“Kakakmu, ada kabar?”
Bima yang memang bermaksud menemui Siti untuk menanyakan perihal Sri pun langsung to the points. Ia tak menunda pertanyaannya itu, meski Siti sedang dalam keadaan kesal terhadap Sudirman yang pulang dalam keadaan mabuk.
“Kak Sri?” Siti pun sedikit mengingat-ingat karena kesibukannya di sekolah juga belajar di rumah sesuai perintah Sri pun lupa, akan kakaknya itu. “Nggak ada, Bang. Aku juga baru ngeuh sekarang. Udah dua hari sih Kak Sri nggak ada nelepon,” katanya lagi.
“Ke Abang juga gitu, nggak ada kabar. Bukannya apa-apa, Abang hanya suka masih cemas aja. Kamu tau sendiri kan, kakakmu nikah karena apa? Lagi pula, suaminya itu bukan orang yang kita kenal.” Bima benar-benar menunjukkan kekhawatirannya itu. Ia menghela napas panjang seraya melihat Sudirman barang sekilas. Lelaki paruh baya yang tak lain bapak Sri itu masih tidak sadarkan diri.
“Iya, sih. Tapi aku nggak mikir atau cemas sampai sejauh itu sih, Bang. Soalnya, Kak Sri ada bilang kalau suaminya itu baik banget. Jadi mungkin, Kak Sri lagi sibuk aja kayaknya.” Siti yang notabene masih remaja kecil, justru menjawab dengan kata-kata bijak.
Bima mengangguk. Setuju juga dengan apa yang dikatakan Siti. Mungkin, dirinya saja yang terlalu berlebihan. “Iya, juga, sih. Kamu bener. Tapi, kalau nanti ada kabar dari Sri, kamu kasih tau Abang, ya?” balas Bima. Ia tersenyum malu, karena pikiran Siti justru jauh lebi6 dewasa dan juga bijak darinya.
“Siap, Kak. Kalau gitu, masuk lah dulu. Kita sampai ngobrol di luar gini. Siti mau ambil minum dulu,” katanya seraya mempersilahkan Bima untuk masuk ke rumah butut mereka.
“Nggak apa-apa nggak usah, Ti. Habis ini Abang ada kerjaan kok. Mampir ke sini karena penasaran aja dengan kakakmu. Tapi kalau kamu saja bisa berpikir demikian, Abang pun harus.” Bima pun tersenyum malu pada adik dari wanita yang dicintainya.
“Beneran nggak mau minum dulu? Panas loh, Bang. Bikin haus!” ucap Siti, sebagai upaya membujuk Bima. Meski tak ada makanan lezat yang bisa disuguhkan, setidaknya ia punya segelas air putih yang jauh lebih menyehatkan.
“Nggak. Serius Abang ada kerjaan. Makasih sebelumnya, ya. Abang mau berangkat sekarang, deh. Kamu urus bapakmu baik-baik. Jangan marah-marah karena percuma aja. Ya?” pinta Bima, yang menang tahu, bagaimana Sri berbakti pada bapaknya itu. Meski, Sudirman jelas seorang pemabuk juga pejudi yang sudah mendalami anak sendiri.
“Iya, Bang, iya. Makasih juga, ya, karena udah anterin Bapak ke sini. Secara berat banget.” Siti pun menatap bapaknya yang tergeletak begitu saja di bawah. Bingung, apa yang harus ia lakukan pada bapaknya. Sedang, membawanya ke dalam saja ia tak kuat. Badannya kurus, dan tenaganya pun tak cukup.
“Mau aku bantu pindahkan ke dalam?” Bima yang paham akan kebingungan Siti pun langsung menawarkan bantuan. Lagi pula, ia tak cukup tega membiarkan gadis cungkring seperti Siti menggendong bapaknya yang segede buta.
“Apa nggak merepotkan?” Tatapan Siti seketika beralih pada Bima. Ia yang memiliki perasaan cengeng pun seketika berkaca-kaca.
“Nggak usah nangis! Kamu harus sekuat kakakmu saat menghadapi bapakmu ini,” katanya seraya langsung menarik kedua tangan Sudirman. Ia hendak membuat lelaki paruh baya itu duduk terlebih dahulu. “Bangun, Pak. Kita pindah, ya?” ucapnya pada Sudirman.
Sudirman pun bergumam. Setidaknya, bapak Siti ini sadar agar tak begitu berat saat diangkat. Bima yang baru saja berhasil mendudukkan dan membangunkan Sudirman dari tidurnya itu mulai mengangkatnya perlahan-lahan.
Siti membantu. Meski, ia sendiri kebingungan harus membantu dengan cara apa. “Hati-hati, Kak.” Ia pun hanya mampu bicara demikian sembari memasang wajah ngeri ke arah Bima. Pasalnya, Bima benar-benar berhasil mengangkat Sudirman sampai berdiri. Dan, ia membeyengnya sampai ke dalam rumah.
“Tidurkan di sini apa di kamar?“ Bima pun tak langsung menidurkan Sudirman di ruang depan. Takutnya memang harus di kamar saja.
Namun, Siti menggeleng. “Di sini aja, Bang. Biar nanti aku kasih bantal,” jawabnya.
“Ambil sekarang aja bantalnya. Buruan!” Bima pun segera menidurkan Sudirman di tengah-tengah ruangan yang tak seberapa lebarnya itu. Namun, dengan memegangi bagian kepala Sudirman dulu sampai Siti kembali datang membawa bantal. “Alhamdulillah,” katanya lagi.
“Makasih banyak, Kak.” Siti pun kembali berkaca-kaca. Namun, air matanya itu tak jatuh karena ia benar-benar menahan dan menyapunya segera agar tak terlihat cengeng.
“Sama-sama, Ti!” balas Bima, yang seketika refleks memeluk Siti. Ia mendekapnya ke dalam pelukan erat dan hangat. “Kamu yang kuat. Dan jangan merasa sendirian. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi Abang. Ya?” ucapnya lagi.
Siti yang untuk pertama kali mendapatkan pelukan dari seorang pria pun seketika merasa kaget. Namun, ada rasa hangat dan nyaman sehingga ia tanpa sadar memeluk dan menumpahkan tangisnya di d**a Bima. Ia benar-benar menumpahkannya sampai terisak.
Bima yang sedari tadi berusaha menguatkan pun membiarkan hal itu terjadi. Sebab, orang memang perlu menangis untuk meluapkan sebuah emosi. Dengan begitu, ia pikir, Siti akan merasa jauh lebih baik. Seperti halnya yang selalu ia lakukan pada Sri, kedua tangannya mengelus kepala Siti perlahan.
“Kamu boleh menangis untuk saat ini. Tapi nanti, setelah air matamu terkuras, kamu harus kembali ceria,” bisiknya pada Siti.
***
Selesai shalat Dzuhur di mushola mall, Sri dan Safka pun kembali ke tempat di mana mereka bisa mendapatkan popcorn dan Ice cream. Safka pun seketika terpingkal begitu tiba di bioskop. Ia tak mengurangi kalau dirinya baru saja membuang-buang waktu.
“Seharunya, sebelum kita pergi untuk membeli seafood, kita beli ini dulu, Sri. Jadi nggak perlu bolak-balik,” katanya setelah memesan dua cup popcorn. Pelayan yang mendengarnya pun seketika ikut tersenyum.
“Lah, suruh siapa maen pergi-pergi aja?” Sri tak tertawa. Namun, jelas saja ia menahannya
“Ya, kan kamu juga nggak ngasih tau aku. Harusnya, kamu itu ingetin aku!” balas Safka, sedikit ngotot. Namun, masih dalam tahapan wajar, karena ia sambil tertawa-tawa.
“Auk, ah!” timpal Sri seraya mengambil dua cup popcorn yang dipesan Safka. “Bayar! Natar lupa, lagi;” sambungnya.
“Iya-iya!” Safka pun segera mengeluarkan dompet. Lantas membayar apa yang dibelinya dengan tergesa-gesa karena melihat Sri yang lagi-lagi melengos seorang diri. “Tunggu!” serunya begitu mengejar Sri. Istrinya itu langsung menuju tukang ice cream. “Ya, ampun. Tiga permintaan aja udah bikin aku kewalahan. Untung aja dia nggak minta nambah. Tapi anehnya, kalau cewek lain biasanya minta berlian, lah dia malah minta popcorn. Langka emang!”