Berhasil melewati rasa gugup, ketakutan Sri pun beralih pada rasa kantuk. Ia menguap berulang kali sembari menangkup mulut, lalu meringkuk membelakangi Safka. Matanya itu mulai terasa berat, ia sangat-sangat mengantuk.
Safka yang belum juga tertidur itu menoleh, melihat Sri yang telah membelakanginya. Ia pikir, istrinya itu sudah pasti terlelap sehingga dirinya pun harusnya segera menjumpai mimpi. Namun, rasa kantuknya masih terasa cukup jauh.
“Tahukah Sri,” ucapnya pelan dan parau. Ia berusaha menarik rasa kantuknya dengan bicara sendiri. “Aku sudah memiliki rasa ini, bahkan jauh sebelum kita saling mengenal. Di rumah temanku itu, aku melihatmu begitu cantik dan manis. Beda dari gadis-gadis kebanyakan yang selalu ada di sekelilingku.”
Kedua belah sudut bibir merah kehitaman itu menyungging tipis. Betapa ia masih ingat, baju apa yang Sri pakai saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang juragan kampung. Kaos merah tak sesuai ukuran, sehingga sama sekali tidak membentuk lekuk tubuh. Pun dengan celananya, Sri memakai celana training warna hitam dengan pelat merah di kedua sisinya.
Safka pun hanyut, larut ke dalam ingatan beberapa waktu yang lalu.
Gadis yang Safka lihat itu terlihat cuek dengan sekitar. Fokusnya hanya pada pekerjaan, sehingga meski Safka ada di sana bersama juragannya, ia tak memperhatikan. Bahkan, saat Safka menilik-nilik, Sri bekerja dengan cepat hingga selesai sebelum waktunya.
“Itu pekerja lu, Bang?” Safka yang penasaran itu pun bertanya pada temannya yang tak lain adalah juragan Sri.
“Yoi! Bapaknya punya utang gede banget sama gue. You know lah ... biasa, kalah main judi!” Juragan bernama Supardi, anak dari seorang konglomerat yang telah meninggal satu tahun lalu itu adalah teman kuliah Safka di kota. Dia mewarisi seluruh harta bapaknya karena merupakan anak satu-satunya.
“Waw!” Safka pun kaget. Tak mengira akan mendengar hal semacam itu. “Ada, Bapak yang menjadikan anaknya sebagai alat kayak gitu?” tanyanya lagi.
“Ya, buktinya lu liat sendiri, kan? Padahal, si Sri cantik banget. Sayang, gue dah punya anak bini. Coba kalau nggak!” Supardi pun berbisik sambil tertawa kecil. Takut kalau ucapannya itu sampai terdengar istrinya.
“Lu bener. Dia cantik banget Sumpah.” Safka mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Supardi, sambil menyengir. Ia yakin kalau temanya itu akan kaget juga dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
“What? Gue nggak salah denger, kan?” Supardi pun menepuk pundak temannya itu. Pasalnya, Safka yang ia kenal sudah seperti manusia berkelainan. Sejak mengenal Safka, Supardi tak pernah melihat Safka mempunyai pacar.
“Nggak. Dia emang cantik banget. Beda aja gitu kelihatannya.” Safka menyengir lagi. Betapa dirinya pun geli dengan apa yang baru saja diucapkan. Namun, itu adalah kenyataan. Sri terlihat begitu cantik di matanya.
“Lu suka?” Suganda langsung menyikut pundak Safka. Lantas menggoda temanya itu dengan ucapan-ucapan konyol. “Gue kira lu belok, Saf.”
“Sembarangan!” Safka pun balas menonjok pundak Supardi. Tak terima dengan pernyataan temannya itu. Namun, ia pun sadar kalau Supardi pantas mengira dirinya seperti itu.
“Ya, lagian lu nggak pernah punya pacar, kok tiba-tiba aja bilang suka sama si Sri.” Supardi pun tergelak. Sungguh lucu jika membayangkan Safka yang sedari dulu dicap sebagai jomblo sejati. Padahal, tak sedikit gadis yang menginginkannya sampai sekarang.
“Sekate-kate lu, ya! Gue pernah lah punya pacar. Beberapa kali malah.” Safka berucap pelan. Tak yakin dengan ucapannya sendiri. Sebab, apa yang ia katakan itu adalah kejadian sewaktu SMA.
“Kapan? Pas lu masih bau kencur? Hilih. Itu mah bukan pacaran.”
“Halah, masa bodo lah. Terpenting gue nggak belok, karena memang pernah pacaran.” Safka menyela seraya meraih gelas kopinya di meja. Lantas ia meminum kopi yang tadi dibuat Sri. “Tuh, kopinya aja bisa semanis ini. Pasti karena ini buatan Sri,” sambungnya sembari menunjukkan gelas kopi pada Supardi.
“Heh! Emang kopinya manis, Bro. Sekalipun gue yang bikin ya tetep aja bakal manis.” Supardi pun balas tergelak. Merasa lucu dengan tingkah temannya itu.
“Nggak lah. Kalau lu yang bikin, sudah pasti pahitnya lebih dominan!”
Safka mengelak dengan pernyataan Supardi. Yakin kalau pernyataannyalah yang benar. Ia tergelak setelah meminum kopinya lagi. Membuat Sri yang baru saja keluar dari kamar mandi, seketika mendengar tawanya juga.
Gadis itu berdiri tegak di Depan pintu kamar mandi yang terletak di antara ruang keluarga dan kamar majikannya itu. Ia hendak pamit karena pekerjaannya telah usai. Beres-beres rumah, memasak dan menyapu halaman ia kerjakan bergantian dari pagi sampai siang hari.
Safka yang sedang menikmati kopinya di ruang keluarga Supardi itu pun melihat Sri. Kedua bibirnya langsung terkatup sehingga membuat tawanya berhenti seketika. Kopi yang ada dalam mulutnya pun segera ia telan sampai mencipta bunyi ‘gleuk’. Safka berdeham, kemudian meletakkan gelas kopinya lagi di meja.
“Ada apa, Sri? Udah mau Pulang?” tanya Supardi yang juga menyadari keberadaan Sri. Pembantunya itu jarang bicara. Itu kenapa Supardi langsung menawari. Sri beberapa buah dalam lemari es.
“Iya, Kang. Makasih, nggak usah ngerepotin. Aku pamit pulang karena kerjaan hari ini udah selesai.” Sri pun bicara gugup. Sungguh dirinya merasa malu saat melihat keberadaan lelaki tampan di hadapannya. Safka. Ia pun selalu membuang wajah.
“Ya, sudah. Sana pamit dulu sama Ibu. Besok jangan lupa datang pagi-pagi sekali, ya?” pinta Supardi, tak seperti biasanya. Oa menyeringai lebar.
“Ada apa memangnya, Kang?” Sri tak paham. Tak pernah majikannya itu meminta Sri datang pagi-pagi sekali. Supardi bahkan paham kalau Sri harus beres-beres di rumahnya dahulu.
“Nggak. Cuma ini aja, tamuku mau ketemu kamu lagi sebelum pulang.” Supardi pun menunjuk Safka. Lantas menoyor pelan kepala temannya itu sambil menahan tawa.
“Dih! Fitnah dia.” Safka pun balas menoyor kepala temannya itu sambil tertawa kecil. Meski, apa yang dikatakan Supardi memang benar adanya. Ia ingin bertemu Sri sebelum pulang.
“Maaf, Kang. Aku kan harus mengurus rumah dan adik-adikku dulu.” Sri pun menunduk. Takut kalau Supardi akan tetap memintanya seperti itu. Sedangkan dirinya, tak bisa jika di rumah seorang diri.
“Hehe. Iya, nggak apa-apa. Bercanda aja barusan. Tapi kamu udah makan dulu, kan?” Tanya Supardi lagi. Ia melihat Sri yang baru saja mengangkat wajah.
“Udah, Kang. Kalau gitu, aku mau pamit sama Ibu dulu. Permisi,” ucap Sri seraya melangkah mundur, menjauh dari ruang keluarga. Ia hendak menemui istri Supardi terlebih dahulu.