Sok Perhatian

1144 Kata
Menghela napas panjang, Safka pun akhirnya kalah telak. Ia tak jadi pergi untuk membeli minuman karena Sri tak mau ditinggal sendirian. Istrinya itu seketika menyengir lebar dan kembali menonton film. Namun, begitu matanya melihat layar, film yang ia tonton sedang menayangkan hantunya. Sri menjerit sembari menangkup wajah. Ia juga langsung menghambur, sembunyi di d**a Safka. Safka pun ikut terkejut. Akan tetapi, instingnya refleks melihat ke sekeliling karena jeritan Sri langsung mencuri perhatian orang-orang di sana. Ia lantas menyengir sembari menganggukkan kepalanya pelan, meminta maaf karena sudah mengganggu mereka. “Hei!” Safka pun mencolek pinggang istrinya itu. Berulang kali sampai membuat Sri mendongak, sembari menyipitkan matanya saja. “Kenapa? Orang-orang pada liatin kita noh. Bikin malu aja, ish!” sambungnya seraya menyentil hidung bangir Sri. Hal yang selalu ingin ia lakukan. “Hantunya masa serem banget?” bisik Sri, karena takut mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya lagi. Ia masih sembunyi di d**a Safka. “Namanya juga hantu. Kalau lucu ya badut,” timpal Safka seraya menahan tawa. “Tapi kan itu cuman film. Ngapain takut? Dah, ayo duduk yang bener!” ucapnya lagi seraya mendorong kening Sri dengan telunjuknya. Itu pun adalah hal yang selalu ingin ia lakukan. “Ya, tetep aja ngeri. Orang wajahnya serem gitu!” Sri pun terpejam lagi. Kali ini, ia bahkan memeluk Safka tanpa berpikir panjang. “Aku nggak mau liat film bagian ini dulu!” katanya. “Dih! Kalalu nggak ditonton, mana paham ceritanya, Sri!” Sri menahan tawa lagi. Sedang, sebelah tangannya sedang bergerak ragu-ragu. Ia ingin memeluk Sri, tapi enggan karena takut membuat Sri menjerit lagi. Namun, ia membiarkan istrinya itu memeluk erat tanpa menyinggung. “Kan, masih kedengaran. Makanya, kamu diem aja, Om!” Sri pun mencubit pinggang Safka tanpa berpikir lagi. Dalam pikirannya cuman ada rasa takut saja. “Astaga, Sri. Sakit tau!” Safka pun langsung menepis tangan yang mencubitnya itu. Sri tertawa kecil seraya kembali memeluk Safka, meski suaminya itu baru saja menepis sebelah dari tangannya. “Budu!” balasnya. “Ya, ampun bocah!” Safka pun berucap dalam hati. Lantas ia kembali merasa ragu saat hendak memeluk Sri. Namun, ia tak mengurungkan niatnya, sehingga orang yang sedang memeluknya itu ia peluk balik. Barulah setelah merasakan pelukan Safka, Sri pun menyadari satu hal. Ia sedang memeluk Safka, dan suaminya itu baru saja balas memeluk. Ia pun seketika menelan ludah. Matanya berkedip cepat seraya melirik ke arah kiri dan kanan. Bingung, harus ngapain. Berteriak, sudah pasti akan mencuri perhatian orang-orang di sana lagi. Ia pun yang sudah memeluk Safka lebih dulu, sehingga bingung juga harus menyalahkan siapa nantinya. Namun, setelah lama Sri berpikir di antara perasaan tak keruan juga jantung berdebar, ia pun bergerak menarik diri perlahan. Safka yang merasakannya pun melerai kedua tangan. Ia melepas pelukannya itu sambil berdeham. Yakin kalau Sri baru saja menyadari sesuatu. Lagi pula, ia pun tahu diri kalau Sri memeluk karena memang merasa takut. Bukan karena merasa nyaman. “Ya, ampun. Aku kenapa bisa meluk dia gitu, sih?” batin Sri sambil berdeham. Ia merapikan rambut dan pakaiannya bergantian. Kikuk karena ulahnya sendiri. “Lagian, dia juga kenapa malah keenakan dan balik meluk?” batinnya lagi. “Lagi ngomel-ngomel dah tuh yakin dalam hatinya. Kelihatan banget, wajah kikuk dan kesal bercampur gitu. Lagian, siapa juga yang main peluk-peluk?” batin Safka, sama mengomelnya dengan Sri. Ia juga merapikan pakaiannya yang kusut karena pelukan Sri. “Orang mah kalau dipeluk itu ya dorong aja kek!” Sri membatin lagi seraya melihat layar bioskop. Namun, isi pikiran yang berkeliaran ke mana-mana membuatnya tak mengerti perihal apa yang ditonton. “Laki, dipeluk gitu ya pasti keenakan. Jadi bukan aku yang salah pastinya. Tapi dia nih, ya ... udah pasti maki-maki aku dalam hati!” batin Safka seraya mengambil roti bakar dari dalam tentengan. Ia melahapnya tanpa menawari Sri, karena tak mau bicara lebih dulu dalam keadaan serba salah seperti itu. Kedua belah sudut bibirnya itu menyungging lebar. Lucu mengingat apa yang dilakukan Sri tadi. Istrinya itu memeluk lebih dulu, bahkan seperti tak mau lepas meski ia telah menepis tangan Sri. Lalau sekarang, Sri bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Padahal, tadi pun Sri seperti menganggap kehadiran Safka. “Emang dasar laki! Sekali otak m***m ya otak m***m aja!” Sri yang gedeg terhadap Safka pun membatin lagi. Namun, kali ini ia pun langsung menyudahi omelannya. Ia lebih baik fokus pada apa yang ditonton. Meski, ujung-ujungnya tetap tak dapat fokus. Hening. Ruang gelap di mana hanya ada beberapa kursi kosong aja itu pun mendadak senyap di telinga Sri dan Safka. Keduanya tidak lagi bicara, berbisik atau pun saling membalas pukulan. Yang ada hanya saling mengunci mulut sampai akhirnya film selesai. Sri menghela napas lega. Film yang menurutnya menakutkan itu akhirnya selesai juga. Ia lantas menarik diri dari sandaran, kemudian merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku dan pegal, tanpa mengucapkan apa pun pada Safka. Ia menunggu. Menunggu Safka yang bicara lebih dulu padanya. Pun dengan Safka yang begitu film selesai langsung bernapas lega. Ia juga merenggangkan tubuh juga kakinya dengan menggeliat ke sisi kiri dan kanan. Dilihatnya Sri sekilas, istrinya itu baru saja kembali duduk tenang. Sedang yang lain sudah beranjak meninggalkan ruangan. “Mai nginep di sini?” Usil, Safka pun bertanya sambil berdiri. Lantas melengos pergi sendiri sehingga membuat Sri berdiri seketika. Istrinya itu berteriak, memanggil Safka sembari melangkahkan kaki. Namun, karena takut ditinggal sendirian, kakinya pun tersandung kaki kursi sehingga ia jatuh terjerembap di belakang Safka. Sri meringis kesakitan. Lututnya nyeri karena menimpa lantai. Sedang sikutnya ngilu karena kepentok kursi. Safka yang mendengarnya pun seketika berbalik dan menghampiri Sri segera. Ia menang sengaja membuat Sri ketakutan. Tapi, ia tak bermaksud membuat Sri jatuh terjerembap. “Kamu nggak apa-apa?” Safka pun langsung memegang kedua bahu Sri. Lantas, membantu istrinya itu berdiri. “Di mana yang sakit?” tanyanya lagi sembari membiarkan Sri duduk kembali. “Gosah sok perhatian. Aku tau, kamu pasti senang kan liat aku jatuh?” Sri langsung menahan tangis. Pasalnya, ia merasa dirinya jatuh karena Safka. “Loh, mana ada begitu? Aku khawatir, ya memang khawatir. Kamu ini,” balas Safka seraya duduk berjongkok di samping Sri. “Yang sakit pasti lutut,” sambungnya. “Sikut juga, telapak tangan juga, hati pun juga!” Sri menimpali dengan sengaja. “Lah?!” Safka mendongak, melihat wajah Sri yang masih saja cemberut. “Kok hati juga?!” tanyanya, heran. Sri kan jatuh. Bagaimana istrinya itu merasakan sakit di hati. “Ya, kan memang begitu. Selain aku sakit fisik karena jatuh, aku pun merasa hatiku sakit karena kamu!” Sri membuat wajah, menghindar tatapan Safka. “Salahku apa lagi?” “Salahmu ya, banyak.” Sri pun berdiri. Rasa sakitnya tekah berkurang. “Dah lah, sekarang mending kita pulang. Kan, belanja keperluanmu udah. Keperluan dapur udah. Nonton bioskop juga udah. Jam berapa coba sekarang.” Sri pun melangkah melewati Safka dengan susah payah. Pasalnya, Safka berada di tengah-tengah jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN