Sudah masuk waktu Dzuhur, Bima yang belum juga mendapat kabar dari Sri pun merasa resah. Berulang kali ia mengecek ponsel, melihat lagi dan lagi laman pesan bersama Sri soe kemarin. Namun, wanita yang dicintainya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda aktif dalam bermedia.
Saat beranjak untuk mengambil air wudu di toilet masjid saja, yang ada dalam pikirannya tetap Sri. Padahal, ia sudah berulang kali menepis pikirannya itu agar dapat fokus pada apa yang hendak dilakukannya.
“Mikirin Sri lagi?” singgung Ucok yang baru saja datang setelah mendengar panggilan adzan. Ia pun maju dan menggolong kedua lengan bajunya, hendak mengambil wudhu. Sedang bibirnya menyungging lebar, menertawakan Bima yang memiliki nasib ngenes.
“Tau, nih. Sejak kemarin dia belum aktif juga. Sumpah gue khawatir banget,” timpal Bima seraya mengela napas panjang. Ia yang hendak wudhu pun tersenyum tipis sambil menggeleng paham kalau temannya itu sedang merasa aneh pada dirinya. Sebab, ia pun aneh pada dirinya sendiri.
“Yang harusnya dikhawatirkan iitu kamu, Bim. Ya, masa masih belum ikhlas aja? Sri udah nikah dan dibawa suaminya ke kota. Dan da kemungkinan, chat kalian itu dibaca suaminya. Hati-hati lah!” Ucok pun sama tersenyum. Namun, segera ia pun mengambil wudhu.
Mendengarnya, Bima pun sedikit tertegun. Berpikir, apa yang dikatakan Ucok barangkali ada benarnya. Mungkin saja, Sri tak aktif karena ketahuan oleh suaminya. Alih-alih takut ketahuan, Bima justru merasa kian khawatir.
“Jangan-jangan, Sri disiksa? Astaga! Aku harus segera menemui Siti atau bapaknya buat nanyain kondisi Sri di Jakarta. Mereka pasti tahu, atau seenggaknya ada kabar kalau Sri memang tak kenapa-kenapa,” batinnya seraya berusaha tenang, karena ia harus segera mengambil wudhu.
Ucok yang baru saja selesai wudhu, lantas menepuk punggung Bima pelan, sebagai upaya memberi semangat. Semangat untuk melupakan Sri, bukan semangat untuk mengejar Sri. Ia berjalan lebih dulu ke dalam masjid, meninggalkan Bima yang baru saja mulai wudhu.
***
Bima bergegas meninggalkan masjid setelah melakukan kewajibannya pada sang Tuhan. Ia hendak menemui Siti, dengan mencegatnya di jalan. Sebab, ia tahu kalau Sri akan lewat sebentar lagi. Adik dari wanita yang dicintainya itu akan segera pulang dari sekolah.
Di pinggir jembatan layang, Bima duduk menunggu dengan resah. Ia pikir, seharusnya ia meminta nomor Sri juga untuk mengatasi adanya keperluan mendadak seperti ini. Bima berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan. Sesekali ia pun duduk dan menyandarkan punggungnya di jembatan tersebut. Sebab, jembatan yang ia tempati sekarang itu memang berada di antara pepohonan rindang, sehingga meski pun tengah hari, cuacanya tetap sejuk dan teduh.
Namun, yang ditemuinya itu justru bukanlah Siti. Melainkan Sudirman, yang tak lain adalah ayah Sri dan Siti. Lelaki berperawakan pendek dan gendut itu berjalan sempoyongan sembari menenteng sebuah kantong plastik.
Bima pun refleks berlari dan menghampiri Sudirman yang hampir saja ambruk di jalan. Sedang, tak jauh dari mereka ada sebuah truk yang hendak lewat. Beruntung, Bima segera membawa lelaki paruh baya itu ke pinggir jalan.
“Ya, ampun. Nggak ada Sri malah makin parah nih orang tua,” ucapnya sambil menggeleng. Ia juga berulang kali menahan napas panjang hanya agar tak menghirup aroma alkohol dari mulut Sudirman.
“Bapak abis dari mana, sih?” Bima pun menggandeng bapak dari Sri itu, untuk mengantarkannya pulang. Karena selain cintanya kepada Sri, ia pun kasihan jika harus membiarkan Sudirman pulang dalam keadaan seperti itu.
Sudirman tak menjawabnya dengan bena apalagi jelas. Lelaki paruh baya yang rambut dan kumisnya sudah dipenuhi uban itu hanya merasa dan berteriak tak jelas. Ia yang kalah berjudi itu memang sedang tidak sadarkan iri sehingga malah memarahi Bima dan memanggilnya dengan sebutan orang lain.
“Astaga! Bau kali mulutmu, Pak! Nggak pernah sikat gigi apa gimana ini?” singgung Bima sembari menahan tawa. Beruntunglah dia, karena Sudirman sedang dalam keadaan mabuk. Karena kalau tidak, pukulan lah yang akan dia terima.
Dengan susah payah Bima mengantar Sudirman yang bobot badannya saja beda jauh. Bima bertubuh sedikit cungkring. Sedang Sudirman berbobot seperti badut, sehingga Bima pun berulang kali merasa oleng.
Beruntung lagi, jarak antara jembatan dan rumah Sudirman tidak begitu jauh, sehingga ia pun cepat sampai meski dengan napas mengos-ngosan. Didudukkannya Sudirman di teras rumah, sembari memanggil Fahri.
“Dek! Tolong ini bapakmu,” katanya lagi seraya melepaskan Sudirman. Dan, Sudiman pun menjengkang karena tak lagi memiliki tenaga. Kesadarannya habis sudah.
Fahri yang telah pulang lebih dulu pun membuka pintu, dan seketika terkejut kaget begitu melihat bapaknya telentang di teras.
“Bapak?” ucapnya seraya mendekat. Namun, seketika ia membuang naas karena bau alkohol yang diciumnya amat menyengat. “Bapak mah mabuk lagi!” serunya seraya memukul perut buncit bapaknya itu.
Bima sedikit tertawa. Apa yang dilakukan Fahri memang pantas diterima Sudirman.
Tak hanya Fahri, Siti yang baru saja datang pun sama terkejut sehingga dirinya langsung berlari menghampiri. “Bapak kenapa?” tanyanya, cemas.
Namun, belum sempat Fahri atau pun Bima menjawab, Siti pun tahu kalau ayahnya itu sedang tidak sadarkan dir karena pengaruh dari minuman keras.
“Dah, biarain aja di situ. Gosah dibawa ke dalam!” ucap Siti kembali. Ia yang tadinya cemas, seketika berubah kesal. Sebab, bapaknya itu masih saja melanggar janji.
“Aih. Kasihan atuh ari kamu!” Bima pun menimpali.
“Nggak apa-apa. Biarin aja! Tapi, Abang yang bawa Bapak pulang?” tanyanya, memastikan.
“Iya. Kenapa?” Bima pun menyengir tipis.
“Nggak apa-apa, sih. Cuma ya makasih.”
“sama-sama. Tapi, Siti. Abang mau nanya sesuatu.” Bima pun akhirnya mengatakan apa yang hendak ditanyakan soal Sri.
“Soal?” Siti pun beranjak naik ke teras dan membuka sepatunya di sana.
“Kakakmu, apa ada kabar?”
***
Safka mengejar Sri keluar dari bioskop. Dikiranya, Sri akan benar-benar berjalan lebih dulu menuju ke halaman parkir. Namun, ternyata, istrinya itu sedang berdiri di samping pintu keluar ruang bioskop.
“Kamu!?” Safka pun menghela napas panjang dan mengembuskannya seketika begitu melihat Sri di sana. ‘Ngapain coba ninggalin aku? Taunya malah ngumpet di sini?”
“Ya, kan kamu yang niat ningalin aku lebih dulu. Jadi ya aku balas, dan kalau bisa aku kabur aja ke Cianjur!” balas Sri.
“Dih! Kayak yang tau jalan aja,” timpal Safka sambil tertawa. Ia lantas mulai berjalan dan diikuti Sri.
“Nah, itu tau!” Sri pun sudah berjalan sejajar dengan Safka.
“Oh ... jadi, kamu dim di sudut sana itu karena nggak tau jalan?” Safka berbalik dan menunjuk Sri sambil menyengir.
“Ya, memang. Mau apa heh?” Sri balas menimpali dengan bibir cemberut. Sedang matanya melotot dan kedua tangan bertolak pinggang...........