Di balai bengkel, Bima yang baru saja kembali dari masjid selepas shalat Dzuhur itu duduk bersila. Sebelah tangan menyangka badan ke belakang, sedang sebelah lagi mengapit sebatang rokok di sela jari. Ia mengisapnya dalam dan lama, lalu mengepulkan asapnya ke udara. Bosan, rutinitas sehari-harinya hanya berjibaku dengan mesin motor butut, oli, baud dan sebangsanya.
Bima masih memakai koko dan sarung. Baju kerja yang kaosnya penuh oli, juga celananya bolong di lutut, belum ia kenakan lagi. Tengah hari begitu, memang jarang ada pelanggan datang Bima dapat bersantai barang sebentar, melepas penat dengan secangkir kopi dan beberapa batang rokok.
Namun, lalu-lalang kendaraan tiada henti meski siang-siang begitu. Bima bahkan iseng menghitung dalam hati, truk pengangkut pasir saja ada tiga yang lewat dalam waktu setengah jam. Belum lagi motor dan mobil, dirinya sampai lupa hitungannya sudah sampai di mana.
Herannya, di tengah keramaian lalu-lalang kendaraan yang Bima hitung, dalam pikirannya tetap tentang Sri seorang. Ia yang pagi tadi menyempatkan diri menjenguk Sudirman, penasaran apakah Sri sudah tiba atau belum. Pasalnya, ia tak hafal, mobil mana yang dipakai suami dari wanita yang masih dicintainya itu.
Bima pikir, bisa jadi Sri sudah lewat. Bisa pula belum karena perjalanan panjang yang memang memakan waktu berjam-jam. Ia menghela napas panjang sembari melempar kuntung rokok ke got. Lalu menghembuskannya kasar, dan kemudian mengambil gelas kopinya. Habis. Bima yang masih mau menikmati kopi itu pun berdecak dan hanya mencecap-cecap mulutnya saja. Setetes kopi yang baru saja menyentuh bibirnya itu terasa manis.
Ucok tergelak setelah memperhatikan Bima sedari temannya itu duduk di balai. Ia tak tahan, lucu sekali melihat kegelisahan yang tampak di wajah Bima. Jelas, temannya itu benar-benar dibuat galau oleh Sri.
“Apaan?” Bima pun menurunkan kedua kakinya ke lantai, setelah sedari tadi duduk bersila. Kaget karena Ucok tiba-tiba tertawa. “Jan-jangan, kesambet jin penghuni neraka lu?” sambungnya, diiringi gelak pelan. Ia tidak sedang ingin bercanda banyak. Pikirannya terlalu lelah dibuat Sri.
“Kagak. Lucu aja gue liat lu yang galaunya kebangetan gitu. Dari tadi diem aja kek tokek keinjek. Padahal, biasa juga paling banyak ngomong.” Ucok baru saja memakai pakaian resminya yang dipenuhi oli. Ia telah kembali siap untuk bekerja.
“Gue nggak galau kali. Cuma penasaran aja, si Sri udah sampai rumahnya apa belum, yak?” Bima pun turun dari balai. Ia melepaskan kain sarung yang melilit pinggang, sehingga tinggal kolornya saja yang tampak.
“Ya, sama aja, Paijo!” ledek Ucok. Ia yang sebelum shalat meninggalkan kerjaan, kemudian mengerjakannya lagi agar begitu yang punya motor datang, kerjaannya selesai.
“Masa, sih? Perasaan beda tuh!” Kali ini Bima bicara sembari memakai celana butut, belel, dan bolong-bolong di lututnya. Lantas, ia segera melepas koko agar tidak terkena oli.
“Kalau perasaan mah ya jelas beda. Lu suka ma si Sri, sedangkan si Sri udah kawin. Beda, kan?” Ucok yang mulai sibuk dengan pekerjaannya pun tergelak. Kasihan betul nasib temannya itu. Namun, ia tak bisa membuang kesempatan untuk selalu mengejek Bima.
“Astaga! Emang gada baik-baiknya punya temen. Dari kemarin, ngeledekin gue aja lu!” Bima menggeleng seraya menahan tawa. Meski begitu, apa yang dikatakan Ucok memang ada benarnya.
“Biar lu cepet sadar, cepet insaf, dan cepet kawin juga!” Ucok menggoda lagi. Kali ini, tawanya lebih kencang. Kedua tangannya sampai lemas dan berhenti memutar kunci.
“Gila lu!” Bima pun sama. Ia mulai sibuk dengan pekerjaannya yang tinggal sedikit.
“Gila teriak gila. Dasar, Paijo!” Ucok makin tergelak. Ia bahkan sampai oleng, meringkuk di lantai kotor.
“Dih! Si Ucok maen ganti nama orang aja lu. Nama gue Bima, ya. Bima!”
Bima yang duduk berjongkok di dekat Ucok pun menimpuk paha temannya itu dengan kunci Inggris. Pelan, agar temannya tak kesakitan. Ucok tak menjawab. Bibirnya sibuk tertawa sampai tak bisa berkata-kata.
“Lagian nih, ya ... semalam gue ada teleponan sama si Sri.” Bima pun bercerita sembari menggerakkan tangan kreatifnya. Ia membersihkan apa yang menyumbat lubang bensin.
“Serius?” Ucok yang masih tergeletak itu pun bangun dari meringkuknya. Lantas duduk berjongkok sembari menghentikan tawa di bibirnya. “Bukannya lu bilang, Sri gada kabar?” Ia bertanya lagi.
“Serius lah. Semalam gue coba telepon, taunya diangkat. Tapi sayangnya, dia lagi makan malam di luar sama suaminya. Jadi—“
“Lu teleponan di depan suami Sri? Wah, bener-bener gila apa lu?!” sela Ucok, bahkan sampai menoyor kepala Bima.
Bima menoyor balik. “Dengerin gue ngomong dulu, Oncom!” balasnya. Ia berdecak, menggeleng karena temannya itu selalu saja menyimpulkan sesuatu tanpa keterangan yang jelas.
“Oh, iya. Ya, dah lanjut.” Ucok pun tergelak lagi sembari menggaruk kepalanya. Toyoran Bima lebih kuat darinya.
“Males!” Bima merajuk. Ia lebih memilih fokus pada apa yang sedang dikerjakan, daripada bicara pada Ucok yang sok tahu.
“Dih!” Ucok menoyor kepala Bima kembali.
“Astaga, Mang. Sakit atuh ini kepala ditoyor mulu!” Bima berseru lantang. Namun, ia sama sekali tak melihat Ucok karena tanggung, akan pekerjaannya.
Ucok hanya tertawa saja. Pekerjaannya sebentar lagi selesai. Ia harus buru-buru karena ingin menyeduh kopi dulu. Sebab, sepulang dari masjid, ia tak langsung beristirahat. Melainkan langsung mengerjakan kerjaan sisa.
“Tapi menurut gue, Sri udah nyampe rumahnya, deh.” Ucok yang baru selesai dengan pekerjaannya itu pun berdiri, sembari menepuk-nepuk kedua tangan di udara. Ia menghela napas panjang, dan menghembuskannya seketika sembari menggeliat. Pinggangnya terasa pegal, sehingga bunyi saat direnggangkan.
“Gue juga ngira gitu, sih. Sekarang dah lewat Dzuhur kan? Perjalanan dari Jakarta ke sini kan paling lama itu tujuh jam. Mereka pasti sudah duduk cemas di rumah karena kondisi bapaknya.” Bima mengangguk-angguk, membenarkan apa yang dikatakan Ucok.
“Iyalah pasti. Dah lah lu jangan mikirin dia mulu. Ada lakinya ini dih!” Ucok pun menyulut rokoknya dengan koreng api, kemudian duduk di balai.
“Gue bakal lupain dia kalau dia udah lupain gue, Mang. Kalau dia masih sayang sama gue, kali aja ada jalan buat gue bisa dapetin dia!” balas Bima, bersikukuh dengan keinginannya. Ia benar-benar merasa pantang untuk mundur.
“Hilih. Serah lu dah, ah. Mending juga ngopi gue mah!” Ucok tergelak.