Dengan Lapang Hati

1047 Kata
Setibanya di halaman rumah yang tak seberapa luas, Sri langsung bergegas turun dari mobil. Ia tinggalkan Safka, membiarkan suaminya itu berjalan masuk sendiri ke dalam rumah. Sementara itu, Sri justru langsung menuju kamar di mana bapaknya benar-benar terbaring lemah di sana. “Kak, Sri!” Teriak Siti yang sama sekali tidak mengetahui kedatangan kakaknya itu. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, dan mendapati Sri masuk ke kamar Sudirman. Siti langsung mengejar kakaknya seiring dengan senyum haru. Fahmi yang juga tidak mengetahui kedatangan Sri langsung keluar dari kamarnya, setelah mendengar teriakan Siti. Ia meninggalkan ponsel dalam keadaan menyala di laman sebuah game online. Yak peduli saking rindunya terhadap Sri. Sedangkan Safka, lelaki berpenampilan necis itu hanya tersenyum tipis sembari masuk. Ia melihat Siti mau pun Fahmi yang begitu tergesa-gesa ingin bertemu Sri. Ia paham, kakak-beradik itu sudah sedemikian rindu terhadap Sri. Sehingga tak masalah, sekalipun mereka tidak menyadari keberadaannya di sana. Safka yang baru saja menyusul masuk ke rumah itu pun melanjutkan langkah kakinya. Ia berjalan santai ke kamar di mana bapak mertuanya ada di sana. Namun, Safka tak ingin mengganggu momen haru yang terjadi di hadapannya. Sehingga ia hanya berdiri saja di ambang pintu, sembari memperhatikan tiga saudara berpelukan. Padahal, mereka hanya berpisah selama kurang dari seminggu saja. Tetapi sudah seperti tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Sudirman yang tadi sedang tertidur itu pun bangun. Ia membuka mata perlahan begitu mendengar suara Sri samar-samar. Ia yang yakin tak salah dengar pun seketika memanggil ketiga anaknya bergantian. “Bapak dah bangun?” Sri yang sedang berpelukan dengan Siti dan Fahmi pun menarik diri. Lantas dirinya duduk di tepi ranjang. “Bapak apa kabar?” tanyanya, parau. Ia bahkan merasa sesak sehingga tenggorokannya bagai tercekat. Rasa ingin menangis membuatnya begitu sulit bernapas. “Kamu kapan datang?” Sudirman malah balik bertanya. Sedangkan pertanyaan yang ditujukan untuknya sama sekali tak dijawab. “Datang ke sini sama siapa? Kamu nggak kabur, kan?” tanyanya lagi, seiring dengan perasaan takut. Sebab, Sudirman tahu kalau dirinya sudah melanggar janji. Di mana Safka tidak akan memberikan uang jika Sudirman ketahuan bermain judi. “Bapak ini, ditanya malah balik nanya. Aku baru datang sama Om Safka.” Sri pun merengut sembari menyapu lembut kepala bapaknya itu. Sebagai anak, Sri merasa perlu untuk selalu berbakti dan meluapkan rasa sayang kepada orang tua. Meski, bapaknya itu selalu bersikap kasar dan semaunya. “Om?” Sudirman kaget. Begitu juga dengan Siti dan Fahmi. Kakak beradik itu sama sekali tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka baru tahu, panggilan Om bisa dipakai untuk sebutan seorang istri terhadap suaminya. Padahal, sejauh yang mereka tahu, panggilan tersebut hanya untuk seorang Paman dan orang yang lebih tua. “Iya. Om Safka. Kenapa?” Sri mengernyit heran sebelum akhirnya ia sadar, kalau dirinya baru saja memanggil Safka dengan sebutan itu. Ia menyengir, kikuk. “Masa sama suami sendiri manggilnya Om?” Di tengah-tengah rasa sakitnya, Sudirman terheran-heran. “Terus, di mana suamimu?” tanyanya. Sri yang seketika ingat akan suaminya itu pun berbalik, hendak mencari Safka. Namun, ternyata, suaminya itu ada di belakangnya. Ia menyelipkan rambut ke telinga seraya tertunda barang sebentar karena malu. Malu karena ngeyel dengan nama panggilan yang tak mau ia ubah meski di hadapan keluarganya. Wanita berparas manis itu pun mengangkat wajahnya lagi. Ia melihat Safka dan Meminta suaminya itu untuk mendekat. Safka mengikutinya, mendekat seraya memasang wajah semeringah seperti biasanya. “Gimana keadaanmu, Pak?” Safka pun langsung menyapa mertuanya itu dengan sebaris tanya. Ia tersenyum tipis. Sudirman yang takut akan kemungkinan tidak lagi dikirim uang, untuk biaya sehari-harinya itu pun langsung meraih kedua tangan Safka. Ia meremasnya sambil berkata, “Baik. Bapak baik-baik aja, Nak. Tapi ... kenapa tiba-tiba ke sini? Adik-adik Sri memberitahu kondisiku?” tanyanya, gemetaran. Ia sungguh tak ingin Safka tahu tentang kejadian kemarin. Namun ternyata, menantunya itu sudah ada di hadapannya. “Nggak. Ada seseorang yang memberitahuku semalam. Dan aku langsung bergegas pergi ke sini pagi tadi.” Safka menarik kedua tangannya dari cengkeraman Sudirman. Tak enak karena diperhatikan Sri dan dua adik iparnya. Ia memang mengatakan ancaman pada mertuanya itu. Namun, tidak untuk dibahas di hadapan mereka. “Ba-bapak ....” “Sudah lah nggak apa-apa. Istirahat saja, Pak.” Safka yang telah dudjk di tepi ranjang pun menyela, berbisik tepat di sebelah telinga Sudirman agar tidak begitu terdengar oleh Sri. Ia menarik dirinya lagi, duduk tegak dan kemudian menyunggingkan bibirnya pada istri beserta kedua adik iparnya bergantian. “Aku ada beli sesuatu. Tapi masih di mobil. Tadi lupa bawa,” katanya. “Biar aku yang ambil. Mana kuncinya?” pinta Sri seraya menengadahkan tangan. Ia juga sama lupanya dengan Safka, sampai tak ingat kalau di perjalanan tadi sempat membeli banyak camilan dulu. “Aku ikut, Kak!” pinta Siti, setelah Safka menyerahkan kunci mobilnya. Ia menyengir kegirangan, suka jika mengenai makanan. “Aku juga!” Fahmi ikut-ikutan. Ia pun sama girangnya dengan Siti jika sudah menyangkut makanan. Sri tersenyum melihat antusias dari kedua adiknya itu. Ia tahu betul kalau Siti dan Fahmi tidak pernah jajan makanan ringan selain yang ada di warung-warung sekitar rumah dan sekolah. “Ayo!” ucapnya sembari berjalan lebih dulu. Siti dan Fahmi kemudian mengekor di belakangnya. “Nak,” panggil Sudirman pada menantunya yang masih memperhatikan kepergian Sri dari kamar. “Siapa yang memberitahumu?” tanyanya. “Kan aku dah pernah bilang, kalau aku ada memperkerjakan seseorang buat memata-matai Bapak. Jadi kenapa Bapak masih aja bermain judi? Bapak nggak takut dengan peringatan yang aku katakan tempo hari? Kata Bapak, Bapak mau dikirim uang setiap minggu buat biaya sehari-hari Siti dan Fahmi, tapi kenapa?” “Iya, Nak. Bapak minta maaf. Bapak bukannya nggak takut, tapi masih aja belum bisa mengendalikan diri. Padahal, Bapak udah mencoba untuk berhenti.” Sudirman berkata parau. Berbohong, karena sebenarnya tidak ada itikad berhenti sama sekali. “Untuk kali ini akan aku maklumi, Pak. Tapi kalau sekali lagi aku mendengar Bapak bermain judi, tak ada negosiasi. Aku akan berhenti mengirim uang.” Safka pun berdiri dari duduknya. Lantas ia keluar, untuk menyusul Sri dan yang lain. Berada di hadapan orang munafik, ia sungguh tak nyaman. Padahal, Safka hanya ingin mengubah jalan hidup mertuanya itu. Ia ingin agar Sudirman berhenti mengikuti hawa nafsunya dalam berjudi, meski dengan cara mengiming-imingi uang. Ia pikir, di kemudian hari, Sudirman akan menyadari kekeliruannya dengan lapang hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN