Mengutamakan yang Utama

1234 Kata
Safka menahan kuat bibirnya untuk tidak tertawa. Padahal, apa yang baru saja terjadi benar-benar lucu. Ia tergesa-gesa keluar dari bioskop untuk mengejar Sri yang meninggalkannya dengan sengaja. Namun, istrinya itu justru berdiam diri di luar karena tak tau ke mana harus berjalan. Sri tak tau arah pulang. Kepalanya menunduk sembari membuang napas barang sebentar. Lantas kembali Safka mengangkat wajah dan melihat Sri yang baru saja menimpalinya. Istrinya itu masih cemberut sembari memelak pinggang. Sedang, kedua matanya melotot tajam. “Apa?” tanya Sri kembali sambil mendelik. “Mau ketawa? Ketawa aja lah, Om! Ngapain ditahan-tahan!” Suara Sri pun semakin geram. Ia benar-benar jengkel dengan suaminya itu. Terlebih setelah melihat ekspresi Safka yang sedang menahan tawa. “Ya, nggak dong. Masa istri sendiri diketawain?” Safka pun menyengir. Sebenarnya ia ingin meraih tangan Sri. Lantas menggandeng tangan istrinya itu. Namun, ia tahu kalau Sri tak kan menyukai hal itu. “Mending, sekarang kita pulang. Yuk?” ajaknya kemudian. Sri berdecak seraya memalingkan wajahnya kesal ia terlanjur pundung, sehingga tak mau begitu saja diajak pulang. Ia ingin meminta sesuatu dulu pada suaminya itu.. “Malah diem. Ayo?!” ajak Safka kembali. Ia kemudian memberanikan diri untuk menyentuh tangan Sri. “Jangan sentuh aku, Om!” bentak Sri, seraya menatap tajam suaminya itu. “Aku sudah sering bilang kan?” sambungnya, sehingga mencuri perhatian beberapa orang yang ada di sana. Safka pun gelagapan. Ada rasa sedikit malu karena dirinya, seketika menjadi pusat perhatian. Mereka jang6 ada di sana mendengar Sri memanggil Safka dengan sebutan Om, sehingga ia pun yakin kalau mereka sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. Beruntungnya, tidak ada yang ikut campur. Semua kembali pada aktivitasnya masing-masing. “Ish! Kamu jangan begini napa kalau lagi di depan umum. Aku kan malu!” bisik Safka seraya mencuri-curi pandang ke arah lain, untuk memastikan mereka. Apakah masih memperhatikannya atau tidak. “Ya, biarain. Orang aku lagi ngambek!” Sri merajuk lagi. Meski, sekarang, suaranya agak dipelankan. Ia tahu, karena suaranya barusan, orang-orang langsung melihat ke arah dirinya. “Emang kapan kamu nggak ngambek coba? Udah lah ayo kita pulang. Udah lewat dzuhur dikit ini.” Safka pun kembali menarik tangan Sri. Sri menepisnya kali ini. Tanpa bicara dan hanya melotot saja, membalas tatapan Safka yang ia tahu sudah mulai geram terhadapmu. “Aku punya satu permintaan, sebelum pulang!” ucapnya seketika. Ada yang ia mau setelah jalan-jalan di mall. “Apaan?” Safka pun kembali melepas tangan Sri. Dan sekarang gilirannya yang baru saja memelak pinggang. “Beliin ice cream, popcorn, dan juga makanan di sana itu tuh!” tunjuknya pada satu toko yang memang menjual seafood. “Aku mau lobster yang dimasak pedes banget!” sambungnya. “Cuma itu?” ledek Safka, sekaligus menyombongkan dirinya lagi. Seolah, ia menunjukkan diri kalau dirinya tak hanya mampu membeli itu saja. Melainkan apa pun yang diinginkan Sri “Jan sombong! Mentang-mentang orang kaya, terus kami seenaknya menindas mereka?” Sri pun tetap mematung di hadapan Safka. “Aih, bukannya sombong aku. Pan emang cuman nanya, itu aja apa gimana? Kalau ada lagi ya sok bilang. Kalau emang cuman itu aja ya sok juga bilang. Gitu loh masa nggak paham?” Safka pun akhirnya mengomel karena Sri malah bertele-tele banget. Padahal, ia ingin segera membawa istrinya itu untuk pulang. “Itu aja lah udah. Lagian, kalau aku mau semua yang ada di sini pun nggak mungkin bisa kamu kabulin!” seru Sri kembali. Kali ini suaranya semakin pelan. Ia tak menyolot lagi. “Veuh! Ngerendahin banget. Tapi ya ayolah beli seafood dulu. Mau lobster kek, kepiting kek, cumi kek. Beli semua dah!” Sambil bicara, Safka berjalan lebih dulu ke arah di mana Sri ingin membeli seafood. Ia yakin, istrinya sedang mengekor. Tentu saja Sri mengekor. Karena kalau bukan tak tahu arah jalan pulang, ia sudah melengos tanpa menunggu Safka terlebih dahulu. Namun, sambil berlari kecil mengejar langkah kaki Safka yang lumayan cepat, Sri tersenyum-senyum senang. Ia pikir, akhirnya Safka membelikan apa yang ada di mall itu setelah ia berandai bisa membelinya sendiri. Di belakang Safka, Sri cengengesan sembari menari-nari kecil dengan hanya menggerak-gerakan kedua tangannya saja, sehingga meliuk seperti kain tertiup angin. Ia bahkan merasa tidak malu sama sekali karena orang-orang sibuk dengan keasyikannya sendiri. Namun, begitu Safka menoleh untuk memastikan Sri, istrinya itu segera diam dan merapatkan mulutnya yang sedari tadi mengomel dalam hati. Kedua belah sudut bibir safkah menyungging tipis. Ia tahu karena sebelum sri berhenti, ia melihatnya sekilas. “Dasar kamu!” Safka pun kembali meneruskan langkah kakinya. “Apa!” bentak Sri dari belakang. Namun, ia hampir saja tertawa. “Nggak! Cuma lucu aja liat istri sendiri yang lagi kesel. Untung sayang,” timpal Safka seraya berhenti. Ia telah sampai di restoran seafood yang Sri mau. “Dih!” Decak terdengar seketika dari mulut Sri. Namun, Safka tak memedulikannya. Ia malah langsung memesan apa yang diinginkan istrinya itu. Tak tanggung-tanggung, Safka membeli tiga porsi makanan berbeda. “Banyak banget pesannya!” batin Sri yang berdiri tak jauh dari Safka. Lantas ia mengekor mengikuti Safka yang hendak duduk di kursi, sembari menunggu pesanan datang. Sri masih tak bicara lagi sejak mereka sampai. Ia hanya mengedarkan pandangan, melihat ke sekeliling. “Tapi baguslah. Kan, enak kalau banyak mah!” Sri membatin lagi. “Kamu kenapa?” Safka pun akhirnya mengernyit. Heran melihat istrinya menahan senyum. “Kenapa apanya?” Sri tak langsung ngeuh akan apa yang ditanyakan Safka. Ia malah langsung memalingkan wajah ke arah lain. Gengsi jika harus berbaik hati pada lelaki yang baru saja membuatnya merasa begitu kesal. “Lha itu ... nahan-nahan senyum gitu? Lagi mikirin apa, sih? Apa lagi mikirin aku yang ganteng ini?” Dengan percaya dirinya yang selalu tinggi, Safka pun menimpali Sri sambil menyengir. “Astaga amit-amit!” Sri pun mengetuk-ngetuk meja restoran sambil tertawa kecil. “Amit-amit jabang bayi!” ucapnya lagi. “Lagi hamil?” Safka menggoda Sri kembali. Ia bahkan berusaha untuk tidak tertawa. “Hamil? Jan ngaco!” bentak Sri yang seketika berhenti tertawa. Ia bahkan menjulurkan sebelah tangan dengan jemari mengepal. Ingin sekali ja menonjok mulut suaminya itu yang terus saja bicara omong kosong. Padahal, Safka hanya tak ingin hening ada di antara mereka. “Aish! Kalau nggak hamil, ngapain bilang amit-amit jabang bayi? Ngaco nih kamu! Eh, malah bilang aku yang ngaco!” timpal Safka seraya menjulurkan lidahnya. Ia gemas melihat istrinya itu sehingga selalu ingin menggodanya. “Ya, nggak gitu juga konsepnya!” Sri pun menggeleng. Namun, bibirnya berkedut menahan tawa. Apa yang dikatakan Safka ada benarnya. Pantas saja jika suaminya itu berargumen demikian. “Serah kamu, deh. Terpenting sekarang kita let’s go!” ucap Safka sambil berdiri. Sebab, pesannya baru saja datang. Sri pun ikut berdiri dan tak menimpali Safka. Suaminya itu sedang bertransaksi dengan pelayanan restoran. Setelah uang diserahkan, pesanan pun ada di tangan. “Tapi, Sri. Kayaknya, kita nggak bakal keburu shalat deh kalau pun pulang sekarang. Apalagi harus beli ice cream sama popcorn dulu,” ucap Safka saat dirinya hendak meninggalkan restoran. “Ya, ampun. Terus gimana? Kita bisa shalat di sini nggak?’ Sri mengedarkan pandangan lagi saat dirinya mengekor mengikuti Safka keluar dari restoran. “Bisa, dong. Di sini kan ada musholanya.” Safka tersenyum. Ucapannya lemah lembut karena sedang membahas sebuah kewajiban. “Wah, bagus lah kalau gitu. Kita shalat dulu aja kali, ya?” Sri sama lembutnya, karena dapat membedakan, kapan waktu serius dan kapan waktu bercanda. “Itu maksudku. Sebaiknya kita shalat dulu aja.” ..........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN