Safka bergegas setelah melakukan shalat Subuh. Ia bersiap-siap, memakai pakaian rapi seperti biasanya. Baju kemeja putih, jas biru telur asin, celana jeans berwarna senada dengan sepatu: hitam. Lelaki yang sejak semalam tak enak tidur itu pun tidak lupa merias diri. Ia menyisir, memakai lotion, dan juga menyisir rambu.
Namun, mengusap rambutnya yang baru saja disisir membuat Safka seketika mengingat kejadian semalam. Betapa ia kesakitan saat Sri menjambak rambutnya itu. Hanya saja, sakit yang ia rasa sebanding dengan apa yang ia dapat. Ciuman Sri, benar-benar meluluhkan hati.
Kembali pada niat awal, Safka yang telah rapi itu pun melupakan apa yang membuatnya senang terlebih dahulu. Sebab, ada hal lain yang harus ia kerjakan, menyangkut perasaan Sri. Istrinya itu segera ia temui.
“Kamu dah bangun, Sri?” Safka mengetuk pintu kamar istrinya itu sambil bertanya. Waktu udah menunjukkan pukul enam, sehingga ia pun yakin kalau Sri sudah terjaga.
“Udah, Om!” balas Sri.
Namun, suara istrinya itu tidak berasal dari kamar. Melainkan dari belakangnya, sehingga ia langsung berbalik dan mendapati Sri di anak tangga terakhir. “Kamu ngapain? Dari mana?” Safka langsung mengernyit. Sebelah alisnya terangkat, begitu melihat Sri.
Istrinya itu masih dalam keadaan kusut. Rambut semerawut, pakaian kisut, juga wajah yang sama sekali belum tersentuh air. Ia benar-benar baru terbangun, dan seketika pergi ke dapur karena merasa haus dan ingin minum.
“Ini!” jawabnya, seraya mengangkat gelas yang ada dalam genggamannya. “Tenggorokanku terasa kering. Aku haus.” Ia pun berjalan melewati Safka.
“Kamu nggak shalat? Kok masih—“
“Paham dong, wanita?” sela Sri, sebelum Safka menyelesaikan ucapannya. Ia menoleh barang sedikit, tanpa melihat Safka. Tatapannya lebih ke lantai yang Safka pijak. Lagi pula, selain sedang dalam keadaan haid sehingga Sri dengan sengaja tidak buru-buru membersihkan diri, ia pun sengaja agar Safka melihatnya dalam keadaan seperti itu. “Ilfil, ilfil dah!” batinnya.
Namun, alih-alih merasa ilfil, Safka justru hampir tergelak kalau saja tidak segera menahannya. Ia benar-benar merasa lucu sendiri, karena semakin hari semakin mengetahui kebiasaan buruk istrinya itu.
“Ok!” Safka pun berdeham. “Tapi, kamu siap-siap, ya? Aku tunggu di bawah sambil siapain sarapan. Kamu pasti lapar, kan?” Ia pun berlalu sambil berucap.
Sri yang tadinya ingin mengacuhkan Safka, seketika berbalik dan menahan langkah kaki suaminya itu dengan satu pertanyaan. “Mau ngapain?” tanyanya.
“Jenguk orang sakit. Bisa?” Safka yang sudah sampai di anak tangga pertama pun berbalik, melihat Sri dalam keadaan semerawut sekali lagi. Ia hampir tertawa lagi pula.
“Oh, ok!” timpal Sri, seraya berbalik membelakangi Safka kembali. Ia bahkan langsung bergegas masuk ke kamar. Sebab, mendengar seseorang dalam keadaan sakit, membuat hati terdalamnya tersentuh. Tak peduli, seberapa pun jauhnya kedekatan ia dan Safka. Menjenguk orang sakit bersama tidak ada salahnya.
Safka pun akhirnya tersenyum tipis. Sudah mengira kalau Sri tidak akan banyak bertanya. Ia lantas segera turun dan menyiapkan sarapan di dapur. Karena sedang dalam keadaan buru-buru, kali ini Safka membuat makanan ringan. Tidak ada daging atau pun seafood yang biasa ia masak untuk menyenangkan sekaligus mengenyangkan Sri. Safka hanya membuat roti bakar isi telur ceplok.
“Kita lihat, apakah Sri akan menyukai makanan seperti ini juga?” ucapnya, sembari menyiapkan beberapa lembar roti yang hendak ia panggang. Sembari menunggu rotinya matang, Safka pun menyiapkan telur, sayur, dan saus untuk isiannya.
“Tapi, mengingat banyaknya dia makan, Sri pasti penyuka jenis makanan apa pun,” ucap Safka kembali. Telur yang diceploknya pun matang. Ia menyisihkannya dalam piring sampai tak berapa lama, roti yang dibakar makan.
Safka menghirup aroma sedap dari roti yang ia bakar dengan olesan mentega di kedua sisinya. Harum. “Apalagi wanginya menggoda gini. Udah, deh!” ucapnya seraya menyusun isian di atas roti. Sehelai daun selada, telur ceplok, saus dan kemudian irisan tomat dan mentimun. Kemudian, Safka menutupnya dengan roti kembali.
Dengan penuh cinta dan kehati-hatian, Safka pun meletakkan hasil kreasinya itu di atas piring kecil. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Sri. “Tapi kok lama banget, sih? Biasa juga paling cepat kalau mandi.” Safka pun keluar dari dapur ia berjalan menuju ruang tengah dan mendongak ke lantai atas. Di sana belum ada tanda-tanda kedatangan Sri.
“Ya, ampun. Ini pasti karena alat make up yang aku beli kemarin, deh. Wanita emang gitu kayaknya. Tampil polos bukan karena tak bisa. Tapi karena nggak punya dana aja. Buktinya, ya istriku ini!” katanya, seraya menahan tawa. “Dari kampung cuman bawa bedak sama pelembap aja. Tiap hari tampil polos, tanpa lipstik. Eh, giliran aku beliin alat make up, dia pakai semua sampai kelihatan cantiknya banget!”
Bruk!
Safka langsung mendongak begitu mendengar suara pintu ditutup. Itu adalah tanda, kalau Sri baru saja keluar dari kamar segera Safka pun balik ke dapur. Dirinya bahkan duduk dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sedang, di meja, sudah terhidang dua piring sarapan, untuk mereka berdua.
Namun, ternyata, Safka melupakan satu hal. Ia belum menyiapkan minuman di sana, sehingga cepat dirinya bangkit berdiri. Dan, disiapkannya dua gelas s**u segar dingin dari dalam kulkas.
“Wah, apa ini?” Sri langsung mengambil piring berisi sarapan yang memang untuknya. Lantas, Sri pun duduk sembari menghidu aroma dari rotinya.
“Makan lah. Kamu pasti suka,” balas Safka seraya menyusul duduk. Ia juga langsung mengambil roti dan memakannya segera. Karena selain lapar, waktunya tidak begitu banyak. Ia harus segera pergi agar tidak kesiangan di jalan.
“Waw!” Sri terkesan dengan rasa roti yang untuk pertama kali ia makan. “Ini lezat sumpah!” sambungnya, seraya menatap Safka lekat. “kamu kok jago banget masak, Om?” Ia bertanya, di sela-sela kunyahannya.
“Kamu belum pernah makan?” Safka justru bertanya balik. Ia pun sama, bicara dalam keadaan mulut penuh. “Syukurlah kalau suka. Dengan begitu, aku bisa bikin ini sering-sering.”
“Ok! Tapi, kita mau ke mana emang? Yang sakit siapa?” tanya Sri. Roti yang ia makan tinggal setengah. Itu pun lebih kurang.
“Bapakku!” timpal Safka seraya mengunyah kunyahan terakhirnya. Ia lantas menenggak habis s**u bagiannya.
Sri yang juga sedang mengunyah itu pun menelannya seketika. Ia hampir tersedak, sehingga buru-buru meminum minumannya. “Kalau gitu, ayo!” ucapnya seraya menyimpan sisa rotinya di piring. Ia tidak mau menunda-nunda waktu, kalau sudah menyangkut orang sakit.
“Nggak!” Safka tetap santai di kursinya.
“Loh, kok? Kenapa?” Sri pun keheranan. “Yang sakit itu bapakmu. Kenapa ditunda-tunda?” Sri pun menambahkan.
“Habiskan dulu makananmu. Baru kita akan pergi!” balas Safka.
.......