Lemah Lembut

1189 Kata
Mata Sri berbinar lagi. Ia bahkan tersenyum lebar saat Safka mengajaknya berkeliling melewati satu per satu toko yang sebenarnya, ia amat berandai untuk bisa memilikinya. Pakaian baru, sandal baru, perhiasan, boneka, dan hal lain yang belum pernah ia miliki selama hidup di kampung. Safka yang sedari awal memperhatikan istrinya itu mengerti, sehingga berulang kali meminta Sri untuk menunggu dengan alasan dirinya ingin ke kamar mandi, juga ada yang harus dibeli. Sri menurut saja percaya akan apa yang dikatakan suaminya itu. Ia menunggu sembari memperhatikan sekitar. Serta berandai kalau dirinya sekaya Safka yang dengan mudah membeli apa saja. “Aish! Ini kenapa aku jadi kemaruk gini, ya? Dikasih badan sehat aja kan udah alhamdulillah. Dasar,” omelnya pada diri sendiri saat lagi-lagi sedang menunggu Safka datang. Suaminya itu baru saja izin untuk pergi membeli makanan. “Beli makanan ke mana coba? Lama banget,” ucapnya lagi seraya menumpukan kedua tangan di pagar pembatas. Sri menunduk, melihat ke lantai bawah. Sri bergidik ngeri, takut karena yang dilihatnya begitu tinggi. Ia tak sanggup membayangkan jika seseorang jatuh dari sana. Seketika ia terkejut juga karena tiba-tiba saja Safka datang dan menepuk pundaknya dari belakang. “Astaga, Om!” bentak Sri yang seketika mengusap d**a sampai rata. Ia bahkan langsung memukul pundak Safka juga saking kagetnya. “Kalau aku jatuh gimana? Kalau ku jantungan gimana? Kaget tauk!” omelnya saat itu juga. “Ya, maaf. Tapi kan aku nggak tau kalau kamu lagi melamun.” Safka pun menyengir seraya mengangkat sebelah dari tangannya. “Mau nggak? Tanyanya, membujuk agar Sri segera kembali baik. “Apaan?” Sri pun berdeham. Setelah tadi baru sarapan bubur, perutnya memang sudah merasa lapar kembali. “Roti bakar, sosis bakar, sama fizza.” Safka pun menggoyang-goyangkan tentengan yang ia bawa sambil tersenyum-senyum. “Aiih. Kamu ini apa nggak ribet dari ti belanja terus? Itu, barang bawaan di tangan sebelah lagi aja udah banyak. Sekarang beli makanan banyak banget juga,” cerocos Sri. Heran dan juga sedikit kesal. Dari tadi Safka belanja, tapi tak sekal pun menawari Sri, selain tadi. “Tapi mau, kan?” Saka pun menggerak-gerakkan sebelah alisnya, menggoda Sri yang masih saja tampak marah di matanya. “Mau lah!” jawab Sri seraya melipat kedua tangan di d**a. Ia lantas membuang wajah ke arah lain, karena tak kuat menahan senyum. “Ya, sudah. Kalau gitu jangan kebanyakan komplain. Sekarang mending kita makan ini di ... sana!” ucapnya seraya menunjuk kursi yang ada di samping Sri. ”Eh, tapi jangan, deh!” ulang Safka. “Loh, kenapa?” Sri pun langsung berbalik, melihat Safka dengan memasang tatapan heran. “Kita makan sambil nonton bioskop, mau?” Safka kembali menyunggingkan bibirnya sembari menggerakkan alis. “Emang ada?” Sri pun langsung berubah antusias. Nonton bioskop adalah keinginannya juga sedari dulu. “Ada, dong!” timpal Safka seraya menyikut Sri. “Jom!” ajaknya pada Sri, seraya melenggang pergi. Sebenarnya ia ingin menggandeng Sri. Namun, kedua tangannya penuh dengan tentengan. “Biar aku yang bawa!” ucap Sri setelah menyusul Safka. Ia meraih apa yang ada di tangan kiri suaminya itu. “Eh, kamu bawa ini aja!” timpa Safka seraya menyerahkan apa yang ada di tangan kanan. “Ok!” Sri pun mengangguk dan segera mengintip isi dari tentengan. “Dia beneran beli makanan sebanyak ini?” batinnya sambil menarik kedua sudut bibir. *** Duduk berdampingan di antara banyaknya orang di dalam bioskop, Sri mulai merasa tak keruan karena lampunya pun baru saja dipadamkan. Yang ditontonnya adalah film horor, setelah keduanya berdebat terlebih dahulu. Safka ingin menonton film romantis, tapi Sri tak mau. Sri ingin menonton film remaja, Safka tak mau. Dan, berakhirlah pada film horor sebagai pilihan keduanya. Sebab, Sri tak mau kalau sampai melihat adegan erotis dalam film romantis. Namun, belum apa-apa saja, bulu kuduk Sri mulai merinding. Rasa takut akan ruangan gelap, bercampur dengan rasa takutnya pada film horor. “Coba makan ini, dari pada gemetar gitu!” goda Safka seraya membuka satu kotak berisi fizza yang tadi dibelinya. “Siapa juga yang gemetar?” tanya Sri seraya mengambil sepotong fizza dan lekas memakannya. Matanya seketika melebar, karena apa yang ia makan benar-benar enak. “Ini?” tunjuk Safka pada tangan Sri yang baru saja mengangkat sepotong fizza. Tangan istrinya itu memang bergetar. “Ini mah bukan bergetar!” balas Sri, ngeles. Ia lantas kembali melanjutkan makannya tanpa memedulikan ocehan Safka, karena sedang merasakan enaknya makanan yang sedang ia makan. “Lah, terus apa dong?” Safka tertawa kecil. Dan, kemudian ikut memakan fizza yang ia beli sendiri. “Dah ah itu filmnya udah mulai. Jangan berisik!” timpal Sri, seraya menguatkan diri. Ia harus bisa agar terbiasa kalau-kalau di rumah Safka kembali ada pemadaman listrik. “Oh, iya!” Safka pun akhirnya memfokuskan pandangannya pada layar besar dii hadapan. Sri tak berbohong untuk menghindar. Filmnya memang sudah dimulai. Namun, belum apa-apa saja, Sri sudah mengerjap berulang kali. Rasa takutnya benar-benar tak bisa ia sembunyikan. Fizza yang tinggal sedikit di tangannya belum ia habiskan. Safka yang memperhatikan Sri kembali itu pun tersenyum tipis. Lucu saja melihat Sri sampai berulang kali memejamkan mata indahnya itu. Namun, ia belum ingin menunjukkan perhatiannya. Ia ingin membuat Sri sendiri yang berlindung kepadanya lebih dulu. “Katanya nggak takut?” goda Safka kembali. Kali ini, dirinya sambil makan roti bakar. “Tapi kok merem melek?” sambungnya sambil terkikik pelan. “Dih! Kalau melotot ya sakit matanya!: balas Sri, ngeles lagi dari tuduhan Safka. Lantas, ia pun melahap habis fizza nya. “Bisa aja ngelesnya!” Safka pun ikut melahap habis roti bakarnya juga. Sedang kotak fizza masih ada dalam pangkuannya. “Bisa lah!” balas Sri seraya menahan ketakutannya. Lantas, ia kembali mengambil fizza dan langsung melahapnya sampai habis. Ocehan Safka benar-benar membuatnya merasa jengkel. “Aih! Pelan-pelan dong makannya.” Safka menggeleng dan seketika ingat akan sesuatu. “Astaga!” Aku lupa, tadi nggak beli minum dulu,” katanya lagi. “Dih! Terus kalau aku mau minum gimana? Kalau aku keselak juga gimana?” oceh Sri, dalam keadaan mulutnya penuh “Ya, makanya pelan-pelan aja makannya!” timpal Safka. “Ya, tapi kan tetap aja! Aku bakal haus,” balas Sri. Ia melebarkan matanya, melihat Safka yang juga melihatnya. Tak mau kalah bicara. “Ok! Kalau gitu aku beli dulu bentar,” timpal Safka kembali. Ia berdecak, kesal sendiri. “Aku?” Sri pun menunjuk dadanya sendiri. “Ya, tunggu di sini lah!” Safka pun menutup kotak fizza yang ada di pangkuannya. Lantas mengalihkannya ke pangkuan Sri. “Nggak!” Sri langsung menolak. “aku ikut aja,” sambungnya seraya buru-buru bersiap. “Dih!” Safka pun menahan Sri yang hendak berdiri. “Dikira ini bioskop buapakmu? Mana boleh keluar berdua aja kalau belum selesai,” ucapnya, berbohong. “Ya, tapi aku nggak mau di sini sendirian,” rajuk Sri, memelas. “Aku nggak apa-apa deh nggak minum kalau gitu.” “Sendirian gimana? Di sini kan banyak orang. Noh!” Safka pun menunjuk beberapa orang di antarnya. “Aku nggak kenal mereka. Aku Cuma kenal kamu aja, Om.” Sri memelas lagi. Ia bahkan bersuara lemah dan lembut, tak seperti biasanya yang selalu saja kasar. .......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN