Dari balik pintu, Safka mendengar isak tangis Sri yang mengharukan. Ia mengerti dan tahu bagaimana rasanya jauh dari keluarga. Lantas merindukan mereka setengah mati. Pasalnya, Safka pun jauh dari orang tua sejak kecil, akibat perceraian mereka.
Dari balik pintu kamarnya pula, Safka menguping sampai Sri selesai bicara dalam telepon. Istrinya itu tak lagi bicara, melainkan menangis sejadinya di sana karena merasa tak ada Safka di sana. Karena, Sri merasa perlu untuk menumpahkan tangisnya itu daripada tersiksa karena menahan sesak di d**a.
Namun, hal itu seketika membuat Safka tak tega. Ia yang awalnya hanya ingin menguping, seketika berubah pikiran. Dibukanya pintu kamar seraya masuk dan menghampiri Sri. Ia bahkan langsung memeluk istrinya itu tanpa mengucapkan apa pun.
Sri meronta, keheranan. Kenapa suaminya itu tiba-tiba datang dan bahkan langsung memeluk. Padahal, saat di dapur, mereka sempat bertengkar. Ia lantas terus mendorong tubuh suaminya, karena menolak untuk dipeluk.
“Apa-apaan, sih ini? Kamu ngapain, dasar otak m***m!?” ucap Sri pada akhirnya. Ia yang sedang berusaha melepas diri dari pelukan Safka pun bergidik ngeri. Safka yang ada di hadapannya itu, barangkali sedang ingin meminta haknya sebagai suami.
Memikirkan hal itu, Sri pun sontak teriak. Ia bahkan langsung mendorong tubuh Safka dengan sekuat tenaga sampai suaminya terjengkang. “Kamu jangan karena aku berbaik hati, lantas mau seenaknya kayak gini ... aku nggak terima, ya!” teriaknya sembari menunjuk Safka.
Safka yang baru saja terjerembap itu pun kembali duduk di tepi ranjang perlahan. Ia tahu kalau Sri merasa kaget. Itu sebabnya, ia tak balas membentak atau memarahi Sri. Ia hanya menatapnya lekat, dan kemudian berucap.
“Aku tau isi pikiranmu. Tapi, kamu salah menilai apa pun tentang diriku, Sri. Tidak ada yang benar!” ucapnya, pelan tetapi tegas dan jelas. Safka menunduk sembari menyunggingkan senyuman tipis. Ia sedang mencoba meredam diri. Sebab, meski bagaimana pun perasaannya terhadap Sri, ia hanya manusia biasa yang juga memiliki ego pun emosi.
Sri terdiam. Ia benar-benar tidak berucap barang sepatah kata. Hanya saja, dalam hatinya, ia tetap memikirkan dua hal. Antara Safka yang memang baik, atau sebaliknya. Namun, seandainya pun Safka benarlah orang baik, Sri tetap merasa tidak perlu untuk mengasihi Safka. Itu bukan menjadi urusan penting baginya.
“Aku minta maaf!” Safka kembali mengangkat wajah. Tatapannya pun kembali kepada Sri, di mana istrinya itu masih saja memasang wajah ketus. Tak sedikit pun tersirat raut wajah kasihan, apalagi peduli.
Sri memalingkan wajahnya sembari menyapu air mata yang baru saja ia sadari, kalau cairan bening itu masih ada di pipi. Sri pun melipat kedua tangan di d**a, seolah ingin menunjukkan kalau ia tak kan pernah memberi maaf semudah membalik telapak tangan.
Namun, itu karena ia pikir, Safka meminta maaf karena sudah berani memeluknya. Suaminya itu pun menggeleng seraya menahan senyum di antara rasa sedih, sebelum akhirnya ia kembali berucap. Katanya, “Aku minta maaf karena sudah menikahi kamu. Aku juga minta maaf karena sudah membawamu pergi jauh dari keluarga. Dan, yang paling penting, aku minta maaf karena akan selalu memaksa perasaanmu sampai setidaknya satu bulan ke depan.”
Sri langsung berbalik seiring dengan kedua mata melebar. Ia menatap tajam. “Dasar lintah!” batin Sri, tanpa mampu menyuarakan apa yang baru saja terbersit dalam pikirannya. Ia menelan ludahnya segera setelah mendapati Safka di hadapannya. “Sudah mah nikahin tanpa persetujuan, bawa aku pergi jauh dari keluarga, dan sekarang mulai keras kepala. Tapi terserah! Seberapa pun kamu berusaha, aku tidak akan menerimamu!” batinnya lagi.
Sri mendelik dan kemudian berdiri. “Aku mau istirahat!” katanya, sengaja mengusir Safka dengan kata-kata sopan. Meski rasanya perih dan sakit, setidaknya, ia tahu di mana sekarang dirinya tinggal. Ia tak boleh gegabah, atau emosi seseorang yang sama sekali tak dikenalinya itu akan terpancing.
Dari tatapan serta suara Safka saja, Sri dapat menebak kalau suaminya itu sedang menahan marah. Itu kenapa, Sri tak berulah dengan mengeluarkan kata-kata kasar atau pun kotor. Ia berusaha setenang mungkin, meski dalam hatinya bergejolak rasa takut.
Safka menghela napas berat. Ia yang ingin menunjukkan rasa pedulinya itu tak berhasil. Yang ia dapat justru hanya tatapan tajam, prasangka buruk dan lain sebagainya. Sri benar-benar masih jauh untuk bisa didapatkan, meski barang raganya saja.
“Ya, sudah. Tapi jangan lupa shalat Ashar. Udah jam empat,” katanya seraya bangkit berdiri. Safka menatap Sri barang sejenak. Istrinya itu justru membuang muka.
“Iya!”
Sri menimpalinya dengan nada kesal. Ia bahkan berusaha menghindar saat Safka melewatinya sambil terus menatap. Lantas, ia kembali duduk setelah Safka keluar dari kamar. Ia bernapas lega setelah sebelumnya begitu sesak dan berdebar-debar.
Ponsel yang tadi digenggamnya erat pun Sri buka kembali layar kuncinya. Ia hendak membuka w******p dan melihat isi pesan dari Bima kembali. Namun, tatapannya justru tertuju pada aplikasi biru berinisial F. “f*******:?” batinnya.
Sri baru melihat itu, karena belum sempat melihat-lihat isi ponselnya dari kemarin. Ia menekannya pelan, dan kemudian muncullah sebuah akun bernama Sri Ningsih dengan foto dirinya sebagai profil. Meski tak pernah tahu bagaimana bermain f*******:, Sri pernah melihat aplikasi tersebut pada ponsel teman-temannya.
“Ini dia yang buat?” batinnya seraya melihat ke arah pintu di mana Safka baru saja keluar. Suaminya itu, mungkin sudah ada di bawah atau di ruang nonton televisi.
Dilihatnya kembali layar ponsel, Sri pun mengusap aplikasi tersebut ke atas. Ia pun baru ngeuh, yang tertera di sana adalah akun bernama Safka Bramasta. Satu, dua, tiga, Sri terus melihat satu persatu status yang dibuat suaminya itu. Sebab, memang baru satu pertemanan dalam akunnya.
Yang diupload Safka pun berupa foto-foto Sri, yang ditangkap tanpa sepengetahuannya. “Ini foto pas kita nikah. Dan, ini ... oh ya ampun. Dia ini!” kecam Sri begitu melihat foto dirinya sedang mencuci piring, dengan caption, “Istri tercinta.”
Sri mendelik seiring tawa tak mengira dari mulutnya. Ia membuang tatapannya dari ponsel dan kembali melihat layar berulang kali, dengan tawa yang sama. Ia benar-benar merasa geli, aneh, dan senang. Belum lagi saat ia melihat fotonya saat menunggu Safka di mall. Ia terbengong, dengan tatapan kosong ke depan.
“Ya, ampun. Jadi ... Selama ini dia terus mencuri foto-fotoku?” ucapnya, diselingi tawa tak mengira lagi.
Namun, saat Sri kembali melihat-lihat isi beranda dalam Facebooknya, status baru dari akun suaminya baru saja muncul. Ia mengernyit saat membacanya.
“Jatuh cinta adalah sesuatu yang mudah bagi sebagian orang. Namun, sulit pula untuk sebagian orang. Hanya saja, seberapa pun kerasnya hati, aku yakin akan melembut juga seiring dengan waktu berjalan. Syaratnya? Sabar dan terus berusaha melakukan yang terbaik! Semangat, for me!”
Membaca kata-kata yang dibuat Safka tersebut, ada rasa tak keruan yang muncul dalam diri Sri. Sebagai manusia biasa, Sri pun merasa sedikit terenyuh dengan hal itu. Mungkin, ia sudah begitu keterlaluan terhadap suami sendiri. Pikirnya.
Tatapan Sri kemudian kembali pada pintu, di mana Safka keluar tadi. Ia termenung barang sebentar sebelum akhirnya sadar, dirinya belum melaksanakan apa yang diingatkan Safka. Seger Sri pun menyimpan ponselnya itu di ranjang. Lantas, ia segera shalat.
***
Sepulang bekerja, selepas shalat Ashar, Bima yang masih penasaran akan Sri pun kembali melihat w******p. Sri baru saja aktif tiga menit yang lalu. Membuat jempol Bima seketika refleks menekan tombol panggilan. Teleponnya tersambung. Meski tak sengaja, Bima tak mengurungkannya.
Namun, panggilannya itu tidak menemukan jawaban. Sri tak mengangkatnya sama sekali. Wanita yang dicintainya itu mengabaikan panggilan. Bima menghela napas berat sembari duduk di tepi ranjang. Ia pun lantas membuka galeri dan melihat satu per satu foto Sri yang tak satu pun ia hapus.
“Kamu apa kabar? Kenapa pesanku tak kunjung kamu balas? Aku telepon pun kamu tak angkat? Bukannya kita sudah sepakat, untuk saling memberi kabar? Please! Jangan pergi dari hidupku!” ucapnya, seraya mengusap wajah cantik yang tertera di kayar ponselnya dengan telapak ibu jari.