Selesai menghabiskan satu porsi kepiting dan juga lobster, Sri langsung membereskan bekas makan mereka. Ia melap seluruh permukaan meja dan mencuci semua perabot dapur yang dibuat kotor oleh Safka. Ia sebenarnya sudah biasa melakukan hal tersebut dengan perasaan menerima. Namun, kali ini perasannya selalu saja dipenuhi rasa kesal dan jengkel.
Kesal karena setiap waktu harus bertemu dengan Safka. Sampai heran dirinya, karena suaminya itu tak kunjung pergi untuk melakukan pekerjaan, misalnya. Ia juga merasa jengkel, karena ketidakikhlasannya menikah dengan Safka, segala apa pun yang ia kerjakan terasa menyulitkan, menyebalkan dan melelahkan.
Tak ada kata ikhlas dalam hatinya. Apalagi menerima dengan senang hati saat dirinya harus mengerjakan pekerjaan rumah segitu banyaknya. Beda dengan ketika ia di kampung, kerja untuk melunasi utang bapaknya justru tidak menjadi beban.
Sri menghela napas panjang setelah mencuci piring terakhir. Pekerjaannya selesai. Ia bertumpu pada kedua belah sudut wastafel. Wajahnya menunduk lesu, seraya mengatur napas agar tak melulu sesak akibat marah. Detik berikutnya ia mendongak, melihat langit-langit dapur dengan kedipan lambat.
“Udah selesai?” Safka yang sedari tadi duduk di kursi makan sembari memperhatikan Sri pun bertanya. Sebab, istrinya itu malah berdiam diri.
“Udah!” balas Sri seraya berbalik badan. Ia bersandar di wastafel, menghadap Safka sambil memasang senyum di bibirnya. Namun, tentu saja itu adalah senyum keterpaksaan. Ia tak sungguh-sungguh saat melakukannya.
“Terus, kenapa kok diam?” Safka pun berdiri dan menghampiri istrinya itu. Ia ingin tau, seberapa bisa Sri berpura-pura tersenyum di hadapannya.
“Ngga apa-apa. Emang harus selalu ada alasan kalau mau diam? Nggak dong! Masa iya, aku harus jingkrak-jingkrak, joget-joget atau lari-lari kalau udah selesai ngerjain ini? Nggak juga dong?” Sri menyunggingkan sebelah bibirnya. Tersenyum sinis pada Safka yang sudah berada di hadapannya.
“Iya, sih. Tapi kalau kamu joget sehabis nyuci, kayaknya lucu!”
Safka tergelak. Ia bertolak pinggang, menangkup mulut sampai mengusap hidung. Sedangkan Sri, justru mengernyit heran. Suaminya itu benar-benar pria yang aneh. Kadang dingin, tegas, galak. Kadang pula terlihat baik, lucu dan konyol.
“Kamu saja yang joget. Silakan!” balas Sri seraya melengos pergi dari hadapan Safka. Ia beranjak keluar dari dapur. Sebab, ruang di mana penuh oleh perabot mewah itu tiba-tiba terasa pengap. Padahal, sebelumnya biasa saja.
“Mau ke mana, sih? Lagi diajak ngobrol juga!” Safka ikut melengos, mengejar Sri keluar dari dapur. Ia menguntit, membuntuti Sri.
“Aku mau nelepon Siti. Kenapa?” Sri berbalik begitu sampai di anak tangga pertama. Ia menghadap Safka sambil memelak pinggang. Ditatapnya suaminya itu, dengan sebelah alis terangkat. “Apakah aku harus meminta izin juga? Atau, aku harus memberitahumu tentang semua yang aku rasa, yang kukatakan, dan yang kualami?”
“Ya, nggak, sih. Tapi, kalau kamu mau menelepon Bima, aku harap kamu bisa membatasi diri. Kamu itu istriku. Dan, sudah sepatutnya ... seorang istri tidak berhubungan baik dengan pria mana pun. Lebih lagi mantan!”
Helaan napas seketika ditarik panjang oleh Safka usai bicara. Ia menatap kedua mata yang menatapnya dengan lekat. Sri tampak terkejut, tapi dengan lihai menyembunyikan keterkejutannya itu. Sri membuang wajah seraya mendelik pada Safka. Ia pun sedang berusaha menenangkan dirinya yang seketika merasa takut juga.
“Aku memang istrimu. Tapi, kamu tahu betul kalau aku tidak menyetujuinya. Jadi, bukannya aku punya hak untuk bisa dekat dengan siapa saja?” Sri pun berucap. Ia kembali melihat ke arah Safka. “Jadi, please. Tolong jangan ikut campur! Terserah aku, mau menelepon siapa saja bukan?”
“Apa yang kamu lakukan, harus atas izinku. Kalau tidak, jangan coba melawan!” Seringai wajah Safka berubah dingin. Ia benar-benar tak suka kalau Sri berhubungan dengan lelaki lain. Perasaannya membuat ia cemburu.
“Kalau aku tidak menurut, kamu mau apa?” Sri berdecih. Ia merasa memiliki kesempatan untuk bicara sesuatu yang menohok. “Aku harap, kamu akan memulangkan aku!” sambungnya.
Namun, alih-alih menjawab, Safka justru berdiam diri. Ia tak mampu menjawab apa yang dikatakan Sri barusan. Ia tak mau menyakiti istrinya. Tak mau juga memulangkan istrinya. Ia amat sangat menginginkan Sri.
***
Sri bergegas naik ke atas. Ia masuk ke kamar dan langsung menuju ranjang. Di sana, ia pun benar-benar mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Namun, Safka yang telah menudingnya itu kenyataannya salah. Karena Sri, sebenarnya memang ingin menelepon Siti.
Adiknya itu pasti khawatir karena Sri tak kunjung memberi kabar setelah beberapa hari. Pun dengan bapaknya, yang Sri tak tahu, apakah masih suka berjudi atau tidak. Namun, meski begitu, ia tetap merasa yakin kalau bapaknya tak mungkin berubah dalam waktu yang singkat.
Dicarinya nama Siti. Sri pun segera menelepon adiknya itu begitu nomor ketemu. Namun, panggilan pertamanya tak diangkat. Sri mencoba menelepon Siti kembali. Barulah setelah itu, Siti menyapa lebih dulu.
“Halo, Kak. Maaf tadi nggak ke angkat. Sri lagi di dapur. Lagi bikin makanan buat Fahmi,” katanya diiringi napas tersengal-sengal. Sebab, Siti berlari dari dapur ke kamar saat mendengar nada dering panggilan.
“Hehe. Iya, nggak apa-apa. Kakak yang harusnya minta maaf karena dah dua hari nggak nelepon kamu. Kamu sama Fahmi sehat? Bapak gimana?” Sri pun bicara parau. Ia bahkan langsung menahan tangis agar suaranya tak habis.
“Sehat Alhamdulillah.” Siti pun menimpali Sri. Namun, sebelumnya ia ragu untuk menjawab. Sebab, keadaan bapaknya sekarang, justru sedang tidak sadarkan diri. Bapaknya itu masih ada dalam pengaruh minuman keras.
“Syukurlah. Kamu jaga Bapak sama Fahmi baik-baik, ya. Ingat kata Kakak, kalau kamu harus jadi anak dan kakak yang baik. Tapi, jangan lupa belajar juga. Kamu harus bisa meraih kesuksesan di masa depan,” ucap Sri. Tangis yang sedari tadi ia tahan pun tak terasa luruh juga menyusuri pipi. Hangat seketika menjalar. Namun, tidak dengan hatinya yang justru terasa dingin dan sepi.
Sri berada jauh dari keluarga untuk pertama kalinya. Dan, ia merasa amat sangat tidak nyaman. Bahkan, sekalipun dirinya berada dalam rumah mewah, sekalipun yang dimakannya makanan lezat ... perasaannya jauh dari kata nyaman dan bahagia. Ia justru merasa begitu hampa karena berada jauh dari keluarga.
Sri terisak. Namun, segera ia mengusap air matanya. "Kakak rindu kalian. Kakan mau ketemu kalian. Tapi--"
"Yang sabar, Kak. Kita pasti akan bertemu kok. Aku percaya kalau Kak Safka itu orang yang baik." Siti pun menenangkan kakaknya itu, seiring dengan perasaan sedih. Ia pun sangat merindukan Sri.