“Aku berangkat dulu, ya? Titip Bapak.”
Setelah menyuapi bapaknya, Sri langsung bersiap. Ia yang hanya memakai pakaian sederhana yang ada di rumah orang tuanya itu pun pamit pada Safka, begitu keluar dari kamar. Safka tengah duduk bersantai, sembari menikmati camilan sisa semalam. Di hadapannya televisi menyala, menyiarkan berita pagi.
“Eh, serius nggak mau aku antar?” tanya Safka kembali. Memastikan, barangkali Sri sudah berubah pikiran. Ia mengangkat wajahnya itu, mendongak melihat Sri di sampingnya. Sedang mulutnya tidak berhenti mengunyah.
“Nggak, Om. Aku bisa pergi sendiri, kok.”
Mendengar jawaban Sri, raut wajah Safka langsung berubah. Dari yang semula tampak begitu manis, tiba-tiba meringis. Ia menangis layaknya anak kecil kehilangan teman main.
“Lha, kenapa nangis?” Sri heran sampai tertawa kecil. Suaminya itu terlihat begitu konyol dan lucu. “Masa sudah aki-aki masih nangis? Cuma mo pergi ke pasar doang juga,” sambungnya, diiringi tawa kian menjadi. Ia benar-benar tak dapat menahan geli karena merasa lucu sendiri.
“Ya, lagian kamu. Kenapa manggil aku Om terus? Setidaknya, panggil apa kek selain Om, selama kita di sini?” rajuk Safka. Ia benar-benar merasa malu karena terus saja dipanggil Om oleh istri sendiri.
“Aih, jadi gara-gara itu tah.” Sri tertawa lebih keras lagi sampai ia akhirnya menangkup mulut. Tawanya pasti terdengar berisik oleh sang Bapak, pikirnya.
“Iya, lah. Aku kan malu kalau didengar orang. Masa dipanggil Om sama istri sendiri? Apa kata mereka nanti?” Safka merajuk lagi. Sungguh, sikapnya sudah seperti bocah.
“Kirain udah nggak punya malu!” timpal Sri yang justru menggoda Safka. Ia ingin tahu, apa yang akan dikatakan Safka setelahnya. Sebab, selama ini, Safka lah yang selalu menggoda Sri.
“Kan, gitu ...!” Safka makin merajuk. Meski tetap, itu dilakukannya hanya untuk seru-seruan dan membuat suasana Di antara mereka tidak sedingin biasanya. Safka harap, Sri akan merasa semakin dekat dan suka.
“Iya, iya, maaf. Aku kan bercanda.” Sri pun langsung menahan tawa. Lantas, refleks tangannya mencubit hidung Safka yang bangir. Ia gemas melihatnya setiap hari. Kadang ingin menjawil, mengusap dan menampar juga.
“Iya apa? Masih mau manggil aku Om gitu?” Safka langsung cemberut. Rupa-rupanya, cubitan Sri sama sekali tak mempan. Ia tetap ingin dipanggil dengan sebutan lain.
“Nggak, Om. Eh, Mas.” Sri pun menangkup mulut. Kemudian ia berlari, meninggalkan Safka sambil menahan tawa. Kedua belah sudut bibirnya hanya menyungging tipis. Ia tak mengira akan memanggil Safka dengan sebutan lain. Padahal, kata ‘Om’ itu cocok sudah untuk suaminya.
Dihampirinya tukang ojek pengkolan. Sri pergi ke pasar, diiringi rasa senang.
***
Tak mendapati balasan dari Sri, Bima yang amat sangat ingin bertemu mantan kekasihnya itu tetap datang ke pasar. Masa bodoh sekalipun Sri akan memarahinya setelah mereka bertemu. Yang ada dalam pikiran Bima hanyalah dapat melihat wajah yang dirindukannya.
Tiba di parkiran, Bima memarkirkan motornya itu di sana. Ia menunggu sembari mengedarkan pandangan. Mencari Sri di antara ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang berlalu datang dan pergi di sana. Untuk memastikannya juga, Bima menelepon Sri.
Namun, panggilannya sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Sri mengabaikan telepon darinya, meski Bima mencoba menelepon lagi dan lagi. Ia bercak kesal seraya menutup panggilannya. Mengira Sri tak mau bertemu dengan dirinya. Akan tetapi, Bima tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan tetap menunggu.
“Kamu boleh mengabaikan pesan atau telepon dariku, Sri. Tapi aku akan tetap di sini, menunggu kedatanganmu.” Bima pun kembali duduk di motornya. Ia hendak menunggu di sana, karena merasa yakin kalau Sri akan segera datang. “Setidaknya, sampai aku merasa yakin kalau kamu memang tidak ingin menemuiku,” sambungnya.
Diedarkannya pandangan, Bima masih belum mendapati kedatangan Sri. Padahal, waktu telah berlalu banyak sedari ia duduk di motornya itu. Hari pun semakin beranjak panas, sehingga membuat Bima merasa kegerahan.
Bima yang bahkan belum sarapan itu merasa tenggorokannya begitu kering. Segera ia beranjak menuju warung yang ada di samping parkiran. Sebotol minuman manis, sebungkus roti dan sebatang rokok pun ia beli. Menunggu tanpa memakan apa-apa membuatnya begitu lemas. Terlebih, keyakinannya mulai goyah.
“Sebentar. Sebentar lagi saja, Sri. Setelah itu akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi,” batinnya seraya kembali ke tempat semula di mana dirinya duduk-duduk saja.
Namun, baru saja Bima sampai di samping motornya, orang yang ia tunggu datang dengan seorang ojek. Bima lantas melahap gigitan terakhirnya. Ia mengunyah rotinya cepat-cepat sembari menghampiri Sri, sampai tenggorokannya tercekat karena menelan roti yang belum hancur benar.
Bima terbatuk, dan ia segera minum. “Akhirnya kamu datang juga, Sri,” katanya setelah menutup botol minumannya kembali. Ia telah berada di hadapan Sri. Merasa senang sekaligus terharu karena tak mengira kalau dirinya akan bertemu Sri kembali.
“Kamu nungguin aku? Aku kan nggak bilang iya. Kenapa harus nungguin aku?” cerocos Sri setelah membiarkan ojek yang ditumpanginya pergi. Sebab, ia tak mau siapa pun mendengar pembicaraannya dengan Bima.
“Aku tau. Tapi kamu juga harus tau, Sri. Seberapa ingin aku bertemu dengan kamu. Aku merindukanmu. Sangat.” Bima berbisik, membalas pertanyaan Sri. Ia bahkan langsung meraih dan menggenggam tangan mantannya itu. “Aku temenin kamu belanja, ya?” pintanya.
Sri yang telanjur bertemu dengan Bima pun mengangguk. Ia pikir, tak mengapa jika harus jalan berdua dengan Bima. Toh, mereka berada di antara banyaknya orang. “Maafin aku, ya.” Sri pun berucap setelah keduanya berjalan, keluar dari parkiran.
“Nggak usah minta maaf. Apa yang telah terjadi bukan karena kehendakmu, apakah kesalahanmu. Biarkan saja. Terpenting, sekarang, kamu ada bersamaku.”
Bima melempar senyum pada mantan kekasihnya itu sambil terus berjalan. Lantas ia mencium punggung tangan Sri untuk pertama kali setelah beberapa hari tidak bertemu. Ada rasa sedih saat melakukannya. Namun, ia juga bahagia karena dapat melakukannya kembali.
Sri sempat terpaku, kaget begitu mendapatkan ciuman di punggung tangannya itu. Sebab, meski dirinya tidak menerima pernikahannya dengan Safka, ia tahu akan batasan-batasan seorang istri terhadap lelaki lain.
“Maaf, Bima.”
Sri lantas menarik tangannya dari genggaman Bima. Namun, lelaki berpenampilan semerawut itu tidak melepaskannya sama sekali. Ia justru semakin erat menggenggam.
“Aku tidak bisa memilikimu, Sri. Setidaknya biarkan aku melakukan hal ini untuk kali ini saja. Please!” Bima memohon sembari menghentikan langkahnya. Ia menoleh, melihat Sri dengan tatapan penuh ketulusan. Bahkan, ada bening yang tiba-tiba muncul di kedua matanya. Sungguh, ia merasa begitu sedih.
Sri yang melihat bening di kedua mata Bima keluar pun langsung menyapunya perlahan. “Jangan sedih. Aku mohon, jangan seperti ini,” pintanya, sembari menahan tangis. Ia sungguh tak tega melihat kesedihan di wajah juga mata Bima.
“Nggak.” Bima pun menggeleng sembari menarik kedua belah sudut bibirnya itu. Ia menyunggingkan senyumnya lebar seraya melepaskan genggaman. Dan, diraihnya kedua pipi merah merona Sri yang tampak seperti sedang menahan amarah. “Aku tidak akan merasa sedih, selama kamu bahagia, Sri,” ucapnya.
Sri mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Bima. Meski belum ada rasa bahagia dalam pernikahannya, ia harus berpura-pura agar tak membuat Bima kepikiran. Mantannya itu berhak untuk bahagia, selepas putusnya hubungan di antara mereka.
“Aku akan bahagia. Maka kamu pun harus bahagia.” Sri bakas tersenyum. Meski senyum yang disunggingkannya hanya karena untuk membuat Bima merasa yakin akan kebahagiaannya.
Bima yang tak kuat menahan rasa rindunya itu lantas menggenggam tangan Sri kembali. Ia menuntun Sri berjalan lagi, tapi bukan menuju pasar yang ramai. Ia pergi ke sebuah gang di mana tak seorang pun ada di sana.
“Kita mau ke mana, Bang?” Sri pun mulai menyadari kalau jalan yang dilewatinya bukan menuju pasar. Ia celingukan, melihat ke sisi kiri dan kanan juga ke belakang. Yang dilewatinya mulai sepi dari lalu-lalang orang.