Kecupan Pertama

1083 Kata
Memikirkan apa yang dikatakan Bima dalam pesan, Sri yang baru saja masuk dan hendak menyuguhkan segelas putih untuk suaminya itu pun tak fokus. Ia melamun, sampai air dalam gelas yang ia bawa tumpah, membasahi pakaian Safka. “Astaga, maaf! Aku nggak sengaja. Aku minta maaf, barusan aku nggak sengaja!” Sri yang seketika terkejut pun bicara berbelit-belit. Ia langsung menyimpan gelas kosong dalam genggamannya itu di ranjang, lalu segera dirinya duduk berjongkok dan mengusap-usap pakaian Safka yang basah dengan tangan kosong. Wajahnya merah padam. Ia malu, sekaligus tak enak hati karena sudah membuat pakaian Safka basah kuyup. Sri juga gemetar, karena takut kalau sampai suaminya itu marah besar. Meski tak menganggap Safka sebagai siapa-siapa dalam hidupnya, tetap saja, ia takut karena sudah berbuat salah. “Hei!” Safka langsung meraih kedua tangan istrinya itu. Sri langsung bergeming. Ia berhenti mengusap pakaian Safka karena suaminya mencengkeram kuat kedua tangannya. Seketika Sri pun menunduk, menyembunyikan wajah beserta rasa bersalahnya. “Biar aku ambilkan pakaian baru,” ucap Sri pelan. Ia benar-benar merasa tak enak hati. Namun, yang lebih membuatnya tak keruan adalah karena Safka memegang kedua tangannya. Ia bergetar sehingga cepat menarik diri. Namun, Safka tak melepaskannya. Ia justru semakin mengeratkan genggaman. “Nggak apa-apa. Biarin aja. Nanti juga kering sendiri. Lagian kan aku nggak bawa baju ganti. Mau pake baju siapa emang kalau ini dilepas? Baju kamu?” ucapnya, seiring dengan tawa kecil. “Um, aku lupa.” Sri pun memejamkan matanya kuat barang sejenak. Ia menelan ludah dengan susah payah, karena merasa kikuk. Ia lupa, kalau dirinya tidak sedang di rumah mewah suaminya. “Dah lah ayo duduk.” Safka menarik kedua tangan istrinya itu, sehingga Sri pun langsung beringsut duduk di tepi ranjang. Tepatnya di sebelah Safka. “Sekali lagi maafin aku, ya. Aku benar-benar nggak sengaja,” ucap Sri. Kali ini ia melihat wajah suaminya. Kemudian merengut dan kembali menarik wajah. “Iya, nggak apa-apa. Tapi memangnya kamu ini ngelamunin apa, sih? Dari pas masuk aja kelihatan kalau kamu lagi bengong dan mikirin sesuatu.” Safka melepas salah satu tangan Sri dari genggamannya. Sedang yang satu lagi masih ia genggam dan bahkan ia tepuk-tepuk pelan, sembari diselingi usapan lembut. Ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya ingin mencium punggung tangan nan lembut itu. Namun, sekali lagi Safka pun ingat, semua itu belum waktunya. Ia harus mendapatkan hati dan perasaan Sri terlebih dahulu. “Nggak ngelamunin apa-apa selain mikirin Bapak, sih.” Suara Sri terdengar parau. Ia tak sepenuhnya berbohong, karena selain terpikir akan kata-kata Bima, ia pun memikirkan kondisi bapaknya. Lelaki paruh baya itu hampir saja kehilangan nyawa karena dikeroyok teman-teman bermain judinya. Namun, justru tak ingin dibawa ke rumah sakit. “Ya, sudah. Kalau gitu kamu istirahat, gih. Jangan banyak pikiran. Bapak pasti cepat sehat kok.” Safka pun mengusap lembut kepala istrinya itu. Ia harap, apa yang ia lakukan, sampai ke dalam relung hati Sri. “Terus bajumu?” Sri menoleh melihat suaminya itu. Dan seketika menarik wajahnya lagi sambil memejamkan matanya kuat barang sebentar. “Duh, kenapa jadi refleks liatin dia mulu, sih?” batinnya. “Nggak usah dipikirin juga. Dah, sana tidur.” Safka beranjak bangun seraya melempar senyum pada istrinya yang terus berusaha memalingkan wajah, agar tak bersitatap dengan Safka. “Tapi kan basah? Mau aku ambilkan baju Bapak aja?” tawar Sri. Ia serius, karena takutnya Safka pun sakit karena masuk angin. Yang ia tahu, biasanya, orang kota itu lemah. Tak seperti orang kampung yang kuat imunnya. “Dibilangin nggak apa-apa juga. Nanti kan kering sendiri. Atau kalau nggak, aku buka bajunya setelah kamu tidur. Kan, kamu sendiri yang bilang, nggak mau liat aku telanjang?” Safka menahan tawa karena melihat Sri yang seketika mendongak melihatnya sambil melebarkan kedua mata. “Malah melotot. Iya, kan?” “Ya, iya. Tapi kan ini situasinya berbeda. Lagian kamu pakai kaos, kan?” Sri berdecak dan kemudian merasa kalau dirinya sedang dipermainkan. Suaminya itu memang pandai menggoda. Lantas ia berdiri dan nekat memaksa Safka untuk membuka baju. “Dih, dih! Kok, maksa gini? Aku bilang nggak apa-apa!” Safka menahan kedua tangan Sri yang hendak membuka bajunya. Tapi Sri tak mau kalah. Ia terus berusaha menarik dan mengangkat pakaian suaminya itu, sambil merapatkan kedua bibir. Pasalnya, apa yang ia lakukan memang mengundang tawa. “Diem bisa!” Sri pun melepas kedua tangannya dari baju Safka. Lantas ia memelak pinggang sembari menatap tajam ke arah suaminya itu. “Apa? Jan kira aku nggak berani, ya?” Sri pun berdeham. Padahal, ia memang tidak begitu yakin akan berani. “Masa!” Safka meledek seraya melipat kedua tangan di d**a. Pandangannya sama tajam dengan Sri. Namun, ia tak bisa menahan tawa. “Nggak percaya aku!” Mendengar kata-kata tersebut, Sri pun kembali menyerang Safka. Ia menggelitiki pinggang suaminya itu, lalu menekan pundak Safka sampai menunduk sehingga Sri pun dapat meraih baju bagian belakang Safka. Barulah setelah itu, ia menariknya sampai baju hampir terlepas. “Satu, dua, tiga!” Sri menghitung sebelum akhirnya menarik baju Safka sekuat mungkin. “Dapat!” serunya seketika. “Astaga, Sri!” Safka tergelak, bahkan sampai terbatuk-batuk saking lucunya. Ia benar-benar lemas karena dikelitiki juga karena terus dibuat tertawa oleh Sri. “Belajar dari mana kamu sampai bisa membuka baju orang kayak gini?” ucapnya, mengos-ngosan. Sri tak mendengar apa yang dikatakan Safka. Karena Safka hanya memakai kaos oblong saja, Sri pun menjaga pandangannya. Ia segera berbalik dan memacari setrika. “Tidur sana. Pake selimut. Lalu buka celananya!” “Heh?!” Safka yang berdiri di belakang Sri pun tak percaya dengan ucapan istrinya itu. “Aku buka celana? Serius?” tanyanya lagi. Safka bahkan sampai mengikuti Sri. Namun, Sri menolak berhadapan dengan Safka sehingga ia terus menghindar dan buru-buru menghamparkan sebuah seprai yang baru saja ia ambil dari lemari, di lantai. Setrika yang diambil pun ia sambungkan ke listrik. “Serius lah. Kan, basah! Buruan! Tidur, pake selimut!” titah Sri, tegas. “Nanti aku ambil celananya.” “Apa nggak lebih baik pake kain sarung aja? Ada, kan bekas tadi aku shalat?” Safka memberikan ide cemerlang sehingga langsung mengangguk. “Wah, pinter! Ya, udah buruan ambil kainnya. Jangan lama-lama. Aku dah ngantuk banget, Om!” titah Sri seraya menggosok baju Safka. Air yang dibawanya tadi cukup banyak dan tumpah semua. Ia perlu waktu untuk mengeringkan baju suaminya itu. “Oke!” balas Safka yang seketika melakukan apa yang membuat Sri terperanjat. “Makasih!” katanya, setelah itu. Sri yang sedang menggosok baju pun langsung terdiam. Ia terpaku, kaget dengan kecupan yang baru saja Safka lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN