Salivanya tercekat, tapi Sri harus tetap berjalan untuk membuka pintu agar bisa keluar dari kamarnya yang gelap itu. Langkahnya pelan dan berat karena ia tak bisa melihat apa pun kecuali hanya kalau ada kelebat kilat. Sedang tangannya meraba-raba sekitar untuk mencari pegangan.
“Sri?” Safka pun memastikan apakah Sri masih sadarkan diri atau justru pingsan karena ketakutan. Pasalnya ia tak mendengar suara Sri lagi.
“Ya!” teriak Sri dari dalam. Ia masih berusaha melangkahkan kakinya yang terasa berat.
“Aman, kan?” Safka menempelkan telinganya di pintu, sekalian bersandar karena sebenarnya ia sudah sangat mengantuk.
“Aman!” teriak Sri lagi. Langkahnya sudah mencapai meja rias di mana ia akan segera tiba di depan pintu.
Namun, adanya kelebat kilat dan sambaran guntur seketika membuat ia berteriak ketakutan. Tubuhnya pun ambruk, Sri terduduk sembari memeluk lutut ia juga langsung menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut.
“Sri!” Safka memanggil lagi. Ia yang semula menempelkan telinga, sekarang menempelkan badannya juga di sana. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lagi, sehingga rasa kantuknya seketika menyingkir saking cemasnya.
“Aku nggak apa-apa. Tapi, kakiku lemas sekarang. Aku nggak bisa bangun,” jawab Sri seraya menangis tersedu-sedu. Ia benar-benar takut akan kegelapan.
“Kan, aku juga dah bilang. Biar aku cari kunci cadangan dulu aja. Ya?”
“Jangan!” balas Sri yang seketika mengangkat wajah basahnya itu. Ia melihat ke arah pintu, tepat ketika kemilau kilat memberi pencahayaan lagi. “Aku coba jalan,” sambungnya seraya menghela napas panjang. Dan ia mengembuskannya cepat.
“Tapi kan kakimu lemes. Jangan maksain kalau nggak bisa. Aku Cuma mau ambil kunci cadangannya di bawah, kok.”
“Jangan, Om. Aku takut,” pinta Sri lirih. Air matanya berderai lagi, dan ia pun menyapunya lagi sebelum kemudian merangkak menuju pintu.
Di kampung, ia tak pernah merasa takut sampai sebegitunya. Tapi entah kenapa, sekarang pikirannya ke mana-mana sampai membuat seluruh tubuhnya itu bergetar.
“Kamu nangis? Ya, ampun.” Safka tak tega sehingga ia pun enggan untuk meninggalkan Sri di dalam.
“Nggak, Om. Aku Cuma lagi nyanyi!” balasnya sambil berdecih. Sungguh ia merasa kalau suaminya itu adalah seseorang yang amat sangat menjengkelkan. “Orang lagi ketakutan gini sampe nangis, malah ditanya.”
“Aih! Ditanya bener-bener juga,” umpat Safka. Namun, bibirnya seketika menyungging lebar, merasa lucu di tengah ketakutan Sri.
“Ya, lagian orang lagi takut gini pake ditanya nangis apa nggak?” Sri yang masih merangkak itu pun menangis lagi. Bahkan, tangisnya makin histeris. “Tolong kirimkan malaikat yang baik hati, ya Allah. Om yang satu ini maha reseknya nggak ketulungan,” sambung Sri.
“Dih!” Safka tertawa lagi. “Kok malah lucu, sih. Aku tinggalin aja kalau gitu, ya.” Safka pun membercandai istrinya itu.
“Tuh, kan ... dia jahat banget Ya Allah!” teriak Sri lagi. Ia yang merangkak pelan pun sampai dii depan pintu. Dihelanya napas panjang sebelum ia berdiri.
Klik! Kunci pintu kamar pun Sri buka dengan tangan gemetar. Ia lantas menarik pelatuk sehingga pintunya terbuka pelan.
Safka yang juga mendengar suara pintu terbuka pun langsung melihat Sri di hadapannya. Cahaya dari ponsel yang ia arahkan ke arah Sri membuat wajah istrinya terlihat jelas. Air bekas menangis masih membasahi wajah Sri.
“Ya, ampun ... wajahmu kusut banget, Sri,’ katanya, sembari memasang wajah peduli juga kasihan.
Namun, belum sempat Sri berucap, tubuhnya telah terlanjur limbung sehingga ia pun hampir saja tersungkur kalau saja Safka tak cekatan meraih dan memeganginya.
“Aku takut,” ucap Sri pada akhirnya, dengan suara lemah dan parau. Ia menelan ludahnya dengan susah payah diiringi helaan napas lega.
‘Sudah, sudah nggak apa-apa, Sri. Sekarang, sebaiknya kamu tidur, istirahat, ya?” bujuk Safka seraya mengeratkan pelukannya, karena tubuh Sri semakin lemah tak bertenaga.
Sri menggeleng. “Aku benar-benar takut gelap, Om. Aku nggak bakal bisa tidur kalau nggak ada cahaya,” ucapnya.
“Aku pasang lampu di ponsel. Oh, iya... ponselmu mana?” Safka pun heran. Seharusnya, Sri menyalakan lampu di ponselnya saja.
“Aku nggak tau. Aku nggak sempat buat nyari ponsel tadi,” jawabnya.
“Ok nggak apa-apa. Biar nanti aku cari dulu, terus aku nyalain senternya biar terang, ya. Kalau perlu, nanti aku pasang seratus lilin di sini,” ucapnya, seraya berusaha menenangkan perasaan istrinya yang ketakutan itu.
Sri mengangguk lemah. Ia benar-benar kehabisan tenaga akibat rasa takut juga perjuangannya untuk mencapai pintu.
Karena Sri tak kunjung menunjukkan tenaganya, Safka pun menggigit ponsel dan seketika membopong Sri. Istrinya itu sedikit kaget. Namun, ia yang tak mampu untuk sekadar berdiri tegak saja itu pun tak bisa berbuat apa-apa selain menerima.
“Maaf,” ucap Sri parau. Ia sungguh malu karena berulang kali meneriaki Safka sedari mereka tiba di rumah.
“Untuk?” Safka pun sedikit menyunggingkan senyuman saat bertanya, sembari merebahkan tubuh istrinya itu di ranjang.
“Untuk semuanya.” Sri berucap parau kembali sembari mengamati wajah suaminya di tengah-tengah kegelapan itu. Getar yang beberapa kali ia rasakan kembali mendebarkan jantungnya. Rasa itu, bukan takut seperti apa yang tadi ia rasakan.
Jika gelap berhasil membuat sekujur tubuhnya terpaku dalam getar juga debar, yang dirasanya kali ini ialah getar yang menggelitik. Meski, ia segera menepis segala rasa yang ada. Ia pikir, itu hanya karena mereka berdua saja.
“Ok, sama-sama,” balasnya sembari duduk di tepi ranjang. ia bahkan memberanikan diri menyentuh dan mengelus kepala Sri. “Tapi sekarang kamu tunggu aku sebentar, ya?”
“Mau ke mana?” Sri pun sigap bertanya. Ia masih belum merasa tenang kalau kamarnya tak juga terang. Meski, ada senter dari ponsel Safka.
“Ambil lilin, Sri. Tadi kan kamu bilang takut gelap.” Safka pun berdiri.
Namun, Sri menahannya seketika dengan menarik sebelah tangan Safka. Ia tak mau ditinggalkan meski barang sekejap. ‘Nggak apa-apa, daripada kamu pergi dan aku sendiri. Aku nggak mau sendirian,” ucapnya.
“Aih,” batin Safka, kesenangan. Jelas ia pun bersedia jika itu yang diinginkan Sri. Seenggaknya, akan ada kesan baik tentang dirinya di dalam hati istrinya itu.
Sri pun menarik tangan suaminya itu sampai kembali duduk. Ia bahkan tak melepaskan genggamannya, saking takut kalau Safka sampai nekat pergi untuk mencari lilin.
“Malu banget sebenarnya,” batin Sri sambil memejamkan matanya erat. Tapi mau gimana lagi? Lebih baik dia di sini sampai lampunya nyala, dari pada aku biarin dia pergi buat nyari lilin,” batinnya lagi.
Hening. Sri mau pun Safka tak berucap lagi karena tak ada yang bisa mereka ucapkan juga. Hanya Sri yang terus berucap dalam hati karena rasa malunya. Sedangkan Safka, ia hanya menikmati momen langka itu saja.
“Kamu lapar nggak?” tanya Safka pada akhirnya. Sebab, ia tak betah berada dalam kesunyian. Padahal, mereka sedang berdua.
“Lapar, sih. Tapi, jangan bilang kamu mau ninggalin aku buat ngambil makan,” seloroh Sri langsung menuding. Meski memang, tudingannya itu benar.
“Ya, masa mau nahan lapar?” Safka pun menggaruk lehernya yang tiba-tiba gatal, akibat panas yang ia rasa sampai berkeringat. Padahal, hujan dan angin masih berlangsung. Hawa diingin pun sudah mengepung setiap penjuru ruangan.
“Ya, tapi aku juga nggak mau ditinggal! Gimana dong?” Seperti biasa, Sri tak mau kalah. Ia bahkan langsung mengeratkan genggamannya agar Safka tak tiba-tiba pergi.
“Kakimu udah bisa gerak?” Safka pun memikirkan satu hal, agar mereka tak perlu menahan lapar, dan ia tak perlu meninggalkan Sri sendirian.
“Eh?” Sri mengerjap, tak paham. “Maksudnya?”
“kalau dah bisa gerak, kita pergi ambil makanan berdua aja gimana? Sumpah, aku lapar banget, Sri,” katanya memberikan sebuah usul.
“Bentar,” balas Sri seraya melepas genggam tangannya. Lantas ia menggerak-gerakkan kaki sembari beranjak duduk. “Bisa!” ucapnya seketika.
“Ok. kalau gitu, coba kamu berdiri,” titahnya sembari beranjak bangun dari tempatnya duduk baruan, agar Sri dapat berdiri.
Pelan, Sri menurunkan kakinya yang tadi sempat melemas. Lantas, ia beranjak bangun perlahan dengan berpegang tangan pada Safka.
“Kayaknya bisa,” ucap Sri senang. Ia tersenyum lebar, meski tak dapat Safka lihat dengan jelas karena lampu penerangan yang minim dari ponselnya.
“Syukurlah. Berarti kita bisa pergi ke dapur berdua aja,” balas Safka seraya menggandeng tangan Sri. “Maaf, ya, aku pegang tanganmu,” sambungnya seraya mengambil ponsel yang ia sandarkan di meja.
Sri mengangguk seraya menyembunyikan senyumnya dari tatapan Safka. Lantas, ia pun meminta ponsel suminya itu. “Biar aku yang pegang. Kamu kan harus menggandeng aku, Om,” ucapnya.
“Panggil aku Mas!” Safka mengucapkan protes, untuk membercandai Sri.
“Nggak mau. Panggil Om lebih enak dan nyaman tau!” balas Sri sambil tertawa, yang amat sangat diharapkan Safka.
Safka pun tak mengucapkan apa pun lagi. Mendengar suara tawa Sri pun sudah cukup membuatnya senang. Terlebih saat Sri menjelaskan alasannya menyebut ia Om lagi, Safka kian merasa senang.
“Ya sudah terserah!” balas Safka seraya terus menuntun Sri menuju dapur. “Hati-hati,” sambungnya begitu tahu kalau sekarang, ia akan melewati anak tangga.
“Kamu juga, Om.” Sri tertawa lagi, senang karena berhasil membuat Safka menerima panggilan darinya itu. Lantas, dengan dituntun Safka, ia pun mulai menuruni satu per satu tangga.
“Ish, ish, ish! Senang betul kamu ini manggil aku kayak gitu, ya. Aku tinggal nih!” goda Safka kembali. Ia bahkan langsung melepaskan genggaman tangannya.
Sri berjangkit, dan seketika meraih Safka kembali. “Jangan bercanda!” ucapnya, takut. Dan karena tak hati-hati, Sri pun terpeleset sehingga membuat kakinya tergelincir.
Safka yang sedikit ikut tertarik oleh pegangan Sri pun menahan dirinya kuat-kuat sembari balas menarik tangan Sri yang memegang tangannya erat.
“Hampir saja!” ucapnya, seraya menghela napas panjang. Ia lantas memeluk erat tubuh istrinya itu sambil berucap, ”Maafin aku.”
Sri tak menjawab. Ia sibuk menenangkan debar yang tiba-tiba berdebar kencang akibat kecelakaan yang hampir saja membuatnya jatuh, juga karena ia dalam dekapan Safka.
“Gara-gara aku, kamu hampir celaka,” ucap Safka kembali.
Hujan masih mengguyur di luar sana. Semburat kilat dan juga gelegar guntur pun masih saling bersahutan sehingga membuat sedikit terang barang sekejap, sehingga seolah menjadi saksi akan apa yang terjadi di antara Sri dan Safka.
Perlahan, masih sembari memeluk Sri, Safka pun melanjutkan langkah kakinya menuju lantai bawah. Anak tangga tinggal beberapa lagi sehingga ia dan Sri pun sampai dengan cepat di sana.
“Biar nggak repot, kita makan di dapur aja nggak apa-apa, kan?” Safka pun mengajak Sri bicara lagi. Ia bahkan refleks mengusap rambut yang menghalangi wajah cantik Sri, sehingga menjadi jauh lebih rapi.
Sri mengangguk seraya menarik diri dari pelukan Sri. Sebab, ia rasa sudah merasa aman daripada di tangga tadi. “Aku minta maaf juga karena udah ngerepotin kamu,” ucapnya.
“Suami istri mah nggak ada yang namanya merepotkan, Sri. Kan, memang harus aling mengayomi,” timpal Safka dengan tenang. Ia bahkan menyunggingkan senyum manisnya sehingga berhasil membuat Sri memalingkan wajah.
Sri balas dengan mengangguk dan kemudian berjalan lebih dulu ke dapur, dengan ponsel di tangannya sebagai penerang jalan. Bukan ia telah kembali berani, tapi, berada di dekat Safka membuatnya merasa aneh dan tak keruan.
“Mau makan apa kita? Biar aku yang masak, karena dari kemarin kan kamu terus yang masak,” ucap Sri, malu-malu. Namun, ia merasa perlu untuk melakukan hal itu, sebagai rasa berterima kasih.
“Liat aja dulu, di kulkas ada apa,” timpal Safka seraya menyusul Sri. Ia telah berada di samping Sri.
“Ok!” Sri pun membuka kulkas dan menyorotkan senter ponsel ke dalam. “Aih. Di sini nggak ada apa-apa, Om!” Sri pun menunjukkannya pada Safka.
“Ah, ya ampun.” Safka langsung menyengir lebar pada istrinya itu. “E, tapi itu ada telur kan? Kamu makan telur nggak?” tanya Safka, memastikan apa yang tidak Sri makan.
“Kalau lagi ada duit sih makan,” balas Sri sambil tertawa kecil.
“Aih. Udah bisa bercanda ternyata,” balas Safka seraya mengambil tiga telur dari kulkas. Lantas, ia menyentuh kening Sri dengan telur yang ia pegang.
Sri langsung menjerit. Kaget sekaligus takut kalau Safka akan memecahkan telur itu di keningnya. “Ish!” rutuknya sambil mengusap kening. aman. Keningnya kering.
“Takut, ya?” goda Safka seraya menaruh telur yang ia bawa ke dalam sebuah mangkuk yang sebelumnya ia ambil dari rak piring.
“Dikit, sih!” balas Sri seraya menerangi setiap gerakan Safka. “Tapi, kamu mau masak apa emang? Kan, tadi aku bilang aku aja yang masak.” Sri pun mendekat.
“Aih, iya. Ya, sudah kalau gitu terserah kamu aja mau masak apa,” balasnya seraya mundur dari meja kompor. Lantas, ia meminta ponsel yang dipegang Sri sedari tadi.
“Telur dadar? Telur ceplok?” tanya Sri sambil tertawa kecil kembali.
“Aku punya mie. Gimana kalau kita masak mie pakai telur aja? Tapi, masak dalam satu panci dan kita makan dari pancinya langsung?” usul Safka.
“Kek dalam Drakor gitu?” tanya Sri, yang pernah menonton drama tersebut bersama anak majikannya sewaktu di kampung.
“Nah, itu tau. Tapi, makan dalam pancinya langsung itu memang ada sensasinya sendiri, loh.”
‘Udah pernah nyoba?” Sri menatap suaminya itu sembari menyandarkan diiri di meja kompor. Acara masak pun beralih menjadi acara ngobrol barang sejenak.
“Udah dong. Jadi, mari kita masak mie!” timpalnya seraya mengambil tiga bungkus mie dari lemari dinding. “Mau kuah apa goreng?”
“Kuah dong!” balas Sri, antusias sekali.