Kerja Sama

1631 Kata
Sri memeluk erat ponselnya setelah membaca pesan dari Bima. Bukan ia tak ingin membalas pesan dari kekasihnya itu. Hanya saja, kesempatan yang ia beri untuk Safka membuatnya ingin benar-benar memberi kesempatan, dengan tidak membuka hati untuk Bima terlebih dahulu. Meski cinta dan kasih sayangnya masihlah untuk Bima. Namun, sebagai perempuan dewasa, ia pun paham akan sebuah aturan. Selain karena statusnya yang telah menjadi istri seseorang, memberi kesempatan pada seseorang, tentu dirinya harus menjaga hati dan juga diri. Diabaikannya pesan dari Bima. Ia bahkan telah menghapus pesan tersebut seiring dengan sakit, yang seketika terasa menusuk d**a. Sesak bahkan langsung menjalar dan membuatnya merasa kehabisan napas untuk sesaat. Cinta sepihak dan juga pernikahan tanpa rasa benar-benar membuatnya merasa gila. Melihat kembali barang yang dibelikan Safka, Sri pun menyimpan ponselnya itu di meja. Lantas ia meraih dan menyimpan satu per satu barang ke tempatnya. Namun, baru saja Sri menyimpan beberapa pakaian ke dalam lemari, pintu kamarnya diketuk Safka. “Aku boleh masuk?” Safka pun meminta izin. Tidak seperti biasa, yang selalu masuk bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dahulu. “Masuk lah,” balas Sri seraya menghapus sisa air di matanya. Ia sedang tidak ingin berdebat, sehingga membiarkan suami itu masuk dengan kata-kata yang baik. Safka membuka pintu perlahan seraya mencondongkan kepalanya sedikit sebelum masuk. “Aku nggak ganggu, kan?” tanyanya seraya melangkahkan kaki ke dalam. “Nggak. Masuk aja.” Sri bahkan memasang senyum tipis di bibirnya, saking tak ingin memancing keributan seperti biasanya. “Ok!” Safka yang merasa telah memiliki izin masuk itu pun langsung melangkahkan kakinya lebih cepat ke arah Sri, di mana istrinya itu berdiri di depan lemari. “Makasih,” ucap Safka seraya membuka pintu lemari, tempat di mana semua pakaiannya ada di sana. Lantas, ia mengambil semua pakaian dan menyimpannya di ranjang. “Kok, dikeluarin?” Sri yang berdiri di sana pun keheranan. Ia bahkan meraih tangan Safka untuk pertama kalinya. Safka yang baru saja akan kembali mengambil pakaiannya itu pun urung, dan menghentikan apa yang sedang dikerjakannya. Ia berbalik menghadap Sri yang seketika melepas tangannya dari tangan Safka. Sri berdeham. “Maaf. Aku hanya bingung, kenapa kamu mengeluarkan pakaianmu dari sini?” ucapnya, bertanya lagi. “Nggak apa-apa. Memang aku yang salah karena nggak ngomong dulu.” Lelaki yang di bibirnya melengkung seulas senyum itu pun mengusap lembut kepala Sri. Sri yang kedua tangannya bertaut seketika terlepas, kaget. Ia bahkan sampai menelan ludah karena gugup. Lelaki di hadapannya benar-benar membuat ia salah tingkah. “Oh, iya.” Sri melangkahkah mundur barang selangkah. Sedikit mundur dari dekat Safka, agar tak terlalu membuatnya sesak. “Lalu?” tanyanya. “Aku mau bawa bajuku ke kamar sebelah. Biar kalau pagi atau pun malam, aku nggak mesti ganggu kamu,” jawabnya sembari tersenyum lagi. Kemudian, Safka kembali menurunkan pakaiannya. Sri tak menjawab. Ia lebih ke bingung harus berucap apa, karena Safka keluar dari kamarnya pun gara-gara dirinya. Begitu juga sekarang, suaminya itu akan memindahkan semua pakaian dan barangnya ke kamar lain karena dirinya. “Malah bengong! Mau bantuin aku nggak?” Safka pun kembali memancing obrolan, agar kaku di antara keduanya tak semakin membeku. “Eh, iya!” sri pun langsung membantu Safka, meski ia tak tahu, apa yang harus ia kerjakan setelah mengeluarkan pakaian suaminya itu. Safka tersenyum lebar saat Sri mau membantunya. Ia bahkan menyambung ucapannya, agar Sri tak kembali diam. Meski masih merasa kurang nyaman, Sri berusaha untuk menjawab dengan tenang sampai akhirnya, pakaian Safka tak ada lagi dalam lemari. “Banyak juga ternyata bajunya,” ucap Safka seraya memelak pinggang dan menghadap ranjang yang dipenuhi oleh pakaiannya. “Banget! Kalau dibanding bajuku, sungguh hanya seujung kuku,” timpal Sri sambil tertawa. Ia bahkan sampai merasa kikuk setelahnya. “Ketawaku kekencangan, ya?” tanyanya pada Safka, yang saat ia ketawa langsung mengernyitkan wajah. “Nggak, sih. Cuma suka aja liat kamu ketawa gitu. Biasanya kan kalau nggak diem aja, hobinya ngomel.” Safka meledek seraya mengambil setumpuk baju yang muat didekapnya. “Aku bawa ke kamar dulu, ya,” sambungnya. Sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Sri tak mengamuk setelah ia meledeknya. “Perlu aku bantuin?” tawar Sri seraya menyengir lebar. Entah kenapa, berusaha tenang sedari tadi membuat perasaannya jauh lebih baik. Meski masih tak ada cinta untuk Safka, setidaknya, rasa benci dan juga kesal terhadap suaminya itu seolah hilang untuk sesaat. “Wah, boleh banget dong! Lebih cepat, lebih baik kayaknya.” Safka melengos sambil berucap, membalas tawaran Sri. Senang betul dirinya, karena Sri yang tadi sempat marah-marah, sekarang justru bersikap sedikit hangat. “Oke!” timpal Sri seraya mengekor, mengikuti ke mana Safka pergi sambil membawa sedekap pakaian Safka. Kedua belah sudut bibir tanpa pewarna itu menyungging tipis. Ia sama sekali tak mengira, melapangkan hati akan terasa begitu menenangkan untuknya. “Jadi, sekarang kita tidur bersebelahan. Kamu nggak perlu parno h kalau lampunya tiba-tiba mati. Atau, ada baiknya kamu belajar tidur dalam keadaan kamar gelap, deh. Takut gelapnya pasti hilang.” Sebelum masuk ke kamarnya, Safka berbalik lebih dulu menghadap Sri yang seketika berhenti juga. Ia menyunggingkan bibirnya julid, seraya menggerakan sebelah alis. “Dih!” Sri pun langsung merengut. Meski, tak benar-benar kesal. Sekarang, ia tahu sedikit dari karakter Safka. Bahwa, suaminya itu hobi bercanda. Safka pun tergelak melihat ekspresi Sri. Ia lantas berlari kecil, masuk ke kamar untuk menghindari amukan Sri yang ternyata tidak terjadi. Istrinya itu hanya menggeleng dan kemudian mengikuti Safka kembali. “Beres-beres yang bener. Jangan bercanda mulu!” Sri pun bicara, setelah meletakkan pakaian Safka di ranjang. “Kamu masukin ke lemari, biar aku yang angkut bajunya ke sini, ya?” sambungnya. “Eh, nggak!” balasnya yang seketika mencegah langkah kaki Sri. “Ya?” Sri yang sudah berbalik pun, kembali menghadap Safka. “Apa?” tanyanya. “Biar aku yang angkut bajuku ke sini. Kamu beresin ke lemari aja biar nggak capek bola-balik,” jawab Safka sambil menyusul Sri yang sudah dekat dengan ambang pintu. “Oh. Okai!” Sri pun kembali ke dekat ranjang, dan mulai memasukkan pakaian Safka dengan hati-hati agar tak berantakkan. Sedangkan baju yang rusak dari lipatannya, ia melipatnya kembali. Ini adalah kali pertama Sri masuk ke kamar lain di lantai atas. Tak ada yang beda dengan kamar yang ia tempati sekarang. Pandangan Sri mengedar setelah ia menyelesaikan pakaian terakhir, melihat ke seisinya yang hanya ada ranjang, lemari dan meja kerja. Lalu, satu kamar mandi ada di dalamnya juga. Barulah saat Safka kembali datang, ia langsung membereskan pakaian suaminya lagi k dalam lemari. “Masih banyak?” tanyanya, tanpa melihat ke arah Safka yang baru saja akan kembali ke kamar Sri. “Lumayan. Kayaknya sih tiga apa empat balik lagi. Kenapa? Kamu capek?” Safka pun balik bertanya, karena takut membuat istrinya itu kelelahan. Padahal, ia sudah dengan sengaja memulangkan Ranti dan Shanty dulu, agar seluruh pekerjaan rumah dikerjakan olehnya bersama Sri. “Eh, bukan! Bukan gitu!” Sri pun langsung berbalik menghadap Safka. “Aku cuman nanya aja,” sambungnya sambil menyengir dan menautkan kedua tangan. Hal yang selalu ia lakukan saat tiba-tiba merasa kikuk. “Oh, ok. Kalau gitu, aku ke kamarmu lagi, ya?” Sambil menyengir juga, Safka melangkah mundur. Ia tiba-tiba saja enggan berbalik untuk membelakangi Sri. Sebab, wajah yang saat ini i tatap begitu memesona. Sri mengangguk dan seketika berbalik lebih dulu. Ia hendak menyembunyikan senyumnya yang terasa hangat di pipi. Sikap Safka kali in, membuatnya benar-benar merasa dihargai. Tidak seperti biasa yang selalu saja menjahili. Beberapa menit berlalu, pakaian Safka pun selesai Sri masukan ke dalam lemari. Ia keluar dari kamar bersama Safka, dengan niat hati ingin segera mandi. Namun, ternyata, masih ada barang yang harus dipindahkan dari kamarnya. “Kamu mau pindahin itu juga?” tanya Sri, seraya menunjuk semua barang yang tertata rapi di meja. Bingkai foto, jejeran buku dan beberapa barang lain yang menjadi koleksi Safka. Ia bertanya, sebab mungkin, ia akan pergi setelah satu bulan berlalu. Dan, kamar yang ditempatinya akan kembali ditempati Safka. “Apa perlu?” tanyanya lagi. “Sebenarnya sih, nggak. Cuma kalau semisal mengganggumu, ya mending aku bawa aja.” Safka menyunggingkan bibirnya kikuk. Alasa yang baru saja ia katakan, benar-benar tidak banget. “Masa barang kayak gitu mengganggu aku? Malah, kalau boleh jujur, aku suka baca.” Sri pun menoleh, melihat tumpukkan buku di meja. Sejak kemarin, ia sangat ingin membacanya. Namun, rasa kesal dan benci terhadap Safka membuatnya enggan untuk melakukan hal yang sebenarnya mudah dan simpel saja. Jangankan untuk menyentuh arang-barang Safka, melihatnya pun ragu-ragu. “Yang bener? Kalau iya aku nggak bakal pindahin.” Safka memastikan dan seketika melangkah menuju meja di mana buku-bukunya tertata rapi di sana. “Ya!” balas Sri. Senyum pun seketika mengembang dari bibirnya. Senang, karena akhirnya, ia mempunyai kegiatan baru selain beres-beres rumah untuk satu bulan ke depan. “Hm.” Safka yang telah berdiri di depan lemari bukunya itu pun melihat satu per satu judul yang tertera di sampul. “Aku punya satu novel seru, yang aku yakin, kamu pasti suka,” sambungnya. “Apa tuh?” Sri mendekat dan berdiri di samping Safka. Ia ikut melihat-lihat. “Ini!” Safka pun langsung mengambil buku yang baru saja ditemukannya. Lantas, ia segera menyerahkannya pada Sri. “Baca, deh. Genre romance comedy yang dijamin ngocok perut dan hati.” Ia menambahkan setela bukunya diambil Sri “Ada Cinta di Dalam Rumah,” ucap Sri, membaca judul buku tersebut. “Ya!” Safka langsung menyengir. Pasalnya, cerita dari judul tersebut benar-benar persis seperti apa yang terjadi dalam hidupnya. “Baiklah. Nanti malam, aku mulai baca bukunya.” Sri langsung memeluk buku tersebut, sembari tersenyum pada Safka. Senyum yang tanpa ia sadari, mengembang lagi dan lagi sedari tadi. “Kenapa nggak sekarang aja?” Seolah tak ingin mengakhiri obrolan, Safka berucap lagi. Ia, bahkan tak menyadari adanya waktu yang terus berjalan. “Bentar lagi Maghrib. Dan, aku belum mandi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN