Jaim!

1510 Kata
Takjub akan apa yang baru pertama kali dilihatnya itu, Sri pun mengedarkan pandangan ke setiap penjuru mall di lantai paling bawah. Kedua matanya berbinar melihat keindahan di sekelilingnya. Bahkan, ia sampai tak dapat berkata-kata sekali pun Safka mengajaknya bicara. Sri justru terbengong, seraya meminta Safka untuk mengulang apa yang dikatakannya barusan. “Nggak. Bukan apa-apa, kok. Cuma, kayaknya kita harus ke sana dulu deh,” timpal Safka seraya menunjuk sebuah toko yang di dalamnya terdapat banyak sekali pakaian anak muda mau pun tua. “Ke toko baju?” Sri pun masih merasa tak keruan. Ia mengangguk saja, sementara pikirannya masih saja sibuk mengagumi apa yang ia lihat sedari tadi. “Huum.” Safka tersenyum lagi dan seketika menggenggam tangan Sri kembali. Ia membawa istrinya itu ke tempat di mana baru saja ia bilang. “Eh, eh tunggu. Aku kayaknya di sini aja lihat-lihat dulu,” ucap Sri seraya menahan langkah kaki Safka. Sebenarnya, ia malu saja jika harus masuk ke toko yang kalau di lihat dari luar saja, ia merasa barang-barangnya sangat bagus dan modern. Sedang, diirinya hanya memakai pakaian dengan warna yang telah pudar. “Loh, kenapa?” Safka pun melihat Sri dan toko baju yang ditujunya bergantian. Tak ada yang aneh. “Nggak apa-apa. Kan, yang mau belanja itu kamu. Jadi ya pergi sendiri aja!” balas Sri, terpaksa bersikap ketus agar Safka mau meninggalkannya. “Nggak takut nyasar?” tanya Safka kembali. Ia lihat, mall yang dikunjunginya itu dikunjungi banyak orang. Mereka, bahkan dikelilingi orang tak dikenal. “Nggak. Aku kan cuman diam di sini. Dan, kamu kelihatan kalau cuman pergi ke toko itu. Kecuali, kalau kamu memang berniat untuk ninggalin aku di sini,” jawab Sri sambil mendelik. “Aih. Ya, nggak lah!” Safka pun tertawa pelan seraya melepaskan tangan Sri. Decak kesal terdengar dari mulutnya. Namun, ia tetap menahan rasa kesalnya itu. “Ya, kalau gitu pergilah. Aku tungguin kamu di sini!” balas Sri sambil memaksa senyum. Ia lantas menepuk pundak suaminya itu dengan keras. “Tapi, jangan lama-lama juga, ya!” sambungnya, serius. “Ya, sudah. Aku ke sana dulu kalau gitu. Kamu diam di sini dan jangan ke mana-mana kalau nggak mau hilang,” katanya seraya melengos pergi meninggalkan Sri di antara banyaknya orang. Sedangkan ia langsung menuju toko. Sambil berjalan Safka tersenyum tipis seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menebak apa yang membuat Sri enggan mengikutinya ke toko. Bahwa, istrinya itu merasa malu. Namun, ia justru senang kalau Sri memang tak mau ikut. Karena dengan begitu ia dapat leluasa saat berbelanja. Sebenarnya Sri takut kalau dirinya beneran hilang. Akan tetapi, pertama-tama ia coba bertahan lebih dulu daripada harus menanggung malu. Kalau dirinya bisa berada di antara keramaian, ia akan tetap menunggu. Namun, jika saja perasaannya mulai tak enak, ia akan menyusul Safka. Mencari tempat duduk, Sri pun akhirnya melihat sebuah kursi di dekat pagar pembatas. Ia melihat ke sekeliling, kursi yang baru saja ia temukan tak jauh dari sana sehingga ia tak melanggar janjinya untuk tidak ke mana-mana. Bahkan, toko yang dituju Safka masih terlihat jelas dari sana. Sri pun bergegas pergi, lalu duduk dan kembali memerhatikan toko yang dituju Safka. Ia tak mau kalau sampai kehilangan jejak suaminya itu. Terlebih, rupanya ia lupa membawa ponsel karena belum terbiasa dengan benda tersebut. “Sumpah ya, ini tempat selain gede juga rame banget. Mana barang dagangannya bagus-bagus. Kan, jadinya nganan,” ucap Sri sambil tertawa pelan. Ia benar-benar kagum dan tak mengira kalau dirinya akan menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Ia pun seketika berandai. “Ini, kalau aku nggak nikah sama si Om, kayaknya nggak bakal juga tau mall. Alhamdulillah lah, ya. Meski tetep aja, harusnya ku tuh nikah sama Bang Bima. Bukan sama Safka,” cerocosnya, mengomel pada diri sendiri. Menyebut nama Bima, Sri pun akhirnya ingat kalau ia belum melihat ponselnya lagi sejak kemarin. Semalam ia tidur dalam keadaan gelap sampai tak sempat untuk mencari ponsel. Paginya, ia pun dikagetkan oleh keberadaan Safka diranjang sehingga maki tak sempat untuk mencari ponsel. Lantas, siangnya ia justru diajak jalan-jalan ke mall. Ia pikir, Bima pasti telah mengirim banyak pesan. Dan, seketika ia pun takut kalau Safka sampai menemukan ponselnya lebih dulu. “Gawat!” ucapnya seketika. Ia lantas mengedarkan pandangan melihat ke arah toko di mana Safka ada di dalamnya. “Jangan, deh. Jangan sampai Safka sudah menemukannya lebih dulu. Berabe kalau dia sampai tahu. Urusan nggak bakal kelar, dan yang ada mungkin makin rumit.” Sri tahu diri kalau dirinya sudah menikah. Itu kenapa dia takut kalau Safka sampai melihat isi pesan Bima yang sangat mencintainya. Terlebih, ia belum tahu betul tentang bagaimana kepribadian Safka. Suaminya itu boleh jadi tak marah, tak kecewa dan tak keberatan dengan sikap Sri yang seakan menolak pernikahan. Tapi kalau sudah menyangkut perselingkuhan, Sri bahkan sering melihat berita semacam itu. Namun, meski begitu, tetap saja Sri merasa benar sendiri. Ia memang tak bisa melepas Bima. Namun, itu memang karena Safka yang telah menikahinya tanpa izin. “Iya, kan? Bener, kan?” tanyanya, seolah sedang bicara dengan orang lain. “Apanya yang betul?” tanya Safka yang baru saja tiba di samping Sri. Sri pun menoleh, mendongak melihat Safka yang telah ada di sampingnya. “Aih, kapan datang? Udah kek hantu aja perasaan,“ ucap Sri diiringi decak dari mulutnya yang seksi itu. Lantas ia berdiri menghadap Safka, pura-pura berani setelah barusan merasa sedikit takut. “Udah belanjanya?” Sri melanjutkan. “Belum lah. Baru belanja baju doang,” balas Safka seraya mengedarkan pandangan. Ia mencari sesuatu yang lain untuk dibeli. “Emang mau beli apa lagi, sih?” Sri pun sedikit nyolot. “Banyak!” Safka pun langsung melengos, karena tahu kalau Sri akan mengekor. Safka benar. Sebab, saat ia melangkah, Sri pun langsung serupa anak anjing yang takut ditinggalkan oleh ibunya. Ia bahkan sengaja berada dekat dengan Safka. “Beli apa lagi apa lagi coba? Emang kamu udah kehabisan barang apa gimana? Perasaan, banyak-banyak aja tuh di rumah,” ucapnya setelah berhasil menyejajarkan langkahnya itu. “Emang masih banyak. Tapi kan aku perlu yang baru!” Safka terus berjalan seraya sesekali melirik Sri. Ia juga melihat sandal yang dipakai Sri sudah lah butut. “Mubazir!” singgung Sri tanpa basa-basi. “Ya, biarain. Nanti kan aku kasih-kasihkan kalau udah nggak kepake,” jawabnya seraya berhenti di depan sebuah toko. “Aih!” Sri pun seketika ikut berhenti. “Mau beli sepatu?” tanyanya setelah melihat toko yang membuat Safka seketika berhenti. “Huum. Kamu, kalau mau pilih aja, ya!” timpal Safka seraya masuk. Kedatangannya pun langsung disambut para pegawai. “Nggak! Sendalku masih layak pake kok,” jawabnya sambil berdeham. Lagi-lagi karena malu, Sri pun menolak apa yang diberikan oleh suaminya itu. “Ok. Kalau gitu kamu duduk di sana, gih. Tunggu aku milih-milih bentar.” Telunjuk Safka seketika mengarah pada sebuah kursi, tempat di mana para pembeli mencoba barangnya di sana. “Dan, aku titip ini, ya?” ucapnya lagi seraya menyerahkan dua bingkisan yang sedari tadi ia pegang pada Sri. “Um, iya!” balas Sri, seketika. Lalu ia pun mengambil apa yang disodorkan Safka, dan segera beranjak duduk di tempat yang Safka tunjuk. Dari sana, ia melihat Safka yang tengah sibuk memilih barang sebentar. Selebihnya, ia hanya melamun saja. “Dasar jaim!” Safka mengumpat saat dirinya mulai menjelajahi satu per satu rak sepatu. Ada begitu banyak sepatu dan sandal yang menurutnya sangat bagus dan akan nyaman. “Apa susahnya coba bilang mau?” sambungnya sambil tertawa pelan. Tak lama setelah berkeliling mengitari rak sepatu, Safka pun telah membeli dua barang. Satu sepatu, dan satu sandal. Baru lah setelah membayarnya di kasir, ia menjemput Sri di kursinya. Wanita yang ia tinggalkan itu sedang sibuk meremas jemari. “Ayo!” Safka pun langsung mengajak Sri untuk berdiri istrinya itu mendongak. “Aih! Lemas kali kamu ini kayaknya. Sakit?” Ia pun mengecek kening Sri. “Tapi nggak panas,” ucapnya lagi. Tak mengerti karena sikap Sri yang mendadak berubah drastis. Sri yang bawel menjadi lebih pendiam. “Masih ada yang mau dibeli?” Sri malah balas bertanya dan segera duduk. “Dan, sini biar aku yang bawa barang belanjaanmu,” ucapnya lagi seraya meraih tentengan Safka. “Masih! Tapi, kalau kamu udah mau pulang ya ayo,” balas Safka. “Eh, nggak!” Sri pun langsung berseru. “belum juga ke atas, kan?” sambungnya seraya menyengir lebar. Sengaja agar tak perlu membuat Safka khawatir. “Ya, ampun, Sri. Jadi, kamu cemberut karena ingin segera naik ke atas?” seloroh Safka, menebak-nebak. Tawanya seketika tergelak pelan dan sebentar. “Ayo lah let’s go, kalau memang mau ke atas. Eh, tapi kan aku belum beli persediaan dapur untuk satu minggu ke depan. Kita harus belanja itu dulu, terus simpan ini semua dii mobil dulu juga. Baru deh ke atas biar anteng.” Ia kembali bicara. “Serah!” Sri pun menggaruk kepalnya yang memang terasa gagal. “Terpenting kan kamu sehat. Kita akan bicarain masalah ini lain waktu. Jom! Mari berangkat.” Ajaknya seraya memasang wajah semeringah, meski adalah sebuah paksaan agar Safka sedikit lebih memberinya perhatian. .....................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN