Sri berlenggak-lenggok di depan cermin yang menunjukkan sekujur tubuhnya. Dari kepala sampai kaki, ia memperhatikannya dengan saksama. Bahwa, apa yang ia pakai benar-benar cocok dan pas untuknya. Padahal, Safka membeli semua itu tanpa bertanya kepada Sri. Warna apa, ukuran berapa, dan jenis barang apa yang disukai Sri.
Namun, dari semua yang dibeli Safka, Sri paling menyukai sepatu kaca. Kakinya yang jenjang tampak cantik dengan sepatu itu. Ia pun terlihat semakin tinggi dengan sepatu itu. Pas jika dipadupadankan dengan gaun merah muda yang sekarang ia pakai.
Kedua belah sudut bibir tanpa pewarna itu menyungging melihat sosok diri yang tak biasa. Cantik, elegan, dan menawan. Ada sosok lain dalam dirinya, yang akan tetapi selama ini sangat ia ingini. Tampil cantik dengan gaya modern, seperti halnya gadis lain di tempat di mana ia tinggal. Jelas, mereka yang tentunya dari kalangan berada, sudah jauh lebih maju dibanding Sri. Entah masalah gaya, pun teknologi.
Namun, seketika Sri terpejam kuat. Ia yang baru saja melambung tinggi, terbang bersama angan yang selalu diimpikannya, kemudian berusaha untuk kembali turun dengan tekanan tinggi. Sri menggeleng. Wanita berambut lurus dan panjang itu baru saja berusaha menepis apa yang membuatnya menjadi sosok tamak. Harta, takhta, juga sosok jelita benar-benar ia singkirkan dari pikirannya.
“Jangan senang dulu, Sri. Jangan terpancing hanya karena apa yang kamu mau ... satu per satu mulai terkabul.”
Dalam pejamnya Sri bergumam. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, bahkan sampai terasa begitu sulit dan pahit. Apa yang ia pakai sekarang, barangkali hanya sebuah pancingan. Pikirnya.
“Kamu belum benar-benar mengenal lelaki tua itu. Kamu tak akan pernah tau, niat apa di balik semua ini!”
Sri pun membuka mata perlahan. Lantas, ia kembali melihat sosok dirinya di balik cermin. Terlebih pada apa yang sedang ia pakai. Ingatannya pun seketika tertuju pada janji yang tadi ia ucapkan. Janji, bahwa dirinya akan memberi Safka kesempatan.
“Kamu hanya perlu bersikap dan berpikir seperti biasa saja, Sri. Untuk semua yang baru saja kamu dapat, anggap itu memang hadiah darinya.”
Dilepasnya kembali ikat tali yang membuat gaunnya itu melekat kuat di tubuh. Sri melepas gaun tersebut karena hari sudah sore. Pun dengan sepatu yang tadi sempat Sri kagumi, ia melepaskannya segera. Dan, buru-buru ia mengganti baju. Sebab, terdengar pula ketukan pintu dari luar kamar.
“Ya!” teriaknya sembari menarik resleting. Ia bahkan sampai kesusahan karena merasa tergesa-gesa.
“Makan! Ini udah aku angetin semua masakan yang kamu mau loh,” timpal Safka, di balik pintu. Ia yang senang akan janji Sri, seketika bersiap diri untuk melakukan apa pun demi mencuri hati sang istri.
“Oh. Oke, bentar!” balas Sri, seraya mengibas rambutnya dari dalam baju yang baru saja ia pakai. Lantas, ia lekas memakai sandal jepit khusus untuk di dalam rumah.
“Lagi ngapain emang?” Safka bertanya sembari menyandarkan pundaknya di dinding luar kamar. Kepalanya mendongak membayangkan Sri. Sedang bibirnya menyungging, memikirkan senyum manis istrinya itu.
“Kepo banget, sih?!” Sri pun berucap setelah membuka pintu. Ia lantas keluar dari kamar, dan melewati Safka begitu saja. “Tapi, hari ini please jangan minta aku beresin rumah. Bekas jalan di mall aja masih kerasa sakit ini!” sambungnya, begitu sampai di anak tangga. Kelakuannya, seketika seperti nyonya dalam istana.
Safka yang mengekor di belakangnya pun mengangguk sambil tersenyum-senyum. Tentu saja, ia tahu kalau istrinya itu hanya sedang berusaha menghindar agar tak berdekatan, sehingga jalan duluan dengan langkah cepat.
“Iya. Beres-beres terserah maunya kamu kapan. Aku nggak matok kok. Di perjanjian kan, cuman tertulis bagian-bagian yang harus dikerjakan aja,” katanya.
“Ya, kali. Kamu kan banyak drama, Om. Aku cuman mau kasih peringatan aja, daripada keduluan ditindas!” Sri pun langsung menahan tawa. Kata-katanya barusan, sungguh tidak ada dalam rencana.
“Aih, bahasamu?!” Safka justru tertawa. Ia bahkan sampai tergelak sampai terbatuk-batuk. “Ya, kali ... suami menindas istri sendiri?!”
“Ada loh, Om!” Sri pun berhenti, sehingga membuat Safka berhenti juga. Lantas, Sri pun berbalik. “Di dunia ini, tak sedikit lelaki yang menindas istrinya sendiri. Kamu kah ini salah satunya, Om!” Ia berdecak, lalu menggeleng. “Orang kaya mah bebas. Gitu, katanya!”
“Ish! Mana ada aku kayak gitu? Sayang istri mah iya!” Safka pun melangkah maju, seolah Ingin menunjukkan dirinya yang tak begitu.
Refleks, Sri pun langsung kembali langkahkan kaki. Bahkan, ia sedikit berlari sehingga meninggalkan suaminya berjalan seorang diri. Sri tiba di dapur. Benar saja. Makanan yang tadi mereka beli di mall, sudah tertata rapi di meja makan dalam keadaan asap masih mengepul.
“Panas,” gumam Sri seraya menarik kursi. Lantas, ia pun duduk di sana.
“Ya, siapa bilang dingin? Orang baru diangetin ya panas lagi!” timpal Safka yang telah berada di belakang Sri. Sama seperti istrinya, ia pun duduk segera. “Cobain, deh. Bumbunya aja lezat banget. Apalagi dagingnya.”
Namun, melihat kepiting yang belum pernah Sri coba makan, ia pun kebingungan. Terlebih, ia melihat palu kecil di meja “Gimana cara makannya, sih?” batinnya seraya menahan ludah yang telah melumer. “Palu buat apaan pula ia taro di situ?”
“Kok, malah bengong? Dimakan dong!” titah Safka kembali.
Namun, melihat Sri yang lagi-lagi hanya diam, Safka pun sadar. Istrinya itu sedang kebingungan. Diambilnya salah satu kepiting, lalu ia pun mengambil bagian paha dan memukulnya segera dengan palu.
Sri menjerit pelan. “Kok, dipukul?” tanyanya, keheranan.
“Ya, menang harus dipukul dulu. Ini kan cangkangnya keras, Sayang. Digigit juga malah gigi kita yang sakit.” Dan, Safka pun menyimpan kepiting tersebut di piring Sri. “Makanlah,” titahnya sambil tersenyum. Ia benar-benar ingin tertawa. Namun, sebisa mungkin ditahannya.
Sri pun menyentuh kepitingnya dengan kedua tangan. Namun, ia tetap saja kebingungan memakan daging di dalam cangkang. Sehingga, ia pun mencungkilnya sedikit demi sedikit dengan tangannya.
“Gini loh makannya.” Setelah mengambil satu bagian lagi, Safka pun memukul paha kepiting tersebut. Lantas, memakannya untuk memberi contoh.
Sri mengernyit geli saat Safka menyeruput setiap daging yang ada di dalam kaki kepiting. Namun, ia pun mencobanya sampai bisa. “Beneran enak,” ucapnya tanpa sengaja lagi. Ia bahkan sampai berdeham dan menyudahi makan untuk minum barang sebentar.
Namun, Safka tak menggodanya kali ini. “Kalau mau, nanti aku belikan lagi.” Ia pun menawari.
“Ini juga lum habis!” balas Sri, kembali pada dirinya lagi. Ketus dan dingin.
***
“Aih! Pesanku cuman dibaca aja ini!”
Bima yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya pun kembali menyempatkan melihat w******p sebelum pulang. Tidak ada chat dari Sri di sana. Pesannya hanya dibaca, dan Sri kembali tak mengaktifkan data ponselnya.
“Udah lah, Bro. Terima nasib aja napa?” timpal Ucok, yang memang satu pekerjaan dengan Bima. Keduanya adalah seorang montir, di mana mereka bekerja untuk orang paling kaya di kampung.
“Ya, nggak bisa gitu. Kemarin, aku sama Sri udah sepakat untuk saling berpegangan erat.”
Bima masih menatap layar ponselnya. Sebab, di sana terpampang jelas wajah Sri sedang tersenyum manis padanya. Ia ingat betul, foto tersebut ia ambil saat mereka pergi melihat persawahan yang menghampar bak sebuah lautan berwarna hijau.
“Ngaco! Bini orang, Bro. Sadar, Bro!” Ucok kembali menasihati temannya itu agar tak gila-gila banget. “Mending juga tuh ... Mariam atau nggak Badriah. Mereka nggak kalah cantik kalau dibanding Sri,” sambungnya seraya menunjuk dua gadis yang kebetulan lewat depan hidungnya.
“Itu kan jatahmu!” Bima pun tergelak pelan. Sebab, temannya itu tak pernah mempunyai pengalaman apa pun dalam hal percintaan. Entah karena belum saja, atau karena wajahnya yang tak begitu menguntungkan.
“Jatahmu-jatahmu. Gosah ngeledek!” bentak Ucok seraya bersiul pada gadis yang dilihatnya itu. “Noh, liat! Disiul doang aja mereka kabur. Apalagi aku deketin?” sambungnya, diiring tawa menggelegak. Padahal, dirinya baru saja menghina diri tanpa sadar.
“Ya, masa jatahku terus. Sri aja cukup kok kalau aku.” Bima menyengir. Ia tahu kalau hal itu akan membuat temannya bosan.
Ucok pun seketika berdiri. Ia baru saja selesai beristirahat sebelum pulang. “Sri lagi, Sri lagi! Gada cewek lain apa?” ucapnya seraya pergi.
“Dih!” Bima pun tertawa pada akhirnya.