Dengan sepatu kacanya yang Sri pakai, ia melangkahkan kaki keluar dari mobil. Tak ada siapa pun yang Sri lihat di parkiran, kecuali Safka dan seorang satpam. Rasa gugup yang sedari rumah telah berhasil ia singkirkan, seketika kembali hadir.
“Ini restoran apa kuburan? Sepi amat!” ucap Sri pada Safka yang baru saja membukakan pintu untuknya. Ia mengedarkan pandangan sekali lagi, dan memang tak salah lihat. Tak ada siapa-siapa di sana.
“Ya, restoran lah, Sri. Masa kuburan? Aneh-aneh aja sih kamu. Ayo, ah. Aku dah lapar banget tau!” Safka pun segera meraih jemari Sri. Ia menarik dan membawa istrinya itu ke dalam.
Sri terperanjat begitu Safka menggenggam tangannya. Namun, segera ia mengontrol diri agar menanggapi hal semacam itu adalah sesuatu yang memang dilakukan setiap pasangan. Hanya saja, begitu Safka membuka pintu restoran, ia kembali terperanjat kaget.
Sri pernah melihat hal semacam itu di televisi. Seorang lelaki dengan sengaja menyewa sebuah restoran hanya untuk mengundang kekasihnya makan malam di sana. Bahkan tak hanya itu, restoran yang dibuat sepi dalam semalam itu juga dihias sedemikian cantik. Ada rangkaian bunga di sekelilingnya, kerlip lampu dalam bentuk bulan dan bintang pun memberi cahaya remang dalam suasana gelap. Belum lagi seorang pemain musik yang memainkan biola tak jauh dari meja yang juga telah disiapkan.
Sri terbengong setelah terperanjat kaget. Betapa yang ia lihat benar-benar seperti apa yang ia lihat dalam sebuah film. Restoran yang baru saja didatanginya itu tampak seperti ruangan khusus untuk dirinya seorang.
“Ayo, Sri!” Safka pun menyikut istrinya itu sambil tersenyum tipis. Ia tahu kalau Sri sedang merasa kaget. Namun, ia tetap menggoda dengan menyenggol Sri juga.
“Bentar dulu, Om!” Sri yang sedari masuk langsung terbengong pun menoleh pada Safka. Ia menelan ludahnya cepat sebelum kembali bicara. “Ini kenapa sepi gini? Restoran kan biasanya ramai. Mana gelap kayak gini pul. Nanti makannya apa nggak bakal salah masuk?”
Safka tergelak melihat ekspresi Sri yang lucu sekaligus menggemaskan. Jika seorang gadis akan senang diberi kejutan, Sri justru tampak sedang merasa aneh dan bingung. Istrinya itu bahkan mencubit Safka.
“Sakit, Sri!” Safka pun meringis sembari mengusap pinggang yang baru saja dicubit Sri.
“Ya, lagian ... ditanya bukannya jawab malah ngakak! Kali, aku cuman lagi mimpi juga!” timpal Sri seketika.
“Dah lah jangan banyak tanya. Sekarang mending kita duduk, dan nikmati saja makan malamnya. Kamu pasti suka!” balas Sri seraya menarik sebelah tangan Sri lagi. Ia membawa istrinya itu ke salah satu meja yang di atasnya telah dihias dengan lilin dan setangkai bunga mawar putih.
“Suka, sih, suka. Tapi kan kamu tau, aku nggak bisa tenang kalau gelap gini!” Sri pun berbisik. Sedang tatapannya masih mengedar sesekali untuk memastikan tidak adanya hantu atau apa pun yang menakutkan di sana.
“Gelap gimana? Segini masih bisa ngeliat apa pun lah. Bahkan, tahi lalat di sudut bibirmu aja aku bisa liat!” Safka tergelak lagi seraya menghentikan langkah kaki. Mereka telah sampai di samping meja. “Duduk,” sambungnya seraya menarik salah satu kursi.
Sri menuruti apa yang dikatakan Safka. Ia pun duduk, masih dengan pandangan was-was. Takut kalau-kalau kejutan yang diberikan Safka hanyalah jebakan dalam sebuah rencana penculikan. Namun, di sana, ia sama sekali tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
“Bentar lagi makanannya datang. Jangan gugup kayak gitu kenapa? Lagian, kamu ini takut kenapa?” tanya Safka yang baru saja duduk di hadapan Sri. Ia lantas membuka kancing jasnya, agar tak merasa engap saat duduk.
“Takut diculik lah!” Sri bicara, tanpa ragu. Tak peduli, sekali pun apa yang diucapkannya itu akan menyinggung Safka.
Namun, alih-alih tersinggung, Safka justru tergelak lagi. “Culik hidungmu!” ucapnya. Ia tersenyum begitu melihat pelayan restoran datang membawa hidangan. “Datang juga akhirnya. Makasih, ya, Mbak. Tapi, Mbak... tolong bilangin istri saya dong, kalau ini tuh restoran beneran, bukan tempat penyekapan,” sambungnya sembari menahan tawa.
“Aih!” Sri pun menendang kaki Safka di kolong meja. Malu, karena apa yang mereka bicarakan, justru disampaikan pada pelayan.
Wanita berpenampilan seksi itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum, menanggapi sembari menaruh satu per satu hidangan di meja pelanggan. “Silakan dinikmati selagi hangat,” katanya, yang seketika melengos pergi setelah Safka mengucapkan banyak terima kasih kembali.
“Si, Om bener-bener, ya! Masa, apa yang aku bilang, dibilangin lagi ke orang?” omel Sri seraya memasang wajah cemberut. Sebenarnya ia tak kesal-kesal banget. Hanya saja, ia ingin bersikap demikian untuk membuat Safka tidak melakukan hal serupa.
“Ya, lagian kamu juga aneh. Diajak makan, dikasih kejutan, aih ... malah bilang takut diculik! Coba dipikir, buat apa aku nyulik kamu? Kan, kamu udah jelas ada sama aku, jadi istri aku, apa lagi?” Safka pun mengeluarkan apa yang ada dalam isi kepalanya. Berharap, Sri tidak lagi berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.
“Iya, juga, ya? Ngapain kamu nyulik aku di sini, sedangkan kamu udah nyulik aku dari Bapak!” Sri menghela napas panjang seraya kembali memasang wajah manis. Lantas, seolah tak berdosa, ia pun langsung memakan makanan bagiannya. “Wah, enak!” Ia pun terbelalak, seraya menebar senyum pada Safka.
“Hilih!” gumam Safka seraya mencicipi makanannya juga. Apa yang ia makan adalah makanan sehari-harinya. Meski enak, tapi tak sebegitu terkesimanya seperti Sri.
“Kan, enak, kan?” Sri berucap lagi seraya melebarkan senyumannya. Ia pikir, ia baru saja membuat Safka kesal. Ia harus membuat Safka senang kembali. Salah-salah, Safka akan meninggalkan Sri di sana.
“Iye, Sri. Iye!”
“Yang ikhlas napa?” Sri menggoda lagi. Ia yang sebenarnya hobi bicara, akhirnya belajar bagaimana cara menggoda orang dari Safka.
“Ini juga ikhlas, Sri. Kalau nggak, udah pulang aku!” Safka menahan tawanya dengan terus mengunyah daging yang baru saja ia masukan ke dalam mulut.
“Itu, sih pundung namanya!” Sri tertawa pelan, di sela-sela mengunyah. “Tau pundung nggak?” tanyanya.
“Nggak. Apaan emang?” Safka melihat istrinya itu. Sedang mulutnya berhenti mengunyah barang sebentar.
“Merajuk kalau kata Upin dan Ipin mah!” Sri tergelak lagi. “tapi, omong-omong, ini sih nggak bakal bikin kenyang, Om. Masa, makannya daging doang? Nasinya mana?” Sri pun melihat apa yang terhidang di meja. Di sana hanya ada dua porsi daging barbeque, dua porsi udang saus asam manis pedas.
“Aih!” Safka sampai terbatuk saat mendengar Sri menanyakan nasi. “Aku lupa, kalau makanmu itu adalah nasi.”
“Lha, emang kamu nggak makan nasi? Makan emang nasi kan?” Sri terheran.
“Ya, iya. Tapi di sini nggak ada nasi. Kebanyakan orang kalau makan malam ya makan ginian aja udah. Tapi kalau kamu mau, biar aku pesankan dulu,” katanya.
“Nggak! Biarin aja kek gini kalau emang nggak ada mah. Tapi, satu porsi lagi boleh lah,” balas Sri sembari menunjuk daging dalam piringnya.
“Dagingnya, udangnya, apa keduanya?” goda Safka yang akhirnya paham, kalau Sri doyan makan.
“Kalau boleh dua-diuanya, sih ya dua-duanya aja!” Sri membalas, meski sebenarnya merasa malu. Namun, jika Safka memang ingin membutanya jatuh cinta dalam satu bulan, ia harus membuat Safka ilfil terhadapnya dalam satu bulan ini.
“Serius? Apa nggak bakal kekenyangan?” Safka pun terbelalak. Tak percaya, kalau Sri akan mampu menghabiskan makanan sebanyak itu.
“Nggak. Aku kan emang nggak pernah makan daging sama udang. Jadi, mumpung bisa, aku mau puas-puasin makan keduanya selama di sini. Bulan depan, belum tentu bisa, kan?” Sri menyengir, dengan kunyahan masih ada di dalam mulut.
Safka sedikit merasa risi dengan hal tersebut. Karena wanita kebanyakan yang ia temui adalah gadis yang menjaga penampilan dengan mengatur pola makan. Namun, rasa cinta dan sayangnya terhadap Sri membuat ia memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang lucu saja.
“Kalau aku sih yakin, bulan depan kamu masih bisa makan makanan kayak gini.” Safka menantang, kalau apa yang diucapkan Sri justru salah.
“Itu, sih, maunya kamu, Om. Iya, kan?” Sri mendelik.
“Iya lah. Iya, dong!”
***
Kenyang dengan empat porsi hidangan, Sri sendawa di hadapan suaminya itu. Ia menangkup mulut, pura-pura merasa malu padahal amat sangat disengaja. Sengaja agar Safka merasa ilfil terhadapnya.
“Aku keceplosan!” ucap Sri sambil menyengir. “Maaf, ya!” sambungnya seraya mengambil minum dan menenggaknya langsung.
“Astaga, Sri. Pelan-pelan!” Safka pun langsung mengambil tisu karena Sri terbatuk, tersedak oleh minumannya sendiri.
“Iya, iya.” Sri tertawa pelan setelah batuknya berhenti. Ia juga mengambil tisu yang disodorkan Safka segera untuk melap sedikit air di bawah bibirnya. “Kamu tepat banget, Om. Nyewa tempat ini untuk kita makan berdua aja. Coba kalau di sini banyak orang, aku pasti udah malu-maluin banget, kan? Katrok gini!” ucapnya lagi.
“Nggak lah. Apanya yang malu-maluin. Orang makan nggak sama nasi emang nggak bikin kenyang. Dan sendawa, aku juga sering sendawa kok.” Safka masih dalam tahap menerima keadaan Sri. Apa pun, siapa pun, ia pikir memang ada sisi baik dan buruknya. Tak terkecuali Sri, juga dirinya sendiri.
“Nih, orang nggak ada ilfil-ilfilnya perasaan!” batin Sri seraya berdeham-deham. “Heran!”
“Tapi kamu udah kenyang, kan?” Safka justru menggoda Sri sambil tersenyum. Barangkali, Sri memang belum merasa kenyang.
“Udah sendawa gini loh aku. Kita pulang aja, yuk? Dah malam juga kayaknya ini.” Sri pun mengedarkan pandangan, mencari jam. Namun, ia lupa kalau dirinya sedang ada di ruangan dengan cahaya temaram saja.
“Di sini nggak ada jam. Ngapain celingukan?” Safka usil kembali. Ia lantas melihat jam di tangannya. “Tapi memang dah larut banget, sih. Sekarang dan jam sepuluh lebih. Bentar lagi juga setengah sebelas,” katanya.
Sri menyengir dan lalu mengambil ponsel dari tasnya. Namun, belum sempat ia melihat jam dilayar, seseorang meneleponnya.
“Siapa?” Safka sigap dan refleks bertanya begitu ponsel istrinya itu berdering.
“Temen,” balas Sri sambil menyengir lagi. Ia bingung, tak tahu cara menutup telepon agar tidak berbunyi lagi.
“Angkat dong.” Dari feelingnya, Safka tahu kalau Sri menerima telepon dari Bima.
“Nggak usah lah biarin aja. Sekarang mending kita pulang, yuk?” ajaknya, seraya bangkit berdiri.
“Iya, ayo. Tapi angkat lah dulu teleponnya. Siapa tahu penting?”
Safka pun menatap Sri, sambil tersenyum. Seolah dirinya tidak merasakan kecurigaan apa pun. Padahal, selain curiga Safka juga cemburu. Hanya saja, ia merasa belum perlu untuk melarang Sri dalam hal apa pun, termasuk masih menerima pesan dari mantannya. Sri belum bisa menerima pernikahan mereka. Ia tak mau membuat Sri merasa benci padanya karena dikekang atau dilarang.
Sri menghela napas panjang seraya duduk kembali. Lantas ia mengangkat telepon dan menyapa lebih dulu. “Halo,” ucapnya.
..............................