Bukan hal mudah bagi Safka saat harus membopong Sri. Bukan karena berat, melainkan karena apa yang dilakukannya itu membuat Safka merasa berdebar-debar. Tubuhnya bahkan berkeringat. Sebab, sinyal-sinyal asmara seolah bermunculan.
Sesekali Safka menjatuhkan tatapan di wajah Sri. Ia mengagumi kecantikan istrinya itu. Ia juga melihat mata, hidung sampai bibir Sri yang seksi. Semua itu menggodanya, menggelitik hatinya untuk melakukan sesuatu yang tak lagi haram untuknya.
Namun, tiap kali terbersit pikiran-pikiran tersebut, Safka kembali sadar dalam sekejap. Aa hati yang harus ia jaga. Ada kepercayaan seseorang yang juga harus dijaganya. Belum lagi janji yang harus ia tepati, di mana Safka tidak boleh melakukan apa pun sampai Sri benar-benar bisa menerimanya.
Lelaki bergaya necis itu pun menghela napas panjang. Ia mengembuskannya perlahan, seraya terus berjalan. Tatapannya ia tahan agar tak lagi jatuh di wajah istrinya yang cantik dan manis itu. Berat, tentu saja. Sebagai seorang lelaki dewasa juga normal, adalah hal sulit baginya untuk mengendalikan diri. Hanya saja, karena kekuatan cinta suci dalam dirinya, Safka pun bisa.
Sampai di anak tangga pertama, baru lah Safka merasa lelah karena berat badan Sri, juga jalan yang dilaluinya mulai menanjak. Ia tak masalah. Malah tetap merasa senang hati karena bisa membopong Sri. Ia pikir, kapan lagi dirinya bisa memerhatikan Sri dari dekat kalau tidak dalam keadaan tidur seperti itu.
Satu langkah, dua langkah, sampai akhirnya Safka tiba di tangga terakhir. Ia kembali menghela napas panjang seraya memperkuat boyongannya. Tubuh Sri sedikit turun dari boyongan sehingga Safka mengangkatnya sekali.
“Aku heran, deh. Kalau dipikir-pikir, makanmu itu banyak. Tapi kenapa tubuhmu mungil, dan ringan gini?” ucap Safka seraya membuka pintu kamarnya dengan susah payah. “Tapi yang lebih aneh lagi, tidurmu ini kenapa udah kayak orang pingsan, sih? Aku pegang gini aja nggak bangun!” sambungnya, sampai hampir tergelak. Namun urung, karena ia tak mau membangunkan Sri dengan suaranya. Biar saja tidur Sri nyenyak sampai pagi.
Sampai di dalam kamar, safkah pun menidurkan Sri di ranjang dengan perlahan. Lantas dirinya duduk di sana hanya untuk memandang wajah itu sekali lagi “Tidur yang nyenyak, ya. Makasih karena kamu udah mau menerima ajakan makan malamku,” katanya, pelan dan parau.
Sri menggeliat dalam tidurnya sambil bergumam, mengatakan sesuatu yang bahkan tidak dapat didengar Safka. Entah apa, Safka hanya menggelengkan kepala menanggapinya. Namun, begitu Sri meraih dan menarik tangannya, Safka pun jatuh di atas tubuh istrinya itu.
Safka mengerjap barang sesaat. Kaget sebelum akhirnya sadar kalau Sri sedang mengigau. Namun, begitu ia hendak menarik tubuhnya itu, Sri memeluk erat sehingga membuat Safka tak bisa berbuat apa-apa.
“Ya, ampun!” ucapnya dalam hati. Safka menelan ludah seketika, bahkan dengan susah payah. Ia baru saja bersil mengendalikan diri, agar dapat menghindar dari hal-hal yang tidak diinginkan Sri. Tapi sekarang, Sri sendiri yang membuatnya kembali merasakan debar juga sinyal lainnya.
“Aku benci sama kamu!” ucap Sri, tidak begitu jelas. Namun, Safka masih bisa mendengar ucapan Sri dengan jelas.
“Aih! Dia ngigau lagi.” Safka berucap pelan. Yakin, kalau istrinya itu tidak akan terbangun hanya karena mendengar Safka. “Benci sama siapa pula?” ia hampir tergelak.
“Kamu! Kamu!” kamu!” timpal Sri, seraya memukul punggung Safka dengan kedua tangannya, bergantian. Sedang matanya, masih terpejam kuat.
“Lah, kok aku?!” Safka berucap lagi. Heran, karena Sri menjawab apa yang ditanyakannya barusan. Padahal, ia cuman iseng.
“Jahat kamu! Karena kamu, aku jadi tinggal jauh dari Bapak dan adik. Karena kamu juga, aku pisah dari Bima!” Sri menjawab Safka lagi dalam keadaan masih terlelap. Namun, kali ini kedua tangannya menjambak rambut Safka dengan kencang.
Safka mengaduh, bahkan sampai meringis kesakitan. Tarikan yang dilakukan Sri pada rambutnya, meski dalam keadaan tidur tetap terasa menyakitkan. Ia yang sedikit dapat bergerak pun meraih kedua tangan Sri. Kemudian menahan tangan istrinya itu agar tidak melakukan tarikan lagi.
“Stop nggak!? Atau, kamu aku cium!” ancam Safka, yang memang sebenarnya sangat konyol. Ia sedang bicara dengan seseorang yang sedang tidur.
“Cium!” Sri menjawab lagi. Ia bahkan tersenyum sinis dalam tidurnya.
“Astaga! Dia meledek?” Safka pun tertawa kecil melihat kedua belah sudut bibir Sri menyungging sinis. Namun, seketika Safka bergeming karena Sri baru saja mengecup bibirnya itu.
Satu detik, dua detik, sampai akhirnya Sri melepas kecupan itu. Ia melemas, kembali seperti orang tidur pada umumnya. Ia tidak lagi mengigau atau mencengkeram dan menjambak rambut Safka. Ia benar-benar lelap kembali.
“Apa itu?” Safka pun menarik diri sembari memegangi bibirnya. Ciuman yang baru saja Sri lakukan membuatnya bergeming, terbengong, bahkan heran sendiri. “Dia mengigau, bahkan mengobrol dalam keadaan tertidur. Tapi kenapa bisa mencium orang dalam keadaan seperti itu juga? Astaga!” ucapnya begitu duduk tegak menghadap Sri yang terbaring lelap, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Dari tadi, susah payah aku menahan diri untuk tidak mengecupmu saja, Sri. Tapi kamu, malah mencium aku?” Safka tersenyum bingung. Antara sedih, senan dan juga bingung. “Awas aja kalau semisal kamu bangun, terus kamu ingat apa yang kamu lakukan padaku, kamu ngamuk! Aku tidak melakukan apa pun, ok!” ucapnya, semakin konyol.
Safka yang akhirnya merasa dirinya itu konyol, gila karena sudah bicara dengan orang yang jelas-jelas sedang tertidur, seketika berdiri dan berlalu pergi dari kama Sri. Meski, ciuman tadi sungguh membuatnya merasa senang dan geli sendiri.
***
Sampai di kamar, Safka yang sudah merasa ngantuk itu pun justru tidak dapat langsung merebahkan diri di sana. Sebab, ponsel yang juga baru saja ia simpan di meja samping ranjang, berdering.
Satu panggilan masuk dari Aris. Lelaki yang ia suruh untuk memata-matai Sudirman sejak hari pertama ia menikah dengan Sri itu pun, bahkan menelepon lagi saat Safika tidak mengangkatnya. Barulah setelah ada dua panggilan masuk dari orang yang sama, Safka merasa itu darurat.
“Halo!” sapanya, sedikit kesal. Sebab, Aris benar-benar menelepon di waktu yang tidak tepat.
“Bos, maaf aku menelepon malam-malam begini. Tapi ini darurat. Penting banget!” balas Aris, terdengar mencemaskan sesuatu.
“Ada apa? Cemas gitu kayaknya!” Safka pun meredam rasa kesalnya. Ia rasa, orang suruhannya itu memang sedang ingin menyampaikan hal yang penting.
“Bapaknya Sri, Bos. Dia, dia itu—“
“Yang jelas kenapa? Ada apa?!” bentaknya, menyela Aris yang sedang bicara gelagapan tidak jelas.