Sri mengomel sambil berjalan keluar kamar. Kesal karena Safka terus saja menggodanya sejak semalam. Membuat ia malu dan semakin malu lagi karena ia yang semalam takut diapa-apain Safka, malah dirinya sendiri yang memeluk suaminya itu.
Dalam keadaan rambut yang masih berantakan, wajah kusut dan juga bau iler, Sri pergi ke dapur untuk mengambil minum. Kalau ada, ia bahkan ingin memakan sesuatu. Sri sudah kembali merasa lapar, meski semalam makan sampai kekenyangan.
Namun, karena di dalam kulkas tak ada apa-apa selain buah-buahan, Sri pun mengambil apel. Dan ia yang lupa belum mencuci muka, juga belum buang air kecil pun lekas ke kamar mandi setelah menghabiskan sarapannya itu.
“Sumpah, ya. Aku kok ngerasa sedang dalam sebuah cerita Ftv,” batin Sri begitu selesai buang air kecil . ia lantas beranjak menuju wastafel dan segera mencuci wajahnya yang sedikit berminyak. “Menikah karena dibayar. Tinggal dengan suami kaya raya. Menolak bersama. Pisah kamar dan malah berantem terus.”
Kedua tangannya itu bertumpu pada kedua sisi wastafel. Sedang tatap matanya memandang pantulan diri dalam cermin, di mana wajahnya ia biarkan basah. Sri menelengkan kepala, berpikir kalau jalan hidupnya memang sudah serupa film.
“Cuma, aku nggak yakin kalau ceritaku ini akan berakhir bahagia. Aku kan nggak cinta sama si Om. Dia juga orangnya ngeselin pake banget. Baik Cuma sekali-kali doang.”
Diambilnya sikat gigi yang Sri tak tahu, apakah itu milik Ranti atau Shanti. Ia tak peduli sekali pun dikata jorok, dari pada harus kembali naik ke atas dan menunggu Safka selesai dari kamar mandi. Sri menggosok giginya sambil bernyanyi.
“Terus, aku harus gimana sekarang?” tanyanya pada diri sendiri sembari menghentikan apa yang ia gosok barang sebentar.
“Auk lah!” ucapnya lagi seraya lanjut menggosok gigi.
Namun, baru saja ia hendak memuntahkan isi dalam mulutnya, suara ketukan pintu membuat ia terbatuk. Beruntung, apa yang akan ia muntahkan tak tertelan.
“Astaga!” seru Sri sembari mendelik ke arah pintu. “Ada apa, sih? Bikin kaget tau nggak!” teriaknya sambil memuntahkan isi dalam mulutnya. Lantas, ia segera berkumur.
“Lagi ngapain lama banget?” Safka yang telah rapi pun balas meneriaki Sri dari luar. Ia sengaja mengganggu istrinya itu agar segera keluar.
“Ya, terserah aku dong. Mau lama kek, mau sebentar kek. Gada urusan sama kamu, Om.” Sri mendelik lagi ke arah pintu. Matanya melotot tajam sembari menggigit bibir, gemas pada suaminya sendiri.
“Ada lah. Buruan!” titah Safka seraya menggedor pintu kamar mandinya lagi.
“Astaga!” seru Sri seraya beranjak meninggalkan wastafel. Sedang sikat gigi masih di tangannya. Ia membuka pintu dan menghadap Saka. “Apaan?” tanyanya seketika seraya memelak pinggang.
“Aih!” Safka pun tertawa, karena masih ada sedikit pasta gigi di bibir Sri. “Lagi gosok gigi?” tanyanya.
“Iya! Emang kenapa?” tanya Sri seraya menyapu bibirnya. Ia sadar kalau Safa baru saja menertawakan hal itu.
“Kagak! Tapi, buruan siap-siap sana!” balasnya seraya melengos pergi, meninggalkan Sri yang baru saja bersikap sok galak di hadapannya. Padahal, Safka tahu kalau istrinya itu adalah seorang penakut.
“Siap-siapa? Ngapain? Males banget, dih!” Sri pun tak berniat untuk menuruti suaminya itu.
Namun, Safka yang tak bisa menahan kesal akan kengeyelan Sri pun kembali berbalik. Lantas ia menarik tangan Sri dan membawanya ke lantai atas. Tak peduli meski Sri menolak bahkan sampai berontak, Safka berhasil membuat istrinya itu masuk ke kamar.
“Sakit tau!” ucap Sri sambil meringis. Ia memegangi pergelangan tangan Sri yang baru saja ditarik Safka.
“Masih mau ngeyel, apa mau ganti baju sekarang? Atau, mau aku tungguin di sini sementara kamu ganti baju?” Safka pun bertolak pinggang seraya memasang wajah garang.
“Dih!” Sri langsung memeluk d**a. “Dasar otak m***m. Keluar nggak?!” sambungnya seraya menunjuk pintu ke luar.
“Nggak, sebelum kamu mengiyakan untuk ganti baju segera!” balas Safka. Ia bersikukuh untuk menang alam pertikaiannya dengan Sri.
“Ok!” Sri pun menjawab tanpa berpikir. Meski, ada sedikit takut kalau Safka akan membuangnya ke laut. “Sekarang keluar!” titahnya kemudian.
Safka pun menghela napas lega dan segera meninggalkan kamar sambil tersenyum tipis. “Dari tadi kek,” gumamnya.
“Gosah banyak protes!” omel Si seraya membuntuti Safka dan segera menutup dan mengunci pintu.
***
Selesai memakai pakaian sederhananya—celana jeans panjang dan baju kaos putih polos. Ia juga memakai jaket berwarna merah muda—Sri pun bercermin terlebih dahulu. Wajahnya ia poles dengan sedikit bedak, dan bibirnya pun ia beri pewarna setipis mungkin agar tak terlihat pucat. Tak ada yang namanya membentuk alis, mewarnai pipi juga kelopak mata. Ia tak biasa bahkan tak mempunyai alat-alatnya.
Dilangkahkannya kedua kaki menuju ke luar kamar dengan perasaan tak keruan. Antara takut jua cemas berkecamuk dalam dirinya. Meski, ia tahu kalau Safka tak mungkin melakukan hal buruk, tetap saja.
Klik!
Pintu kamarnya ia buka. Sri pun langsung mengedarkan pandangan, melihat ke seisi penjuru ruangan untuk mencari Safka. Dan, suaminya itu sedang duduk menunggu sambil menonton televisi.
Safka menoleh setelah mendengar pintu kamar terbuka. Ia juga langsung berdiri setelah melihat Sri keluar dari kamar. Terpesona, meski tak ada riasan tebal yang melukis wajah istrinya itu. Safka justru merasa sangat suka.
“Dah selesai?” Safka pun mematikan televisinya. Ia lantas bergegas menghampiri Sri.
Sri mengangguk kikuk. “Mau ke mana sih emang?” tanyanya.
“Ikut aja. Gosah banyak tanya. Nanti juga tau sendiri,” balas Safka seraya meraih jemari Sri. Lantas, ia menuntun istrinya itu untuk turun ke lantai bawah.
“Ish!” Sri berdecih. Namun, ia tak menolak saat Safka menuntunnya. Ia justru merasa ada sesuatu yang menjalar ke dalam hati. Nyaman rasanya sehingga ia terfokus pada tangan yang digandeng Safka, sepanjang mereka jalan berdua.
“Pertama-tama, kita harus sarapan dulu. Kamu lapar kan pasti?”
Safka pun berucap begitu ia sudah membawa Sri sampai ke luar rumah. Di mana itu adalah kali pertama Sri menginjakkan kakinya lagi, di luar rumah Safka sejak pertama kali datang.
Sri mengangguk tanpa menimpali Safka. Membuat Safka tersenyum memandanginya sebentar. “Masuk duluan, gih. Aku mau kunci pintu dulu,” ucapnya seraya melepas genggam tangannya pada Sri. “aku juga harus membuka gerbang dulu.”
“Nggak punya satpam, ya? Ish, katanya orang kaya?” ledek Sri seraya melangkah menuju mobil. Tawanya bahkan terdengar renyah oleh Safka.
“Dasar istri durhaka. Hobi bener ngeledekin suami sendiri,” balas Safka sambil tertawa.
“Sama lah. Kamu juga suami durhaka!” balas Sri sembari masuk ke mobil. Ia tergelak lagi. Rupanya, saling meledek menjadi candu untuk mereka berdua.
***
Pandangan Sri fokus ke depan sedari Safka melajukan mobilnya keluar dari halaman. Ia benar-benar merasa kikuk dan juga tegang. Pasalnya, Safka terus saja mencuri pandang sambil tersenyum.
“Cantik banget, sih kamu?” Safka pun kembali menggoda Sri. Ingin tahu, bagaimana Sri akan bersikap.
“Hilih! Buaya mah gitu, ya. Hobinya gombal.” Sri berdecak sambil mendelik. Meski, hati kecilnya selalu saja terenyuh tiap kali dipuji Safka.
“Mana ada buaya hobi gombal? Hobi berenang mah iya. Aneh nih kamu!” Safka menggeleng. Sedang, bibirnya refleks tersenyum. Apa yang dilakukan Sri, pun yang diucapkan Sri selalu saja berhasil membuat ia merasa lucu.
“Ada lah. Kan, buayanya itu kamu!” balas Sri kembali.
“Dih! Cakep gini dikata buaya? Parah banget sih, kamu?” Tawa Safka pun lepas dari bibirnya. Ia bahkan sampai mencubit pangkal tangan Sri yang membuatnya teramat gemas.
Sri meringis dan segera mengusap tangannya itu. “Sakit, Om!” bentaknya seketika.
Namun, Safka justru mengalihkan apa yang baru saja dikatakan Sri dengan menunjuk sebuah kedai yang menyediakan bubur dan lontong sayur. Tempat di mana ia sering kali sarapan di sana.
“Astaga! Orang lagi kesakitan malah dicuekin,” guma Sri seraya menatap tajam Safka yang sedang memarkirkan mobilnya di depan kedai.
“Ayo, turun!” ajak Safka setelahnya. Ia tersenyum dan balas memandang Sri, bersikap seolah tak berdosa.
“Ish!”