Kembali dari ingatan beberapa minggu yang lalu, Safka tersenyum lebar masih sambil terpejam. Itu adalah pertemuan yang mengesankan baginya. Bertemu Sri, adalah sesuatu yang membahagiakan karena itu adalah kali pertamanya merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta yang sesungguhnya.
Jika dulu dirinya pernah menjalin sebuah hubungan, itu bukan semata-mata karena cinta. Melainkan karena Safka ingin menghindar dari tuduhan konyol semua orang. Ia dikira belok, tak menyukai lawan jenis karena tak pernah suka didekati wanita.
Masih saja belum merasa ngantuk, Safka pun beranjak duduk dari berbaringnya. Kedua kakinya ia silang, duduk bersila sembari memeluk bantal. Hatinya sedang merasa begitu senang. Ia benar-benar tak sabar untuk segera mendapatkan perasaan Sri.
Dilihatnya istrinya itu, Sri sudah terlelap bahkan begitu terlihat pulas. Safka tersenyum lagi, seiring dengan munculnya geletar menggelitik di dalam atma. Sri begitu terlihat cantik, sehingga dirinya tak dapat menahan gerakan tangan.
Sri menggeliat pelan saat Safka menyentuh dan mengusap lembut pipi istrinya itu. Namun, rasa kantuk teramat sangat membuat Sri abai dengan rasa gelinya. Ia tetap tertidur, lelap dan semakin pulas. Safka tersenyum lagi dan lagi.
“Cantik,” ucapnya pelan seraya mencondongkan wajahnya pelan, sehingga jarak di antara mereka hanya sebatas embusan napas. Mereka begitu dekat, sehingga Safka dapat merasakan hangatnya hidung bangir Sri.
Safka terpejam lama sembari menikmati apa yang sedang ia lakukan. Menempelkan hidungnya di hidung Sri, sembari membayangkan apa yang dilakukannya tadi. Kecupan yang ia lakukan, ingin dilakukannya kembali.
“Manis,” ucap Safka kembali. Ia yang masih terpejam juga menempelkan hidungnya di hidung Sri itu pun mulai mendekatkan bibirnya juga.
Harum embusan napas yang sedari tadi tercium oleh Safka. Hangat pula terasa sampai menampar sebagian wajahnya. Ia pun lepas kontrol, sampai kembali berani mencium Sri. Bibir istrinya itu begitu lembut.
Namun, tepat begitu bibirnya ingin mencecap semakin dalam, Safka sadar akan apa yang sedang dilakukannya. Segera ia menarik diri sambil berdeham, kaget sampai membuat jantungnya berdebar hebat. Yang ia takut, Sri bangun dan mendapatinya sedang melakukan apa.
“Astaga, Saf!” ucapnya pada diri sendiri. Safka yang merasa dirinya tekah melakukan hal bodoh itu, bahkan langsung memukul mulutnya sendiri. “Lancang dan berani banget lu!” sambungnya lagi, dengan suara pelan dan parau.
Lantas ia membelakangi Sri, kemudian tidur meringkuk sembari menarik selimut. Namun, baru saja Safka akan terlelap, telinganya tiba-tiba menangkap suara Sri.
“Tidak, tidak! Jangaaaan!”
Sri berucap lebih keras dan jelas setelah sebelumnya hanya bergumam saja. Ia terpejam kuat, seiring dengan keringat banjiri wajah. Sedang, tangannya menjulur ke depan seperti tengah menahan seseorang.
“Aih?!” Safka yang seketika melihat dan mendengarnya pun tertawa kecil. Istrinya itu mengigau. “Tapi ngigau apa dia? Maksudnya apaan coba?” Safka pun berbalik badan, menghadap Sri. “Hei! Mimpi apa kamu?” tanyanya sambil tertawa lagi.
Sri yang sedang bermimpi itu pun mendengar suara Safka sayup-sayup. Ia lantas menggeplak wajah suaminya itu sambil bicara parau kembali. “Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi kamu dari sini!” Namun, kali ini sembari bangun. Sri membuka matanya seketika seiring dengan napas terengah.
“Astaga!” Safka mengaduh sambil mengusap pipinya yang kesakitan. Tak tahu kalau Sri bari saja terbangun.
Istrinya itu menelan ludah dengan susah payah, karena tenggorokannya yang kering. Sedangkan tatapannya masih melongo melihat langit-langit kamar, sembari mencerna apa yang baru saja ia impikan.
Sri pun bergidik ngeri setelah mengingatnya, bahwa ... Safka baru saja akan memperkosanya dalam mimpi. Membuat ia seketika menoleh melihat lelaki yang ia tahu, sedari tadi di sampingnya. Lantas, karena refleks akibat keterkejutannya, Sri beranjak duduk dan menjambak rambut Safka saat itu juga.
“Ya, ampun, Sri! Kenapa?” Safka yang baru saja mendapatkan tamparan, kembali mendapatkan siksaan. Rambutnya yang sedikit gondrong sudah tentu mudah untuk dijambak. Sri menarik dan memutar rambut suaminya itu karena gemas juga.
“Kamu, ya! Berani-beraninya kamu mau memperkosa aku?” Sri pun bicara penuh penekanan. Ia tahu kalau sekarang sudah begitu malam. Suaranya, bahkan akan terdengar sampai ke luar kalau saja marah tanpa mengontrol emosi.
“Memperkosa? Ngaco kamu! Kapan aku mau memperkosamu heh?!” Safka pun berani mengangkat wajah, melihat Sri yang juga sedang menatapnya, seiring dengan raut wajah masam.
“Iyalah! Kamu mau memperkosaku tadi!” ucap Sri kembali. Ia masih mencengkeram rambut Safka, meski tak begitu kencang. Ia cukup tahu diri kalau Safka adalah lelaki yang mencintainya. Bahkan, Safka adalah suaminya sendiri.
“Ya, Allah. Kapan, di mana dan kenapa aku nggak tau apa-apa kalau memang iya itu terjadi!” Sri meringis sambil berucap. Sungguh dirinya sama sekali tidak merasa tahu apa pun tentang apa yang dikatakan Sri.
“Dalam mimpi!” timpal Sri, dengan suara mantap dan yakin.
Namun, seketika Sri pun sadar, yang dilakukannya adalah hal yang konyol. Safka akan memperkosanya dalam mimpi. Lalu, ia mengamuk di dunia nyata yang sudah jelas, kalau Safka tidak melakukan apa-apa. Cengkeraman tangan Sri, seketika memelan. Safka tak lagi merasa sakit di kepalanya.
“Dalam mimpi kamu bilang?” Sembari mengusap-usap kepalanya yang kesakitan, Safka bertanya serius. Ia pikir, istrinya harus diberi pelajaran..
“I-iya. Maaf!” Sri pun menarik diri. Ia bahkan langsung menarik selimutnya juga untuk segera mengurung diri di dalamnya. “Saking kagetnya, aku sampai nggak sadar gini. Maaf ya sekali lagi.”
Sri yang malu itu pun langsung merungkup dirinya sendiri dengan selimut. Membuat Safka yang baru sana berpura-pura marah, seketika harus tertawa senang dan segera menggelitiki Sri. Ia sama sekali tak mengira kalau Sri akan memimpikan hal semacam itu.
“Nggak apa-apa. Lagian salahku juga kok, karena tadi sudah berani menciummu. Itu kenapa, kamu pasti merasa kaget dan juga takut sampai kebawa mimpi.” Safka berucap pelan, sebagai upaya menenangkan Sri.
Sri mengangguk. “Awas aja kalau sekali-sekali lagi!” ancam Sri. “Atau, aku nggak mau ikut kamu ke Jakarta lagi;” sambungnya, seraya membuka selimut yang baru saja Sri pakai untuk menutupi kepalanya. Ia menoleh, melihat Safka dengan tatapan setajam yang ia bisa.
“Iya-iya! Lagian, tadi itu cuman khilaf. Ngapain pake ancam-ancam segala?” Safka menekuk wajah tampannya itu. Sri benar-benar sadis.
“Lelaki ngeyelan kayak kamu itu nggak bisa dilembutin. Jadi ya harus diberi pelajaran atau ancaman sesekali!” timpal Sri seraya mengurung dirinya lagi dalam selimut.
“Astaga!”
Safka menggeleng. Namun, ia merasa beruntung karena Sri tak mengetahui apa yang terjadi sebelum istrinya itu mengigau sampai terbangun. Kalau saja Sri tahu akan dirinya yang baru saja mencuri kecup lagi, sudah pasti Safka akan pulang sendiri ke Jakarta.
Ia tak mau!