Mati lampu di tengah curah hujan kian melebat memberi keuntungan tersendiri untuk Safka. Ia yang sedari siang berencana untuk mendekati Sri pun berkesempatan untuk melakukannya tanpa harus berpikir terlebih dulu.
Begitu juga dengan ketakutan Sri terhadap gelap, hal itu membuat Safka berada dekat dengan sang istri. Sebab, Sri sendiri yang menolak Safka pergi. Istrinya itu berulang kali meminta Safka untuk tetap berada di dekatnya.
Sekarang, setelah keduanya berjalan dalam gelap menuju dapur, Sri dan Safka pun sibuk memasak mie kuah telur ceplok. Karena terdapat beberapa sayur dalam kulkas, mereka pun menambahkannya sedikit.
Meski sesekali adanya semburat kilat membuat Sri terperanjat sampai berjongkok cepat, itu tak membuat mereka urung meneruskan apa yang sedang dimasak. Sedangkan Safka yang melihatnya hanya tersenyum sembari mengaduk mie dalam panci.
“Tadi katanya nggak takut sama kilat? Bohong, nih!” usil Safka sembari mematikan kompor. Ia lantas mengangkat panci bekas memasak mienya itu ke meja. Sebelum memakannya, ia hendak memasukkan bumbu mienya.
“Emang nggak takut. Buktinya, dari sebelum mati lampu aku tuh berdiri aja sendiri di balkon. Kilat sama guntur sahut-sahutan aku anteng,” jawabnya seraya kembali berdiri dari duduk berjongkoknya. Ia pun menghampiri meja dan segera duduk di sana.
Namun, baru saja Sri berucap sembari duduk, semburat kilat langsung disusul guntur. Ia pun langsung menjerit seraya menangkup wajah, sehingga terlihat jelas ketakutannya itu di mata Safka.
“Dasar kang bual!” umpat Safka, tanpa suara. Ia sibuk menuang satu per satu bumbu mie, yang dari dalam pancinya mengepul asap panas. Matanya seketika terpejam diiringi dengan helaan napas panjang. Mie yang baru saja ia hidu terasa begitu harum.
Sri pun menurunkan kedua tangannya dari wajah, dengan perasaan malu. Sebab, apa yang ia katakan tak sesuai dengan perbuatan. “Mampus!” ucapnya dalam hati seraya berdeham dan mengalihkan pandangan. Ia buka tak tergoda dengan tampilan mie dalam panci. Ia hanya tak mau melihat Safka yang hobi mengoloknya.
“Kenapa malah bengong? Ayo, makan!” ucap Safka pada akhirnya. Ia yang baru saja selesai membumbui mienya pun duduk berhadapan dengan Sri.
“Eh, udah matang?” Sri pura-pura tak mengetahui apa yang ada di hadapannya. Padahal, sudah sejak tadi ia mencium aroma lezat.
“Udah dari tadi kali!” balas Safka seraya meraih sumpit dari wadah sendok yang ada di meja makan. “Nih! Sepasang buat kamu,” sambungnya.
Sri tahu kalau apa yang baru saja diberikan Safka adalah sebuah sumpit. Namun, seumur-umur, ia tak pernah menggunakannya sebagai alat makan. “Makan pake ini?” tanyanya tanpa mengalihkan tatapan dari sumpit yang sedang ia pegang.
“Iya!” timpal Safka seraya membenahi ponsel. Ia menyandarkan ponselnya itu pada wadah sendok agar senternya dapat membuat terang dengan sempurna. “Kenapa?” tanyanya, seraya melihat Sri yang sedang terbengong memandangi sumpit. Seketika ia pun sadar kalau istrinya itu tak bisa memakai sumpit. “Aku lupa. Maaf, ya.” Safka pun mengambil sumpit tersebut dari tangan Sri. Lantas, segera menggantinya dengan garpu.
“Nah, pake ini baru bisa.” Sri pun tertawa dan seketika berucap banyak terima kasih pada Safka. “Lagian aku uh heran, kok bisa ya makan pake sumpit?”
“Bisa dong! Mau aku ajarin nggak?” Safka pun mengaduk mie kembali dengan sumpit. “Nanti tapi,” sambungnya saat itu juga.
“Baik lah.” Sri pun tersenyum senang. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia merasa aman dan nyaman saat berada di dekat Safka. Padahal, sebelumnya, ia selali merasa terancam.
Semburat kilat kembali memberi cahaya barang sekejap. Gemuruh guntur pun mengiringinya seperti pelengkap sebuah pengantar. Sri tak terkejut atau pun takut saking asyiknya menikmati mie yang berulang kali ia seruput. Terlebih Safka yang justru lebih asyik menonton cara Sri makan. Istrinya itu terlihat begitu lahap.
“Kamu nggak makan, OM? Kok malah bengong gitu? Mienya bisa-bisa aku habisin nanti,” ucap Sri sambil mengunyah. Mulutnya penuh, tapi ia paksakan untuk bicara karena tak sengaja melihat Safka sedang melamun saja.
“Habisin lah. Liat kamu makan aja aku kok berasa kenyang,” jawabnya sambil menyimpan sumpit yang sebelumnya ia pegang. Ia pun menenggak minumannya.
“Lah, kok gitu? Aku bercanda aja kali. Masa mie sebanyak ini aku habisin?” Sri masih mengunyah, dan tangannya sudah sibuk menggulung mie dalam garpu. Ia siap melahap mie nya lagi.
Safka tak menimpali istrinya itu. Ia hanya akan melihat apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Dan, mie yang dikata banyak oleh Sri pun habis di tangannya sendiri. “Nah, kan habis? Siapa bilang nggak bakal habis?” tanya Safka sambil tertawa. Ia sudah menahan tawanya sedari tadi.
“Ish. Emang sengaja ya kamu!” Sri pun meletakkan garpunya dalam panci. Malu, karena ternyata ia mampu menghabiskan mie sebanyak yang ia bilang. Diusapnya bibir yang sedikit basah juga berminyak, ia tersipu sehingga tak berani menatap Safka meski pun dalam remang.
“Mana ada? Kan, tadi kamu sendiri yang bilang mau habisin mienya.” Safka balas dengan tersenyum agar Sri tak begitu merasa malu.
“Ini kenapa lampunya belum nyala juga, sih?” Sri mendongak, melihat ke sekeliling ruangan di mana ia tak dapat melihat apa pun selain bayangannya sendiri. “Aku ngantuk,” sambungnya.
“Habis makan, tidur? Nggak boleh!” sergah Safka seraya berdiri dan mengambil panci. Ia meletakkannya kembali dalam wastafel dan mencucinya segera. “Ngapain dulu kek?” sambungnya.
“Ngapain?” Sri pun berdeham. Pikirannya mulai kembali memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Jangan ngaco! Otaknya dikondisikan, ya,” ledek Safka yang tahu, ke mana arah isi pikiran Sri. Ia lantas berbalik dan memelak pinggang, tertawa ke arah Sri.
“Dih!” Sri berdiri dan hendak pergi. Namun, belum sempat kakinya melangkah jauh, ia sadar kalau seluruh ruangan sedang dikuasai kegelapan. “Ya, ampun ... aku baru ingat kalau lampunya belum menyala.” Ia membatin. Tubuhnya seketika terpaku, sehingga bingung dan tak bisa menggerakkannya. Maju kena, mundur pun kena.
Safka yang melihatnya pun hanya tersenyum tanpa bersuara. Salah bertingkah saja ia tahu kalau Sri amat sangat merasa malu. Lebih lagi kalau ia menertawakan Sri. Istrinya itu sudah pasti berwajah semerah tomat.
Setelah puas memandang Sri yang sama sekali tak bergerak, Safka pun melangkah mendekati Sri sembari menahan tawa. Ia hanya ingin menunjukkan sisi pedulinya. “Aku antar, ya? Bentar lagi lampunya pasti nyala kok,” ucap Safka seraya menggandeng tangan Sri.
Sri pun mengangguk pelan seraya mengikuti langkah kaki suaminya itu dengan perasaan teramat malu. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. “Makasih, ya,” ucapnya, hanya itu.