Sebelah tangan Sri memegang ponsel dan menempelkannya di telinga. Sedang sebelah tangannya memilin baju di bawah meja. Ia takut sesuatu akan terjadi, kalau saja Safka tahu, siapa yang meneleponnya itu. Bahkan, Sri tak berani menatap suami yang sekarang tengah memandang memerhatikan.
“Ada apa, ya?” Sri pun kembali berbicara, setelah Bima membalas sapaannya. Ia melirik Safka sekilas sebelum akhirnya menjatuhkan pandangan ke meja.
“Kamu ke mana aja? Aku chat kenapa nggak dibalas-balas? Aku cemas, takut kamu kenapa-kenapa.”
Suara Bima terdengar khawatir di telinga Sri. Lelaki di seberang telepon itu bahkan hampir menangis, karena merasa senang bercampur sedih. Ia senang karena bisa mendengar suara Sri lagi. Namun, ia juga sedih mengingat keduanya dipisahkan jarak dan status.
“Maaf, ya. Tapi aku baik-baik aja, kok. Jangan cemas. Kamu gimana?” tanyanya, dengan suara pelan. Sri harap, Safka tak mendengar pertanyaannya barusan.
Namun, suasanya hening di dalam restoran membuat suara Sri tetap terdengar oleh Safka. Lelaki berwajah rupawan itu hanya tersenyum tipis, menyadari kecemburuan yang tak pantas ia rasakan. Ia pun berpura-pura tak mendengar, dengan mengedarkan pandangan ke sekitar sembari menyeruput kopi yang terakhir ia pesan.
“Aku baik, Sri. Tapi karena kamu nggak ada kabar sama sekali, aku nggak bisa tidur dah dua malam ini. Siangnya pun aku nggak fokus kerja. Saban hari dimarahi si bos terus,” timpal Bima. Ada tawa tergelak di setiap perkataannya. Entah lah. Bima sedih tapi juga merasa senang.
“Syukurlah. Tapi, maaf juga ya karena aku nggak bisa lama-lama ngobrol sama kamu. Aku lagi di luar sama suami. Nggak apa-apa kan kalau aku tutup teleponnya?” Sri pun melirik Safka kembali. Suaminya itu tampak sedang tidak mendengarkan. Padahal, Safka menguping dengan baik.
“Iya, kah? Kamu nggak bohong, kan?” Bima tak percaya. Karena sejatinya, seorang suami tidak akan pernah membiarkan istrinya bicara dengan lelaki lain.
“Aku nggak bohong. Aku baru aja selesai makan sama Om Safka.” Sri menjawab lagi. Namun, kali ini tangannya refleks menangkup mulut karena salah bicara.
“Om?” Bima yang mendengarnya dari sambungan telepon pun keheranan.
“M-maksud aku, Mas. Aku baru selesa makan sama Mas Safka.” Sri mengulang apa yang tadi ia katakan.
“Oh, oke. Tapi, kamu beneran lagi sama dia? Emang dia nggak marah? Atau dia nggak tau kalau aku yang nelepon kamu?” cerocos Bima, seolah benar-benar tak percaya sehingga mengira kalau Sri sedang mengada-ada.
“Aku serius. Kenapa? Kamu takut?” tanya Sri pada akhirnya. Lagi-lagi, tatapannya melirik Safka. Ia benar-benar ingin memastikan kalau suaminya itu tidak menguping.
“Takut? Ya, nggak lah! Ngapain aku takut? Aku kan beneran sayang dan cinta sama kamu. Jadi, seandainya kamu mau padaku, aku akan berjuang dan menunggu kamu datang.” Bima tertawa ragu di kamarnya. Ia tak takut sekali pun ia harus merebut Sri dari Safka. Namun, yang ia takuti adalah Sri. Barangkali, Sri tak memiliki perasaan sekuat dirinya.
“Sebaiknya kamu beristirahat. Jangan banyak pikiran, apalagi mikirin aku. Aku baik-baik aja kok, sekarang.” Sri berdeham seraya membenahi anak rambut yang menghalangi pandangan. Ia menyelipkannya di belakang telinga. “Teleponnya aku tutup, ya?” Ia berucap lagi.
“Padahal, aku masih mau ngobrol. Tapi, ya udah, deh. Asal kamu jangan ninggalin aku. Maksudku, aku ingin kita tetap menjalin komunikasi,” jawabnya, dengan satu syarat.
“Iya. Tapi, aku nggak janji, ya. Di sini, aku juga punya kesibukan, Bang.” Sri pun berbisik. Lantas, ia mengucap salam dan segera menutup telepon setelah Bima menjawab salam darinya.
“Udah?” Safka yang melihat Sri memasukkan ponsel ke dalam tasnya pun langsung bertanya. Ia melihat jam di pergelangan tangan, di mana waktu memang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Kalau udah, kita jadi pulang sekarang, kan?” tanyanya lagi.
Sri mengangguk, tanpa berucap. Ia lantas menyusul Safka yang lebih dulu berdiri, seiring dengan perasaan tak keruan. Matanya terpejam kuat barang sesaat, sembari membuang muka. Ia merasa malu juga tak enak hati, karena sudah bicara dengan lelaki lain di hadapan suaminya sendiri. Karena meski pun pernikahannya tanpa cinta, Sri tau bagaimana menghargai seseorang.
“Ayo,” ajak Safka seraya menyodorkan tangannya. Ia meminta tangan Sri untuk kemudian ia gandeng menuju parkiran.
Lagi-laga tanpa berucap, Sri memberikan tangannya, seiring dengan jantung berdebar hebat. Ia hanya menghela napas kemudian, begitu meninggalkan restoran.
*** .
Karena malam sudah begitu larut, juga Sri yang tak sempat tidur siang, rasa kantuk seketika menguasai matanya. Sri menguap dan segera menangkup mulut berulang kali, sembari memalingkan wajah ke arah jendela mobil. Sedang matanya sudah begitu berat, sehingga sulit bagi Sri untuk membuka mata.
“Kalau ngantuk, tidur aja, Sri.” Safka yang melihat Sri berulang kali menguap pun bicara. Tatapannya fokus ke depan, meski sesekali tetap melirik Sri.
Istrinya itu menggeleng, lagi-lagi sambil menguap. “Nggak,” jawabnya begitu selesai menguap. ”Aku tidur di rumah aja nanti.” Sri bicara lagi.
“Yakin?” Safka tersenyum tipis. Tak yakin jika dilihat dari seberapa sering Sri menguap.
“Huum,” balas Sri lagi. Istrinya itu menoleh, melihat Safka dengan mata hampir terpejam sambil tersenyum tipis. “Kamu sendiri nggak ngantuk, kan?”
“Nggak, dong. Aku dah biasa tidur larut malam kok.” Safka pun menyengir tanpa melihat Sri.
“Lah, kan ini juga dah larut malam, Om?!” Sri ikut tersenyum. Namun, senyumnya itu senyum mengejek.
“Iya, juga, ya? Ha ha. Tapi aku beneran nggak ngantuk. Tenang aja. Aku nyetir dalam keadaan segar, dan pasti sampai dengan selamat, kok.”
Ada sedikit gelak yang keluar dari mulutnya, agar tawanya itu membuat Safka semakin bugar. Namun, melirik Sri yang tak lagi berucap, Safka pun mendapati istrinya itu sudah tertidur dalam keadaan kepala miring ke kanan.
“Ya, ampun, Sri. Aku bilang dah ngantuk berat kamu, masih aja ngeyel. Ujung-ujungnya tetep tidur di mobil juga dia.”
Meski tak ada teman bicara, Safka tetap merasa senang. Ia pikir, asal ada Sri di sampingnya, dalam keadaan tidur atau pun nggak adalah sama. Keberadaan sri memberi pengaruh positif padanya. Seperti sekarang di mana Safka sudah merasa ngantuk, hati dan pikiran senangnya membuat ia merasa bugar.
“Kamu, kalau lagi tidur gitu kok kelihatan cantik banget, sih? Aku yang udah dari lama jatuh hati, rasanya makin jatuh aja. Coba aja, kalau kamu punya perasaan yang sama kayak aku, udah deh... aku sampe nggak bisa bayangin bagaimana bahagianya.”
Di tengah-tengah fokusnya berkendara, Safka bicara seorang diri. Ia bahkan sengaja mengutarakan isi hatinya terhadap Sri, mumpung istrinya itu sedang tertidur pulas. Meski pun Sri sudah tahu seluruh perasaannya, tetap saja, Safka masih merasa perlu untuk mengatakan hal tersebut berulang kali. Di depan atau di belakang Sri, menurutnya sama juga.
“Kamu pasti nggak bakal ragu atau pun malas untuk melakukan apa pun denganku. Makan bersama, jalan bersama, beres-beres rumah bersama, dan tentunya tidur bersama.” Safka berucap lagi. Kali ini diiringi dengan senda gurau, karena apa yang ia ucapkan di akhir.
Sebab, pengantin baru pada umumnya sudah pasti pergi berbulan madu untuk menikmati waktu berdua saja. Sedang dirinya? Jangankan berbulan madu ke suatu tempat yang diimpikan, tidur bersama pun tidak. Mereka bahkan bertengkar setiap ada kesalahpahaman.
Namun, Safka tak ambil pusing. Apa yang terjadi dalam pernikahannya, benar-benar ia nikmati setiap prosesnya. Ia justru merasa, itu semua adalah bumbu menuju rumah tangga sakinah, mawadah, dan Warohmah.
Perjalanan dari restoran menuju rumah tidak seberapa jauhnya. Sehingga dalam waktu kurang dari satu jam, Safka pun sampai. Ia menekan klakson, sehingga membuat satpam yang bekerja nonstop di rumahnya itu terbangun dari tidur. Lantas, ia bergegas duduk dan berlari keluar dari pos tempatnya beristirahat.
“Bikin kaget aja, sih!” rutuknya sembari membuka kunci pagar. Ia yang juga merasa sangat mengantuk itu menggaruk pipi, mengucek mata dan lalu mengap lebar.
“Makasih, Pak!” ucap Safka setelah mobil yang dibawanya melewati pagar rumah. Ia membuka kaca mobil terlebih dahulu dan mencondongkan wajahnya ke luar untuk menunjukkan senyum pada satpam rumahnya.
“Sama-sama, Bos!” Satpam rumahnya balas tersenyum, sembari membungkukkan sedikit badan. Lantas, segera ia kembali menutup gerbang agar dapat melanjutkan tidur lelapnya lagi.
“Kita dah nyampe, Sri.” Safka yang baru saja mematikan mesin mobilnya itu berucap, sembari melepas sabuk pengaman. Ia berbalik ke arah di mana istrinya tidur, sri terlihat begitu cantik dan manis di matanya. “Ya, ampun. Kalau saja kamu itu permen, udah pasti kumakan saking manisnya, Sri.”
Safka tertawa kecil seraya meraih sabuk pengaman yang dipakai Sri. Ia hendak melepaskannya. Namun, begitu wajahnya teramat dekat dengan Sri, tatapannya berhenti di satu titik. Bibir merah merona itu terlihat seperti buah ceri, sehingga dirinya ingin menikmati.
Safka menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan apa yang baru saja terlintas dalam pikiran. Bibir itu, kelembutan beserta manisnya seketika terbayang dalam angan. Membuat jantung Safka berdebar hebat, bahkan sampai membuat sekujur tubuhnya berkeringat.
Helaan napas panjang seketika tercipta. Safka menunduk, sembari memejamkan matanya. Ia benar-benar tergoda dan harus segera mengendalikan dirinya. Barulah setelah itu, Safka kembali mengangkat wajah dan melepas sabuk pengaman Sri tanpa menatap wajah sang istri.
“Baiklah. Sekarang waktunya pindah posisi,” katanya seraya turun dari mobil. Safka meninggalkan Sri di dalam mobil, untuk memangku istrinya dari luar.