Permintaan Pertemuan

1436 Kata
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Sri mulai menyibukkan dirinya di dapur setelah membereskan ranjang bekas tidur semalam. Sembari menunggu bubur yang dimasaknya matang, ia membuka kopi beserta goreng pisang untuk menyuguhi suaminya sendiri. Safka sudah menunggu di teras. Lelaki berpenampilan necis itu sedang duduk bersandar menikmati cuaca pagi yang jauh lebih sejuk dan juga segar, jika dibanding dengan keadaan di kota. Tidak ada polusi di sana. Yang ada justru kicauan burung di antara kupu-kupu yang beterbangan. Di halaman rumah Sri memang terdapat banyak sekali bunga. Membuat kupu-kupu jenis apa pun ada dan hingga di sana setiap hari. Safka yang meski berada jauh dari rumah juga rutinitasnya itu tetaplah sibuk. Sejak kemarin menerima telepon dari kantor, karena ada saja hal yang harus ia tangani lewat seluler. Hari ini pun begitu. Sekretarisnya bilang, ada dokumen yang harus ditandatangani Safka. Selesai menelepon dan menandatangani dokumen lewat aplikasi, Safka menggelengkan kepala sembari menghela napas panjang. Ke mana pun dirinya pergi, liburan atau ada hal mendesak lain sehingga mengharuskannya pergi jauh dari rumah dan kantor, ada saja pekerjaan yang harus ia tangani. Namun, itu adalah salah satu perjuangan yang selalu ia lakukan sehak dulu sehingga benar-benar mendapatkan kesuksesan. “Om,” ucap Sri yang baru saja datang membawa nampan. Di atasnya ada secangkir kopi juga sepiring pisang goreng. “Mau ke mana?” tanyanya, begitu datang Sri melihat Safka hendak berdiri. Ia lantas menyimpan gelas dan piringnya di meja. “Oh, nggak. Tadinya aku mau nyusul kamu ke dapur. Barangkali perlu aku bantuin?” Safka yang baru saja berdiri pun kembali duduk. Ia melihat Sri, melempar senyum sembari menyentuh jemari Sri. Sri balas melihat Safka, kaget dengan sentuhan yang baru saja dilakukan suaminya itu. “Nggak. Aku dah beres kok. Itu tinggal nunggu buburnya matang aja. Tapi, kalau untuk makan kita sih aku belum masak. Nggak ada yang bisa dipasak soalnya. Aku harus ke pasar dulu kayaknya.” “Mau aku antar?” tawar Safka. Ia mendongak, melihat Sri masih dengan senyuman yang sama. Senyuman manis yang menyiratkan ketulusan. “Um, nggak usah deh. Deket kok dari sini. Aku Cuma perlu naik ojek sedikit, sampai deh.” Sri menjawab sembari membalas senyum. Bukan apa-apa, berada di dekat Safka selama beberapa hari ini kerap membuatnya merasa kikuk, degdegan dan juga tegang. Ia ingin merasa bebas barang sebentar saja mumpung ada di kampung. “Yakin? Kan, bisa naik mobil?” Safka menawarkan jasanya lagi. Ia yang berbalik seratus delapan puluh derajat Deng perasaan Sri itu, memang selalu ingin berada dekat dengan istrinya itu. Lebih-lebih, ia takut kalau Sri akan menemui Bima. “Yakin, Om. Kamu tungguin Bapak aja si rumah, ya? Kan, Siti sama Fahmi sekolah. Kasihan Bapak kalau tiba-tiba mau minum.” Sri menjelaskan kembali alasannya ingin pergi sendiri. Meski, memang, dalam hatinya terbersit ingin bertemu Bima. “Iya, sih. Tapi aku nggak tega biarin kamu pergi sendiri. Nanti apa kata orang coba? Masa suaminya biarin kamu bepergian sendiri?” Safka pun melepas jemari Sri. Lantas ia meraih salah satu pisang goreng buatan istrinya itu. “Aku makan, ya?” Ia meminta izin. Sri mengangguk sebagai isyarat kalau suaminya itu boleh memakan apa yang telah ia hidangkan. “Kamu ngapain mikirin omongan orang? Mau aku pergi sendiri kek, berdua kek, nggak ada urusannya sama mereka. Lagian, di pasar kan nggak ada yang kenal aku.” Safka pun tertawa kecil di sela-sela mengunyahnya. Apa yang Sri katakan memang benar. Ia hanya terlalu berlebihan saking takutnya kalau Sri justru ketemuan dengan Bima. “Ya, sudah. Tapi ... temenin aku makan pisang dulu, ya? Kamu kan pasti belum sarapan juga?” pintanya. Pisang yang ia ambil telah habis dalam kunyahan. “Iya. Aku kan mau kasih Bapak sarapan dulu juga. Baru deh berangkat ke pasar.” Sri pun duduk di kursi sebelah Safka. Dan seperti yang Safka minta, ia langsung menikmati goreng pisang buatannya sendiri itu. “Omong-omong, kamu apa nggak apa-apa ninggalin pekerjaan? Dari kemarin aku perhatikan, pegawaimu terus menelepon.” Sri bicara lagi sambil mengunyah. Mulutnya sedikit penuh sehingga suaranya sedikit parau. “Nggak lah. Mereka bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, kok. Menelepon aku karena memang, mereka harus memberitahu aku apa pun menyangkut pekerjaan.” Safka mengunyah lagi. Namun, kali ini disusul dengan menyeruput kopinya. “Eh, kamu nggak bikin kopi apa s**u gitu?” tanyanya kemudian, setelah menyimpan gelas kopinya lagi di meja. “Nggak. Aku nggak bisa minum kopi dan nggak terlalu suka s**u ataupun teh soalnya.” Sri menjawab lagi sambil tersenyum, yang sebenarnya memang ingin mencoba bicara santai dengan Safka. Ia capek bersikap dingin ataupun cuek, sedangkan Safka selalu bersikap baik. “Lha, kenapa?” Lelaki yang masih memakai pakaian kemarin itu menoleh, melihat Sri penuh tanya. Ia baru tahu hal itu setelah beberapa hari tinggal bersama. “Lambungku nggak kuat kalau minum kopi. Sedangkan kalau minum s**u atau teh, nggak enak aja karena nggak terbiasa,” jelas Sri. “Pantes aku nggak pernah liat kamu minum s**u. Tapi, kalau s**u sapi asli aku yakin kamu suka.” Safka menyengir tipis. Bicara asal, barangkali benar. “Tepat!” timpal Sri yang ternyata mengiyakan tebakan Safka. “Kalau s**u sapi asli, aku suka banget. Tapi, minum itu pun hanya beberapa kali, kalau dikasih sama juragan Supardi.” Sri yang baru saja menghabiskan satu goreng pisang pun menautkan kedua tangan sambil bersandar. Ia berusaha untuk duduk tenang bersama Safka di sana. Mendengar kata Supardi, Safka pun ingat kalau dirinya itu harus setidaknya mengunjungi Supardi sekali saja. “Iya kah?” tanyanya, sembari mengangguk-angguk. “Omong-omong, kayaknya baku harus menemui Supardi, deh. Mumpung ke sini aja gitu.” “Oh, iya lah. Dia temanmu, kan?” Sri tertawa kecil begitu ingatannya memutar apa yang terjadi beberapa minggu ke belakang. Di rumah Supardi lah Sri bertemu dengan Safka untuk pertama kali. Dan, ia sama sekali tak mengira atau bahkan bermimpi kalau dirinya akan dinikahi lelaki tersebut. Ia hanya seorang gadis miskin, yang setiap hari harus bekerja untuk membayar pinjaman bekas judi bapaknya sendiri. Sedangkan Safka adalah lelaki mapan, bahkan kaya raya. Sri sama sekali tidak merasa nyaman dengan pernikahannya itu. Meski, sampai detik ini, Safka berhasil membuatnya merasa aman setelah sebelumnya ketakutan setengah mati. Takut kalau orang kaya macam Safka hanya akan membuatnya sebagai b***k saja. “Bukan teman lagi, Sri. Tapi best teman.” Safka tergelak. Supardi memang sahabat terbaiknya. Teman yang sangat peduli, bahkan mendukung penuh perjuangan Safka selama berjuang melawan kemiskinan. “Syukurlah. Aku kira, orang macam kamu ini nggak punya teman baik “ Sri menggoda sambil berdiri. Ia hendak melihat bubur yang dibuatnya dalam megic com. “Eh, sembarangan.” Safka langsung mendongak melihat Sri yang baru saja berdiri. “Mau ke mana pula kamu? Pisangnya belum habis ini.” Ia juga langsung meraih jemari Sri. “Kamu habisin aja, Om. Aku mau cek bubur, apa sudah matang atau belum. Ya?” pintanya, seraya menarik tangan dari genggaman Safka. “Hm ... ya, sudah. Hati-hati biar nggak kena panas. Biasanya, bubur itu punya tingkat panas yang tinggi kalau baru matang.” Safka menyengir. “Semua juga panas kali kalau baru matang mah. Dasar!” balas Sri sambil tergelak. Lantas, ia segera pergi ke dapur karena aroma bubur sudah tercium oleh indra penciumannya. Namun, sampai di dapur, ponsel yang ada dalam sakunya pun berdering. Ada pesan yang masuk ke dalamnya sehingga Sri buru-buru membuka pesan tersebut. Kedua belah sudut bibirnya menyungging lebar begitu membaca isi pesan dari Bima. “Pagi, cantik. Lagi sibuk, ya? Gimana ... bisa nemuin aku hari ini nggak?” Takut ketahuan, Sri pun celingukan. Ia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak adanya Safka di sana sebelum kemudian membalas. “Entah, sih. Tapi aku memang mau ke pasar.” Lantas, segera Sri membuka penanak nasi. Buburnya sudah sempurna matang. “Sendiri?” balas Bima kembali. “Huum.” Sembari mengaduk bubur dalam penanak nasi, Sri membalas lagi. Ia begitu hati-hati karena takut terkena panas. Barulah setelah itu ia mengambil piring cepat-cepat. “Kalau gitu, kita ketemu di pasar aja gimana?” Sri bergeming begitu mendapat balasan dari Bima kembali. Mantan kekasihnya itu bersikukuh minta bertemu. Dilihatnya kembali ke sekeliling, tak ada Safka di sana. Hanya saja, Sri harus segera memberi bapaknya sarapan. “Gimana Sri?” Bima memastikan kembali, lengkap dengan sederet emoticon sedih di belakang pesannya. Ia amat sangat berharap untuk bisa bertemu dengan Sri. Sri yang baru saja akan membawa bubur ke kamar bapaknya, kembali melihat pesan dari Bima. Ia bergeming lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikan pesan dari Bima dahulu. Ia bingung, sebab takut kalau pertemuannya dengan Bima justru menjadi bencana. Safka memang orang yang baik. Tapi, Sri tak tahu, apa yang akan dilakukan lelaki berkuasa itu kakau sampai memergokinya sedang bersama Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN