Hadiah Pernikahan

1696 Kata
Sampai di parkiran, Sri terkejut begitu melihat banyaknya barang yang Safka beli di jok belakang. Ia menggeleng heran, orang kaya ternyata belanjanya seperti itu. Beda dengannya yang bahkan, belanja pakaian saja bisa setahun sekali. Itu pun satu setel saja. “Kamu itu belanja apa, sih, banyak banget? Apa nggak mubazir?” Singgung Sri begitu dirinya masuk dan duduk di samping Safka, yang hendak menyetir. “Jangan salah. Mubazir itu untuk sesuatu yang kamu beli, tapi tidak ada manfaatnya sama sekali. Lah, yang aku beli ini akan sangat bermanfaat banget!” balas Safka seraya mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia tersenyum tipis sembari memperhatikan jalan. Lantai mulailah melajukan mobil perlahan. Mereka keluar dari parkiran. “Yakin, barang sebanyak itu untuk dipakai sehingga bermanfaat? Bukan hanya untuk dipajang?” tanya Sri kembali. Ia benar-benar masih tak habis pikir, dan memang baru pertama kali melihat bagaimana orang kaya menghabiskan uangnya. “Yakin, dong. Kita liat saja nanti!” Safka menoleh, melihat istrinya yang masih terheran-heran. “Orang nggak biasa belanja pasti heran. Aku tau itu. Tapi, nanti pun kamu pasti terbiasa.” “Iya. Terbiasa liat kamu belanja banyak!” timpal Sri seraya merilekskan tubuhnya dengan mengatur napas. Ia tak msu dibuat stres oleh cibiran Safka. “Nah, itu tau. Jadi ya udah lah, ya. Ngapain juga ribetin hal belanja. Cuma, aku herannya, kamu kok nggak belanja sih? Beli apa kek gitu?” Safka pun kembali bicara setelah diam barang sebentar. “Lah, itu lobster, ice cream sama popcorn kan belanjaan juga. Aku mah cukup lah segitu!” balas Sri sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia ingin mengomel, tapi tak bisa dan berakhir dalam hati saja. “Gimana mau belanja? Diajak kagak! Ditawarin Cuma sekali! Dasar pelit! Aku kan mau beli daleman tadi,” batinnya sambil menahan tangis jengkel. “Iya, juga, ya. Berarti ... Beli itu aja cukup ya kalau kamu!” Safka pun cengengesan. Namun, pandangannya tetap fokus pada laju mobilnya. Ia sedang berkendara, dan tak biasa acuh pada keselamatan. Sri mengangguk. “Iya lah, cukup! Cukup bikin kesel!” balasnya dalam hati. *** Sesampainya di rumah, Sri bingung akan ponselnya yang ia lupa taruh di mana. Mencarinya di kamar pun tak kunjung ia temukan. Padahal, kalau tak salah ingat, ia menaruhnya di meja rias. “Di mana, sih?” batinnya seraya kembali menyingkap selimut di ranjangnya. Ponsel yang ia cari tak ada. “Lagi ngapain, sih? Selimut sampek diawut-awutin kayak gitu? Padahal udah aku beresin tadi!” ucap Safka yang baru saja datang di kamar. Ia pun masuk dan mendekati Sri. “Lagian, kamu juga main pergi-pergi aja, nggak bantuin aku bawa barang belanjaan!” sambungnya seraya menaruhnya tentengan yang ia bawa di tangan kiri dan kanan ke ranjang. “Ya, maaf. Lagian itu kan belanjaan kamu. Masa harus aku yang bawa? Bawa sendiri lah!” balas Sri, sedikit gelagapan. Ia lantas menjauh dari ranjang. “Terus, kamu nyari apa kek cemas gitu?” Safka memancing pertanyaan lagi. Ia harap, Sri mau berkata jujur perihal ponsel yang sebenarnya ia temukan. Namun, Sri justru menggeleng. “Nyari ponsel?” Safka pun merogoh saku pada jasnya, dan menunjukkan sebuah ponsel. “Dih! Kamu kok nggak bilang kalau ponselku ada di kamu?” Sri pun langsung menyambar dan mengambil ponselnya itu. Ia pikir, meski pun Safka yang membelinya, itu sudah menjadi hak paten baginya. “Kamu nggak nanya juga. Aku lupa jadinya.” Safka pun beralasan. Padahal, ia tahu dan tak lupa sama sekali. Hanya saja, ia ingin Sri yang menanyakannya secara langsung. “Alasan! Ya, dah ... Makasih!” Sri pun berbalik membelakanginya Safka. Ia membuka kunci pada ponselnya itu, dan mendapati banyak sekali pesan. Namun, pesannya masih utuh. Belum dibuka sama sekali oleh Safka. Ia menghela napas panjang. Merasa lega. “Sama-sama. Tapi, serelah nggak bantuin aku bawa barang belanjaan, kamu nggak mau bantuin aku beresin ini juga? Gitu amat istri,” katanya, sengaja menyinggung Sri juga perihal tanggung jawab seorang istri pada suaminya. “Oh, iya. Oke-oke!” balas Sri sambil berbalik, menghadap Safka lagi. Ia menyengir dan segera menyimpan ponselnya pada tas yang masih ia selendangkan. Lantas, ia pun duduk di antara barang belanjaan. “Jadi, aku mulai dari mana?” tanyanya. “Dari mana aja lah, bebas. Aku mau mandi dulu nggak apa-apa tapi kan? Gerah banget sumpah!” Safka menyengir, saat meminta izin. Sebenarnya bukan karena ia merasa gerah. Melainkan sengaja agar Sri membuka semuanya sendiri. “Ok! Tapi jangan lama, ya? Aku mana sanggup beresin ini semua sendiri!” Sri pun mendongak, melihat Safka yang baru saja melengos. “Iya!” timpal Safka seraya pergi ke kamar mandi. Sri mulai mengambil salah satu belanjaan suaminya itu. Namun, betapa ia terkejut saat melihat isi tentengan yang pertama kali ia buka. Di dalamnya berisi sebuah sepatu kaca yang cantiknya ngalah-ngalahin primadona kampung. “Apa ini? Barang belanjaannya kok gini?” batin Sri sembari meraih barang lain. Ia membukanya satu per satu dengan gerakan cepat dan Semuanya berisi keperluan wanita. “Dia nggak normal apa gimana, sih?” batinnya lagi seraya menumpahkan semua belanjaan ke ranjang. Tanpa Sri ketahui, Safka terkikik mengintip Sri dari pintu kamar mandi. Istrinya itu lucu sekaligus aneh, karena tak menyadari sedikit pun kalau semua barang yang Safka beli adalah untuk Sri. “Oon sih boleh. Tapi jangan oon-oon banget kenapa?” Safka menggeleng dan segera melakukan mandi, seperti apa yang ia katakan pada Sri. *** “Sepatu, sandal, pakaian wanita, alat make up sampai boneka? Aih! Ni orang benar-benar gesrek kayaknya!” Sri pun berdiri di samping ranjang sembari melihat satu per satu barang belanjaan di ranjang. Lagi dan lagi, berulang kali sampai ia menggeleng tak percaya. Ia menikah dengan seorang lelaki berkelainan. “Tapi apa iya? Haha. Sumpah geli banget aku,” batin Sri kembali. Ia memelak pinggang, berjalan mondar-mandir, dan kemudian menepuk keningnya lagi. “Lebih nggak mungkin lagi kalau ini semua buat aku, yakan?” Ia terkikik. Namun, karena penasaran, Sri pun mengambil salah satunya. Sepatu yang ia sebenarnya sangat suka pun dicobanya. “Pas?!” Ia memutar bola mata. “Kok, bisa? Kalau ini punya dia, masa muat di aku? Kakinya kan gede!” Mencobanya, Sri pun berjalan mondar-mandir di seluas kamarnya yang lumayan. Ia senang, meski tak yakin kalau semua itu untuknya. “Duh! Jan sampai kamu ke PD-an, Sri. Lepas dan taruh lagi di ranjang mending!” Hati kecilnya langsung menyuruh Sri untuk berhenti mengkhayal. Selain tak mungkin jika semua itu untuknya, ia pun merasa tidak pantas. Namun, belum juga tangannya menyentuh untuk melepaskan sepatu yang ia pakai, Safka keluar dari kamar mandi. Sri menoleh, melihat Safka dengan tatapan kaget. Pasalnya, ia sudah dengan lancang memakai sepatu yang dibeli Safka entah untuk siapa. Ia menyengir dan kemudian melepaskan sepatunya. Rasa kagetnya terhadap Safka yang hanya memakai handuk, kalah oleh kagetnya karena lancang. “Kenapa dilepas? Nggak suka?” Safka berjalan mendekat ke arah Sri. Ia tersenyum tipis pada istrinya itu. “Hah?” Sri tak paham dan seketika buru-buru melempar sepatunya ke ranjang. Lantas, ia pun meraih satu pakaian wanita dan melemparnya ke Safka. “Jangan keluar kamar mandi dalam keadaan telanjang kenapa?” keluhnya. “Aih! Aku kan nggak telanjang. Ini pake handuk loh?!” Safka pun meraih baju yang dilemparkan padanya itu. “Terus, aku harus pakai baju ini gitu? Gila kamu!” “Lah, kalau bukan untuk dipakai, kenapa dibeli, Oncom!?” balas Sri, heran. Namun, ia buru-buru menangkup mulut karena sudah menyebut Safka dengan sebutan oncom. “Ya, buat kamu lah! Heran,” balas Safka seraya menaruh pakaian yang ia pegang itu ke ranjang lantas, ia pun mengambil pakaiannya dari lemari. Sri terbengong, terkejut lagi sampai menelan ludah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan sampai tak bisa berucap apa-apa. “Masa nggak sadar, sih? Itu kan barang yang kamu mau semua. Meski kamu nggak ngomong, aku tau!” Safka berucap lagi. Dan begitu selesai memakai pakaiannya, ia berbalik menghadap Sri. “Suka nggak? Aku hadiahkan ini karena kamu adalah istriku.” “T-tapi.” “Jangan kebanyakan tapi. Mending cobain semuanya, biar kalau ada yang nggak cocok ... Aku bisa tukar.” Safka menyela, sehingga membuat Sri urung bicara. Alih-alih menjawab, Sri justru merasa sedih sehingga kedua matanya berkaca-kaca. Ia menangis pelan, saking tak percaya dengan apa yang baru saja Safka katakan. Pandangannya mengedar melihat ke tumpukan barang yang ada di ranjang. Barang-barang itu, memang yang tadi dilihatnya saat di mall. Namun, ia sama sekali tak mengira kalau itu semua dibeli Safka untuk dirinya. “Tapi kenapa? Kenapa kamu beli semua ini buat aku? Padahal, kamu tau sendiri kalau aku saja sama sekali tak menerima pernikahan ini. Status kita memang suami dan istri. Tapi perasaanku.” “Aku tau perasaanmu, Sri. Aku juga tau kamu mencintai siapa. Tapi, di sini, aku hanya sedang berusaha untuk mencuri hati dan kasih sayangmu. Aku tidak akan menyerah setelah kamu mengizinkannya. Please, terima ini sebagai hadiah dari aku.” Safka pun menjelaskan panjang lebar. Namun, yang masuk ke pikiran Sri hanya bagian ‘aku tau kamu mencintai siapa' sehingga membuat Sri seketika berpikir. “Apa dia tau kalau aku mencintai Bima?” batinnya. “Please!” Safka memohon. Ia bahkan memberanikan dirinya lagi untuk mendekati Sri. “Biarkan aki berjuang untuk mendapatkan kamu selama satu bulan ini. Kalau satu bulan ke depan, kamu belum juga bisa menerima aku, aku akan menyerah. Aku akan melepaskan kamu.” “Janji?!” Sri pun menerima uluran tangan Safka yang baru saja menyentuhnya. “Satu bulan ke depan, kalau aku tak juga bisa menerima kamu, kamu akan melepaskan aku?” “Janji!” Safka langsung menimpali Sri tanpa ragu. Sebab, ia yakin kalau dirinya dapat mencuri perasaan Sri. “Aku janji, akan menyerahkan kamu kepada orang yang kamu cintai. Bima bukan? Tapi tenang, aku tidak akan mencabut janji untuk menyekolahkan adik-adikmu sampai mereka lulus kuliah.” “Ok! Kalai gitu, aku setuju. Tapi ... kami tetap nggak boleh tidur di kamar ini. Titik! Dan, kalau kamu sampai melanggar itu, belum genap satu bulan dari sekarang pun ... Aku mau kita selesai!” Sri tersenyum sinis, seraya balas menatap suami yang berdiri di hadapannya itu. Safka mengangguk. Apa pun, ia akan menerima syarat yang diberikan Sri. Kecuali kalau dirinya harus keluar dari rumah, pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN