Hujan turun untuk pertama kali sejak Sri menginjakkan kakinya di kota metropolitan. Datangnya disertai gemerlap kilat yang seketika disaingi oleh gelegar guntur. Seolah saling bersaing, dan kelebat angin sebagai penengah di antaranya.
Sri berdiri di balkon kamar. Pandangannya tertuju pada hujan yang jatuh menyerbu tanah, pepohonan dan segalanya. Sesekali tangannya terulur menyentuh dinginnya air. Ia tersenyum mengingat satu kenangan di mana dirinya pernah berada di bawah hujan bersama Bima.
“Ya ampun, Sri. Kamu kenapa malah lari?” teriak Bima seraya menyusul Sri yang sebelumnya, mereka berada di bawah atap sebuah pos.
“Sekali-kali main hujan, Bang. Kan, nggak pernah kecuali dulu saat kita masih anak-anak!” teriak Sri sembari terus berlari, menerobos derasnya hujan. Ia lantas berhenti dan merentangkan kedua tangan. Sedang kepalnya mendongak, terarah pada langit gelap hari memang sudah pada penghujung sore.
Bima yang berhasil mengejar Sri pun ikut berhenti. Ia berdiri dengan napas terengah di samping Sri yang justru tertawa-tawa sambil terpejam. Ia menikmati setiap air yang jatuh di wajah, juga waktu di mana ia bisa melakukan apa yang ia mau bersama Bima.
“Basah semua kan bajumu, Sri. Sakit nanti!” protes Bima seraya meraih sebelah tangan Sri. Ia pun langsung menarik kekasihnya itu, berjalan cepat ke arah menuju rumah “Bapakmu juga pasti marah sama aku,” sambungnya.
Sri tersenyum lagi begitu mendengar apa yang dikatakan Bima barusan. “Memangnya kapan Bapak peduli aku, Bang? Mau aku pulang telat, pulang dalam keadaan kotor atau pun basah ... Bapak nggak pernah peduli atau pun marah. Dan, kamu tau itu!” ucapnya, apa adanya. Itu adalah apa yang terjadi sebenarnya.
“Ya, tapi kalau kamu sakit, terus nggak bisa cari duit, bapakmu marah, kan?” balas Bima, yang juga benar adanya.
“Iya juga, sih!” Sri pun tergelak dan menikmati setiap langkah yang ia gerakan bersama Bima. “tapi aku sedang tak mau memikirkan hal itu, Bang.”
“Terserah. Terpenting sekarang kamu pulang. Okay?” Bima tak berhenti menarik dan membawa Sri menuju pulang, sekali pun Sri berusaha untuk terus melepaskan diri. Kekasihnya itu, untuk pertama kali setelah mereka memutuskan untuk pacaran, menjadi sosok yang hanya peduli pada diri sendiri
Sebab, Sri yang Bima kenal selama ini adalah Sri yang selalu menurut apa kata bapaknya. Setiap detik seolah diirinya takut kalau bapaknya itu akan berucap kasar, terlebih pada adik-adiknya sehingga membuat Sri terus menurut.
Entah itu harus melakukan semua pekerjaan, baik di dalam mau pun di luar rumah demi untuk mendapatkan selembar uang. Bahkan, sekarang ini pun Sri telah menjadi bahan taruhan. Di mana saat bapaknya kalah dan mempunyai banyak hutang, tenaga Sri yang menjadi caranya membayar.
Akan tetapi, satu hal yang membuat Bima khawatir di tengah-tengah rasa bersyukur adalah karena Sri memilih hujan sebagai pelampiasan dari rasa serba salahnya. Ia takut kalau kekasihnya itu sakit dan malah menambah masalahnya saja.
Kilat menyambar lagi. Gelegar guntur menggelegar juga. Belum lagi angin yang seketika membawa percikan hujan yang seketika sampai di wajah Sri. Gadis berambut hitam nan panjang itu pun mengerjap seraya kembali ingat bahwa dirinya sedang berada dalam lamunan
Kedua matanya seketika terpejam. Sri pun menghela napas panjang, sebagai caranya untuk menenangkan hati di tengah-tengah situasi sulit dan menyesakkan. Bahwa, ia tak lagi seorang diri. Ada lelaki yang statusnya adalah seorang suami. Namun, ia pun baru saja menerima satu lelaki yang memang sejak awal ada dalam hatinya, agar berada dan tetap dalam hatinya.
“Aku tak peduli sekali pun aku tau kalau ini sudah keluar dari aturan pernikahan,” katanya dalam hati seraya membuka mata kembali. Hujan masih mengguyur. “Karena pernikahan pun, di luar keinginanku!” sambungnya seraya melangkah mundur.
Sri sudah merasa cukup puas berdiri di antara hujan, kilat, guntur dan angin. Dingin pun sudah begitu menusuk tubuh sampai ke tulang. Sri butuh masuk untuk menghangatkan tubuhnya yang seolah membeku itu dengan berganti baju, dan lalu tidur dalam balutan selimut.
Namun baru saja Sri masuk dan menutup pintu menuju balkon, lampu di seluruh rumah padam, bersamaan dengan gemerlap kilat dan juga gelegar guntur. Ia sontak menjerit sembari menangkup telinganya dengan kedua tangan. Kaget sekaligus takut benar-benar membuatnya lepas kontrol.
“Rumah segede ini bisa ati lampu juga ternyata!” ucapnya di tengah-tengah rasa takut.
Perlahan Sri membuka mata, tapi seketika terpejam lagi karena ia tak bisa melihat apa-apa. Membuat seluruh tubuhnya bergetar dalam diam. Ia bahkan merasakan kakinya begitu berat karena tak bisa digerakkan.
‘Ya, Allah. Aku takut banget sumpah!” batinnya, dalam keadaan bergetar hebat. Entah itu tubuh mau pun jantung, Sri merasakan ketegangan.
“Tolong kirimkan malaikat penolong untukku, Ya Allah,” pintanya, konyol sekal tapi ia sangat berharap kalau seseorang akan datang membawa terang.
.namun, Tuhan benar-benar mengabulkan apa yang diinginkannya barusan. Sebab Safka yang sedari hujan turun asyik membaca komik di depan televisi, yang ia matikan karena takut akan gelegar guntur pun seketika berlonjak dari kursi tempatnya duduk
Ia tak lupa meraih ponsel dan menyalakan lampunya setelah mendengar teriakan dari dalam kamar. Sayangnya, pintu yang Sri kunci dari dalam membuat Safka tak bisa masuk.
“Sri!” teriaknya dari luar kamar. Safka yang khawatir setengah mati itu benar-benar takut kalau Sri dalam masalah.
“Hua! Tolongin aku, Om! Aku nggak bisa gerak!” Sri pun balas teriak dari dalam. Ia yang masih dalam posisi semula itu pun bersyukur meski yang datang bukan malaikat sungguhan. Setidaknya, Safka akan membuat ia tak takut lagi.
“lah, kok bisa? Emang kamu lagi ngapain?” Safka pun keheranan, sehingga membuatnya menggaruk pelipis yang tak gatal.
“Ya, karena aku takut. Jadi nggak bisa gerak!” timpal Sri, yang tadinya bersyukur menjadi kesal. Ia yang berharap seseorang dapat menolongnya, alah membikin kesal.
“Astaga! Tapi aku nggak bisa masuk, Sri. Pintunya kamu kunci, kan? Buka lah!” Safka berucap lagi.
“Aku beneran nggak bisa gerak, Om. Ya Allah. Kakiku beneran kayak dikunci. Berat banget,” timpal Sri diiringi tangis. Kali ini, rasa senang, kesal dan takut pun bersatu.
“Ya, terus gimana aku nolongnya kalau kamu nggak buka kunci?”
“Kamu kan kuat, Om. Tendang aja ngava, sih?” Sri pun bicara seenak hati. Karena mendobrak pintu terkunci sampai terbuka hanya ada dalam film saja.
‘konyol sekali kamu. Tapi bentar, biar aku cari kunci cadangan dulu kalau gitu!” Safka berteriak kembali karena takut suaranya tidak terdengar Sri, akibat derasnya hujan.
“Eh, mau ke mana?” Sri mulai kembali semakin takut. “Jangan pergi tinggalin aku!”.
“Ya, tapi aku juga nggak mungkin biarin kamu sendiri di kamar, Sri. Bentar aja, ya. Tunggu!”
“Jangan! Pokonya aku bilang jangan ya jangan!” Sri yang sedari tadi menutup mata pun membukanya. Lantas, ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, sebagai upaya memberanikan diri. ia harus melangkahkan kaki. “Aku coba jalan!” sambungnya.