Berpasrah Diri

1035 Kata
Ribuan bintang bersinar meski tak seterang bulan atau pun matahari. Namun, kehadirannya cukup menghibur hati yang selama berhari-hari dilanda rindu juga kelabu. Bima memutar-mutar ponsel bututnya, menunggu pesan balasan yang ia kirim sedari Isya. Namun, Sri tak kunjung menunjukkan diri, meski hanya sekadar online. Terakhir kali terlihat yang tertera di sana pun masih sama: pukul tujuh lebih dua puluh menit. “Udah, sih galaunya. Lagian lu ngapain ngarepin cewek yang udah kawin, Bro!?” Saepul, temannya itu berdecak kesal karena sedari tadi melihat Bima hanya duduk terdiam menatap ponsel. Sedang dirinya asyik bermain gaple dengan teman-teman yang lain di pos ronda. “Ini bukan hanya tentang diia yang udah menikah, Bro. Karena meski pun begitu, perasaanku dengannya itu masih sama. Dia cinta sama aku, begitu pun dia.” “Ya, tapi tetep aja. Emangnya, kalau kalian saling mencintai, terus bakal bersatu gitu? Hih! Kemungkinannya itu, kalau dari penerawanganku ya Cuma lima persen dari seratus persen.” “Jodoh mana ada yang tau, Pul? Siapa yang tau kalau aku sama Sri bakal jadi suami istri?” ucapnya, dengan begitu yakin. “Ya, ampun halu banget. Mimpimu jan ketinggian, Bim. Kalau jatuh nggak kebayang deh sakitnya kayak apa?” ucap Saepul lagi. Ia memang selalu berpikir realistis “Kita lihat saja nanti,” timpal Bima sambil berdiri. “Aku balik duluan, ya? Lupa kalau dari sore tuh belum makan,” sambungnya. “Hih! Kebanyakan bucin sih kamu. Sampek lupa makan kan akhirnya? Tapi nggak apa-apa lah asal kamu jangan sampai lupa diri, lupa Allah, dan lupa akan kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan!” omel Saepul, mengingatkan. Ia tak mau kalau Bima sampai berbuat gila hanya untuk memperjuangkan wanita yang telah menjadi istri orang. “Iya!” balas Bima seraya melengos pergi. Yang dikatakan Saepul memang benar. Namun, ia sama sekali tak merasakan hal semacam itu sampai harus lupa, kepada siapa ia berpasrah diri. *** “Hati-hati,” ucap Safka saat ia mulai menuntun tangan Sri. Ada getar yang lagi-lagi terasa luar biasa beda dari biasa di hatii Sri. Ia membalas ucapan suaminya itu dengan senyuman. “Kamu juga, Om!” ucapnya. “Mas, dong. Kenapa manggil aku Om terus coba?” Safka pun kembali menggoda Sri. Padahal, ia tahu kalau tadi hampir terjatuh karena bercanda saat berjalan di tangga. “Mulai, deh. Awas aja kalau kita sampai jatuh beneran gara-gara kamu bercanda mulu!” ancam Sri yang masih merasa sedikit takut. “aku nggak bercanda, Sri. Masa minta istri sendiri buat manggil aku dengan sebutan Mas aja nggak boleh?” Safka menyikut pinggang istrinya itu sambil tertawa kecil. “Ya?” pintanya sekali lagi. “Nggak!” Sri bersikukuh untuk mempertahankan panggilan untuk suaminya itu. “Om itu lebih cocok dan keren tau!” “Ya, tapi kalau didengar orang kan aneh?” Kedua belah sudut bibir Safka pun mengerucut. Kesal betul karena Sri tak mau juga menurut. “Siapa yang bakal denger emang? Di sini kan nggak ada siapa-siapa elan kita? Itu artinya bebas-bebas aja, mau aku panggil kamu dengan sebutan Aki juga.” Sri pun terkekeh sampai harus mengencangkan pegangannya pada pagar tangga. “Aki? Kakek?” tanya Safka, menebak-nebak. “Iya. Mau kamu, aku panggil Aki?” tanya Sri sembari menahan tawa. Perutnya sudah terasa sakit akibat terlalu banyak makan. Ia tak mau kalau tawanya pun membuat ia semakin merasa nyeri. “Dih! Makin ngaco aja, sih?” timpal Safka seraya melihat Sri. Istrinya itu sedang tersenyum-senyum dalam remang. Namun, Safka yang melihatnya justru seperti sebuah keajaiban. Sejak bertemu Sri, baru kali ini ia melihat senyum dan tawa Sri sampai berulang kali. Safka terpaku, terpesona akan senyum yang memang membuatnya jatuh cina sejak awal. Namun, kakinya tetap melangkah dengan hati-hati sampai akhirnya merek sampai di lantai atas. “Ya, maaf!” timpal Sri pada akhirnya. “Tapi, aku pikir, rumah segede ini biasa mati lampu?” tanyanya. “Iya, lah. Dikira listriknya punya sendiri,” balas Safka, masih sambil menatap ajah Sri dalam remang. “Lama kayak gini juga?” tanya Sri lagi, begitu keduanya sudah sampai di ambang pintu. “Jarang sih kalau sampai lama. Tapi, kalau lam gini, biasanya karena ada kerusakan.” Safka mengerjap karena tiba-tiba Sri menoleh melihat ke arahnya “Berarti sama aja dong, ya, kayak di kampung. Hujan lebat bikin mati lampunya lama banget,” balas Sri kembali. Dan, ia tersenyum lagi. Safka mengangguk dan seketika mengakhiri obralan dengan menyuruh Sri untuk tidur di kamar. Ia juga melepaskan gandengannya. Sebab, perasaannya sedang benar-benar tak bisa dikendalikan. Dan, ia tak mau kalau sampai itu merusak rencananya. “Terus aku tidur sendiri gitu?” tanya Sri kembali sembari menggandeng tangan Safka lagi. Ia tak mau jika harus demikian. “Ya, terus ... kamu mau aku temenin tidur? nggak, kan?” Safka pun tertawa kecil, begitu melihat Sri seketika berlonjak dan melepas genggam tangannya. Wanita itu langsung berdiri kikuk di hadapannya. “Ya, nggak juga!” timpal Sri seketika. Ia langsung memeluk tubuhnya sendiri, seolah baru saja melakukan kesalahan di mana bisa saja, Safka langsung melahap dirinya sampai habis. “Ya, makanya itu. Tidar sana,” balas Safka seraya melangkah mundur. Ia ingin tahu, apa yang akan terjadi lagi kalau dirinya berniat pergi. “Eh, tunggu!” cegah Sri. Ia diam kembali, berpikir, apa yang dilakukannya itu benar atau tidak. “Ya?” Safka berhenti. “Untuk malam ini aja,” katanya. “Apa?” Safka terus memancing agar Sri mau bicara dengan jelas. Sri yang tak bisa berkata-kata itu pun berdecak kesal. Ia takut akan Safka dan juga kegelapan. Tapi, ia lebih takut jika harus tinggal sendiri dalam keadaan gelap gulita. “Apa?” tanya Safka kembali. “Temani aku!” timpal Sri pada akhirnya. Ia lantas beranjak meninggalkan Safka lebih dulu dengan ponsel suaminya dalam genggaman sebagai alat penerangan. Safka tersenyum tipis dan kemudian mengikuti Sri. "Kamu yakin? Aku nggak mau loh, kalau nanti malah kamu pukuli kayak maling ketangkap basah!" Safka pun kembali mengajak Sri bicara. Ia baru saja tiba dan duduk di tepi ranjang. "Ya, asal jangan aneh-aneh aja. Jangankan aku pukul, kamu pasti aku bunuh!" ancam Sri, sesadis yang ia bisa. Berharap, Safka akan merasa takut sehingga tidak berani untuk berbuat yang tidak-tidak. "Sadis banget, sih!" Safka pun merebahkan tubuhnya itu di sana, meski arahnya tak beraturan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN