Duduk bersandarkan kedua tangan di tepi ranjang, Safka memandang langit-langit kamar. Kedua belah sudut bibirnya yang merah kehitaman menyungging, tersenyum membayangkan sosok Sri yang tadi membantunya. Untuk pertama kali setelah tinggal di bawah atap yang sama selama tiga hari, ia pun melihat senyum dan tawa tulus dari istrinya itu.
Padahal, ia pikir, akan sulit dan butuh waktu lama untuk membuat Sri berlaku demikian. Terlebih, sebelumnya mereka bertengkar hanya karena masalah sepele. Namun, ternyata Sri pun bijak dalam berpikir.
Dihelanya napas lega sembari mengedarkan pandangan. Kamar yang mulai malam ini akan ia tempati sudah rapi, berkat bantuan Sri. Pakaian yang ia bawa telah berada dalam tempatnya. Pun dengan barang-barangnya yang sebagian ia bawa, telah tertata di atas meja.
Safka tertawa kecil sembari menundukkan kepala. Ia amat sangat merasa lucu, karena apa yang ia alami sungguh seperti dalam sebuah cerita saja. Di mana-mana, orang yang sudah menikah itu tidur bersama dengan bahagia. Sedang dirinya justru tidur terpisah dan bahkan saban hari bertengkar saja. Tak ada kata romantis saat menjelang dan bangun tidur, tak ada pula pelukan atau kecupan saat hendak berangkat kerja.
Namun, Safka tetap mensyukurinya. Ia bahkan menerima apa pun yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Sebab, ia tahu betul kalau itu adalah karena kesalahannya.
Meski tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang. Namun, memaksa seseorang untuk dinikahi adalah sebuah kesalahan besar. Safka harus menerima konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Termasuk juga berjuang untuk mendapatkan cinta dan simpati Sri.
“Aku adalah orang yang tidak mudah menyerah. Apa pun yang aku mau, aku harus mendapatkannya. Apa pun itu, termasuk juga dengan cintamu, Sri.”
Safka yang telah merasa bosan karena sedari shalat isya hanya duduk-duduk sendiri saja pun berdiri. Lantas dirinya ingat, kalau perutnya itu belum terisi lagi sejak makan bersama Sri sore tadi.
“Dia kalau kuajak makan ke luar, mau nggak kira-kira, ya?” batinnya seraya melangkah menuju lemari berpintu cermin. Ia berdiri memandang pantulan diri, seraya melihat penampilannya sendiri. “Dah cakep gini, harusnya sih ya jalan.”
Segera Safka pun pergi, ke luar dari kamarnya menuju kamar Sri. Ia sudah merasa lapar, sehingga berpikir kalau Sri pun akan merasakan hal yang sama.
Namun, baru saja Safka hendak mengetuk kamar istrinya itu, Sri keluar dari sana. Keduanya seketika bergeming kaget, dan saling terpaku satu sama lain dalam beberapa detik.
“Mau ke mana?” Safka pun akhirnya bersuara. Ia bertanya lebih dulu, sampai akhirnya Sri pun mengerjap dan gelagapan. Padahal, sore tai, mereka tela merasa nyaman satu sama lain.
“Itu, aku mau nonton TV. Abisnya nggak bisa tidur.” Sri pun menyengir dan seketika melangkahkan kakinya. Maju dan membuat Safka mundur, memberi jalan.
“Nggak lapar gitu?” Safka bertanya lagi seraya mengikuti Sri yang ia biarkan berjalan lebih dulu ke ruang keluarga.
“Oh, iya. Kamu lapar, ya? Mau aku buatin apa?” Sri pun akhirnya berbalik dan menghadap Safka yang seketika berhenti berjalan.
“Kalau makan di luar, mau nggak kamu?”
***
Sri bercermin setelah memakai gaun yang Safka beli pagi tadi. Ia memandang dirinya lagi, yang seketika berubah cantik dan elegan penampilannya. Selengkung merah muda itu tersenyum, mengagumi sosok diri yang baru.
Diusapnya rambut sepinggang yang baru saja selesai Sri sisir. Lantas ia berputar sehingga gaunnya membentuk payung, karena gerakan cepat yang ia buat. Hatinya, benar-benar merasa hangat, sehingga mencipta debar hebat pada jantung.
Ajakan makan malam di luar yang tadi Sri setujui, membuatnya sedikit merasa gugup. Ini adalah kali keduanya keluar bersama Safka, setelah tadi jalan-jalan ke luar. Entah itu akan membuatnya nyaman seperti saat mereka membereskan pakaian bersama. Atau sama canggung seperti yang selalu terjadi.
Tok tok!
Pintu kamar Sri diketuk dari luar. Ia tahu kalau itu adalah Safka, suaminya yang sama sekali tak ia cinta. Namun, segera Sri membuka pintu dan berdiri malu-malu di hadapan lelakinya itu.
“Kamu dah siap, kan?” Safka yang se per sekian detik bergeming karena terpesona itu pun berucap, bertanya yang jelas-jelas sudah terlihat jawabannya. Sri begitu cantik dengan gaun yang ia beli tadi pagi.
“Udah,” timpal Sri, lembut dan pelan. Ia mengangkat tangan dan menyelipkan anak rambut yang menghalangi pandangan ke balik telinga.
Melihat Sri tersenyum malu, ia pun tertular sehingga ikut merasa malu dan gugup sendiri. Kata yang biasa ia lontarkan sebagai candaan pun seketika terasa sulit untuk diucapkan.
“Ok.” Safka berdeham dan seketika mempersilahkan Sri untuk jalan lebih dulu. Meski, sebenarnya, ia ingin menggandeng tangan istrinya itu.
Sembari menyunggingkan senyumnya lagi, Sri pun melangka pelan. Ia melewati Safka seiring dengan perasaan berdebar. Pun seiring dengan rasa yang belum pernah ia rasakan, sekali pun itu pada Bima yang jelas-jelas adalah kekasihnya.
Benih-benih cinta telah muncul. Namun, Sri tak menyadarinya sama sekali. Ia bahkan tak tahu, yang dirasakannya itu adalah karena perasaannya mulai luluh pada perhatian Safka. Sebab, terhadap Bima, yang ia tahu adalah lelaki itu mencintai, menyayangi, dan perhatian terhadapnya.
Namun, tak mendapati suara Safka di belakangnya, Sri pun menoleh. “Om, kok malah diam? Ayo!” ajaknya, heran. Sebab, suaminya itu malah terbengong menatap Sri dari belakang.
“Eh, iya ayo!” Sambil menyengir, Safka pun bergegas menghampiri Sri. Dan, tangannya seketika refleks meminta Sri untuk digandeng.
Setelah Safka yang terkesima akan kecantikan Sri, sekarang giliran Sri yang seketika bergeming saat Safka meminta tangannya untuk digandeng. Sri menatap sebelah tangan Safka yang memelak pinggang, tak mengerti.
Safka pun mengerakkan tangannya itu, meminta tangan Sri dengan gerakan. Sri masih tak paham, sehingga akhirnya Safka yang mengerti kalau istrinya itu sudah pasi tidak mengerti.
“Aku tau kalau kamu itu berasal dari kampung. Tapi, apa iya nggak pernah nonton film dengan adegan kayak gini?” ucap Safka seraya kembali menggerakkan tangannya yang berpelak pinggang itu.
Sri menundukkan wajahnya lagi, melihat tangan Safka. Dan, otaknya pun seketika bekerja. “Ya, ampun. Iya-iya, aku paham!” ucapnya malu-malu, bahkan sambil tertawa kecil. “Habisnya kamu nggak ngomong. Kan, aku jadi nggak paham!” ucapnya lagi, masih diselingi tawa kecil. Ia benar-benar merasa malu.
“Apa coba kalau memang dah paham?” Safka mengangkat sebelah tangannya, menggoda Sri.
“Gandengan?” tebaknya sambil menyengir. Ia bahkan langsung menyelipkan tangannya itu di lengkungan tangan Safka, perlahan.
“Cakep!” Safka pun ikut tergelak, dan seketika membawa Sri berjalan.
Kecanggungan yang sempat menahan keduanya bicara itu pun berubah. Sri dan Safka dapat mencairkan suasana kikuk dengan cepat. Sri tetap dengan gayanya yang ceriwis, dan cepat kalau sedang bicara. Sedangkan Safka dengan gayanya yang julid.
Menuruni tangga berdua layaknya pasangan pengantin pada umumnya, Safka dan Sri berulang kali menoleh dan saling menatap, yang kemudian disusul gelak tawa. Apa yang dilakukan mereka adalah sesuatu yang menggelikan, tetapi tetap dilakukannya karena dorongan dari dalam hati.
“By the way, kamu mau makan apa?” Setelah hanya saling melempar tawa, Safka pun bertanya begitu sampai di ambang pintu ke luar. Ia menghentikan langkahnya dulu di sana, menatap Sri.
“Apa aja lah.” Sri menyengir. Karena selain nasi goreng yang selalu Sri beli saat malam bersama Bima, tak ada makanan lain lagi.
“Kok, apa aja lah? Bilang aja, kalau mau apa mah.” Safka pun melanjutkan langkah kakinya. Ia langsung menuju mobil yang terparkir di halaman. Ia memang beluk sempat memasukkannya ke garasi.
“Aku nggak tau soalnya.” Sri tertawa kecil. Sungguh perbedaan yang amat besar jika dibandingkan dengan Safka. Suaminya itu, bahkan mungkin tahu ... makanan Korea yang selalu ingin ia cicipi.
“Oke. Kalau gitu biar aku katakan satu-satu, ya.” Di sampai mobil, Safka melepas gandengannya. Lantas ia membuka pintu mobilnya itu untuk Sri. “Tapi, masuklah dulu.”
“Siap, Om!” balas Sri seraya masuk ke mobil. Ia menahan tawa karena melihat ekspresi Safka yang seketika BT karena dipanggil Om.
“Bilang Mas kek.” Safka pun komplain. Tak terima karena selalu saja dipanggil Om.
“Nggak. Om lebih enak manggilnya!” Sri pun menimpali seraya duduk dengan tenang di dalam mobil. Ia bahkan tak melihat Safka lagi. Tatapannya fokus ke depan, sembari menahan tawa.
“Ish!” Rutuk Safka seraya menutup pintu. “Kapan coba, dia mau memanggilku dengan sebutan Mas? Masa Om terus? Dikira dia ponakanku sih masih mending. Coba kalau aku dikira bawa-bawa gadis di bawah umur? Kan, repot urusannya. Bikin malu pula!” Ia mengomel lagi.