Kali Pertama

1262 Kata
“Apa itu tadi? Dia nyium aku tanpa bilang-bilang dulu?” Tangan Sri yang sedang bekerja mendadak diam. Ia terpaku barang sejenak setelah Safka menciumnya diam-diam tanpa sepatah kata. Bahkan, suaminya itu bersikap seolah tidak terjadi sesuatu, melengos tanpa merasa berdosa. Sedangkan Sri, wanita itu benar-benar merasa kaget. Safka yang menyadari keterkejutan Sri pun langsung mengambil kain sarung berkasnya shalat Isya. Ia memakainya segera, dan melepaskan celananya segera pula. Lantas menyerahkan celananya itu pada Sri. “Tungguin jangan?” Safka pun berucap setelah keheningan menyelimuti keduanya barang sebentar. Ia duduk berjongkok di samping Sri yang baru saja kembali mulai menggosok. “Tungguin lah. Mana mungkin aku biarin kamu tidur dalam keadaan tak berpakaian!” balas Sri, setelah memikirkannya terlebih dahulu. Karena Safka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, Sri pun berusaha untuk menganggap demikian. Meski, jantungnya masih berdebar hebat. Ingin marah, tapi tak mau membuat keributan di tengah malam. “Iya, juga, sih. Selain bakal dingin ... berada di samping wanita dalam keadaan telanjang itu kurang aman. Aku pasti di apa-apain.” Safka berdecak, seraya tertawa pelan. Ia sama sekali tak beranjak dari tempatnya duduk berjongkok. Sengaja, ingin menguji kesabaran Sri. Biasanya, wanita di samping Safka itu selalu melempar amarah di mana saja. Tak peduli di hadapan orang lain, dalam keadaan ramai pun istrinya itu akan mengomel. Namun, yang dilakukan Sri kali ini hanya balas berdecak. “Dih! Apa nggak sebaliknya?” Sri menoleh barang sebentar sembari menatap tajam. Sedang tangannya tidak berhenti menggosok. Baju yang ia setrika hampir kering. “Nggak dong.” Safka pun ngeyel. Ia bahkan tertawa kecil kembali, setelah merasa yakin kalau Sri tak akan marah-marah seperti saat mereka di Jakarta. Berada di rumah Sudirman, Safka merasa aman dari amukan. “Akhirnya selesai juga. Nih, pake!” ucap Sri seraya melempar pakaian yang baru saja selesai ia setrika pada Safka, tanpa menoleh. Melihat wajah Safka membuatnya kikuk. “Astaga, Sri!” Safka pun langsung meraih baju yang menempel di wajahnya. Lantas menurunkannya segera sambil menggeleng. “Seenggaknya jangan dilempar kalau nggak mau liat aku. Kan, jadinya kena muka. Sakit tau “ Ia menggerutu. Tahu kalai Sri memang sengaja melakukannya. “Rasah banyak omong, Om. Pakai saja bajunya dan jangan ganggu aku. Bisa-bisanya, bukan celanamu yang akan melayang nanti, tapi setrika ini!” balas Sri seraya menoleh dan menunjukkan setrika yang ia angkat ke hadapan Safka. “Weish!” Safka yang masih duduk berjongkok itu pun berjangkit mundur. Terkejut melihat bawahan setrika yang sudah pasti begitu panas dalam genggaman Sri. “Jangan galak-galak kan bisa? Bahaya itu!” Omelnya. “Ya, makanya jangan macam-macam. Nggak tau aja kalau aku itu nggak pernah main-main!” balas Sri seraya kembali menggosok celana Safka. Kali ini jantungnya semakin hebat berdebar. Pasalnya, ia baru saja mengancam Safka dengan sesuatu yang ia sendiri takut untuk melakukannya. Namun, ia harap Safka akan merasa takut juga. “Iya, iya!” Safka pun segera bangkit berdiri. Malas ia pun beranjak menuju ranjang, demi untuk menghindari amukan Sri. Ia rasa, Sri memang orang yang nekat di mana bisa saja istrinya itu benar-benar melempar setrika panas. Sri pun langsung menghela napas lega. Jantung yang semula berdebar hebat berangsur normal. Ia tak lagi merasakan gemetar karena gugup dan malu setelah Safka pergi dari sampingnya. Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah fokus pada apa yang sedang disetrika. “Dari tadi kek, astaga!” Sri membatin. Ia benar-benar merasa lega sekarang. Meski nanti, saat ia harus menyerahkan celana Safka, jantungnya pasti berdebar lagi. *** Berjalan menghampiri ranjang, Sri yang baru saja selesai menggosok celana suaminya itu pun hendak menyerahkan celana itu pada Safka. Namun, lelaki yang dilihatnya justru terlihat sedang tertidur nyenyak. Ia beranjak mendekat, kemudian meletakkan celana yang ia bawa di kursi meja rias yang ada di samping ranjang. Tatapannya tak beralih dari Safka. Suaminya itu begitu tenang dan tampan saat dalam keadaan tertidur. Berbanding seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan dalam keadaan terbangun. Tampan, tetapi wajahnya selalu terlihat garang di mata Sri. Entah angin apa yang membuat Sri justru duduk di samping Safka. Ia meraih selimut yang masih terlipat rapi di kaki ranjang. Kemudian membuka dan menyelimutkannya pada Safka sambil tersenyum. Beberapa detik setelahnya Sri pun sadar. Ia lantas berdiri sembari berdeham pelan, salah tingkah dengan apa yang baru saja dilakukannya. Padahal, sebelumnya, ia masih merasa tidak menyukai Safka. Namun, baru saja Sri akan beranjak, Safka menyentuh dan menarik tangannya itu sampai membuat Sri duduk kembali. Jantung Sri seketika berdebar lagi. Bahkan, terasa jauh lebih hebat dari yang sebelumnya. “Makasih, ya.” Safka berucap parau tanpa membuka mata. Sebenarnya, ia baru saja akan terlelap. Namun, seketika tersadar saat Sri menyelimutinya. Membuat ia yang baru saja akan terlelap, menunda hal itu dulu untuk tidak membuang kesempatan. Sri berdeham. “Tidurlah. Aku akan tidur di kamar Siti saja,” ucapnya seraya menarik tangan dari genggaman Safka. Namun, ia tak berhasil karena Safka menggenggam erat tangannya itu. “Jangan. Jangan tinggalin aku sendiri di kamar ini. Please, tidur denganku malam ini saja.” Perlahan, Safka membuka mata. Ditatapnya Sri yang seketika memalingkan wajah ke arah lain. “Ya?” pintanya lagi, memastikan. “Aku kan sudah bilang, salam sebulan ini jangan meminta aku untuk tidur dalam ranjang ataupun kamar yang sama. Masih ingat?” tanya Sri pada akhirnya. Sebab, ia tak mempunyai alasan lain untuk menolak permintaan Safka. “Tentu saja aku ingat. Tapi, situasi kali ini berbeda. Kita sedang ada di rumahmu. Kalau kamu tidur di kamar Fahmi bersama Siti, apa nggak bakal bikin mereka merasa heran? Kita sudah menikah, tapi tidur terpisah?” Safka pun bicara panjang lebar. Berharap, apa yang dikatakannya barusan akan membuat Sri berubah pikiran. Sebab, alasan yang ia buat sama sekali tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menahan Sri. “Aku kangen sama mereka. Apa itu nggak cukup untuk membuat alasanku tidur dengan mereka?” Sri kembali melempar tanya. Dan, pertanyaan itu adalah sesuatu yang masuk akal. “Tentu saja.” Safka pun mengiyakan. Namun, tangannya masih saja mencengkeram karena masih ingin membujuk Sri. “Tapi, Sri ... Kali ini saja, ya?” ucapnya seraya beranjak duduk. Lantas ia beringsut, sembari meminta Sri untuk segera naik ke ranjang. “Astaga.” Sri membatin. Ia menelan ludahnya pelan agar tak terlihat gugup oleh Safka. “Kali ini saja, kan?” tanyanya pada akhirnya. “Iya!” Safka menjawab dengan antusias, seraya menarik tangan Sri pelan. Istrinya itu seketika beranjak naik ke ranjang. “Makasih lagi, ya.” “Jangan senang dulu. Aku bisa aja pergi kalau kamu berbuat yang aneh-aneh.” Sri mengoceh saat beranjak naik ke ranjang. Ia lantas menarik tangannya lagi dari genggaman Safka. “Dan, lepas tanganku bisa?” “Oh, iya.” Safka pun refleks melepas tangan istrinya itu dari genggaman. Lantas ia berdeham-deham tak jelas, sembari membenahi selimut. “Tidurlah,” ucapnya, sembari merebahkan diri. Namun, tak lupa ia menepuk ranjang di sebelahnya itu agar Sri segera merebahkan dirinya juga. Dengan diiringi jantung berdebar, tubuh bergetar, juga sesak menjalar di tenggorokan, Sri pun merebahkan dirinya itu di samping Safka. Ini adalah kali pertama Sri tidur bersama Safka dalam keadaan sadar. Tidak seperti malam pertama setelah pernikahan, di mana mereka tidur bersama karena di bawah pengaruh rasa ngantuk. Menyelonjor tegap, Sri pun melipat kedua tangan di d**a seiring dengan perasaan kian tegang. Ia ingin terpejam agar segera terlelap. Namun, rasa takutnya lebih dominan sehingga membuat Sri justru kian terjaga. Rasa kantuknya entah hilang ke mana. Sementara itu, Safka justru tersenyum-senyum dalam keadaan sudah terpejam. Meski kantuknya pun entah hilang ke mana, perasaannya justru begitu senang. “Andai saja ini terjadi setiap malam, mungkin akan lebih mudah bagiku untuk membuatmu jatuh cinta, Sri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN