Uang Tidak Dapat Membeli Semua Hal

1372 Kata
Siti duduk bersandar di kursi ruang tamu setelah mendengar nada panggilan dari kakaknya. Ditatapnya layar ponsel yang ia pegang sedari tadi. Ingin rasanya Siti menghubungi Sri kembali untuk memberitahu kakaknya itu kalau bapak mereka sedang terbaring lemah di kamar. Namun, mengingat apa yang dikatakan Safka semalam, ia tak mempunyai cukup keberanian untuk menelepon Sri. Sebab takut membuat kakaknya itu cemas seperti apa yang dikatakan Safka. Padahal, kondisinya saat ini pun sedang tidak baik-baik saja. Melihat bapaknya sakit, perasaannya begitu takut. Takut kalau ia akan kembali ditinggalkan untuk selamanya seperti dulu, saat sang ibu sakit sampai meninggal karena tak mendapatkan penanganan medis. “Cepatlah sampai, Kak. Aku dah nggak bisa duduk berdiam diri berdua saja dengan Fahmi. Dia ketakutan, begitu juga denganku,” katanya. Fahmi yang baru saja selesai dari kamar mandi itu pun duduk di samping Siti. Ia memeluk kakaknya itu barang sebentar sambil berucap, “Jangan sedih, Kak. Kakak nggak sendirian. Kan, ada aku.” “Jangan sok kuat kamu. Aku tau kalau kamu juga sedih dan takut!” balas Siti yang seketika menjitak kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Pertengkaran seorang adik dan kakak memang hanya sebatas itu, buat Siti. “Ish! Akak, nih. Nggak bisa gitu pura-pura biar aku kelihatan seperti adik yang baik lagi sayang sama kakaknya?” Fahmi balas menjitak kaknya itu sambil cemberut. Kemudian ketawa selepasnya. “Emang kamu nggak sayang beneran sama aku? Kenapa harus pura-pura?” Siti pun memelak pinggang sembari mengepal ponsel di tangan. Ia menyeringai sembari menggerak-gerakkan sebelah alis. “Ya, nggak juga. Tapi, kan, kalau kita saling menguatkan, rasa takut dan sedih itu pasti berkurang. Gimana, sih? Itu kan kata kamu, Kak. Pas kemarin lalu, Kak Sri berangkat ke kota.” Fahmi yang padahal belum genap sebelas tahun itu, bicara sedemikian dewasa. “oh, iya. Aku lupa,” balas Siti, yang seketika merangkul adiknya itu. Ia bahkan mengacak-acak rambut Fahmi, sampai adiknya itu berontak minta dilepaskan. Fahmi memang paling tak suka kalau rambutnya diacak-acak. “Kapan lagi bisa acak-acak rambutmu gini, heh?!” Siti tergelak, menertawakan Fahmi yang terus meminta ampun dan ingin dilepaskan. “Ih, Kak!” teriak Fahmi kembali. Namun, seketika keduanya terperanjat, berhenti bercanda karena suara seseorang yang memanggil keduanya dari luar. Siti melepas cengkeramannya pada Fahmi. Lalu Fahmi sendiri langsung membenahi rambutnya lagi sambil mengomel. “Kak Bima?!” Siti yang seketika melihat Bima dari ambang pintu pun menyapa. “Silakan masuk, Kak.” Ia menyambung ucapannya seraya mempersilakan Bima masuk. “Akak nggak ganggu?” Bima yang seketika masuk pun bertanya seraya mengedarkan pandangan. Ia mencari sosok Sudirman yang baru saja didengarnya sakit dari orang-orang. “Nggak, kok, Kak! Masuk aja, biar aku ambil minum.” Sri pun melengos, pergi ke dapur sambil mengatur napasnya yang masih terengah. Bercanda dengan Fahmi membuatnya mengos-ngosan. Bima yang masuk seketika duduk di samping Fahmi. “Kamu lagi ngapain?” tanyanya, karena melihat Fahmi sibuk sendiri dengan rambut gondrongnya.. “Itu, tuh Kak Siti. Masa bercandanya mengacak-ngacakkan rambut aku? Jadi berantakan gini kan?” Fahmi merajuk, mengadu pada sesamanya. Karena ia pikir, lelaki pasti paham. “Wah, iya!” balas Bima seraya ikut merapikan rambut Fahmi. “Tapi, bapakmu mana? Akak dengar, bapakmu sakit?” tanyanya. “Iya, Kak. Semalam Bapak diantar Mang Aris dalam keadaan bonyok. Wajahnya berdarah-darah.” Fahmi pun menjelaskan. Ia memang sedikit jauh lebih dekat dengan Bima ketimbang Siti. “Terus, Kak Sri tau?” Bima bertanya lagi. Ia memang sengaja datang untuk menjenguk sekaligus mencari tahu kabar tentang Sri. “Udah. Kakak lagi di jalan, mau ke sini,” timpal Fahmi. “Oh, syukurlah. Kalau ada kakakmu, akak agak lega. Setidaknya, kalian nggak hanya berdua saja mengutus Bapak.” Bima tersenyum tipis seraya ,menyapu rambut Fahmi kembali. “Oh, iya. Kakak ada bawa buah nih buat kamu sama Bapak. Dimakan, ya?” ucapnya lagi seraya menyimpan kantong keresek yang ia bawa di meja. Isinya jeruk, apel dan sawo. “Ya, ampun ngerepotin, Kak.” Siti yang baru saja kembali dari dapur pun bicara, mendahului Fahmi. “Eh, nggak apa-apa,” balas Bima dengan senang hati. Ia yang memang sudah menganggap keluarga Sri sebagai keluarganya sendiri itu, tulus dalam membantu atau memberi apa pun. “Iya, nih, si Kakak. Masa orang mau berbuat baik dengan memberi makanan aja dikata merepotkan. Itu kan sudah jadi niatnya. Iya, kan, Kak?” ucap Bima seraya mengambil salah satu apel dari dalam kantong tersebut. Lantas, ia menggigitnya sambil berucap lagi. “Makasih, Kak. Apelnya enak!” “Ish, kau nih!” umpat Siti yang seketika merasa malu akan kelakuan adiknya itu. “Sudah nggak apa-apa. Tapi, Akak izin nengok bapakmu dulu, ya?” Siti mengangguk dan segera menyimpan air putih yang ia bawa dari dapur, di meja. “Minum duku tapi, Kak. Biar aku antar ke kamar nanti,” katanya. *** Setelah Sri meminta maaf, situasi di dalam mobil pun berubah menjadi jauh lebih hangat. Sri tak lagi merajuk atau membuang muka tiap kali Safka mengajaknya bicara. Terlebih saat Safka menceritakan apa yang terjadi pada Sudirman. Sri mendengarkan dengan saksama, sampai akhirnya, diujung pembicaraan, Sri bertanya-tanya. “Tapi, Om. Om tau dari mana tentang Bapak?” tanyanya, setelah Safka bicara panjang kali lebar. Ia menoleh, melihat Safka sedari tadi tanpa berniat memalingkan muka kembali. “Um, kasih tau nggak, ya?” Safka justru menggoda. Lelaki berpenampilan necis itu pun tersenyum sambil melihat Sri sekilas. Senang dirinya karena Sri tak merajuk padanya lagi. “Ish! Aku ngambek lagi, nih?!” ancam Sri, yang seketika menjadikan kemarahannya itu sebagai senjata ampuh. Setelah dipikir-pikir, ia yakin kalau Safka tak tahan dengan sikap juteknya itu. “Dih, ancamannya nggak lucu!” Safka tergelak seraya mencubit pipi Sri, tanpa mengalihkan tatapan dari jalanan. Untungnya, ia tak salah cubit. Tangannya pas, mengenai pipi istrinya itu. Dan, ia justru merasa semakin gemas. “Ya, lagian. Kalau ditanya itu jawabnya yang bener, bukan malah melebar ke mana-mana!” Sri yang seketika merasa kikuk pun mengusap pipi, di mana Safka baru saja mencubitnya. Sakit, tapi hatinya merasa lain. Ada sesuatu yang menjalar ke dalam sana. “Iya, iya.” Safka tergelak lagi. “Orang bercanda aja masa nggak boleh, sih?” lanjutnya. Ia melirik istrinya itu dengan ekor mata. Ada rona di pipi Sri. “Wah, tanda-tanda, nih. Hehe. Semoga aja, itu adalah tanda adanya benih-benih cinta.” Ia bergumam dalam hati. “Ya, terus?” Sri pun melipat kedua tangan di d**a. Sedangkan pandangannya, ia fokuskan ke jalan sebagai upaya menghilangkan debar di d**a. Ia merasa sudah terlalu dekat dengan Safka. “Terus apa?” Safka pun gagal fokus. Ia tak tau ke mana arah pembicaraan Sri. “Ya, itu ... Yang tadi aku tanyain itu gimana? Kamu tau dari siapa kalau Bapak sakit?” Sri memperjelas pertanyaannya. Ia tak mau kalau Safka menyembunyikan hal lain lagi. “Oh, itu. Aku tau dari Mang Aris. Kenal, kan?” Safka menoleh sekilas. Menyunggingkan senyuman seraya menjaga kehati-hatiannya dalam menyetir. Istrinya itu langsung menoleh dan menatap Safka kembali. “Mang Aris yang rumahnya tetanggaan sama Bapak?” Ia membuka matanya lebar, tak percaya. Ia pikir, kenapa Safka bisa mengenal tetangganya itu. “Huum. Semalam Mang Aris yang ngasih tau aku.” Safka mengangguk-angguk, siap kalau seandainya Sri akan kembali marah dan mengomel. “Kok, bisa?” Sri masih tak percaya. “Maksud aku, kok kamu kenal sama Mang Aris?” Sri semakin heran. Karena setahu yang ia tahu, Mang Aris itu tidak mempunyai kerabat jauh, apalagi Safka yang tinggal di Jakarta. “Bisa dong. Apa sih yang nggak bisa aku lakukan?” Dengan sombongnya, Safka pun mengatakan koneksi yang ka punya secara tidak langsung. Bahwa, apa pun dapat ia lakukan karena uang yang dimilikinya. “Sombong!” Sri pun akhirnya menarik wajah. Ia berdecak sebal, karena lagi-lagi, Safka membuat kesal dengan kesombongannya. “Padahal, duit tidak bisa membeli apa pun!” Ia bergumam. “Ya, memang. Buktinya, aku nggak bisa bikin kamu jatuh cinta!” Safka menggoda lagi. Ia bahkan langsung meminta ampun, karena takut kalau Sri akan menimpuk atau memukulnya. Tapi kenyataannya, Sri hanya tersentak kaget dan seketika menatapnya tajam. “Dih!” Sri berdesis. Suaminya itu benar-benar membuat ia merasa sebal. “Tapi ya memang, sih. Kamu bisa membeli apa pun dengan uangmu itu, termasuk dapat menikahiku. Tapi hatiku, jelas tidak!” sambungnya, seiring dengan jantung berdebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN