apain kamu, Sri. Tadi itu hanya—“
“Sudah lah. Aku mau sendiri dulu sekarang. Dan pilihannya cuman ada dua. Kamu yang pergi dari kamar ini, atau aku?” selanya, tanpa membiarkan Safka bicara lebih banyak.
“Ok, biar aku yang pergi. Tapi dengarkan aku dulu sekali ini saja.” Safka pun beranjak bangun, berdiri di belakang Sri.
Sri menelan ludahnya dengan susah payah. Sama halnya dengan ia menahan getar tubuh agar tak terlihat lemah. “Sebentar saja dan setelah itu kamu harus pergi!” timpal Sri, seraya melipat kedua tangan di d**a. Sungguh, ia merasa begitu takut dan kalut kalau dirinya tak kan sanggup menghadapi Safka.
“Gini.” Safka pun menghela napas terlebih dulu setelah mendapatkan izin untuk bicara lagi dari Sri. Ia yang juga merasakan jantung berdebar juga tubuh bergetar itu pun melangkah lebih dekat ke arah Sri yang masih bergeming di hadapannya. “Kamu boleh tak menganggapku ada, kamu boleh tak menganggap aku sebagai suamimu, kamu juga boleh menjauh sesukamu. Tapi, aku cuman mau minta satu hal.”
Safka menjeda apa yang ingin diucapkannya. Menunggu tanggapan Sri sebelum melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Sri pun gelisah. Ada rasa tak enak hati dalam dirinya yang memang terlalu berlebihan. Sebagai seorang istri, meski pun ia sama sekali tak memiliki perasaan apa pun, rasa hormat sepatutnya ia lakukan.
“Apa? “ Sri pun akhirnya menurunkan ego dalam dirinya barang sedikit. Ia berbalik dan seketika menahan diri untuk tidak menunjukkan keterkejutannya.
“Izinkan aku untuk memperjuangkanmu. Izinkan aku untuk membuat kamu percaya kalau aku begitu sungguh-sungguh,” balasnya, seraya memasang wajah sungguh-sungguh. Melihat Sri yang akhirnya mau berbalik, ia pun sedikit menyunggingkan senyuman bahagia.
“Aku nggak tau mesti ngomong apa. Tapi karena sebelumnya pun kamu menikahiku tanpa bertanya lebih dulu, kenapa sekarang kamu perlu persetujuanku? Lakukan saja seperti apa yang kamu lakukan sebelumnya. Nggak perlu minta izin!” balas Sri. Ia lantas memalingkan wajahnya ke arah lain, untuk menghindari tatapan Safka yang entah kenapa membuatnya kerap tergoda.
“Justru karena aku telah melakukan kesalahan itu, apa iya aku harus melakukan kesalahan yang sama?” Safka pun balik bertanya. Ia pun lantas memberanikan diri merah sebelah tangan Sri lagi, sehingga membuat istrinya itu kembali melihatnya.
Namun, kali ini Sri tak menolak. Ia membiarkan suaminya itu menyentuh bahkan menggenggam tangan berjemari lentiknya tanpa ia ketahui alasannya kenapa. Tatapan Sri pun terpaku pada tatapan Safka.
“Mengingat kesalahanmu padaku, seandainya aku meminta pergi darimu, apa kamu akan mengabulkannya?”
Pertanyaan Sri membuat Safka tertohok barang sekejap. Namun, dalam sekejap ia menjawab lagi. “Pertanyaanmu bikin aku down Sri. Kalau kamu pergi, perasaanku gimana? Aku loh mau buat kamu percaya kalau perasaanku ini beneran tulus,” ucapnya, seraya memasang wajah melas.
“Terserah lah!” jawabnya, setelah lama ia membalas tatapan Safka. Lantas, ia melengos pergi.
“Eh, bentar!” cegah Safka kembali seraya mengejar Sri. Istrinya itu seketika berbalik.
“Apa lagi?” Sri pun menghela napas lelah. Ia memang lelah dengan apa yang ada dalam pikirannya. Ia sungguh tak mengerti.
“Biar aku yang pergi. Kan, tadi juga gitu perjanjiannya. Setelah aku bicara, aku keluar.”
“Ah, iya.” Sri pun berbalik sepenuhnya. “Pergi lah sana!” serunya, sudah seperti ada dalam rumah sendiri. Ia tak peduli, daripada dirinya yang nanti dijajah Safka, lebih baik dirinya yang menjajah Safka.
“Makasih, ya!” ucap Safka sebelum pergi.
Sri mendelik sambil berdecak. “Apaan, sih?” ucapnya seraya buru-buru menuju ranjang. Hari sudah semakin larut. Namun, bukannya ia ingin segera tidur. Melainkan ingin segera mengecek ponsel yang ia sembunyikan di bawah bantal, untuk melihat adanya pesan atau tidak.
Dibukanya kunci layar, beberapa pesan pun langsung terlihat sehingga sukses membuat Sri tersenyum lebar. Ia sudah sangat merindukan kekasih yang tanpa sengaja ia tinggalkan. Ia juga tak cukup saba untuk berbincang, membicarakan banyak hal termasuk apa yang ia alami kecuali ciuman tadi.
Tentu saja, karena Sri tak mungkin memberitahu soal ciuman yang dilakukan Safka padanya tadi. Karena selain malu, ia pun tak mau membuat Bima patah hati. Cukuplah saja ia membuat Bima sakit hati karena menikah dengan lelaki lain. Yang lainnya, biar itu menjadi rahasianya dengan Safka.
“Ini beneran kamu, Sri? Kalau iya, apa kabar? Kamu baik-baik aja kan di sana? Aku harap begitu.”
Pesan pertama dari Bima pun Sri baca dalam hati. Sebab, tiba-tiba saja ia tak mampu bersuara. Sesak yang menjalar menyusuri tenggorokannya membuat ia tercekat habis, sehingga membuat matanya basah oleh bening yang seketika menggenang.
“Tapi, Sri ... Pernikahanmu benar-benar mengejutkan aku. Aku tak bisa menerima itu, tapi tak juga bisa menolak itu. Bapakmu telah memberiku satu peringatan, kalau aku bukanlah laki-laki yang tepat untukmu.”
Sri kian merasa sesak saat melanjutkan bacaannya. Air mata yang tadi hanya menggenang, seketika jatuh perlahan membasahi pipi tirusnya. Ia tercekat, sehingga susah untuk menelan ludah saja.
“Aku sakit, Sri. Tapi bukan raga, melainkan jiwa yang tak mampu menerima hilangnya dirimu dalam hidupku. Aku patah, Sri. Harapan yang kuagungkan untuk bisa hidup bahagia bersamamu sekarang hilang sudah.”
Tangis Sri seketika membuncah. Ia sampai menangkup mulutnya kuat-kuat agar tak menciptakan suara isak. Safka jelas akan mendengarnya kalau sampai ia bersuara. Namun, kenyataannya, ia tak dapat menghentikan tangisnya itu.
“Maafin aku,” balas Sri, yang bahkan tak mampu mengetik banyak kata seperti Bima. Ia hanya merutuk dalam hati, kalau dirinya pun benar-benar merasakan hal yang sama.
Pesannya itu terkirim dan bahkan centangnya langsung membiru. Bima baru saja membuka dan membacanya dengan perasaan senang, sebab sudah lebih dari seminggu menahan sakit di d**a akibat pernikahan Sri.
“Tak apa, Sri. Mendengar kabar tentangmu saja, itu sudah cukup melegakan perasaanku. Hanya saja, apa aku boleh menyimpan nomormu ini? Sepertinya, aku masih ingin memilikimu meski pun kita dalam keadaan beda sekarang.”
Sri tertegun. Ia paham dengan apa yang dikatakan Bima barusan. Tentang keinginan Bima juga tentang statusnya yang tak lagi sendiri. Namun, sama seperti Bima, ia pun menginginkan hal itu. Setidaknya, keberadaan Bima dalam hidupnya akan membuat ia jauh lebih waras saat harus menghadapi obsesi Safka.
“Aku pun menginginkan hal itu, Bang.”