Perjalanan Menuju Pulang

1510 Kata
Duduk bersandar di kursi mobil, Sri melipat kedua tangan di d**a. Tatapan fokus ke jalan, telinga pun sibuk mendengarkan suara musik yang diputar Safka. Namun, pikirannya justru melayang ke mana-mana. Sri masih bingung, ke mana Safka membawanya pagi-pagi sekali. Padahal, ia sudah bertanya berulang kali. Tak ingin berdebat lagi, Sri pun diam di sepanjang jalan. Ia bahkan memalingkan wajahnya berulang kali, agar Safka tak perlu melihat tangis yang sesekali tidak dapat ditahan. Ia menelan ludahnya berulang kali sembari menghela dan membuang napas. Tak tahu harus bersikap seperti apa, setelah berulang kali berusaha mencari tau tujuannya. Sementara itu, Safka yang juga memilih diam agar Sri tidak bertanya terus itu pun memerhatikan istrinya sesekali. Ia menoleh, melirik, melihat Sri dengan saksama. Ia tersenyum tipis. Meski kasihan, ia tetap memandang istrinya itu adalah sosok yang lucu. “Diem aja dari tadi. Marah?” Safka pun akhirnya membuka mulut. Ia bahkan mencolek pinggang istrinya itu sambil menahan tawa. Sri tak menjawab. Ia justru kembali memalingkan wajah, menghiraukan apa yang diucapkan Safka baruan. Safka tergelak. Tak kuat menahan tawa melihat sikap Sri yang tak ayal seorang bocah. “Kalau marah itu nggak boleh lama-lama loh. Katanya suka apa tuh?” Safka kembali fokus pada kendaraan yang dibawanya. Ia harus berhati-hati karena jalanan amat sangat macet. Bisa-bisa, kalau tak hati-hati, ia bisa menabrak kendaraan orang lain. Sri masih tak menjawab. Ia tak peduli sekali pun Safka bicara sampai berbusa. Toh, saat ia bertanya tadi, Safka tak menjawab. Suaminya itu hanya berkata sabar, lihat saja, tunggu saja dan banyak lagi. “Dasar licik. Maunya kudu segala dituruti, tapi kemauanku mana? Gada sama sekali ia mau bilang tujuannya ini ke mana!” Sri mengomel dalam hati tanpa melihat Safka yang masih saja menertawakannya. ia bahkan berdecak kesal, akan ulah suaminya itu. Di mana Safka justru tertawa senang setelah melakukan pemaksaan. iya. Sri menganggap perjalanannya ini adalah sebuah paksaan karena ia sama sekali tidak tahu, ke mana mereka akan pergi. Sri merogoh kantung selendangnya. Ia mengambil sesuatu. Ponsel yang didapatnya dari Safka ia lihat untuk mengetahui pukul berapa sekarang. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Yang artinya, perjalanan mereka sudah mencapai dua jam lamanya. “Ya, ampun. Ini kita mau ke mana, sih? Udah jam sembilan, dan kita sama sekali belum sampai! Apa yang sakit itu adalah orang di luar kota Jakarta?” Sri yang tadinya enggan bertanya lagi itu pun keceplosan. Ia bahkan menoleh, melihat Safka dengan tatapan semakin kesal. Ia hanya ingin Safka bicara jujur, agar Sri bisa menghargai apa pun yang dilakukan Safka padanya. “Ya, memang di luar kota. Makanya, aku nggak kasih tau kamu ke mana kita akan pergi. Selain karena aku pikir, kamu tidak akan mengetahui tempatnya setelah aku sebutkan, aku juga ragu kalau kamu mau ikut!” jelas Safka pada akhirnya. Ia menghentikan tawanya, sehingga hanya fokus saja pada apa yang sedang ia bawa. “Ya, tapi seenggaknya kasih tau aku dong? Di mana pun, jenguk orang sakit masa aku ngaku mau?” Sri kembali menyimpan ponsel pada tas. Tidak ada hal penting dalam ponselnya itu. “Yakin, nggak bakal kaget?” Safka pun memastikan sebelum ia mengatakan tujuannya. Sebab, ia takut kalau istrinya itu justru akan balik mengamuk. “Loh ngapain aku kaget? Emang yang sakit siapa?” Sri pun menoleh dan melihat Safka kembali. Namun, seketika isi kepalanya berpikir, apa gerangan maksud dari perkataan Safka barusan. Membuat Sri seketika menebak. “Apa yang sakit itu adikku?” tanyanya, setelah muncul perkiraan dalam pikirannya. Namun, Safka yang sedang menyetir itu pun menggeleng. Karna memang bukan Siti atau pun Fahmi yang sakit. Ia menunggu lagi. Menunggu sampai Sri benar-benar menebak dengan tepat. Safka tahu, Sri adalah orang yang pintar. Istrinya itu pasti bisa menebak dengan benar jika memikirkannya dengan benar. “Ya, terus siapa kalau bukan mereka?” Sri pun murka sehingga memukul tangan Safka yang baru saja mengoper gigi mobil. Bahkan, Sri memelototi Safka agar suaminya itu merasa sedikit takut. “Tebak aja lagi sampai benar jawabannya.” Safka berdeham. Tenggorokannya memang terasa begitu kering. Pun dengan tubuhnya yang terasa panas dingin. Ia, sepertinya sedang mengalami gejala demam. Sri pun bergeming. Ia berpikir lagi, dengan mengingat-ingat siapa kira-kira yang sedang mereka tuju rumahnya itu. “Wah, parah kamu! Aku mana bisa nebak selain keluargaku sendiri. Ngaco emang!” omel Sri. Ia sudah mulai gugup sehingga berkeringat. “Aku nggak kenal siapa pun yang kamu kenal kecuali keluargaku!” sambungnya. “Itu artinya?” balas Safka. Ia berdeham lagi. “Bapak?” Sri menoleh, menatap tajam suaminya. Ia juga menggaruk keningnya yang sana sekali tak gatal, sebelum kemudian ia meraih ponsel di dalam tas. Diteleponnya Siti, adik yang sangat ia cintai. Namun, adiknya itu tidak menjawab. Begitu juga saat Sri menelepon Fahmi. Tidak ada satu pun yang menjawab panggilannya. “Astaga! Kenapa nggak diangkat!” serunya seraya memukulkan ponsel ke sebelah tangannya. Ia bergemeletuk, gemas sekaligus cemas. Ada apa? Pikirnya yang kemudian kembali menatap Safka. “Ada apa dengan bapakku? Sakit apa?” Suara Sri mulai bergetar. Ia sedang menahan tangis, sehingga kedua matanya pun memerah. Sebenci apa pun Sri terhadap bapaknya itu, ia selalu berdoa agar bapaknya sehat walafiat. Ia tidak ingin bapaknya itu sakit. “Kenapa tidak satu pun yang mengangkat telepon dariku?” tanyanya lagi. “Aku yang menyuruh mereka untuk tidak memberitahumu, tidak mengangkat telepon atau chat darimu.” Safka tak menoleh. Ia hanya sedikit terbatuk-batuk sembari fokus menyetir. Jalan yang ia lewati sekarang, tidak semacet tadi sehingga sudah bisa melaju cepat. “Apa? Kenapa?” Sri pun menangis. Ia tak bisa menahan air mata yang terus berusaha mendobrak pertahanan. “Kenapa aku nggak boleh tau, hah? Apa hakmu melakukan itu?!” teriak Sri pada akhirnya. Sri ingin berontak, memukul Safka sekencangnya. Namun, melihat Safka sedang menyetir membuatnya urung dan hanya memukuli sebelah pundak suaminya itu saja. Sebab takut kalau mereka mengalami kecelakaan. Sri juga ingin berontak, keluar dari mobil untuk melarikan diri. Namun, tujuan Safka adalah ke rumah Sri. Dan lagi pun, Sri tak tahu arah jalan pulang. Kesal, karena tak bisa melakukan apa yang diinginkan, Sri pun mendengkus kasar sembari melipat kedua tangan di d**a. Ia menelan ludahnya dengan susah payah di sela-sela Isak tangis. Lantas, ia menghela dan membuang napasnya pelan berulang kali, sebagai upaya menenangkan diri. “Maafin aku.” Safka pun berucap. Ia yang sengaja membiarkan Sri tenang terlebih dahulu pun memelankan laju mobil karena ingin bicara. Sri tak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah dan membelakangi Safka. Sebab, tangisnya tak dapat ia bendung. “Aku memang tak punya hak atas apa pun perihal dirimu, Sri. Aku sadar itu.” Safka mengatur napas di sela-sela ucapannya. Ia tak mau salah bicara, sehingga akan menyakiti Sri kembali. “Lalu kenapa? Bisa-bisanya kamu menyembunyikan sesuatu tentang bapakku, bahkan membiarkan aku makan dengan enak dan tenang. Sedang di sana, aku tak tau bagaimana keadaan Bapak!” Sri menjawab sembari menunjuk Safka dengan telunjuk, tepat di depan wajah Safka. Namun, karena sedang menyetir, Safka tak menatap Sri lama-lama. “Karena aku khawatir, kamu akan cemas seperti ini. Lihatlah, dan rasakan bagaimana dirimu saat ini. Aku tak yakin, seandainya kamu seperti ini sejak masih di rumah, kamu pasti menangis sepanjang jalan. Aku nggak mau kamu kayak gitu,” jelasnya “Kamu salah!” bantah Sri seraya menunjuk Safka kembali. “Kamu salah besar, Om. Karena kalau kamu memberitahuku sejak awal, aku tidak akan secemas ini. Aku tidak akan semarah ini. Dan, aku ....” Sri berhenti bicara. Ia berpaling, menyembunyikan wajahnya lagi. Sungguh, dirinya sangat marah terhadap Safka yang telah menyembunyikan tentang bapaknya. Meski, jauh di dasar hatinya, Sri tahu dan mengerti kalau suaminya itu berniat baik. “Aku minta maaf. Aku tidak mengira kalau itu justru akan menyakitimu. Aku minta maaf.” Safka menyesal. Ia benar-benar tidak berpikir dua kali semalam, setelah menerima telepon dari Aris. Orang suruhannya itu memberitahu perihal Sudirman yang pulang dalam keadaan babak belur. Bapak mertuanya itu pergi berjudi lagi, lantas mengamuk dalam keadaan mabuk karena kalah terus-menerus. Lawan yang ia pukuli pun balas menyerang, bahkan dibantu oleh lawan yang lain sehingga Sudirman kalah telak. Aris yang sedari Sudirman berangkat mengikutinya pun membawa Sudirman pulang. Namun, ia menghubungi Safka terlebih dahulu sebelum sampai. Safka yang tak mau membuat Sri khawatir pun langsung menghubungi Siti di tengah malam. Adik dari istrinya itu terkejut begitu Safka memberitahu keadaan Sudirman yang masih di perjalanan pulang. Katanya, “Jangan bilang Kak Sri dulu, ya. Aku akan membawa kakakmu pulang dalam keadaan baik. Tidak cemas atau khawatir. Jadi, beritahu adikmu juga untuk tidak memberitahumu kakakmu.” Siti paham dan mengiyakan apa yang dikatakan Safka. Sehingga seberapa cemasnya pun Siti, ia tetap menahan diri untuk tidak menghubungi Sri. Ia pikir, kakaknya itu memang tak boleh cemas saat di perjalanan menuju pulang. Namun, di tengah perjalanan, karena Sri merajuk terus-menerus, Safka terpaksa memberitahu istrinya itu. Yang kemudian justru membuat Sri semakin marah. “Maafin aku juga,” ucap Sri pelan, setelah berhasil menenangkan dirinya. Ia sadar, tak seharusnya menyalahkan Safka yang jelas-jelas berniat baik. “Apa?” Safka tak mendengar apa yang diucapkan Sri, karena sedang fokus menyetir di tengah-tengah pikiran kalut. “Aku minta maaf!” ucap Sri sekali lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN