Satu Permintaan Saja

1607 Kata
Sejak datang sampai waktu bergulir, beralih dari siang ke petang, Safka tak menjauhi bapak mertuanya. Ia bahkan bersikap manis meski tahu kalau bapak dari istrinya itu benar-benar tak bisa diberi kepercayaan. Hanya saja, sebagai seorang menantu, Safka merasa perlu untuk menunjukkan rasa hormat juga rasa kasihnya, bukan semata-mata karena ingin dilihat Sri. Namun, jika dibalik kebaikannya itu mendapat perhatian dari Sri, Safka rasa itu adalah sebuah bonus. Ia memberikan kasih sayang dan perhatian tulus untuk sang mertua, memang sepatutnya Sri balik memberi perhatian terhadap suaminya itu. Safka yang baru saja selesai mengobrol dengan Sudirman itu pun pamit untuk merokok. Ia rasa, sudah cukup memberi wejangan tentang kisah hidupnya yang tak mudah. Dulu, Safka memang lahir dari keluarga sederhana. Namun, karena kegigihannya sewaktu muda, apa yang tak didapatinya di waktu kecil pun dengan mudah ia miliki sekarang ini. Sayangnya, apa yang ia miliki dengan susah payah itu tak dapat dirasakan oleh ayah juga sang ibu. Merek meninggal di saat Safka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Safka harap, Sudirman akan berpikir juga mengambil hikmah dari cerita yang ia suguhkan. Bahwa, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Siapa pun yang mau bekerja keras, sudah pasti akan mendapatkan imbalan. “Iya, sudah, Pak. Selamat beristirahat,” ucap Safka begitu bangun dari duduknya. Ia lantas beranjak meninggalkan kamar setelah Sudirman mengiyakan. Malam memang sudah beranjak larut sejak Safka kembali masuk ke kamar bapak mertuanya. Itu kenapa ia segera keluar, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus memberi Sudirman waktu untuk beristirahat. Pun dengan dirinya. Ia memutuskan untuk tidur setelah merokok terlebih dahulu. Melihat tidak adanya orang di dalam rumah, Safka pikir, Sri beserta adik-adiknya sudah pasti telah terlelap. Ia yang ingin menghirup udara segar pun pergi ke luar, di mana di sekelilingnya gelap gulita. Sebab, rumah orang tua Sri pun berada cukup jauh dari rumah tetangga, sehingga lampu dati rumah ke rumah tidak cukup memberi penerangan. Duduk di teras sembari melihat ke sekeliling, Safka mengeluarkan rokoknya dari dalam saku celana. Ia menyulutnya saat itu juga, sehingga langsung menyesap dan mengepulkan udara di waktu yang singkat. Entah kenapa, ia merasa adanya ketenangan. Tidak seperti biasa, di mana rutinitas dalam pekerjaan membuatnya kehilangan rasa tenang. Waktunya benar-benar terkuras habis. “Kalau aku coba tinggal di sini, apa mungkin bisa membuat Sri cepat menerimaku? Ah, tapi gimana dengan pekerjaan di kota? Meski aku sebagai pemiliknya, tetap saja, mereka tidak akan bisa menghandle semuanya tanpa kehadiranku di kantor.” Dalam lamunan panjang, di sela-sela isapan demi isapan rokok, Safka bicara dalam hatinya. Ada sesuatu yang sedang ia pikir dan rencanakan. Namun, apa yang ada dalam kepalanya itu tidak begitu memberi keuntungan. “Dan lagi, kalau Sri tetap di sini, lelaki yang masih mencintainya itu pasti akan terus mencari cara untuk mendapatkan Sri kembali.” Safka bergumam lagi. Kali ini sembari melempar kuntung rokok ke tanah karena tekah habis diusapnya sedari tadi. Seolah tak cukup puas, ia menyulut sebatang lagi. Rokok di tangannya itu masih cukup banyak, tertata rapi dalam dusnya. Ia memang tak sempat merokok terus sejak pagi. Hanya beberapa kali, itu pun setelah makan saja. “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Siapa pun tak boleh memiliki Sri, kecuali aku. Dan aku yakin, Sri pasti akan aku dapatkan.” Kedua belah sudut bibir merah kehitaman itu menyungging sinis. Ia adalah seorang lelaki pantang menyerah. Tidak hanya mengenai pekerjaan, masalah asmara pun teramat penting baginya. Safka tak pernah merasa jatuh hati sedalam perasaannya terhadap Sri. Sehingga ia pun yakin kalau Sri adalah jodoh terbaik baginya. “Lihat saja nanti!” ucapnya, pelan. “Aku sepertinya harus mengubah strategi.” “Belum tidur?” Sri yang baru saja keluar dari kamar Siti, dan melihat pintu rumahnya terbuka itu pun langsung mengecek keadaan. Ternyata, suaminya ada di luar. “Aku pikir kamu tidur di kamar Bapak, Om.” Ia berucap lagi, kemudian berjalan maju sehingga tepat selangkah di belakang Safka. “Belum. Ini lagi ngerokok dulu. Kamu belum tidur juga?” Safka yang seketika terkejut, balik bertanya sambil menengok. Ia menyunggingkan bibirnya tipis dan kemudian kembali menarik wajah. “Sudah. Tapi baru aja kebangun karena haus.” Diedarkannya pandangan, Sri melihat ke sekeliling sembari melipat kedua tangan di d**a. Ada sedikit senyum di bibirnya yang tipis. Ia senang karena Safka sudah bersikap baik dan juga lemah lembut pada bapaknya. “Kenapa nggak tidur lagi?” tanya Safka kembali. Ia menundukkan wajahnya barang sebentar, lalu kembali mengangkat wajah sembari membuang kuntung rokok ke dua. Ia tak menyulut rokonya lagi. “Minumnya juga belum. Eh, aku liat pintu rumah kebuka. Jadinya aku ke luar juga karena liat Om ada di sini.” Sri melangkah lagi. Lantas ia pun duduk di samping Safka. “Omong-omong, makasih, ya.” Sri melihat Safka lekat. Lelakinya itu tersenyum tipis tanpa menoleh. “Untuk apa?” Safka pun memasukkan rokok beserta korek apinya lagi ke dalam saku. Ia pikir, mereka harus segera masuk ke rumah. “Untuk perhatianmu terhadap Bapak. Aku nggak ngira kalau kamu akan sebaik itu terhadap Bapak. Padahal, aku sana sekali tidak bersikap demikian padamu.” Kali ini Sri yang menundukkan wajahnya sembari tersenyum tipis. Ada rasa malu, tak enak hati, juga haru dalam hatinya. “Jadi, kamu pikir, karena kamu sama sekali tidak bersikap baik padaku, aku akan bersikap demikian pada bapakmu? Ngaco!” Safka tertawa kecil. Ia bukan orang seperti itu. “Berbuat baik terhadap orang lain itu sebuah kewajiban. Tak peduli sekalipun orang tersebut bersikap buruk padaku. Iya, kan?” tanyanya. Kali ini Safka menoleh, melihat Sri yang sedang tertunduk. “Ya.” Sri mengangkat wajahnya lagi. Kemudian melihat Safka sehingga keduanya bersitatap. “Kamu benar, Om.” Ia berucap lagi serata melempar senyum. “Kamu benar,” desisnya. “Sudahlah. Sekarang mending kita tidur. Udah malam juga, kan?” Safka pun meraih sebelah tangan Sri. Ia menggenggam dan menariknya sambil berdiri. Sri mendongak dan kemudian ikut berdiri. “Aku mau minum dulu,” katanya yang seketika merasa kikuk. Pasalnya, sejak menikah dengan Safka, baru sekali dirinya tidur dalam ranjang yang sama. Itu pun karena Safka yang keras kepala. Lalu sekarang, karena tak ada kamar lagi, Sri terpaksa menyiapkan kamar untuk mereka tidur bersama. Sebenarnya ia sudah merasa yakin akan Safka yang bisa memegang janji. Namun, tetap saja perasaannya tak tenang. Ia cukup merasa takut saat berdua saja dalam satu ruangan. “Aku juga. Haus banget dari tadi belum minum. Mau aku ambilkan?” Safka menawarkan bantuan. Karena sewaktu di Jakarta pun, Safka yang kerap menyediakan minum dan makan. “Nggak lah, biar aku aja. Kamu duluan gih masuk,” balas Sri sambil menyengir. Ia lantas menarik tangannya dalam genggaman Safka, kemudian berjalan lebih dulu ke dalam. “Eh, katanya aku duluan?” Safka pun mengejar Sri, berjalan mengekor di belakang istrinya itu “Maksud aku ke kamarnya yang duluan. Aku kan mau ke dapur dulu,” timpal Sri sambil tertawa kecil. Ia lantas menutup pintu dan mempersilahkan Safka untuk pergi duluan. Namun, begitu pintu yang ia pegang hampir menutup, pandangannya melihat siapa yang ia kenal. “Bima?” gumamnya yang kemudian kembali membuka pintu. Ia tak salah lihat. Bima memang berada jauh di hadapannya. Lelaki yang mencintainya itu tersenyum sambil melambai. Namun, karena kaget dan takut ketahuan, Sri pun langsung menutup pintunya cepat-cepat. “Ya, ampun. Dia ngapain coba di depan? Apa dari tadi dia di situ aja merhatiin aku sama Safka?” batinnya seraya bersandar membelakangi pintu. Jantungnya berdebar seketika. Namun, bukan karena cinta yang dulu pernah dirasa Sri. Melainkan karena takut kalai Safka melihat Bima di sana. Buru-buru Sri pun pergi ke dapur. Tenggorokannya yang terasa kering semakin merasa kehausan. “Sri?!” Safka tiba-tiba membuka pintu kamar, dan mencondongkan sedikit kepalanya keluar. Ia menyengir memergoki Sri yang baru saja hendak pergi ke dapur. Sri seketika terkejut. Ia bahkan sampai mengelus d**a seraya beristigfar. “Apa, Om? Bikin kaget aja, ish!” semburnya. “Nggak. Cuma mau mastiin kamu pergi ke dapur aja!” Safka pun kembali menutup pintu. “Dih?!” Sri berdesis. “Nggak jelas banget, sih?! Kadang bikin terpesona, kadang bikin ilfil, kadang bikin sebel juga. Dasar, tua!” umpatnya. Namun, baru saja kakinya hendak melangkah lagi, ponsel dalam saku celananya berdering. Satu pesan masuk, dari Bima tentunya. Sri yang seketika membukanya sambil melanjutkan langkah kakinya itu pun celingukan. Mengecek apakah tidak ada yang mengikutinya ke dapur. “Kenapa buru-buru menutup pintu? Padahal, aku masih ingin melihatmu, Sri.” Begitu, isi pesan dari Bima yang Sri baca. “Maaf. Tapi aku kan sedang bersama suami. Lagian kamu juga ngapain ngintip di situ? Untung suamiku nggak liat, kan?” balas Sri, buru-buru. Ia lantas segera mengambil dua gelas dan mengisinya dengan putih. Satu gelas untuknya, dan satu gelas lagi untuk Safka. Segera Sri meminum air bagiannya. Namun, matanya tetap pada layar ponsel di mana telah ada pesan dari Bima kembali di sana. Isinya, “Aku cuman mau liat kamu, Sri. Makanya dari tadi aku di sini. Eh, yang keluar malah suamimu. Untungnya, pas aku mau balik, kamu keluar juga. Sayang, mataku justru melihat keakraban di antara kalian.” Sri menghela napas panjang. Entah apa yang harus ia tuliskan lagi untuk membalas pesan dari mantannya itu. Ia sendiri bingung, bagaimana harus merangkai kata. Sebab, dirinya telah menjadi istri Safka meski belum menerimanya sebagai suami. “Sri?!” Bima mengirim pesan kembali. “Maaf, ya, Bang. Aku lagi siapin air, dan sebentar lagi mau tidur. Kamu sebaiknya pulang juga. Sudah malam, kan?” Sri mengalihkan pembicaraan. Selain karena takut ketahuan, ia pun ingin menjaga perasaan Bima. “Baiklah. Tapi janji satu hal dulu padaku.” Bima membalas lagi. “Apa?” tanya Sri seraya membawa gelas berisi air dalam nampan menuju kamar. “Temui aku sebelum kamu balik ke Jakarta. Ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN