Kagum

1404 Kata
Decak yang keluar dari mulut Sri terdengar jelas oleh Safka. Namun, ia yang kecanduan untuk selalu menggoda Sri itu pun justru dibuat senang oleh cemberut kesal dan manja Sri. Ia tersenyum seraya turun dari mobil. Lantas menunggu Sri di samping pintu mobilnya itu. “Mau sarapan apa kamu?” Safka pun langsung menggandeng tangan Sri begitu istrinya itu keluar dari mobil. Tak peduli meski Sri berdecak lagi dan lagi sambil mendelik heran pada suaminya itu. Safka semakin bersikap semaunya. Padahal, sudah berulang kali Sri memberi peringatan agar Safka tak berlebihan. Tetap saja, dan malah semakin menjadi-jadi. Sri tak menjawab. Ia masih kesal karena Safka telah mencubitnya sampai kesakitan. Tapi, sama sekali tak meminta maaf. Rasa sakitnya justru telah diabaikan. “Suami macam apa begitu? Sok iya banget di depan orang. Padahal mah, hih!” Sri membatin sambil menggerakkan bibir juga hidungnya bersamaan. “Bubur apa lontong sayur? Tapi, dua-duanya enak banget kok.” Safka berucap lagi. Sekarang, ia dan istrinya telah sampai di dalam kedai. “Serah!” balas Sri pada akhirnya. Ia sama sekali tak tertarik untuk bicara manis saat ini, meski di hadapan banyak orang. “Eh, Nak Safka? Mau sarapan apa, Nak?” tanya si pemilik kedai yang tak lagi asing dengan Safka. Karena Safka memang sering kali datang ke kedai untuk sarapan. “Nak? Udah tua bangkotan gini dikata Nak? Oh ya, ampun. Nggak salah, Pak?” batin Sri kembali, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan sampai tertawa. “Kenapa?” Safka langsung menatap Sri, usai menganggukkan kepala sembari menyebutkan pesanannya pada si pemilik kedai. “Kagak! Cuma ngerasa lucu aja barusan,” balas Sri, masih tertawa meski tak serenyah tadi. “Dih! Lucu apa, sih?” Safka yang keheranan pun mengedarkan pandangan, mencari apa yang dikata Sri lucu. Namun, tidak ada atuu pun yang menunjukkan kelucuan. Orang-orang justru sedang asyik menikmati sarapan mereka. “Dah lah lupain. Aku duluan,” ucap Sri seraya melepas diri dari genggaman Safka. Lantas, ia pun melenggang menuju salah satu meja yang masih kosong. “Kebiasaan!” rutuk Safka seraya mengikuti Sri yang baru saja duduk di kursi. Dan, ia pun duduk di kursi sebelah Sri. Ramai. Kedai yang kerap dikunjungi Safka itu pun sedang padat pembeli. Hampir setiap kursi penuh dan hanya beberapa saja yang kosong. Namun, meski ramai oleh suara bising obrolan orang juga suara kendaraan dari luar, tiba-tiba saja Safka merasa waktunya begitu hening. Dilihatnya Sri yang sibuk meremas kedua tangan sembari menatap lurus ke keramaian di luar lewat jendela yang dibiarkan terbuka. Istrinya itu terlihat sedang merasa cemas dan memikirkan sesuatu. “Kenapa?” tanya Safka, yang memang mempunyai sikap yang amat peka. Ia hampir tak pernah abai pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Sri menggeleng. Namun, raut wajahnya semakin menunjukkan ketidaknyamanan, kekhawatiran, atau apalah itu Safka tak tahu. Ia hanya dapat menyimpulkan kalau Sri sedang memikirkan sesuatu. “Jangan memendam apa pun, Sri. Katakan, kalau memang ada yang ingin kamu bicarakan. Insya Allah aku bisa membantu sebisa mungkin.” Safka kembali berucap, membujuk Sri agar mau terbuka kepadanya. “Aku nggak yakin kalau kamu bisa membantu,” balas Sri sembari tersenyum sinis. Sedang tatapannya masih tak beralih. Kalau sudah bicara seperti itu, Safka pun tahu ke mana arah jalan pikiran Sri. Ia yakin, Istrinya itu pasti sedang memikirkan dan merindukan keluarga kecilnya di kampung. “Maafkan aku, kalau memang kamu merasa aku tidak bisa membantu. Tapi, setidaknya makan dulu sarapanmu,” balas Safka, setelah melihat pemilik kedai sedang berjalan ke arah mereka. “Silakan dinikmati selagi panas,” ucap si pemilik kedai yang baru saja meletakkan dua porsi bubur di meja. Sri pun menoleh melihat lelaki paruh baya itu sambil tersenyum tipis. Makasih, pak,” katanya, pelan dan parau. Begitu juga dengan Safka yang seketika dibalas anggukan oleh si pedagang, sebelum akhirnya ia kembali sibuk melayani pembeli lain. Dan, Sri yang memang sudah merasa lapar pun langsung mengambil bubur bagiannya. Dan, ia mulai melahapnya tanpa memedulikan Safka yang duduk memerhatikannya. Sri tak khawatir, karena suaminya itu sudah tahu kebiasaannya saat makan. “Pelan-pelan,” ucap Safka yang takut kalau Sri akan tersedak karena terlalu buru-buru. “Biar cepat habis, dan kita segera pergi. Aku juga tak sabar untuk segera pulang!” jawab Sri dengan santainya. “ish! Nyampe ke tempat tujuan aja belum. Sabar kenapa?” Safka pun langsung melahap sarapannya dengan hati-hati namun, karena Sri ingin cepat-cepat pergi, ia pun makan dengan gerakan cepat. “Bilang ke orang buat hati-hati. Sendirinya?” singgung Sri seraya mengambil air minum yang disediakan untuknya juga. “Nggak sadar, aku ngelakuin itu buat apa? Kan, kamu sendiri yang bilang, biar cepat selesai dan seger pergi. Jadi, jangan protes lagi!” timpal Safka yang kemudian melebihi kecepatan Sri saat makan, sehingga buburnya itu habis lebih dulu. “Aih?” batin Sri tak percaya. Namun, ia senang saja melihat Safka sampai sebegitunya untuk menuruti apa yang ia mau. Padahal, ia hanya asa bicara saja tadi. *** Sri terperangah begitu mobil yang dikendarai Safka memasuki area gedung. Ini adalah kali pertamanya melihat mall secara nyata, setelah sebelumnya sering melihat dalam acara-acara di televisi. Ia bahkan sampai memerhatikannya dengan saksama, betapa luas dan tinggi bangunan yang ia tuju sekarang itu. Kedua belah sudut bibirnya membulat barang sesaat, sebelum akhirnya ia tersenyum lebar. Ada kepuasan dan kesenangan tersendiri dalam hatinya. Meski, ia masih saja merasa menyesalkan pernikahannya dengan Safka. Sri pun berdecak sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Saat merasa senang pun, ia tak bisa lepas dari ingatan, betapa ia tak mau menjadi istri lelaki di sampingnya itu. Wajah semeringah itu pun kembali masam. Dan, Sri pun melipat kedua tangan di d**a. “Lah, kok cemberut? Nggak suka aku bawa ke sini?” Safka yang baru saja memasuki area parkir pun bertanya. Sebab heran, melihat wajah Sri yang tampak kesal. “Aku senang, m!” balas sri sembari membuang napas berat. Ia sungguh tidak mengerti dengan isi hatinya sekarang ini. “Terus kenapa manyun gitu?” tanya Safka kembali seraya mematikan mesin mobilnya. Ia telah sampai di parkiran. Dan, seketika berbalik ke arah Sri sambil meraih jemari istrinya itu. “Aku suka datang ke sini. Senang banget malah. Tapi, tetep aja, menikah dengan kamu itu membuat aku BT!” timpal Sri seraya menoleh, melihat Safka dengan ekspresi wajah benar-benar BT. “Aih. Kamu ini,” ujar Safka yang seketika tersenyum miris. Ternyata, ia belum juga mencuri hati Sri barang secuil. Sri masih membencinya setelah usaha yang ia lakukan dari semalam. Namun, segera ia pun menghibur diri dengan berkata dalam hati, kalau dirinya baik-baik saja. “Semua butuh proses,” batinnya lagi. “aku serius.” Sri masih menatap Safka. Ia memerhatikan suaminya yang tampak kebingungan itu. “Aku tau. Tapi ya, sudah lah. Sebaiknya sekarang kita turun. Udah siang banget kayaknya.” “Ok!” balas Sri yang seketika menarik tangannya dari genggaman Safka lagi. Lantas, ia pun memuka pintu mobil, d segera kelar dari sana. Suasana di parkiran begitu sepi dan pencahayaannya pun tidak begitu terang. Ada begitu banyak kendaraan di sana. Sri melihatnya, hampir satu per satu sampai tidak selesai karena terlalu banyak. Ia tersenyum lagi, tak mengira akan menginjakkan kaki di sana. “Eh, tapi kita mau ngapain sih ke sini?” Akhirnya, setelah beberapa jam bersama dalam perjalanan, Sri pun menanyakan tujuan mereka datang itu untuk apa. “Belanja lah. Masa main bola?” Safka yang berjalan di samping Sri pun tergelak pelan. “ya, jangan diketawain juga. Aku kan baru pertama kali datang ke tempat macam ini,” rutuk Sri seraya mengerucutkan bibirnya lagi sekilas. “Aih, iya maaf.” Safka pun langsung merangkul istrinya itu barang sekejap. “Baiknya, kita susun dulu jadwal belanjanya.” “Heh?” Sri tak mengerti. “Susun rencana belanja, Sayang. Kita mau beli apa dulu?” tanya Safka seraya menjawil hidung bangir Sri yang bari saja mantapnya. “Dih! Udah berani manggil sayang-sayang dia. Lebay!” singgung Sri, yang merasa geli sendiri. “Dih! Itu tuh namanya romantis. Bukan lebay! Emang aneh banget sih kamu. Dikasari manyun, dibaiki juga manyun. Maunya gimana coba?” omel Safka pada akhirnya. Namun, orang yang diomelinya justru terpaku pada sesuatu yang dilihatnya begitu masuk ke area pembelanjaan. Sri melihat sebuah toko perhiasan yang terbuat dari bahan selain emas. Bahkan tak hanya itu. Sri pun takjub pada toko boneka yang berada tidak jauh dari tempat di mana ia berdiri. “Mau?” tanya Safka kembali. Dan, Sri yang mendengarnya pun tak mengerti lagi. “Heh?” gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN